Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.
Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.
Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Undangan
Beberapa hari berlalu sejak pembentukan susunan Tetua Sekte Surgawi Langit. Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti kaki Gunung Langit.
Gerbang utama sekte berdiri megah — dua pilar batu putih setinggi puluhan zhang, diukir dengan pola awan dan bintang yang berkilau samar.
Di kedua sisi gerbang, dua orang Tetua Dewa berdiri tegak tanpa bergerak sedikit pun. Wajah mereka tenang, namun aura yang mereka pancarkan membuat siapa pun enggan melangkah sembarangan. Mereka adalah Tetua Penjaga — penjaga gerbang utama sekte.
Dari kejauhan, satu sosok melayang turun perlahan ke tanah datar di depan gerbang. Dia mengenakan jubah berwarna biru langit dengan sulaman awan putih di bagian dada — pakaian khas Tetua Sekte Awan Tinggi. Itu adalah Tetua Ming, utusan yang ditugaskan Ketua Sekte Chang.
Dia menatap gerbang besar itu dengan mata terbelalak, tak percaya apa yang dilihatnya.
"Gerbang ini... batu roh murni?" gumam Tetua Ming dengan tatapan takjub. "Pola di pilar itu... ini bukan pola biasa. Ini formasi pelindung yang aktif sepanjang waktu. Sekte macam apa yang mampu membangun gerbang semegah ini di tempat yang selama ini kami anggap tak berpenghuni?"
Dia melangkah maju, berhenti tepat di depan gerbang — belum berani melangkah masuk. Dua Tetua Penjaga menatapnya dengan tenang, tidak bertindak, tidak juga menyilakan masuk.
Tetua Ming merasakan aura kedua orang itu — dalam dan kokoh, namun dia tidak bisa melihat tingkat kekuatan mereka. Dia hanya bisa merasakan satu hal — kedua orang ini... jauh lebih kuat dari yang dia duga.
"Maaf mengganggu," ucap Tetua Ming dengan sopan namun tetap berwibawa, sambil menangkupkan kedua tangan. "Saya Tetua Ming dari Sekte Awan Tinggi. Saya membawa pesan dari Ketua Sekte Chang untuk pemimpin sekte ini. Mohon sampaikan kedatangan saya."
Tetua Penjaga di sebelah kanan mengangguk pelan, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi berlebih.
"Tunggu di sini," ucap Tetua Penjaga itu dengan suara rendah namun jelas. "Kami akan menyampaikannya. Silakan berdiri di luar gerbang."
Tetua Ming tertegun sejenak. Dia adalah Tetua dari Sekte Awan Tinggi — kekuatan terbesar di wilayah ini. Biasanya, sekte lain akan menyambutnya dengan hormat dan mengantarnya masuk ke aula utama.
Namun di sini... dia hanya diminta menunggu di depan gerbang. Tidak ada kemarahan, tidak ada penghinaan — hanya ketegasan yang tenang.
Meski begitu, dia tidak berani protes. Kedua orang di depannya memancarkan aura yang membuatnya sadar — dia bukan lawan mereka.
"Baiklah," jawab Tetua Ming sambil tersenyum tipis, berusaha tetap tenang. "Saya akan menunggu di sini."
Tetua Penjaga itu menutup mata sejenak, menyampaikan pesan melalui transmisi suara roh — cara yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah mencapai tingkat kultivasi tertentu.
(Suara Tetua Penjaga: Tetua Agung, ada utusan dari Sekte Awan Tinggi bernama Tetua Ming. Menunggu di depan gerbang utama, membawa pesan undangan untuk Tuan Sekte.)
Di Aula Tetua Agung, Mo Yuan yang sedang duduk diam membuka matanya perlahan. Dia mengangguk pelan, lalu langsung berjalan menuju Puncak ke-10 — kediaman Lin Yue.
Sesampainya di halaman Puncak ke-10, dia melihat Lin Yue berdiri di balkon, seakan sudah menantinya.
Mo Yuan berlutut "Tuan Sekte," ucap Mo Yuan dengan suara tenang namun hormat. "Tetua Ming dari Sekte Awan Tinggi telah tiba di gerbang utama. Beliau membawa pesan undangan dari Ketua Sekte Chang."
Cadarnya berkibar pelan tertiup angin pagi. Dia sudah tahu kedatangan utusan itu bahkan sebelum pesan itu disampaikan
"Kembalilah ke Aula Tetua Agung," ucap Lin Yue pelan namun tegas. "Panggil Bai Yuan. Suruh dia pergi menemui Tetua Ming. Terima undangan atas nama sekte. Katakan — Sekte Surgawi Langit akan mengirim perwakilan untuk hadir di pertemuan itu. Belum saatnya aku menampakkan diri. Satu Tetua Nirmala sudah cukup untuk menyambutnya, dan satu Tetua Nirmala pula yang akan mewakili sekte kita di pertemuan itu."
"Siap, Tuan Sekte!" jawab Mo Yuan sambil menunduk hormat, lalu berbalik turun menuju Aula Tetua Agung untuk menyampaikan perintah itu kepada Bai Yuan.
***
Tidak lama kemudian, sosok Bai Yuan berjalan perlahan mendekati gerbang. Jubah putihnya berkibar pelan tertiup angin.
Saat dia muncul dari balik gerbang, mata Tetua Ming membelalak kaget. Aura yang dipancarkan orang itu jauh lebih mendalam dan menggetarkan hati dibandingkan kedua penjaga gerbang tadi.
Wibawa itu begitu agung, bagaikan gunung agung yang tak tergoyahkan. Tetua Ming berdiri terpaku — di Benua Langit Biru ini belum pernah ada yang berada di Tahap Nirmala, jadi dia belum pernah melihat atau merasakan aura seperti itu sebelumnya.
Dia tidak tahu pasti apa itu, hanya merasa kekuatan itu jauh melampaui apa pun yang pernah dia ketahui.
(Batin Tetua Ming: "Aura ini... begitu dalam, begitu menggetarkan... Apakah mungkin itu milik Tahap Nirmala? Tapi mustahil! Di benua ini belum ada yang mencapai tahap itu!")
"Saya Bai Yuan, Tetua Sekte Surgawi Langit," ucap Bai Yuan dengan suara tenang namun berwibawa, berhenti di dalam gerbang — tidak melangkah keluar, tidak juga menyilakan masuk. "Kau membawa pesan dari Sekte Awan Tinggi?"
"Benar," jawab Tetua Ming sambil menangkupkan tangan dengan hormat yang jauh lebih dalam dari sebelumnya, hatinya masih berdebar kaget.
"Saya Tetua Ming, utusan dari Ketua Sekte Chang. Kami merasakan gelombang energi yang luar biasa dari arah Gunung Langit. Ketua Sekte Chang mengundang Tuan Sekte Surgawi Langit untuk hadir di pertemuan antar sekte bulan depan, di Sekte Awan Tinggi. Ini surat undangannya."
Tetua Ming mengeluarkan amplop berwarna emas yang diikat dengan pita sutra biru. Tangannya sedikit gemetar — bukan karena takut, tapi karena kagum dan bingung dengan aura yang baru saja dia rasakan.
Bai Yuan menerimanya dengan sopan, tanpa menyentuh tangan Tetua Ming.
"Undangan telah diterima," ucap Bai Yuan dengan tatapan tegas. "Sekte Surgawi Langit akan mengirim perwakilan untuk hadir. Silakan kembali."
Tetua Ming tertegun sejenak. Tuan Sekte-nya bahkan tidak muncul — hanya mengirim seorang Tetua untuk menerima undangan itu, dan pertemuan itu pun akan dihadiri oleh perwakilan saja.
Namun dia tidak merasa dihina. Justru sebaliknya — dia semakin sadar bahwa Sekte Surgawi Langit bukanlah sekte biasa.
Pemimpin yang bahkan tidak perlu menampakkan diri untuk menerima utusan, dan pengikut yang dikirim pun memiliki kekuatan yang tak terbayangkan... dia tidak berani meminta lebih.
"Baiklah," ucap Tetua Ming sambil menunduk hormat sekali lagi. "Saya pamit. Semoga pertemuan itu berjalan dengan baik."
Dia berbalik dan pergi, melayang perlahan menjauh dari Gunung Langit. Hatinya penuh dengan kegelisahan dan kekaguman.
Gerbang yang sangat megah, penjaga yang lebih kuat darinya, dan Tetua yang auranya tidak diketahui tahapannya — sementara Tuan Sekte-nya bahkan tidak menampakkan wajah sedikit pun. Sekte Awan Tinggi benar-benar memiliki pesaing yang berat.
Bai Yuan berdiri sejenak menatap kepergian Tetua Ming, lalu berbalik kembali menuju Puncak ke-10 untuk melaporkan hasil pertemuannya kepada Lin Yue.
***
"Tuan Sekte, undangan telah diterima. Tetua Ming telah kembali," lapor Bai Yuan sambil menyerahkan amplop emas itu.
"Bagus," ucap Lin Yue pelan, matanya menatap jauh ke arah pegunungan di kejauhan. "Kau yang akan mewakili sekte kita di pertemuan itu, Bai Yuan. Tunjukkan pada mereka wibawa yang pantas — tidak sombong, namun tidak boleh direndahkan. Biarkan mereka menebak siapa sebenarnya yang berdiri di balik sekte ini."
"Siap, Tuan Sekte!" jawab Bai Yuan dengan hormat penuh, matanya memancarkan tekad yang kuat. "Saya tidak akan mengecewakan Tuan Sekte!"
"Hmm.. Kembalilah!"
.
.
.
.
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥