Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.
Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.
Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.
Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: KULTIVASI DUA JIWA
Hawa dingin Lembah Racun merayap pekat di antara seluk-beluk akar pohon purba yang melingkar. Di dalam gua batu tersembunyi yang terlindung dari paparan kabut keunguan rawa, keheningan terasa amat menghimpit. Bau belerang dan aroma pembusukan alami di luar gua seolah terhenti oleh dinding-dinding batu dingin yang membatasi persembunyian mereka.
Di pusat ruangan gua, di atas sebuah batuan pualam datar yang dilapisi embun es tipis, Shen Rui dan Lian Yue duduk bersila saling berhadapan.
Di antara bentangan jarak sempit di antara mereka, Pedang Zhaoyang terbaring mendatar. Bilah baja perunggunya yang legendaris tidak lagi memancarkan hawa membunuh yang tajam atau aura pembasmi iblis yang dingin. Sebaliknya, baja perunggu itu bergetar halus secara teratur, berdenyut lemah seirama dengan napas dan detak jantung dua jiwa yang duduk mengapitnya.
"Untuk menembus pertahanan Puncak Tianjian dan menghadapi Guru Xuan He, kau tidak bisa bertarung hanya dengan mengandalkan qi manusia biasa, Shen Rui," ujar Qing Luo dari sudut gua yang temaram. Siluman ular hijau itu berdiri menyandar pada pilar batu, mengawasi mereka berdua dengan sepasang mata zamrud yang amat serius.
Qing Luo melangkah dua tindak mendekat, tatapannya beralih pada wajah pucat Lian Yue. "Dan Lian Yue tidak akan sanggup menahan gejolak esensi jiwanya yang kian membesar menjelang hari ke-49 tanpa adanya penopang energi spiritual murni. Jika kalian membiarkan esensi energi kalian berbenturan, wujud fisik Lian Yue akan hancur dari dalam, dan pedangmu akan kembali memotong jiwanya. Kalian harus menyatukan aliran meridian kalian—kalian harus melakukan Kultivasi Dua Jiwa."
Shen Rui mendongak, menatap Lian Yue yang duduk hanya sejengkal di hadapannya. Di dalam keremangan gua yang dingin, mata perak Lian Yue memancarkan ketenangan yang bulat dan penuh kepasrahan yang tulus. Tidak ada lagi rasa takut pada wujud iblis, tidak ada kecurigaan pada pedang sang pemburu, dan tidak ada keraguan atas takdir yang membayang di depan mereka.
Lian Yue perlahan mengulurkan kedua tangannya ke depan. Telapak tangannya terbuka ke atas, mengundang Shen Rui untuk memasuki ruang jiwanya tanpa batas.
Shen Rui menyambut uluran tangan tersebut. Tangannya yang kasar oleh bekas luka latihan pedang merengkuh telapak tangan halus Lian Yue yang sedingin pualam. Jemari mereka bertaut rapat, menutup celah di antara dua insan yang dipisahkan oleh siklus kematian seribu tahun.
Zzzzt!
Begitu kulit mereka menyatu sempurna, sebuah dentuman arus hangat yang teramat dahsyat meledak dari dua tanda bulan sabit perak di dada Shen Rui dan lengan Lian Yue.
Cahaya perak keemasan membubung tinggi menembus atap gua, menyelimuti tubuh Shen Rui dan Lian Yue dalam lingkaran aura spiritual yang megah dan menentramkan. Hawa dingin Lembah Racun seketika terkikis habis, berganti dengan gelombang kehangatan murni yang mengalir deras menyusuri garis-garis meridian kedua tubuh mereka.
Seketika itu pula, aliran qi perunggu murni yang berasal dari danau meridian Shen Rui meluncur masuk ke dalam pembuluh darah Lian Yue. Energi murni sang pemburu menyapu sisa-sisa racun pembusuk darah Yang sempat mengendap, menenangkan gejolak esensi Ular Putih yang liar, dan memperkokoh wujud manusia Lian Yue dari ancaman pembusukan esensi.
Sebaliknya, aura murni bagai kristal es yang dipancarkan oleh esensi jiwa Ular Putih milik Lian Yue merambat masuk ke dalam tubuh Shen Rui. Gelombang energi itu membasuh setiap luka dalam bekas pertempurannya melawan Tetua Mu di Kota Fengling, menyembuhkan organ intinya, serta menyucikan pendar merah pekat yang selama ini mengotori dan menyumbat saluran qi pada Pedang Zhaoyang.
Di dalam benak mereka, ruang kesadaran mendadak menyatu sepenuhnya.
Shen Rui tidak lagi melihat dinding gua yang dingin atau batuan pualam tempat mereka duduk. Di dalam pandangan batinnya, ia berdiri di sebuah hamparan lautan bintang tak bertepi, di mana jiwanya dan jiwa Lian Yue melayang bersama. Mereka terikat oleh helai benang perak bersinar yang tak tertembus oleh hukum alam maupun waktu. Setiap getaran emosi, kepedihan dari tiga kematian di masa lalu, ciuman di bawah hujan, hingga keteguhan cinta yang tak terucapkan merambat sempurna di antara kedua sanubari mereka tanpa ada satu pun rahasia yang tersisa.
Srrr...
Pedang Zhaoyang yang tergeletak mendatar di antara mereka mendadak terangkat, melayang di udara tepat di tengah-tengah lingkaran aura perak keemasan.
Ukiran runik kuno berdarah milik Paviliun Tianjian yang terukir di sepanjang bilah perunggu itu perlahan luntur dan terkelupas, digantikan oleh lidah api perak keemasan yang bersinar sangat murni dan tajam. Energi pedang tersebut tidak lagi bergantung pada hukum penyegelan terlarang yang diciptakan oleh Guru Xuan He, melainkan sepenuhnya bertransformasi mengikuti resonansi harmoni dari dua jiwa yang telah menyatu kembali.
"Berhasil..." bisik Qing Luo terpana dari sudut ruangan. Tangannya yang memegang belati beracun gemetar pelan sewaktu menyaksikan lingkar cahaya suci itu mengikis seluruh hawa beracun dan kegelapan di dalam gua Lembah Racun.
Lian Yue membuka matanya perlahan. Wajah pucatnya kini dipenuhi oleh rona segar keemasan, sementara pendar mata peraknya kian dalam, anggun, dan berwibawa. Ia merasa kekuatannya yang terikat dan terkunci selama seribu tahun kini mengalir harmonis di dalam dadanya, menyatu sempurna dengan wujud manusianya tanpa memicu gejolak membunuh.
Shen Rui menggenggam jemari Lian Yue lebih erat, merasakan kekuatan spiritual baru yang memancar tegap dan kokoh di balik dada kirinya. Pria itu meraih Pedang Zhaoyang yang kini bersinar terang bagai kristal perunggu di udara, lalu menyarungkannya kembali di punggung dengan bunyi clank yang menggelegar mantap.
"Waktu persembunyian kita sudah selesai," kata Shen Rui dengan suara rendah yang menggetarkan batuan gua dan membakar semangat di dalam dada mereka. "Hari ini, kita melangkah menuju Puncak Tianjian."