Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Jiwa yang lelah
Malam telah turun sepenuhnya ketika mobil hitam itu berhenti di basement penthouse. Lampu-lampu gedung memantul di kaca mobil, dingin dan teratur. Junho turun tanpa banyak bicara, langkahnya tenang, wajahnya kembali netral seolah topeng yang selalu ia kenakan setiap kali hari kerja berakhir.
Lift pribadi bergerak naik tanpa suara.
Saat pintu terbuka, suasana apartemen menyambutnya dengan cahaya temaram, suasana terasa tenang dan terlalu rapi. Tidak ada langkah kaki Nala yang biasanya menyambutnya dari dapur atau ruang keluarga.
Junho melepas sepatu, lalu meletakkan jasnya di sandaran kursi tanpa benar-benar memperhatikan. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, pandangannya langsung tertuju pada sosok kecil di ruang keluarga.
Jun-seok.
Anak itu duduk di atas karpet, bersandar pada sofa besar. Sebuah buku sketsa terbuka di pangkuannya, sementara krayon warna-warni berserakan di sekelilingnya. Tangannya sibuk menggoreskan warna demi warna pada kertas, wajahnya tampak serius bahkan terlalu serius untuk anak seusianya.
Selalu sendirian seperti biasanya, membuat langkah Junho terhenti. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di sana, memperhatikan putranya tanpa mengatakan apa-apa. Entah mengapa, pemandangan sederhana itu selalu berhasil menyentuh bagian dalam dirinya yang paling sulit ia sembunyikan. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang bahkan tak sempat ia beri nama.
Sejak Nala kembali bekerja, pemandangan seperti ini menjadi semakin sering ia temui. Jun-seok pulang bersama sopir, mengerjakan tugasnya sendiri, menunggu makan malam tanpa banyak bertanya, bahkan mulai terbiasa mengambil sesuatu yang ia butuhkan tanpa harus meminta bantuan.
Ia belajar menjadi mandiri lebih cepat dari seharusnya.
Junho tahu itu namun justru karena itulah, pikirannya sering melayang pada satu keinginan yang tak pernah benar-benar ia ucapkan.
"Akan lebih mudah jika Nala di rumah."
Namun, ia selalu menahan kalimat itu sebelum sempat terbentuk sempurna. Karena Junho tahu, Nala bekerja bukan karena kekurangan. Bukan pula karena ambisi kosong yang ingin mengejar sesuatu demi dirinya sendiri.
Nala bekerja karena itu adalah bagian dari dirinya sebuah panggilan jiwa yang begitu kuat hingga rasanya sama seperti napas. Sesuatu yang membuat mata wanita itu berbinar ketika membicarakan pekerjaannya, sesuatu yang membuatnya merasa hidup ketika ia berhasil melakukan apa yang ia cintai.
Dan Junho tidak ingin menjadi pria yang mematikan cahaya itu hanya atas nama keluarga. Ia mencintai Nala sebagai seorang istri namun, ia juga harus belajar mencintai perempuan yang tetap ingin menjadi dirinya sendiri.
“Daddy pulang,” suara Jun-seok memecah lamunannya.
Anak itu menoleh. Matanya sempat berbinar, tetapi hanya sesaat sebelum kembali meredup seolah ia sudah terlalu terbiasa untuk tidak berharap terlalu banyak.
“Hm.” Junho mengangguk tipis.
Tidak ada senyum maupun pertanyaan dari Jun-seok. Anak itu hanya tetap duduk di tempatnya, seolah takut jika ia mendekati Junho, ayahnya akan kembali pergi. Tatapannya mengikuti setiap langkah sang ayah, berharap setidaknya kali ini Junho akan berhenti dan menanyakan sesuatu.
Namun, Junho yang masih dipenuhi kekesalan atas urusan kantor tidak menyadarinya. Ia hanya melangkah melewati putranya menuju kamar utama.
Jun-seok menatap punggung ayahnya yang semakin menjauh. Ia membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu tentang gambar barunya, tentang pelajaran seni hari ini, atau sekadar bertanya apakah Daddy sudah makan.
Namun, langkah Junho tidak melambat, hingga pintu kamar tertutup pelan. Tidak ada suara keras, tidak ada bentakan. Hanya bunyi lembut daun pintu yang menutup, tetapi entah mengapa, cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa begitu nyata.
Di dalam kamar, Junho berdiri mematung.
Ia menyalakan lampu, memperlihatkan ruangan yang masih kosong di satu sisi. Lemari Nala belum disentuh. Tempat tidur masih tertata rapi. Tidak ada tas kerja yang tergeletak sembarangan, tidak ada aroma parfum lembut yang biasanya tertinggal di udara.
Semuanya terlalu rapi dan sepi, jam di dinding menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh. Dan Nala sama sekali belum pulang.
Junho mengembuskan napas panjang, lalu duduk di tepi ranjang. Kedua sikunya bertumpu di paha, sementara jemarinya saling mengunci erat. Kepalanya sedikit tertunduk.
Hari itu terasa terlalu panjang baginya, pengkhianatan di kantor, keputusan-keputusan yang harus ia ambil tanpa ruang untuk ragu, wajah-wajah yang harus ia hadapi dengan kepala tegak meski pikirannya sendiri berantakan semuanya menumpuk dan menekan sejak pagi.
Dan di tengah semua itu, ia memilih diam, bukan karena ia tidak peduli melainkan karena ia terlalu lelah untuk menjadi segalanya sekaligus.
Di luar kamar, Jun-seok masih duduk di tempat yang sama. Sesekali matanya melirik ke arah pintu kamar orang tuanya, seakan masih berharap pintu itu akan terbuka dan Junho kembali menghampirinya.
Namun, pintu itu tetap diam.
Jun-seok akhirnya kembali menundukkan kepala pada buku gambarnya. Krayon di tangannya bergerak perlahan, mengisi bagian kosong di atas kertas. Kali ini, ia menambahkan satu sosok kecil di sudut gambar.
Anak itu menatap hasil gambarnya beberapa saat, lalu menghela napas kecil.
“Selalu seperti itu...” gumamnya lirih. “Kapan Mommy pulang?”
Suara itu begitu pelan hingga nyaris tenggelam dalam sunyinya apartemen. Jun-seok kembali menggoreskan krayon pada kertas, mencoba mengalihkan pikirannya. Namun, garis-garis yang ia buat semakin lama semakin tidak beraturan.
Seperti hatinya dan anak itu belajar menerima dunia apa adanya, bahkan ketika ada bagian dari dirinya yang sebenarnya masih ingin dipeluk dan diyakinkan bahwa ia tidak sendirian.
──☾⋆★⋆☾──
Jam menunjukkan pukul sembilan tepat ketika pintu penthouse terbuka perlahan. Nala melangkah masuk dengan gerakan yang nyaris tanpa suara. Sepatu hak tingginya ia lepaskan di dekat pintu, sementara tas kerja ia sandarkan di meja konsol. Bahunya turun sedikit, tanda lelah yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan akhirnya terlihat juga.
Rumah itu terasa sunyi, lampu ruang keluarga menyala redup, tidak ada suara langkah kecil yang biasanya terdengar, tidak ada krayon yang berserakan, dan tidak ada buku sketsa yang terbuka. Nala berhenti sejenak, menoleh ke arah sofa yang kini kosong.
“Seok?” panggilnya pelan.
Namun tidak ada jawaban, hal itu membuat dadanya menghangat sekaligus mencelos ketika melihat pintu kamar putranya tertutup rapat. Cahaya lampu malam yang kecil masih terlihat dari celah bawah pintu. Jun-seok sudah tidur.
Nala menghela napas lega, lalu memejamkan mata sesaat, rasa lega muncul karena setidaknya dia tidak menunggu.
Pikiran itu selalu datang beriringan dengan rasa bersalah yang tak pernah benar-benar pergi. Ada bagian dalam dirinya yang lega karena Jun-seok sudah tidur, tetapi ada pula sisi lain yang berharap anak itu masih terjaga agar ia bisa memeluknya, mendengar cerita-cerita kecilnya, atau sekadar meminta maaf karena kembali pulang terlambat.
Namun, malam semakin larut dan ia kembali melewatkan waktu bersama putranya. Nala mengembuskan napas perlahan sebelum melangkah menuju kamar utama. Pintu tidak terkunci. Ia memutarnya pelan dan mendorongnya tanpa suara.
Junho sudah ada di sana, pria itu duduk di kursi dekat jendela. Jasnya tergantung asal di sandaran, sementara dasinya tergeletak begitu saja di atas meja. Kemeja putih yang dikenakannya sejak pagi masih melekat di tubuh, hanya satu kancing bagian atas yang sudah terbuka.
Tatapannya tertuju pada kegelapan di balik kaca, punggungnya terlihat kaku bahkan dari belakang, Nala bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia melangkah masuk, lalu menutup pintu perlahan di belakangnya.
“Aku pulang,” ucap Nala pelan sembari meletakkan beberapa dokumen dari agensi yang dibawanya di atas meja.
Suara itu membuat Junho menoleh singkat.
“Hm.”
Hanya satu suara yang cukup untuk Nala merasakan ada perubahan suasana di dalam kamar. Bukan ketegangan yang meledak, melainkan sesuatu yang jauh lebih halus, seperti tekanan yang perlahan memenuhi udara, membuat setiap gerakan terasa harus dipikirkan.
Ia mendekat ke meja rias, lalu membuka kancing cardigan yang dikenakannya satu per satu.
“Seok sudah tidur?” tanyanya pelan.
“Sudah,” jawab Junho singkat.
Nada itu membuat tangan Nala berhenti sejenak, ia menoleh perlahan, menatap suaminya dari pantulan cermin. Tatapan Junho masih tertuju ke arahnya, tetapi wajah pria itu sulit dibaca.
Nala mengenal nada tersebut karena jika Junho sudah berbicara seperti itu, biasanya ada sesuatu yang sedang ia tahan. Firasat Nala mengatakan, malam ini tidak akan berakhir sesederhana kepulangannya.
“Kamu marah?” tanya Nala hati-hati.
Pertanyaan itu membuat Junho menarik napas panjang. Dadanya naik turun perlahan, seolah ia sedang mengumpulkan sisa kesabaran yang masih dimilikinya sebelum akhirnya berkata,
“Aku lelah, Nala,” ucapnya lirih.
Jawabannya jujur, tetapi tidak lengkap, Nala mengangguk pelan mengerti.
“Aku juga,” jawab Nala dengan suara yang tak kalah lirih.
Hening menyusup di antara mereka. Dua orang dewasa yang sama-sama kehabisan tenaga, berdiri di satu ruangan yang seharusnya menjadi tempat mereka beristirahat, tetapi malam itu justru terasa seperti ruang untuk menyimpan segala sesuatu yang sejak tadi mereka tahan.
Tidak ada yang tahu siapa yang harus berbicara lebih dulu.
“Aku pulang jam sembilan. Aku sudah bilang, kan?” ucap Nala akhirnya. Suaranya lembut, tetapi tetap menyimpan ketegasan.
Ia melangkah mendekati Nala, lalu berhenti beberapa langkah di hadapannya. Untuk sesaat, pria itu hanya diam, menatap wajah istrinya seolah sedang mencari kata-kata yang tepat.
“Seok pulang lebih awal. Dia sendirian lagi di rumah,” ujar nya pelan.
Kalimat itu jatuh begitu saja tidak ada nada menyalahkan di dalamnya, tetapi justru karena disampaikan dengan tenang, kalimat itu terasa lebih menusuk.
“Aku tahu,” jawab Nala, kali ini lebih pelan. “Dan aku juga tahu kamu yang paling sering menjemputnya. Aku tidak menutup mata.”
“Lalu kenapa?” tanya Junho pelan, pria itu tidak meninggikan suaranya. Namun justru suara yang terlalu tenang itu seperti pertanda.
“Kenapa harus sesibuk ini, Nala?” lanjutnya. Tatapannya tetap tertuju pada wanita di hadapannya. “Kamu tidak kekurangan apa pun. Aku memenuhi segala kebutuhanmu, kebutuhan Seok, semuanya. Apa lagi yang kamu mau?”
Nala terdiam sejenak bukan karena tidak memiliki jawaban, melainkan karena ia tahu jawaban itu mungkin tidak akan mudah diterima oleh Junho.
“Karena aku hidup, Junho,” ucap Nala akhirnya. “Bukan sekadar ada.”
Tatapan Nala tidak bergeser.
“Aku tahu kamu bertanggung jawab. Bahkan lebih dari cukup. Aku tahu kamu berusaha memastikan aku dan Seok tidak kekurangan apa pun. Tapi aku juga perlu bernapas.” Nala menarik napas perlahan sebelum melanjutkan. “Lagipula, Seok bukan anak kecil. Dia sudah sepuluh tahun.”
Kalimat itu membuat Junho kembali melangkah mendekat. Ia berhenti dalam jarak aman, tetapi sorot matanya semakin dalam.
“Aku tidak pernah melarangmu hidup,” ucapnya pelan.
“Tapi kamu berharap aku diam.” Suara Nala tetap terkendali, meski ada sesuatu yang mulai bergetar di baliknya. “Kamu ingin aku di rumah, menunggu, memastikan semuanya rapi, memastikan Seok baik-baik saja, supaya kamu tidak perlu khawatir.”
Nala menatapnya lekat-lekat. “Kamu dari dulu seperti itu, Junho. Tidak pernah berubah.”
Junho menggeleng pelan bukan penolakan yang keras, melainkan gerakan kecil seseorang yang merasa perkataan di hadapannya tidak sepenuhnya menggambarkan apa yang ada di dalam pikirannya.
“Aku ingin anak kita tidak sendirian. Kau tidak kasihan pada Seok, Nala? Dia belum sedewasa itu. Tidak, dia pasti kesepian menunggu kita pulang setiap hari.”
Kalimat itu akhirnya keluar, bukan sebagai tuduhan, melainkan sebuah kekhawatiran yang sudah terlalu lama ia simpan sendiri. Nala menunduk sejenak. Jemarinya saling bertaut sebelum akhirnya ia mengangkat wajah dan berkata lirih,
“Aku juga tidak ingin itu. Tapi aku tidak bisa berhenti menjadi diriku sendiri demi menenangkan rasa takutmu. Oppa, biarkan aku hidup dengan caraku... aku mohon,” ucap nya membuat Junho terdiam rahangnya mengeras, sementara tatapannya berubah.
“Apa? Kau bicara seperti itu pada suamimu?” katanya dengan nada yang naik satu oktaf.
Mendengar itu, Nala hanya menggeleng pelan. Ia tidak ingin memperpanjang perdebatan. Tubuh dan pikirannya sudah lelah karena pekerjaan kantor, ditambah Junho dengan kebiasaan lamanya yang tak pernah berubah.
“Maaf, bukan itu maksudku,” jawab Nala lirih.
Nala meraih tangan Junho. Pria itu tidak menolak, tetapi tetap diam. Jemari mereka bertaut, sementara Nala menatap wajah suaminya yang tampak jauh lebih lelah daripada yang ingin ia tunjukkan.
“Ada apa?” lanjut Nala pelan, seolah sedang mencoba membaca kegelisahan yang disembunyikan Junho.
Nala yakin ini bukan hanya tentang Jun-seok. Ada sesuatu yang terjadi pada Junho, sesuatu yang membuat pria itu tiba-tiba bersikap seperti ini. Namun, Junho hanya diam mematung seolah tidak siap untuk menceritakan nya sekarang.
Namun Nala tetap menunggunya tanpa melepaskan genggaman tangannya. Ia tidak mendesak, tidak pula mengajukan pertanyaan lain. Ia hanya tetap berada di sana hingga akhirnya Junho kembali membuka suara.
“Hari ini aku dikhianati orang yang kupercaya sejak lama,” ucapnya tiba-tiba. Suara itu terdengar begitu rendah, tetapi berat. “Dana proyek digelapkan. Aku yang lengah.”
Nala menatapnya lebih lekat.
“Kenapa tak bilang dari tadi?” Nala mendekat pada suaminya.
“Aku tidak tahu harus bilang bagaimana.” Junho menundukkan pandangan sejenak. “Aku pulang, dan rumah kosong. Anak kita bermain sendiri. Dan aku...” Ia terdiam, seolah kalimat berikutnya jauh lebih sulit untuk diucapkan. “Aku tidak sanggup menjadi lembut.”
Kejujuran itu menggantung di udara, membuat Nala menghela napas panjang. Tanpa mengatakan apa-apa, ia melangkah mendekat lalu memeluk Junho, mencoba menenangkan pria itu. Untuk beberapa saat, ia hanya diam dalam pelukannya.
Junho tidak membalas. Namun, Nala tetap memeluknya. Tangannya mengusap punggung Junho perlahan, membiarkan pria itu memiliki sedikit ruang untuk melepaskan lelah yang sejak tadi dipikulnya sendirian.
Lalu, dengan suara lembut, Nala berkata,
“Aku tidak pulang untuk bertengkar, Oppa. Aku pulang karena aku ingin kembali ke sini. Ke kamu.”
Nala memeluk suaminya lebih erat hingga Junho memejamkan mata sesaat. Ketika membukanya kembali, kemarahan yang sejak tadi tertahan di wajahnya telah mereda. Yang tersisa hanya kelelahan yang tak lagi ia sembunyikan.
“Aku tidak ingin kehilangan apa pun lagi,” ucapnya lirih.
Nala mengangkat tangannya, menyentuh rahang suaminya dengan lembut. Sentuhan kecil itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Junho kembali menatapnya.
“Aku juga tidak. Maaf, ya,” ucapnya pelan.
Junho yang awalnya hanya diam akhirnya mengangguk. Tangannya perlahan merengkuh pinggang Nala, menarik tubuh istrinya lebih dekat ke dalam pelukannya.
Nala tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka.
Untuk malam itu, tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Setidaknya untuk sementara ini dan menurut Nala itu sudah cukup.
Setelah beberapa saat, Nala akhirnya melepaskan pelukannya perlahan. Ia menatap wajah Junho yang kini tampak jauh lebih tenang, meski kelelahan masih jelas tergambar di sana.
“Sudah makan?” tanya Nala, yang membuat Junho menggeleng.
“Belum,” jawabnya pelan.
“Kalau begitu, ayo mandi lalu pesan makanan,” ucap Nala.
Junho kembali menggeleng.
“Aku ingin makan masakan Indonesia, tolong masakan itu untuk ku,” pinta ya yang membuat Nala terdiam. Sudah pukul sembilan malam, dan setelah seharian bekerja, kini ia harus memasak lagi begitu sampai di rumah.
Ia menghela napas pelan.
“Baiklah... Sekarang mandi dulu, ayo.”
Nala akhirnya menyetujui keinginan itu setelah beberapa saat terdiam. Ia tidak ingin memperpanjang perdebatan yang baru saja mereka selesaikan. Untuk malam ini, rasanya cukup sudah mereka saling melukai dengan kata-kata.
Nala menuntun Junho menuju kamar mandi utama. Lampu dinyalakan, cahaya hangat memantul pada dinding marmer pucat. Ruangan itu luas, bersih, dan sunyi—seperti jeda yang mereka butuhkan setelah hari yang terlalu panjang.
Junho membuka manset kemejanya perlahan, kemudian meletakkan jam tangan di atas meja kecil. Nala berdiri di dekat wastafel, mengikat rambutnya ke atas dengan gerakan sederhana. Tidak ada percakapan atau tuntutan yang terasa memaksa, selain dua orang yang berbagi kelelahan dengan cara paling jujur.
Air hangat mengalir ketika mereka berdiri berdampingan di bawah pancuran. Uap tipis perlahan memenuhi ruangan, membuat udara terasa lebih lembut dan sedikit meredakan ketegangan yang sebelumnya masih menggantung di antara mereka.
Nala membiarkan air membasahi pundaknya sebelum meraih sabun cair dan menuangkannya ke telapak tangan.
“Punggungmu,” ucapnya pelan.
Junho berbalik sedikit. Nala mulai mengusap punggung suaminya dengan gerakan perlahan dan hati-hati. Sentuhan itu terasa sederhana, tetapi ada sesuatu yang menenangkan di dalamnya—seolah bukan hanya tubuh Junho yang ingin ia bersihkan, melainkan juga beban yang sejak tadi melekat di pundaknya.
Junho menundukkan kepala. Bahunya perlahan mengendur.
“Terima kasih,” katanya lirih.
Nala tidak menjawab karena ia tahu ucapan itu bukan sekadar untuk sabun dan air. Junho sedang berterima kasih karena ia masih ada di sana. Karena meski lelah, marah, dan sempat terluka oleh perkataan satu sama lain, Nala tetap memilih tinggal.
“Bagaimana di agensi?” tanya Junho tiba-tiba.
Nala meraih sampo, lalu menuangkannya ke rambut Junho.
“Lancar saja... Hanya ada sedikit perdebatan ide antar anggota,” jawab Nala sembari memijat kepala Junho perlahan.
Junho hanya diam. Kepalanya sedikit menunduk, matanya terpejam, membiarkan pijatan tangan Nala mengurai ketegangan yang sejak tadi memenuhi kepalanya.
“Sebaik apa sistem di sana?” tanya Junho lagi.
Gerakan tangan Nala berhenti sesaat, dia terdiam cukup lama, bingung dengan arah pembicaraan suaminya. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa terasa seperti menyimpan maksud lain.
Nala menatap wajah Junho yang masih menunduk hingga akhirnya, Junho kembali berkata.
“Apa di sana batas profesional seketat di LYNX?” lanjutnya.
Gerakan tangan Nala seketika terhenti. Untuk beberapa detik, ia hanya diam, hingga akhirnya mengerti ke mana arah pembicaraan suaminya.
“Agak longgar... Sedikit,” jawab Nala jujur.
Junho tidak menanggapi lagi. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang justru terasa nyaman. Tidak ada lagi pertanyaan maupun perdebatan. Junho bahkan membantu Nala menyelesaikan kegiatan mereka di kamar mandi hingga akhirnya air dimatikan.
Mereka meraih handuk masing-masing. Nala keluar lebih dulu, membiarkan Junho menyusul beberapa saat kemudian.
Di dapur, Nala sudah berganti pakaian dengan baju rumah yang longgar. Rambutnya kembali ia ikat agar tidak mengganggu. Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh.
Ia membuka lemari es yang isinya rapi namun tetap sederhana, di sana tidak banyak bahan makanan, namun cukup untuk membuat sesuatu.
Nala menarik napas pelan, lalu mulai bekerja. Ia menanak nasi putih dalam porsi kecil, secukupnya untuk mereka berdua. Di wajan lain, ia menumis bawang merah dan bawang putih hingga harum. Aroma gurih itu segera memenuhi dapur, hangat dan akrab, membawa suasana rumah kembali terasa hidup.
Ia menambahkan irisan cabai merah secukupnya, lalu memasukkan telur dan mengorak-ariknya dengan cepat. Sedikit kecap manis, garam, dan lada menyusul.
Sederhana dan tidak berlebihan, masakan rumahan yang tidak membutuhkan pengakuan apa pun sedangkan di sisi lain, Nala merebus air untuk membuat sup bening ringan. Daun bawang, wortel yang diiris tipis, potongan daging, dan sedikit kaldu ia masukkan satu per satu. Tidak banyak bumbu, tidak terlalu berat. Cukup untuk mengisi perut setelah hari yang panjang.
Junho muncul di ambang dapur dengan kaus rumah dan celana santai. Rambutnya masih setengah basah, beberapa helai jatuh di dahinya. Ia berhenti sejenak, memperhatikan Nala dari kejauhan.
Gerakan tangan istrinya terlihat cekatan. Bahunya pun sudah tampak lebih rileks dibandingkan beberapa saat lalu.
“Aromanya... seperti dulu,” katanya pelan.
Nala tersenyum kecil tanpa menoleh.
“Iya? Aku sudah lama tidak masak. Semoga rasanya tidak aneh,” ucap Nala sembari menyendok nasi ke dalam piring.
Ia kemudian menata telur orak-arik di atasnya, lalu menuangkan sup bening ke dalam mangkuk.
Mereka duduk berhadapan di meja makan. Lampu di atas kepala menyala temaram, menerangi meja dengan cahaya hangat. Di antara mereka, kelelahan hari itu perlahan mulai mereda, digantikan suasana rumah yang tenang.
“Masih sama... Ini enak sekali,” ucap Junho sembari menuangkan sedikit sup ke dalam piringnya.
Nala hanya melirik sekilas, lalu kembali menyentuh sendoknya.
“Nala,” panggil Junho.
Panggilan itu membuat Nala mendongak dan menatap pria di hadapannya.
“Iya?” tanya Nala, sedikit bingung.
“Kapan kau akan mengajukan cuti? Kita sudah lama tidak berlibur bersama. Aku tidak ingin Jun-seok terus seperti itu.” Junho berhenti sejenak, meletakkan sendoknya. Tatapannya tertuju pada Nala. “Kau tahu aku berhenti dari semua ini demi kalian. Aku melakukan itu untuk kalian. Tidak bisakah kau melakukan hal kecil untuk kami?”
Pertanyaan itu kembali membawa mereka pada topik yang sama. Nala menghela napas panjang, lalu menundukkan pandangan. Jarinya menggenggam sendok sedikit lebih erat.
“Terima kasih... Tapi, Oppa, tidak bisa sekarang. Aku sedang banyak pekerjaan. Mungkin aku akan menemani Seok saat libur saja. Tapi untuk sekarang, aku belum bisa mengambil cuti. Album mereka masih membutuhkan aku,” ucap Nala pelan.
Ada kehati-hatian dalam suaranya, seolah ia takut jawaban itu kembali memicu pertengkaran yang baru saja mereka redakan.
Sejenak, suasana kembali hening tetapi tidak bertahan lama ketika kemudian Junho melanjutkan makannya dengan tenang. Hanya bunyi sendok yang sesekali beradu pelan dengan piring, terdengar jelas di tengah ruang makan yang sunyi.
Hingga akhirnya, pria itu kembali bicara.
“Sabtu ini, luangkan waktumu. Jika bukan untukku, untuk putra kita.” Junho menatap Nala sejenak. “Aku tidak perlu memohon kepada istriku, kan?”
Nada suaranya tetap pelan, namun Nala memahami maksud di balik kalimat itu. Tidak ada bentakan, tidak ada amarah yang meledak. Hanya sebuah permintaan yang disampaikan dengan cara yang membuatnya sulit untuk ditolak.
“Iya,” jawab Nala singkat sembari meneguk air.
Nafsu makannya hilang begitu saja. Tenggorokannya terasa berat, tetapi ia tetap duduk di sana, menemani Junho hingga pria itu menyelesaikan makanannya.
Begitu Junho selesai, Nala berdiri untuk membereskan piring-piring di atas meja. Namun, sebelum sempat melangkah, Junho menahan tangannya.
“Biar aku. Masuk ke kamar dan ganti pakaian. Aku ingin ditemani malam ini,” ucapnya.
Nala menatapnya sejenak. Ada sedikit keraguan di matanya, tetapi akhirnya ia membiarkan Junho mengambil alih. Ia berdiri beberapa saat, mengembuskan napas panjang, lalu melirik ke arah kamar.
Dari sana terdengar keheningan yang aman. Jun-seok sudah tidur. Nala kembali mengembuskan napas. Pandangannya jatuh pada punggung Junho yang kini sibuk mencuci piring bekas makan mereka. Pria itu tidak mengatakan apa-apa lagi, seolah permintaannya tadi sudah cukup untuk menyampaikan apa yang ia inginkan.
Setelah beberapa saat, Nala akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar.
Malam itu berlangsung sedikit canggung. Tidak ada lagi perdebatan, tetapi juga belum ada kehangatan yang benar-benar kembali seperti biasa. Namun, Nala tahu, ia tidak bisa terus menghindar dari sesuatu yang sudah mereka mulai bersama sejak belasan tahun lalu.