NovelToon NovelToon
Terikat Oleh Perjodohan

Terikat Oleh Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: saphal_tha

#history Romantic
by : Saphal_tha

Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.

Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.

Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.

Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.

Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.

Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anna

“Apa maksudmu kamu belum pernah bicara dengan calon tunanganmu sejak kalian bertunangan?” Selena menyilangkan tangannya dan menatapku dengan pandangan penuh teguran. “Hubungan konyol macam apa itu?”

“Hubungan hasil perjodohan.” Suasana di dalam bar terasa agak bergoyang sebelum akhirnya stabil kembali. Mungkin seharusnya aku tidak minum dua setengah gelas mai tai berturut-turut, tetapi acara happy hour mingguan bersama Selena dan Rachel ini adalah satu-satunya kesempatan bagiku untuk bersantai dan lepas kendali.

Tanpa tatapan menilai dari orang lain, tanpa perlu berpura-pura menjadi sosok yang sempurna dan sopan. Memangnya kenapa kalau aku agak sedikit mabuk? Nama barnya saja The Tipsy Goat. Jadi hal seperti itu memang wajar.

“Malah lebih baik kalau kami tidak saling bicara,” tambahku. “Dia bukan tipe pria yang menyenangkan untuk diajak ngobrol.”

Bahkan sampai sekarang, ingatan tentang pertemuan pertamaku, yang sejauh ini menjadi satu-satunya pertemuan ku dengan Xavier, masih mengirimkan gelombang rasa jengkel di sepanjang tulang belakangku.

Dia sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah karena membolos di tengah-tengah acara makan malam perkenalan kami demi merokok cerutu di ruang kerja Dadyku, dan dia pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih ataupun salam berpamitan.

Xavier memang seorang miliarder, tetapi tata kramanya tak ada bedanya dengan monster yang tak berpendidikan.

“Lalu kenapa kamu mau menikah dengannya?” Rachel mengangkat sebelah alisnya yang tertata rapi. “Minta orang tuamu untuk mencarikan jodoh yang lebih baik.”

“Itulah masalahnya. Tidak ada pria yang lebih baik di mata mereka. Mereka menganggap dia sangat sempurna.”

“Seorang Xavier Romanov, sempurna?” Alis Rachel terangkat lebih tinggi lagi. “Tim keamanannya pernah membuat seseorang masuk rumah sakit karena mencoba membobol rumahnya. Pria itu berakhir koma berbulan-bulan dengan tulang rusuk patah dan tempurung lutut hancur. Memang mengagumkan, sih, tapi aku tidak akan menyebutnya pria yang sempurna.”

Cuma Rachel yang bakal berpikir bahwa membuat seseorang koma adalah hal yang mengagumkan.

“Percayalah padaku, aku tahu soal itu. Bukan aku yang perlu kamu yakinkan,” gumamku.

Bukan berarti kekejaman Xavier yang terkenal itu bakal jadi masalah bagi keluargaku. Pria itu bisa saja menembak seseorang di tengah jam sibuk di pusat kota Manhattan dan keluargaku bakal membela bahwa orang yang tertembak itulah yang memang pantas mendapatkannya.

“Aku tidak mengerti kenapa kamu mau menyetujui pertunangan ini tanpa membantah,” Rachel menggelengkan kepalanya. “Kamu tidak butuh uang orang tuamu. Kamu bisa menikah dengan siapa pun yang kamu mau dan tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghentikanmu.”

“Ini bukan soal uang.” Bahkan jika orang tuaku memutus hak warisku, aku masih punya banyak simpanan dari hasil pekerjaanku, investasi, dan dana wali yang bisa kuakses sejak usiaku dua puluh satu tahun. “Ini soal…” Aku mencari kata yang tepat. “Keluarga.”

Selena dan Rachel saling bertukar pandang. Ini bukan pertama kalinya kami membahas tentang pertunanganku atau hubunganku dengan orang tuaku, tetapi aku selalu merasa terdorong untuk membela mereka setiap kali topik ini diangkat.

“Pernikahan yang dijodohkan adalah hal yang wajar dan diwajibkan di keluargaku,” kataku. “Kakakku melakukannya, dan aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku sudah tahu hari ini akan tiba sejak aku masih remaja.”

“Iya, tapi apa yang bakal mereka lakukan kalau kamu bilang tidak?” tanya Selena. “Mencoretmu dari silsilah keluarga?”

Perutku terasa anjlok. Aku memaksakan sebuah tawa kaku. “Mungkin.” Sangat amat pasti.

Mengingat mereka dulu memuji bibiku yang mencoret sepupuku dari keluarga hanya karena sepupuku itu menolak beasiswa ke Princeton demi membuka usaha food truck. Menolak menikahi seorang anggota keluarga Romanov ukurannya seribu kali lebih parah dari itu.

Jika aku membatalkan pertunangan ini, orang tuaku tidak akan pernah mau melihat atau berbicara denganku lagi seumur hidup. Mereka memang tidak sempurna, tetapi membayangkan diputus hubungan dari keluarga dan hidup sendirian membuat minuman mai tai di perutku terasa bergejolak berbahaya.

Selena tidak akan mengerti. Secara budaya, kami memang mirip, meskipun dia keturunan Asia Tionghoa sedangkan aku Eropa Tionghoa. Namun, dia berasal dari keluarga besar yang penuh kasih sayang yang mendukung keputusannya pindah ke ujung negeri demi menjadi bartender dan mengejar impiannya menjadi penulis.

Jika aku menyuarakan keinginan serupa pada orang tuaku, mereka mungkin akan mengunciku di kamar dan memanggil pastor untuk melakukan ritual pengusiran setan, atau melempar diriku ke jalanan tanpa membawa apa-apa selain pakaian yang melekat di badan.

“Aku tidak ingin mengecewakan mereka,” kataku. “Merekalah yang membesarkanku, dan mereka telah berkorban banyak hal agar aku bisa menikmati kehidupan yang kupunya sekarang. Menikah dengan Xavier akan membantu kami semua.”

Hubungan kekeluargaan seharusnya tidak bersifat komersial atau saling menguntungkan secara bisnis, tetapi aku tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa aku berutang besar pada orang tuaku atas segalanya, kesempatan, pendidikan, hingga kebebasan untuk tinggal dan bekerja di tempat yang kuinginkan tanpa perlu mengkhawatirkan soal uang. Semua itu adalah kemewahan yang tidak dimiliki kebanyakan orang, dan aku tidak menganggapnya sebagai hal yang sepele.

Orang tua merawat anak-anak mereka. Ketika anak-anak itu tumbuh dewasa, giliran mereka yang merawat orang tuanya. Dalam kasus keluargaku, itu berarti sang anak harus menikah dengan pria dari kalangan terpandang demi memperluas kekayaan dan pengaruh keluarga.

Begitulah cara dunia kami bekerja.

Selena mendesah. Kami sudah berteman sejak pertama kali bertemu di kelas yoga saat aku berusia dua puluh dua tahun. Latihan yoganya tidak bertahan lama, tetapi persahabatan kami tetap berlanjut. Dia sudah paham betul untuk tidak berdebat denganku mengenai masalah keluargaku. “Oke, tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa kamu belum pernah bicara lagi dengannya padahal kamu bakal pindah ke rumahnya minggu depan.”

Aku memainkan gelang batu safirku dengan gelisah. Aku sebenarnya ingin menolak untuk melepas apartemenku di West Village demi pindah ke penthouse milik Xavier di Upper East Side, tetapi apa gunanya? Aku cuma akan membuang-buang energi jika harus berdebat dengan Dadyku.

Namun, selain alamat tempat tinggal Xavier, aku tidak punya detail informasi apa pun untuk kepindahanku. Tidak ada kunci, tidak ada aturan gedung, tidak ada apa-apa.

“Kamu harus bicara dengan pria itu pada akhirnya,” tambah Selena. “Jangan jadi penakut.”

“Aku bukan penakut.” Aku berpaling ke arah Rachel. “Aku bukan penakut, kan?”

Rachel mendongak dari ponselnya. Secara aturan, tak satu pun dari kami yang boleh mengecek ponsel selama acara happy hour. Siapa pun yang melanggar aturan harus membayar seluruh tagihan malam itu.

Dalam kenyataannya, Rachel sudah membayari acara happy hour kami selama enam bulan terakhir. Dia benar-benar wujud nyata dari seorang workaholic.

“Meskipun aku tidak setuju dengan saran Selena tujuh puluh delapan persen dari seluruh waktuku, kali ini dia benar. Kamu harus bicara dengannya sebelum kamu pindah.” Sebuah kedikan bahu yang anggun. “Ada pameran seni di rumah Xavier malam ini. Kamu harus datang.”

Xavier terkenal memiliki koleksi seni yang sangat luar biasa yang dirumorkan bernilai ratusan juta dolar. Pameran pribadi tahunannya yang memamerkan koleksi akuisisi terbarunya adalah salah satu undangan yang paling diincar di seluruh Manhattan.

Kami secara teknis sudah bertunangan, dan kenyataan bahwa aku tidak mendapatkan undangan sebenarnya cukup memalukan, jika saja aku tidak merasa sangat lega karena tidak diundang.

Setelah aku pindah nanti, aku harus menghabiskan setiap malam bersamanya, jadi aku berusaha menggenggam erat kebebasanku selagi masih bisa. Prospek harus berbagi ruangan dan tempat tidur dengan Xavier Romanov terasa amat… menegangkan.

Bayangan sosoknya tiba-tiba muncul di benakku—saat dia duduk di balik meja kerja Dadyku, dengan mata yang gelap dan postur tubuh yang sombong, disertai gulungan asap cerutu yang melingkupi wajahnya yang sangat karismatik itu.

Rasa hangat yang tak terduga mendadak menjalar di sela-sela kakiku.

Tekanan ibu jarinya di bibirku, kilatan dingin di matanya saat dia menatapku… ada satu momen, hanya satu momen singkat, di mana aku sempat berpikir bahwa dia akan menciumku. Bukan untuk menunjukkan rasa sayang, melainkan untuk menodaiku. Untuk menguasai dan merusak diriku.

Rasa hangat itu makin menjalar rendah hingga tatapan penuh harap dari teman-temanku menarikku kembali ke masa kini.

Aku sedang tidak berada di ruang kerja ayahku. Aku sedang berada di dalam bar, dan mereka sedang menunggu jawabanku.

Pameran seni itu. Benar.

Penyergapan kenyataan yang dingin langsung menyiram habis rasa hangat tadi. “Aku tidak bisa datang tanpa diundang,” kataku, berharap mereka tidak melihat pipiku yang memerah di balik rona merah akibat alkohol. “Itu tidak sopan.”

“Kamu bukan penyusup pesta asing. Kamu itu calon tunangannya, meskipun kamu belum dapat cincin,” balas Selena. “Lagipula, kamu bakal segera pindah ke sana juga. Anggap saja ini sebagai pemandangan awal untuk rumah barumu, yang tidak bisa kamu tempati kecuali kalau kamu bicara dengannya.”

Aku mendesah, berharap bisa memutar balik waktu satu bulan ke belakang agar aku bisa mempersiapkan mentalku menghadapi semua ini.

“Aku benci kalau ucapanmu ada benarnya.”

Pipi Selena membentuk lesung pipit. “Banyak orang yang berpikiran sama. Aku sebenarnya ingin ikut bersamamu karena aku suka menyusup ke pesta, maksudku, tur rumah tapi aku ada sif kerja malam ini.”

Di siang hari, dia adalah calon penulis novel thriller erotis. Di malam hari, dia menyajikan minuman berharga mahal kepada tipe-tipe pria kekanak-kanakan di sebuah bar kumuh di East Village.

Dia membenci bar itu, para pelanggannya, dan manajernya yang menyebalkan, dan saat ini sedang aktif mencari pekerjaan lain. Namun sebelum mendapatkannya, dia terjebak di sana.

“Rachel?” tanyaku penuh harap.

Jika aku harus menghadapi Xavier malam ini, aku butuh bantuan.

“Aku tidak bisa. Asher Donovan baru saja menabrakkan mobil Ferrarinya di London. Dia baik-baik saja,” kata Rachel saat aku dan Selena membelalak kaget. Tak satu pun dari kami yang peduli pada olahraga, tetapi bintang sepak bola terkenal itu terlalu tampan untuk mati muda. “Tapi aku harus membereskan kekacauan media ini. Ini mobil kedua yang dia tabrakkan dalam dua bulan terakhir.”

Rachel menjalankan perusahan public relations independen dengan daftar klien yang sedikit tetapi berpengaruh besar. Dia selalu sibuk membereskan masalah.

Dia memberi isyarat kepada pelayan untuk meminta tagihan, membayarnya, dan memintaku berjanji untuk meneleponnya jika aku membutuhkan sesuatu sebelum akhirnya menghilang di balik pintu dalam balapan aroma parfum Jo Malone dan kibasan rambut pirang platinanya.

Selena juga pergi tak lama kemudian untuk sif kerjanya, tetapi aku masih tertahan di kursi, menimbang-nimbang apa yang harus kulakukan selanjutnya.

Jika aku bijak, aku seharusnya pulang dan menyelesaikan kotak barang-barang untuk kepindahanku. Tidak ada hal baik yang akan didapat dari menyusup ke pesta Xavier, dan aku bisa meneleponnya besok jika aku benar-benar mau.

Kemasi barang, mandi, lalu tidur, putusku.

Itulah rencanaku, dan aku akan berpegang teguh pada rencana itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!