Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.
Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.
Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**
Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.
Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.
Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.
Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Malam di Acara Keluarga
Sekar
Dua minggu setelah kejadian di pasar, Bu Retno mengajakku menghadiri resepsi pernikahan putra mitra usaha Pak Suryo di sebuah hotel besar Surabaya.
"Bantu pegang hadiah dan pastikan obat Bapak ada," pesannya. "Bu Nah menjaga Arka."
Aku mengenakan gamis hijau tua yang dipilih sendiri, lega tidak ada Ratih malam itu. Dia dan Mas Bagas memiliki acara lain. Den Nara datang terpisah dari kantor.
Ini pertama kalinya aku masuk hotel sebesar itu. Lampu kristal menggantung seperti hujan yang membeku, karpetnya begitu tebal hingga langkah tidak berbunyi, dan nama keluarga pengantin terpampang pada layar raksasa. Bu Retno mengajariku menerima suvenir serta menyimpan amplop hadiah tanpa membuat antrean. Beliau tidak memperlakukanku seperti pajangan. Setelah peristiwa kebaya, perubahan kecil itu terasa berarti.
"Kalau ada yang bertanya, kau membantu saya malam ini," katanya. "Tidak perlu menjelaskan lebih jauh."
Aku mengangguk. Untuk pertama kali beliau memberi perlindungan sebelum penghinaan terjadi, bukan sesudahnya.
Saat bertemu di lobi, aku langsung tahu ada yang salah.
Wajahnya lebih pucat daripada kerah kemeja, matanya merah, dan suaranya serak ketika mengucapkan salam. Dia tetap berjalan tegak mendampingi orang tuanya, tetapi dua kali menekan pelipis saat mengira tidak ada yang melihat.
"Den sakit?" tanyaku pelan.
"Hanya kurang tidur."
"Dahi Den berkeringat."
"Ruangan panas."
Pendingin udara hotel membuat tanganku dingin. Aku menatapnya sampai dia menyerah.
"Demam sejak tadi malam," katanya. "Sudah minum obat flu."
"Harusnya Den istirahat."
"Bapak perlu keluarga hadir lengkap. Setelah memberi selamat, kita pulang."
Di meja, pelayan menawarkan minuman. Den Nara memilih air mineral dan menolak gelas lain tanpa menyentuhnya. Aku melihat dua bungkus kosong obat flu di saku kecil tas kerjanya ketika dia mencari kartu nama. Tulisan pada kemasan menyebut obat dapat menyebabkan kantuk.
"Kapan terakhir makan?"
"Siang."
"Sekarang sudah hampir delapan."
"Rapat molor."
Aku mengambil nasi dan lauk dalam porsi kecil agar tidak membuatnya mual. Den Nara hendak protes, tetapi Bu Retno melihat dan justru mendorong piring itu lebih dekat.
"Dengarkan Sekar," katanya. "Wajahmu seperti orang belum tidur tiga hari."
Den Nara menatapku, seolah kekalahan kecil itu salahku. Aku menahan senyum.
"Den minum dua tablet?"
"Sesuai aturan."
"Tapi belum makan banyak."
"Karena ada seseorang mengawasi piring saya."
Dalam keadaan sakit pun dia masih sempat menyindir aturan makan kami. Aku meletakkan sup di depannya.
"Habiskan."
Dia menurut beberapa sendok. Kemudian tamu bisnis datang menyapa. Den Nara berdiri, tersenyum, dan berbicara tentang proyek seolah tubuhnya tidak sedang berjuang. Hanya aku yang melihat tangannya mencengkeram sandaran kursi.
Setelah akad dan rangkaian salam, musik menjadi lebih ramai. Pak Suryo terlibat percakapan dengan kolega. Bu Retno berbicara kepada keluarga pengantin. Den Nara duduk sendiri, menatap gelas air seperti tidak mengenal benda itu.
Seorang kolega menghampiri dan mengajak bersulang dengan minuman ringan. Den Nara mengangkat botol air mineralnya saja. Dia tidak pernah minum alkohol, dan di resepsi Muslim ini tidak ada minuman semacam itu di meja kami. Kelak, aku tidak ingin siapa pun menyalahkan hilangnya kendali pada sesuatu yang tidak terjadi.
Saat kolega itu pergi, Den Nara salah memasukkan ponsel ke saku jas orang lain yang tergantung di kursi. Aku cepat mengambilnya.
"Den benar-benar harus pulang."
"Saya sedang pulang."
"Den masih duduk."
Dia menatap kursinya seperti baru menyadari fakta itu. Kekhawatiranku mengalahkan rasa geli.
Aku menyentuh punggung tangannya. Panasnya mengejutkan.
"Ya Allah, Den. Ini bukan demam ringan."
Dia mengangkat wajah lambat. "Jangan panggil dokter di tengah resepsi."
"Saya panggil Bu Retno."
"Ibu akan panik. Bawa saya keluar sebentar."
Aku memberi tahu Bu Retno bahwa putranya perlu udara dan mungkin harus pulang. Beliau menyentuh dahinya, lalu langsung memanggil pengemudi. Pak Suryo masih harus tinggal beberapa menit demi tuan rumah.
"Sekar, temani dia ke lobi," kata Bu Retno. "Saya pamit dulu. Jangan biarkan dia jalan sendiri."
Aku berdiri di sisi Den Nara. Dia menolak ditopang sampai langkah pertamanya goyah. Barulah lengannya diletakkan di bahuku.
Panas tubuhnya menembus kain. Tingginya membuatku harus bekerja keras menahan berat, tetapi dia berusaha menjaga agar tidak seluruhnya bertumpu padaku.
"Saya bisa jalan," gumamnya.
"Den sedang berjalan ke arah panggung. Pintu keluar di sebelah lain."
Dia berhenti, memandang sekeliling, lalu tertawa pendek. "Obatnya lebih keras dari dugaan."
"Ditambah demam dan kurang makan."
"Tidak ada alkohol," katanya tiba-tiba.
"Saya tahu. Den hanya minum air."
"Pastikan kau tahu. Saya tidak mau nanti kau mengira..."
Kalimatnya hilang. Aku menggenggam lengannya lebih kuat.
Kami melewati sisi aula yang penuh tamu. Beberapa orang memandang, jadi aku menjaga jarak sebisa mungkin sambil tetap menopangnya. Seorang staf hotel menunjukkan jalan pintas ke lobi melalui koridor samping.
Sebelum masuk koridor, aku meminta staf itu memanggil petugas medis hotel. Dia mengangguk dan pergi ke meja depan. Pintu menuju aula tetap terbuka beberapa meter di belakang kami, jadi kami belum benar-benar terisolasi. Namun ketika musik dan keramaian tertutup daun pintu, kesadaran bahwa hanya kami berdua yang berdiri di lorong membuat langkahku kaku.
Den Nara menggumamkan sesuatu tentang daftar calon dan Fajar. Aku tidak menangkap seluruhnya.
"Den bicara apa?"
"Semua orang terus datang ingin mengambil keputusan untukmu."
"Tidak ada yang bisa kalau saya tidak setuju."
"Bagus," katanya, lalu menatapku terlalu lama. "Jangan setuju."
"Tidak setuju apa?"
Dia tidak menjawab. Obat dan demam mengaburkan kalimatnya, tetapi rasa di baliknya terasa terlalu jelas.
Begitu pintu aula tertutup, suara musik meredup. Koridor itu panjang, sepi, dan hanya diterangi lampu kuning.
Den Nara berhenti di dekat dinding.
"Pusing?"
"Sedikit."
Aku membantunya bersandar. Napasnya berat. Aku membuka ponsel untuk menghubungi pengemudi, tetapi dia menyebut namaku.
"Kar."
Itu bukan panggilan majikan kepada pekerja. Suaranya rendah dan rapuh.
"Ya?"
"Waktu di pasar, saya takut terlambat."
"Den datang tepat waktu."
"Tidak. Kau sudah terluka."
"Saya juga melawan."
"Saya tahu." Matanya yang demam menatapku tanpa pertahanan. "Kau selalu melawan sendiri terlalu lama."
"Sekarang Den harus melawan demam."
Aku hendak memeriksa dahinya lagi. Dia menangkap pergelangan tanganku, bukan dengan paksaan, melainkan seperti orang yang takut satu-satunya benda nyata akan menjauh.
Jarinya panas. Genggamannya ringan, tetapi jantungku kehilangan satu ketukan.
Suara roda petugas medis belum terdengar, membuat kesunyian dan panas di antara kami semakin sulit diabaikan malam itu.
Di koridor tanpa orang itu, napas kami terdengar saling bertabrakan, dan udara di antara kami mendadak jauh lebih panas daripada demamnya.