Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Cahaya matahari siang perlahan berganti menjadi rona keemasan yang lembut saat sore mulai menjelang.
Di sudut kamar, Adrian tampak fokus menatap layar laptopnya, meneliti lembar demi lembar dokumen penting perusahaan.
Namun, konsentrasinya berulang kali terpecah; jemarinya di atas kibor kerap berhenti hanya untuk mencuri pandang ke arah tempat tidur, memastikan sang istri tertidur dengan nyenyak dan aman.
Di atas ranjang, kelopak mata Sasi perlahan terbuka. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, menyesuaikan diri dengan temaramnya cahaya kamar.
Rasa pusing yang tadi pagi menghantamnya kini sirna sepenuhnya, berganti dengan kesegaran di sekujur tubuh usai cairan infus di botolnya habis tak tersisa.
Saat Sasi mencoba menggerakkan lengannya, Adrian yang menyadari pergerakan itu seketika langsung menutup laptopnya tanpa ragu.
Pria itu berdiri dan bergegas menghampiri ranjang.
"Sayang, sudah bangun?" tanya Adrian lembut seraya menempelkan punggung tangannya di dahi Sasi untuk memeriksa suhunya. "Gimana kepalanya? Masih pusing?"
"Sudah nggak pusing sama sekali, Mas. Badan aku malah terasa segar banget," balas Sasi seraya tersenyum manis.
Melihat botol infus yang sudah kosong, Adrian berbalik dan menekan tombol panggilan di dekat nakas.
Tak lama kemudian, perawat pribadi yang bertugas masuk dengan sopan.
Dengan cekatan dan hati-hati, perawat tersebut melepaskan plester serta selang infus dari pergelangan tangan Sasi.
"Terima kasih, Suster," ujar Adrian tulus sebelum perawat itu pamit keluar kamar.
Kini tinggal mereka berdua kembali. Adrian meraih piring berisi potongan buah-buahan segar—apel, mangga manis, dan anggur—yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Mbak Sum di atas meja.
Pria itu duduk di sisi ranjang, merapatkan posisinya dengan Sasi.
"Nah, sekarang waktunya makan buah biar nutrisinya makin lengkap," ucap Adrian dengan nada manja namun penuh perhatian.
Ia mengambil sepotong mangga menggunakan garpu kecil, meniupnya pelan, lalu menyodorkannya ke bibir Sasi.
"Ayo, buka mulutnya, Sayang."
Sasi terkekeh geli melihat sikap suaminya yang begitu telaten.
Ia menyambut suapan itu dengan senang hati. Rasa manis dan segar buah mangga langsung memanjakan lidahnya.
"Enak?" tanya Adrian dengan binar mata bahagia.
"Enak banget, Mas," jawab Sasi seraya mengunyah pelan. Ia lalu meraih garpu di tangan Adrian dan ganti mengambil sepotong apel.
"Mas juga harus makan, jangan cuma nyuapin aku terus."
Sasi menyuapkan potongan apel itu ke mulut Adrian.
Pria itu menerimanya dengan senyum lebar, mengunyahnya seraya menggenggam erat jemari Sasi yang bebas.
Di tengah keheningan sore yang hangat, momen sederhana namun penuh kasih itu menjadi bukti betapa bahagianya kehidupan baru yang kini mereka jalani bersama.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu kamar yang teratur mengalihkan perhatian Adrian dan Sasi yang sedang menikmati momen manis makan buah bersama.
"Pak Adrian, Bu Sasi. Ini Mbak Sum," panggil suara dari balik pintu.
"Masuk, Mbak," sahut Adrian ramah.
Mbak Sum mendorong pintu kamar sedikit terbuka, mengulas senyum lebar.
"Pak, Bu, Mbak Maya sudah datang bersama anak buah Bapak. Katanya mau melaporkan persiapan untuk acara tasyakuran akhir pekan nanti."
"Suruh mereka masuk ke ruang keluarga saja, Mbak. Kami turun sekarang," jawab Adrian.
Dengan sigap dan penuh kehati-hatian, Adrian membantu Sasi turun dari ranjang.
Jemari mereka bertaut erat saat melangkah menyusuri koridor lantai atas menuju ruang keluarga di lantai bawah.
Di sana, Maya sudah berdiri anggun bersama dua orang anak buah kepercayaan Adrian.
Di samping mereka, bertumpuk-tumpuk bingkisan rapi yang menarik perhatian.
"Selamat sore, Pak Adrian, Bu Sasi," sapa Maya sopan seraya menunduk sebentar.
"Selamat sore, Maya," balas Adrian hangat.
Dua anak buah Adrian bergegas menunjukkan barang yang baru saja mereka beli.
Ada tas-tas sekolah berwarna-warni dengan bahan tebal dan jahitan yang sangat kuat, sepatu sekolah berkualitas tinggi dalam berbagai ukuran, serta bingkisan snack melimpah yang dikemas sangat cantik dan bersih.
"Sesuai instruksi Ibu Sasi dan Pak Adrian, kami sudah membeli seluruh kebutuhan bingkisan untuk anak-anak panti, Pak. Semuanya menggunakan bahan dan kualitas terbaik," puji salah satu anak buah Adrian dengan lugas.
Mata Sasi berkaca-kaca menatap tumpukan bingkisan tersebut.
Detail barang yang dipilih benar-benar melampaui ekspektasinya—sangat rapi, berguna, dan jauh dari kata ala kadarnya.
Rasa haru dan tersanjung membuncah hangat di dadanya.
"Terima kasih banyak, ya. Ini bagus dan rapi sekali. Anak-anak pasti senang," tutur Sasi haru, mengusap salah satu tas sekolah tersebut.
Adrian yang berdiri di samping Sasi hanya tersenyum puas.
Ia merangkul pinggang istrinya penuh kebanggaan.
Usahanya memanjakan Sasi tanpa harus membuat sang istri kelelahan dan jatuh sakit lagi terbayar tuntas.
Maya kemudian memajukan langkahnya seraya membawa tablet kerja.
"Untuk kabar lanjutannya, Pak Adrian. Pihak panti asuhan sudah mengonfirmasi kehadiran seluruh anak-anak dan pengurusnya untuk acara akhir pekan ini. Tim katering juga sudah menyetujui seluruh susunan menu utama yang diminta."
Mendengar semua persiapan berjalan sempurna, wajah Sasi mendadak berbinar gembira.
Sebuah ide manis melintas di benaknya. Ia mendongak, menatap wajah suaminya dengan binar mata memohon yang begitu menggemaskan.
"Mas, kita tambah es krim ya? Anak-anak panti pasti suka banget kalau ada gubuk es krim," usul Sasi bersemangat.
Adrian menatap binar gembira di mata istrinya. Tanpa ragu sedikit pun, pria itu tersenyum hangat lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"Tentu saja, Sayang. Apapun buat bikin kamu dan anak-anak bahagia," sahut Adrian lembut, lalu menoleh pada sekretarisnya.
"Maya, tolong tambahkan gubuk es krim stall terbaik untuk acara nanti."
"Baik, Pak Adrian. Segera saya masukkan ke dalam daftar pesanan katering," jawab Maya sigap seraya mencatatnya.
Di ruang keluarga yang dipenuhi tumpukan bingkisan itu, rasa syukur dan kebahagiaan kian melingkupi kediaman mereka, menyambut hari tasyakuran yang sudah makin dekat.
Setelah seluruh urusan koordinasi selesai dan Maya bersama tim pamit undur diri, suasana rumah kembali tenang.
Maya menyanggupi akan memantau langsung persiapan gubuk es krim dan memastikan armada katering tiba tepat waktu di hari H.
Adrian mengantar anak buahnya hingga ke depan pintu utama, sementara Sasi berdiri di samping tumpukan bingkisan tas dan sepatu.
Jemari Sasi bergerak lembut mengelus jahitan tas sekolah berwarna biru tua di tangannya. Senyum tipis tak pernah lepas dari bibirnya.
"Masih haru, hm?"
Suara hangat Adrian memecah keheningan. Pria itu kembali berjalan mendekati Sasi dari belakang, lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggang sang istri.
Ia menyandarkan dagunya di bahu Sasi, menghirup aroma wangi yang selalu menenangkan pikirannya.
Sasi menyandarkan kepala ke dada bidang Adrian, memegang jemari suaminya yang bertaut di perutnya.
"Aku cuma nggak nyangka aja, Mas. Anak buah Mas kerja cepat dan detail banget. Barang-barangnya jauh lebih bagus dari yang aku bayangkan."
"Mas kan sudah bilang, kamu tidak perlu repot-repot turun tangan," bisik Adrian seraya memiringkan kepala untuk mengecup pipi Sasi pelan.
"Tugas kamu itu cuma menyampaikan keinginan kamu, dan biarkan Mas yang mewujudkannya. Selama Mas mampu, Mas akan pastikan kamu dan anak kita dapat yang terbaik."
"Terima kasih banyak ya, Mas Adrian." tutur Sasi tulus.
Ia memutar tubuhnya di dalam dekapan Adrian, menatap lurus ke dalam mata cokelat gelap suaminya.
"Mas selalu tahu cara bikin aku merasa berharga."
"Kamu memang berharga, Sasi. Sangat berharga buat Mas," balas Adrian dalam, matanya memancarkan rasa cinta yang teramat luas.
Adrian lalu meraih telapak tangan Sasi dan membimbingnya untuk melangkah kembali menuju sofa ruang tengah.
Pria itu tak biarkan Sasi berdiri terlalu lama, mengingat instruksi dokter yang masih mengharuskan istrinya banyak beristirahat.
"Nah, sekarang kamu duduk santai di sini. Mas minta Mbak Sum buatkan teh herbal panas buat kita," ujar Adrian seraya menata bantal di belakang punggung Sasi agar istrinya bisa bersandar dengan nyaman.
Sasi tertawa kecil melihat betapa perhatian dan sergapnya sang suami.
"Mas Adrian, aku udah mendingan banget lho. Jangan diperlakukan kayak barang pecah belah terus."
"Biarin," kekeh Adrian santai seraya ikut duduk di samping Sasi dan merangkul bahunya erat.
"Kamu itu memang barang berharga Mas yang paling mahal dan nggak boleh lecet sedikit pun."
Sore itu merambat perlahan menuju malam. Di ruang keluarga yang hangat, di antara tumpukan bingkisan kebaikan untuk anak-anak panti, Adrian dan Sasi menghabiskan sisa hari dengan saling menggenggam tangan—menanti kedatangan hari tasyakuran dengan kebahagiaan yang makin melimpah.