NovelToon NovelToon
Mahabbah Yang Ternoda

Mahabbah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

“Affan, aku ingin nafkah batin.”

“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”

Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.

Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Menyakitkan

Pagi hari Affandy terbangun dan mendapati istrinya tidak ada di dalam rumah. Namun, makanan sudah tersaji di meja makan.

Laki-laki itu mondar-mandir mencari keberadaan Hulya. Ia berdecak kesal karena wanita itu tidak ada di rumah. Setiap sudut ruangan sudah diperiksanya, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Hulya.

"Hulya ke mana, sih? Pagi-pagi udah pergi. Enggak pamit lagi," gerutu Affandy kesal.

Affandy kembali ke kamar. Ia mengambil ponselnya, berniat menghubungi wanita itu.

"Argh!" Ia mengusap wajahnya frustrasi.

"Nomornya enggak ada lagi."

Karena tidak memiliki cara lain untuk menghubungi Hulya, Affandy akhirnya memutuskan untuk segera bersiap pergi ke kantor. Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri menyantap masakan yang sudah disiapkan istrinya.

[] [] []

Affandy tiba di kantor. Namun, baru saja hendak masuk ke dalam gedung, seorang wanita tiba-tiba menghampirinya. Wanita itu tidak lain adalah Tiffany, mantan kekasihnya yang kini kembali menjalin hubungan terlarang dengannya.

"Sayang."

Affandy menoleh. "Fany. Kamu ngapain ke sini?" tanyanya.

"Aku mau nemenin kamu kerja."

"Sayang..." Affandy menghela napas. "Bukannya aku enggak mau ditemenin sama kamu. Tapi kamu harus ingat, aku udah menikah. Aku enggak mau Papa sama Abang tahu."

"Tapi aku kangen sama kamu."

Affandy melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka.

"Gini deh. Kamu tunggu dulu di sekitar kantor. Duduk di sana juga boleh."

Ia menunjuk taman yang berada di seberang jalan. "Nanti setelah aku selesai kerja, kita makan siang bareng."

"Benaran, ya, Sayang?" Tiffany memastikan.

"Iya."

Tiffany tersenyum lebar. Ia sangat senang karena ternyata Affandy belum berubah. Laki-laki itu masih sama seperti dulu—romantis dan perhatian ketika mereka sedang berdua.

Affandy masuk ke dalam gedung kantor. Namun, tepat di lobi, ia sudah berhadapan dengan seorang laki-laki yang lebih tua darinya, yaitu Gerald.

Laki-laki itu sedang menatap ke arah luar gedung. Tatapannya mengikuti Tiffany yang baru saja pergi meninggalkan tempat tersebut.

"Kamu ngobrol sama siapa?" tanya Gerald.

Affandy langsung gugup. "Ngobrol? Andy baru datang, Bang."

"Abang lihat Andy. Kamu ngobrol sama perempuan."

Gerald menatap adiknya dengan curiga. "Siapa dia?"

"Bukan siapa-siapa, Bang."

"Bukan siapa-siapa? Tapi kenapa kalian ngobrolnya dekat banget?"

Affandy mulai tidak nyaman. "Daripada Abang mikirin hal yang enggak penting, lebih baik kita kerja."

Ia menepuk pundak Gerald sebelum berlalu pergi. Affandy masih belum berani jujur tentang hubungannya dengan Tiffany. Apalagi pernikahannya dengan Hulya baru berjalan beberapa hari.

[] [] []

Di tempat lain, seorang wanita berhijab tengah tersenyum lega. Hulya Anindita akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di sebuah restoran.

Pekerjaan itu menurutnya cukup menarik dan tidak terlalu berat. Ia sengaja mencari pekerjaan untuk mengalihkan pikirannya dari berbagai masalah yang terjadi dalam rumah tangganya bersama Affandy.

"Kapan kamu bisa mulai bekerja?" tanya Heli.

"Sekarang juga saya bisa."

"Baguslah. Tapi sebelum itu, kamu harus aku serahin dulu sama bos. Biar bos tahu kalau karyawan yang dibutuhkan di sini sudah ada."

"Bosnya sudah datang?" tanya Hulya.

Heli melirik jam di pergelangan tangannya. "Biasanya sih jam segini bos sudah datang sebelum pergi ke kantornya."

Heli tiba-tiba menoleh ke arah pintu. "Itu bos."

Seorang laki-laki berpenampilan rapi baru saja masuk ke dalam restoran. Hulya yang melihatnya langsung terdiam.

Dunia terasa begitu sempit sampai-sampai ia kembali bertemu dengan laki-laki itu. Vicky berjalan menghampiri Heli yang sedang berdiri bersama Hulya.

"Kamu?" ucap Vicky terkejut.

"Mas..." lirih Hulya.

"Bos kenal dia?" tanya Heli.

"Dia tetangga saya," jawab Vicky.

Kemudian ia menatap Hulya. "Kamu ngapain di sini?"

"Ini, Bos. Dia yang mau melamar kerja," jelas Heli.

"Kamu melamar kerja?" Vicky tampak heran. "Memangnya suami kamu enggak kerja?"

"Suami saya kerja, Mas. Saya cuma enggak mau memberatkan dia. Saya mau ikut membantu mencari rezeki."

Vicky mengernyit. "Suami kamu itu orang kaya, kan? Dan dia membiarkan kamu bekerja?"

"Saya yang memaksa, Mas. Suami saya sebenarnya enggak mengizinkan. Tapi saya yang ingin bekerja. Biar ada kesibukan."

Hulya rela berbohong demi menjaga harga diri suaminya. Vicky sedikit tidak percaya dengan perkataan wanita itu. Dari cara Hulya berbicara, ia bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan.

"Baiklah. Heli, kamu bisa ajarin dia."

"Baik, Bos."

"Saya ke sini cuma mau mengambil sesuatu. Setelah itu saya pergi ke kantor."

Vicky baru melangkah satu langkah ketika Hulya memanggilnya.

"Mas."

Vicky berbalik. "Kenapa?"

"Terima kasih sudah menerima saya."

"Sama-sama." Vicky kemudian masuk ke ruangannya.

Ia duduk di kursi kerja sambil memikirkan Hulya. Jemarinya beberapa kali mengetuk permukaan meja. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

"Kamu berbohong, Hulya."

Vicky masih mengingat kejadian yang dilihatnya beberapa waktu lalu. Saat itu, ia melihat Affandy menyiram Hulya dengan air dari keran ketika wanita itu sedang menyiram tanaman. Itulah alasan Vicky tidak percaya begitu saja dengan perkataan Hulya.

"Sepertinya wanita itu sedang punya masalah."

[] [] []

Jam menunjukkan pukul dua belas siang. Restoran mulai dipenuhi pelanggan. Sebagian besar adalah pekerja kantoran yang memilih makan di luar daripada harus pulang ke rumah. Selain lebih praktis, mereka juga tidak perlu membuang banyak waktu di perjalanan, terutama jika jalanan sedang macet.

Hulya sangat sibuk melayani para pelanggan. Namun, ia menyukai pekerjaannya. Setidaknya dengan bekerja, ia bisa melupakan sejenak kejadian menyakitkan yang dilakukan suaminya.

Beberapa menit kemudian, Hulya menghampiri seorang wanita yang sedang duduk sendirian.

"Ini menunya, Mbak."

"Terima kasih, Mbak."

"Sayang, sudah pesan makanan belum?"

Suara itu membuat langkah Hulya terhenti. Affandy baru saja keluar dari toilet dan menghampiri Tiffany.

Hulya menatap suaminya. "Affan..." lirihnya.

Tiffany menoleh ke arah Hulya. "Kamu kenal sama dia?"

Affandy memandang ke sembarang arah. Tangannya mengepal menahan emosi.

"Kamu ngapain di sini?" tanyanya kepada Hulya.

"Aku kerja."

"Sayang, kamu kenal dia?" Tiffany kembali bertanya.

Affandy akhirnya menjawab dengan dingin. "Hulya. Istri yang tak kuinginkan."

Hati Hulya langsung mencelos. Tiffany menatap Hulya dari atas sampai bawah. Senyum miring terukir di wajahnya.

"Jadi kamu Hulya? Pantas saja Andy lebih memilih aku." Tiffany terkekeh.

"Kamu saja seperti ini. Sekalian saja tangan kamu dikasih sarung. Jangan lupa sarung tangan bangunan."

Hulya menundukkan wajahnya. Ia tidak ingin meladeni ucapan wanita itu. "Aku permisi."

"Hei, mau ke mana?" Tiffany menahan lengannya. "Aku kan belum pesan."

"Lepasin."

"Di sini dulu. Aku sama pacarku mau pesan makanan."

"Lepasin aku."

"Aw!"

Tiffany meringis ketika Hulya menghempaskan tangannya hingga mengenai ujung meja.

"Kamu!"

Affandy langsung mendekati Hulya. "Beraninya kamu kasar sama Fany!"

Hulya menundukkan kepala. "Aku minta maaf."

"Sayang, sakit..." rengek Tiffany.

Wanita berambut sebahu itu bersikap manja kepada Affandy. Ia sengaja melakukan hal tersebut agar Hulya semakin sakit hati.

"Yang mana?" tanya Affandy.

Tiffany menyodorkan tangannya. Affandy langsung menggenggam tangan wanita itu.

"Astaghfirullah..." lirih Hulya.

"Mas, Affan..."

Affandy menatapnya tajam. "Jangan sentuh dia. Enggak baik. Aku istri Mas."

"Kamu istriku itu menurutmu. Bagiku, kamu cuma benalu di hidupku."

Lagi-lagi kalimat itu menghantam hati Hulya. "Mas, aku mohon. Lepasin dia."

"Sudah. Kamu pergi."

Hulya tidak berkata apa-apa lagi. Ia berlalu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Hatinya terasa hancur melihat suaminya begitu mesra dengan wanita lain.

Hulya masuk ke toilet. Begitu pintu tertutup, air matanya langsung pecah, ia menangis tanpa suara. Dadanya terasa sesak. Berkali-kali ia mengusap air matanya, tetapi tangis itu tidak kunjung berhenti.

"Ya Allah..." lirihnya. "Kenapa seperti ini? Aku salah apa sama dia?"

1
Tamirah
Kok ada suami model gini jadi istrinya kok yo betah,mbok ya minta cerai aja
Mardzan J.: sabar, nanti juga ada waktunya.
total 1 replies
azzura faradiva
kasih karma tu laki biar pedangnya karatan(impoten) biar ga banyak tingkah
Mardzan J.: sabar lho🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!