Kegagalan dari Cinta Pertama terkadang membuat kita terpuruk dan sulit untuk memulai cinta yang baru ... Perasaan takut gagal, kecewa dan sedih kembali terus menghantui.
Begitu juga dengan Intan, kegagalan Cinta Pertamanya membuat ia trauma hingga ia menutup rapat hatinya. Ia membangun sebuah pintu besi yang sangat kokoh.
Lantas, adakah sosok yang mampu mendobrak pintu besi dari hati Intan?
Update tiap hari pkl 05.00 dan 17.00 WIB😁✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Kamu harus baik-baik saja!"
Keesokan harinya, Intan terlihat parno sendiri dengan orang-orang disekitarnya yang ia curigai bisa saja menjadi si tissu. Ia menatap sekililingnya dengan pandangn curiga, seakan-akan ia merasa sedang diawasi dari jauh.
"Kamu kenapa sih? Keliatan aneh banget tau gak?!" Seru Ifa yang kebingungan melihat tingkah Intan yang aneh.
Sebentar-sebentar Intan akan menoleh ke belakang, seakan memastikan bahwa tak ada orang yang memperhatikannya.
"Oh, hahaha. Gak lagi ngapa-ngapin kok. Cuman peregangan aja." Jawab Intan asal, sambil menoleh kiri-kanan kan kepalanya seperti sedang berolah raga.
"Aneh!" Gumam Ifa sambil menggelengkan kepalanya acuh. Sedangkan, Intan masih melakukan hal yang sama berulang kali.
Saat istirahat, seperti biasa sesudahnya Intan dan Ifa membeli jajan di kantin, Ifa akan menjalankan ritualnya. Kali ini Ifa tak membuang tenaga untuk mencoba mengajak Intan lagi yang mana ia tahu, pasti jawabannya adalah penolakan dan amarah dari Intan.
"Aku mau liat cogan dulu. Daah." Ucap Ifa sambil berlalu pergi bergabung dengan gadis-gadis disana.
Sedangkan Intan hanya menatapnya acuh. Ketika ia hendak melangkahkan kaki untuk menuju tempat favoritnya, bayangan sosok si pemberi tissu akan menunjukkan dirinya, membuat Intan takut dan hal itu sukses membuatnya mengurungkan niat untuk menuju tempat favoritnya itu.
Ia menoleh pada Ifa berada dan dengan yakin ia melangkah ke arah Ifa dan berdiri disampingnya tanpa Ifa ketahui, karna Ifa sudah fokus menatap Bayu, dkk.
"Oh My God! ... Hari apa sekarang?! Ini serius?!" Teriak Ifa terkejut bukan main saat ia tak sengaja melihat sosok disampingnya dan itu adalah Intan.
"Ssst!! Kamu heboh banget sih. Bisakah kamu diam?!" Gerutu Intan kesal karna teriakan Ifa membuat beberapa gadis menatapnya heran.
"Bagaimana aku gak heboh saat liat kamu disini ... Seorang Intan?! Aku merasa bahwa ini bukan kenyataan!" Seru Ifa masih tidak mempercayai pengelihatannya.
"Dunia gak bakal kiamat kalau aku disini.!" Dengus Intan kesal.
"Ya-Ya aku tahu! ... Tapi, hal apa yang membuatmu tiba-tiba berubah begini? Apa ada yang kamu taksir? Mana orangnya?!" Seru Ifa antusias dengan melihat sekeliling Intan.
"Taksir apa'an! Lupakan dan lihat dengan tenang cogan-coganmu itu. Aku hanya bosan dan ingin disini." Bohong Intan.
Ifa menatap Intan penuh curiga. Tapi, hal itu benar-benar diabaikan oleh Intan. Intan sendiri sebenarnya merasa risih di barisan para gadis yang terus berteriak histeris itu.
Tapi bayangan si tissu akan datang lebih menakutkan sehingga ia berusaha menahan diri. Intan juga sama sekali tak menikmati permainan basket itu. Matanya terus saja mengawasi kondisi disekitarnya.
Dilain sisi, Setya yang awalnya enggan untuk berpartisipasi dalam pertandingan dan memilih untuk mngamati Intan, sama sekali tak menyangka hari ini Intan tak pergi ke tempat favoritnya dan malah ikut bergabung berdiri diantara gadis-gadis. Melihat itu senyum merekah lebar dari bibir Setya.
"Baiklah, aku akan menunjukkan peforma terbaikku hari ini." Gumam Setya terus menatap Intan, namun tentu tak disadari oleh Intan. Sedangkan gadis-gadis di sebelah Intan sudah kepedean bukan main, mengira Setya terus menatap mereka.
"Wah, itu kak Setya ngelihatin ke arah kita terus!"
"Bener! Ya ampun sorot matanya buat leleh!"
"Huh, jantungku!"
"Tubuhku mau meleleh!"
Begitu ucapan-ucapan gadis di sebelah Intan itu. Sedangkan Intan sendiri yang merupakan objek asli dari tatapan Setya sama sekali tak mengetahuinya, ia malah terus menatap curiga pada sekitarnya.
"Tan, Intan ... Lihat deh, itu kak Setya ngelihatin arah kita loh!" Seru Ifa antusias.
"Bodo amat!" Jawab Intan acuh dan terus melanjutkan kegiatannya. Ifa menatap gemas sahabatnya itu, akhirnya ia memilih mengabaikan Intan dan fokus untuk melihat cogan didepan matanya.
Siapa ya, kira-kira yang ada diantara gadis-gadis ini yang sangat beruntung mendapatkan tatapan penuh kerinduan itu ... Apa jangan-jangan aku? Hehe ... Gumam Ifa dalam hati.
"Hei, lihatin apa sih?! Tuh mata entar copot loh, apalagi senyummu tuh cepet kondisikan kalau enggak, gadis-gadis disana akan berhenti nafas!" Ucap Bayu menepuk bahu Setya.
"Ahaha ... Aku terlalu bahagia." Jawab Setya dengan masih belum mengurangi senyumnya sama sekali.
"Ada hal apa yang membuatmu tersenyum sangat lebar seperti itu?" Tanya Bayu heran.
"Setelah sekian lama, akhirnya dia ikut menonton pertandingan ini dan berdiri bersama gadis-gadis itu. Ah, aku sangat bahagia." Seru Setya senang.
"Sungguh?! Mana? Dimana gadis itu?!" Seru Bayu antusias mencari gadis yang dimaksudkan sahabatnya itu.
"Sudah cukup. Hanya aku yang boleh menatapnya. Sekarang kita tunjukkan permainan yang sempurna untuknya ... Dan aku akan menjadi pemeran utama laki-lakinya, hehe." Seru Setya semangat.
"Dasar pelit!" Umpat Bayu kesal yang hanya mendapatkan tawa dari Setya.
Permainan pun dimulai. Setya sedari awal terus menunjukkan kemampuan terbaiknya, terlebih setelah dia berhasil mencetak angka, senyum lebar akan terus merekah menghiasi wajah tampannya. Senyum yang belum pernah dilihat oleh siapapun sebelumnya. Dan tentu itu sukses membuat penggemarnya berteriak histeris.
"Wah, senyum kak Setya indah sekali.."
"Iya, aku belum pernah melihat senyum itu sebelumnya.."
"Kalau kak Setya tersenyum lagi, aku akan kena serangan jantung setelah ini.."
Gadis-gadis itu terus terpukau dengan senyum lebar Setya saat itu. Namun, berbeda dengan Intan. Tentu saja ia tak mengetahui tentang senyum itu. Bagaimana tidak, Intan memang sedari awal tak melihat pertandingan.
Intan, masih terus mengawasi sekelilingnya, sampai sepasang matanya melihat sosok mbak CS yang sebelumnya memberikannya tissu padanya kemarin, mbak CS itu sedang membersihkan tepi lain dari lapangan.
"Itu kan mbak CS kemarin. Aku harus menanyakan dengan jelas padanya siapa yang sudah memberikan tissu padanya." Gumam Intan, kemudian dengan langkah cepat ia mendekati mbak CS kemarin.
Ifa yang terlalu fokus dengan tontonannya, sama sekali tak menyadari kepergian Intan. Namun, kepergian Intan itu tentu saja dilihat oleh Setya. Ia melihat arah yang dituju oleh Intan dan ia sangat terkejut saat melihat Intan mendekati mbak CS yang ia mintai bantuan untuk mengantarkan tissu pada Intan sebelumnya. Alhasil itu, membuatnya kurang fokus pada permainan.
"Setya, awas!" Teriak Bayu, saat bola basket yang mengarah pada Setya begitu cepat saat Setya masih fokus menatap Intan.
Untung, Setya menoleh dan berhasil menghindar tepat waktu. Namun, akibatnya bola masih terus melambung dan belum terhenti. Bola basket itu ternyata mengarah pada Intan yang sebentar lagi sampai pada mbak CS. Setya, khawatir bukan main. Ia berusaha berlari untuk menangkap bola itu agar tak terkena Intan, namun gerakannya kurang cepat.
"Awas!" Teriak Setya mencoba mengingatkan Intan. Namun, Intan tak mendengarnya dan ...
Bukk..
Bola basket itu mengenai kepala Intan dengan cukup keras. Intan yang belum siap dengan kedatangan bola itu yang sangat tiba-tiba, membuat kepalanya merasa sangat pusing dan seketika ia pingsan. Ifa yang melihat itu sangat ketakutan dan berlari ke arah Intan begitu juga Setya dan Bayu juga yag lainnya.
"Intan! Bangun Tan! Intan bangun!" Seru Ifa sembari mengangkat kepala Intan kepangkuannya sembari menepuk-nepuk pipi Intan berharap sahabatnya itu akan bangun.
Tapi, sama sekali tak ada pergerakan dari Intan, membuat Ifa ketakutan dan sangat cemas.
"Biar ku bawa ke UKS!" Ucap Setya cepat, kemudian tanpa menunggu jawaban atau respon dari Ifa dan semua yang ada disana, Setya dengan cepat mengangkat tubuh Intan dalam dekapannya dan membawanya ke UKS dengan setengah berlari.
"Kamu harus baik-baik saja!" Gumam Setya menatap Intan yang pingsan dan bersandar di dadanya. Ifa pun mengikuti Setya dari belakang.
"Baru pertama kali ini aku melihat Setya terlihat begitu khawatir. Apakah gadis itu yang berhasil menggetarkan hati Setya?" Gumam Bayu menatap punggung Setya yang terus menjauh dengan bingung.
.
.
.
Bersambung..
krna ak gak suka dgn perselingkuhan
dtunggu updatenya ka
ak pikir kmu gak kan nulis cerita lagi sekian lama menghilang hemm...
ywdh semangat bwt cerita baru yg pastinya seru juga yaaa semangat
aku tunggu ka hehe