INVESTASI CINTA YANG SALAH
Oleh: AwandaMw
"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."
Sinopsis:
Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.
Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.
Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
***Bab 9 surat cerai dan pilihan
🌸🌸🌸🌸
Cahaya matahari pagi menembus jendela kaca ruang tamu rumah mewah itu. Keheningan yang menekan menyelimuti udara. Di atas meja kaca yang bening, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal berstempel kantor hukum independen.
Reno duduk di sofa kulit dengan wajah yang masih dipenuhi sisa emosi semalam. Rambutnya agak berantakan, kemeja kerjanya belum sepenuhnya terkancing rapi.
Di seberang meja, Nadia duduk dengan anggun. Ia mengenakan setelah blazer hitam yang rapi, rambutnya tersanggul sempurna, dan tatapan matanya begitu tenang tanpa sedikit pun keraguan.
Ibu Risma dan Maya duduk di samping Reno. Keduanya menatap Nadia dengan pandangan penuh permusuhan dan ejekan.
"Apa-apaan ini, Nadia?!" bentak Reno seraya menunjuk amplop cokelat di atas meja. "Kamu benar-benar mau main gertak? Kamu kirim berkas gugatan cerai pagi-pagi begini ke aku?!"
Ibu Risma melipat kedua tangannya di dada, mendengus kencang.
"Baguslah kalau sadar diri! Dari dulu Ibu sudah bilang, kamu itu memang tidak pantas mendampingi Reno. Begitu Reno sukses, kamu bukannya mendukung, malah makin kekanak-kanakan dan bikin malu di restoran kemarin malam!"
"Iya, Mas Reno," timpal Maya sinis seraya menguas-usap kuku jarinya. "Mbak Nadia itu cuma cemburu karena lihat Kak Sella jauh lebih berkelas. Pake acara minta cerai segala, paling nanti juga bingung mau makan apa kalau sudah nggak dinafkahi Mas Reno."
Nadia tidak membalas cercaan mertua dan adik iparnya. Ia bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Reno.
"Itu bukan gertakan, Reno," ujar Nadia pelan, suaranya mengalun dingin namun sangat jelas. "Itu adalah gugatan perceraian resmi. Semua pasal mengenai pemisahan harta dan hak telah disusun oleh tim pengacara."
Reno tertawa hambar, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa tersinggung pada egonya. Ia menyambar amplop itu, membukanya dengan kasar, lalu membaca sekilas lembar pertama.
"Pemisahan harta?" Reno menatap Nadia dengan pandangan meremehkan yang amat sangat.
"Kamu mau minta harta gono-gini dari aku? Kamu mau minta bagian dari Apex Media?!"
Reno melempar berkas itu kembali ke atas meja dengan bunyi terpukul yang keras.
"Dengar ya, Nadia!" seru Reno seraya membusungkan dadanya. "Apex Media itu berdiri murni karena keringat, pikiran, dan kejeniusan aku sendiri! Kamu nggak punya andil satu sen pun di perusahaan itu! Kamu cuma istri rumah tangga yang duduk manis menikmati fasilitas yang aku kasih!"
"Betul itu!" seru Ibu Risma menimpal. "Jangan biarkan dia bawa uang kamu seperak pun, Reno! Dia nggak berhak!"
Nadia tersenyum tipis—sebuah senyuman yang membuat raut wajah Reno mendadak sedikit tertahan.
"Saya tidak meminta satu sen pun dari harta pribadimu, Reno," kata Nadia tenang. "Dalam draf gugatan itu sudah tertulis jelas: Saya keluar dari rumah ini tanpa membawa aset atas namamu. Saya tidak menuntut uang nafkah mut'ah, dan saya tidak menuntut pembagian saham Apex Media atas namamu."
Reno tertegun sejenak. Dahi pria itu berkerut heran. "Kamu... tidak menuntut apa-apa?"
"Sama sekali tidak," tegas Nadia. "Saya hanya ingin ikatan pernikahan ini diputus secara hukum hari ini juga. Kamu bebas menikahi Sella, kamu bebas memanjakan ibumu dan adikmu sepuasnya tanpa ada gangguan dari 'istri yang kaku' ini."
Maya tersenyum lebar, menyikut lengan ibunya. "Tuh kan, Bu! Dia emang nggak berani nuntut apa-apa karena emang nggak punya hak! Udah, Mas Reno, tanda tangani aja langsung!"
Ibu Risma mengangguk-angguk puas. "Iya, Reno. Biarkan dia pergi cuma membawa baju di badannya! Biar dia tahu rasanya hidup susah tanpa uang kamu!"
Reno menatap Nadia dengan mata berkilat jumawa. Rasa bangga dan keangkuhan yang meluap-luap kembali memenuhi pikirannya.
Di mata Reno, keputusan Nadia untuk tidak menuntut harta gono-gini adalah bukti mutlak bahwa wanita di depannya ini memang lemah, takut, dan menyadari kepasrahannya.
"Kamu sendiri yang memilih jalan ini, Nadia," kata Reno dingin, menyambar pena dari saku jasnya. "Jangan pernah menyesal dan jangan pernah datang berlutut memohon di kaki aku saat kamu kehabisan uang nanti."
Dengan gerakan cepat dan penuh kesombongan, Reno membubuhkan tanda tangannya di lembar persetujuan perceraian tersebut.
Sret. Sret.
Reno melempar pena itu ke meja, lalu menatap Nadia dengan pandangan penuh kemenangan. "Sekarang kamu boleh angkat kaki dari rumah aku. Semua fasilitas, mobil, dan kartu kredit yang atas nama aku, ditarik hari ini juga."
Nadia mengambil berkas yang telah ditandatangani itu dengan gerakan amat halus. Ia memasukkannya ke dalam tas kerjanya tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Terima kasih atas tanda tanganmu, Reno," ujar Nadia seraya berdiri tegak.
Nadia menatap Reno, Ibu Risma, dan Maya satu per satu. Tatapan matanya begitu jernih, tajam, dan menyimpan rahasia besar yang belum terungkap.
"Satu hal yang perlu kamu ingat, Reno," bisik Nadia pelan sebelum melangkah pergi. "Saya keluar dari rumah ini tanpa menuntut hartamu... karena seluruh harta yang kamu banggakan itu, sebenarnya adalah milik saya."
Reno tertawa keras mendengar ucapan itu, menganggapnya hanya sebagai ocehan kekalahan seorang wanita yang terbakar cemburu. "Milik kamu? Hahaha! Pikirkan saja nasibmu sendiri setelah ini, Nadia!"
Ibu Risma dan Maya ikut tertawa menggelegar, melempar tatapan cemooh saat melihat Nadia berjalan menuju pintu depan hanya dengan membawa satu koper sedang dan tas kerjanya.
Nadia melangkah keluar dari pekarangan rumah itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Di luar pagar, sebuah mobil sedan hitam mewah berpelat nomor khusus sudah menunggu. Pengemudi berseragam rapi segera turun, membukakan pintu belakang untuk Nadia dengan gestur sangat hormat.
"Selamat pagi, Bu Nadia. Seluruh berkas perceraian dan pendaftaran RUPS Luar Biasa PT Cakrawala Capital sudah disiapkan oleh Pak Hendra," kata sang pengemudi dengan sopan.
"Ke kantor pusat Cakrawala Capital sekarang," perintah Nadia dingin seraya melangkah masuk ke dalam mobil.
Pintu mobil tertutup rapat. Sedan mewah itu meluncur mulus meninggalkan kawasan perumahan tersebut.
Di dalam mobil, Nadia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Bimo.
"Bimo," sapa Nadia singkat.
"Iya, Nadia? Bagaimana?" sahut Bimo dengan nada cemas di ujung telepon.
"Surat cerai sudah ditandatangani oleh Reno," ujar Nadia datar. "Sekarang, jalankan skenario tahap pertama. Bekukan seluruh akses kartu kredit korporat eksekutif atas nama Reno Pratama dan Sella Anindya. Kirimkan surat panggilan RUPS Luar Biasa atas nama pemegang saham mayoritas PT Cakrawala Capital ke meja Reno dalam waktu dua jam."
Bimo menahan napasnya sejenak, merinding mendengar perintah yang begitu runtut dan tanpa kompromi. "Baik, Nadia. Panggilan RUPSLB akan resmi dikirimkan jam sepuluh pagi ini."
Nadia mematikan sambungan telepon, lalu bersandar rileks di jok kulit mobilnya.
Di ruang tamu rumah mewah itu, Reno masih tertawa bersama ibu dan adiknya, membayangkan betapa indahnya masa depan mereka tanpa kehadiran Nadia. Mereka sibuk merencanakan pesta syukuran dan rencana pembelian barang-barang mewah baru.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa dalam waktu kurang dari dua jam, badai finansial yang paling mengerikan dalam hidup mereka akan datang merobohkan seluruh kerajaan semu yang mereka banggakan.
Waaaa nadiaaa...aku padamuuu♥️♥️
🌸🌸🌸🌸