Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Gibran menatap tumpukan batu alam mentah yang digelar bebas di atas meja-meja pedagang kaki lima. Matanya tiba-tiba menangkap pendaran cahaya merah redup dari beberapa batu.
[Kualitas: Batu Kapur Biasa. Energi Giok: 0 persen. Nilai: Sampah yang tidak berharga.]
Gibran tersenyum lebar. Kemampuan supranatural dari sistem ini benar-benar berfungsi sempurna.
"Hei, pemuda gembel! Jangan menghalangi jalan masuk toko bosku!" bentak seorang penjaga bertubuh besar di depan sebuah kios batu mewah.
Gibran menyingkir perlahan. Namun langkahnya terhenti secara tiba-tiba saat matanya menangkap dua sosok yang sangat ia benci di dalam kios tersebut.
Rio dan Siska sedang berdiri berdekatan di depan sebuah meja panjang yang memajang batu-batu lelang kelas premium.
"Sayang, batu hijau sebesar melon ini kelihatannya sangat cantik. Harganya cuma sepuluh juta," ucap Siska bermanja-manja sambil menunjuk sebuah batu bersisik rapi.
Rio membusungkan dadanya dengan sangat sombong.
"Sepuluh juta terlalu murah untuk seleramu, Sayang. Bos, ambilkan batu kulit naga seharga seratus juta di rak atas itu untuk pacarku!" perintah Rio dengan lantang.
Bos toko yang perutnya buncit langsung berlari melayani Rio dengan senyum menjilat yang lebar.
"Pilihan yang sangat luar biasa, Tuan Rio Muda! Intuisi Tuan dalam memilih batu berkualitas memang tidak ada duanya di kota ini!" puji bos toko berlebihan.
Tanpa sengaja, Siska menoleh ke arah pintu masuk toko. Ia melihat Gibran sedang berdiri diam di sana.
Wajah Siska langsung menegang tidak suka, diikuti oleh senyum miring yang merendahkan.
"Rio, coba kamu lihat siapa yang mengikuti kita sampai ke sini seperti anjing jalanan yang kelaparan," tunjuk Siska ke arah Gibran.
Rio ikut menoleh. Tawanya kembali meledak keras saat melihat pakaian basah dan sepatu kotor yang dipakai Gibran.
"Wah, wah. Rupanya gembel dari terminal tadi belum kapok mempermalukan dirinya sendiri. Mau mencari sisa-sisa debu batu buangan di sini, hah?" ejek Rio dari dalam toko.
Gibran membalas tatapan itu lalu melangkah masuk ke dalam kios dengan sangat tenang. Tidak ada lagi raut keputusasaan di wajahnya seperti tadi.
"Aku datang ke sini murni untuk membeli batu. Tempat pelelangan umum ini kan terbuka untuk siapa saja," balas Gibran datar.
Bos toko menatap Gibran dari atas sampai bawah dengan tatapan yang sangat jijik.
"Keluar dari tokoku sekarang juga! Jangan kotori lantaiku yang mahal ini! Orang gembel sepertimu bahkan tidak bisa membeli debu dari batuku!" usir bos toko sambil mengibaskan tangannya seolah mengusir lalat.
Gibran sama sekali tidak mempedulikan usiran kasar itu. Matanya justru sibuk menyapu seluruh isi toko, memindai satu per satu batu lelang yang ada di sana.
Batu seharga seratus juta yang baru saja dipilih Rio memancarkan cahaya hijau yang sangat pudar dan menyedihkan.
[Kualitas: Giok Putih Kualitas Rendah dengan banyak retakan dalam. Nilai taksiran mentah: Tiga juta rupiah.]
Gibran harus menggigit bibir bagian dalamnya untuk menahan tawa agar tidak meledak melihat kebodohan pria arogan itu.
Namun, pandangan Gibran tiba-tiba terpaku kuat pada sudut bawah meja display milik bos toko.
Sebuah batu hitam pekat berbentuk tidak beraturan tergeletak begitu saja. Batu itu digunakan sebagai pengganjal salah satu kaki meja kayu yang goyah dan tidak rata.
Dari dalam batu yang tampak seperti batu selokan biasa itu, memancar cahaya hijau kaisar yang sangat menyilaukan mata Gibran.
[Peringatan! Deteksi fluktuasi energi material ekstrem!]
[Batu Pengganjal Kaki Meja. Kualitas: Giok Sutra Es Kelas Premium Tanpa Cacat. Nilai taksiran dasar: Tiga miliar rupiah!]
Jantung Gibran berdetak kencang hingga rasanya ingin melompat menembus dadanya.
Ia melangkah maju mengabaikan tatapan sinis Rio dan Siska, langsung menuju ke sudut meja kayu tersebut.
"Bos, meja kayumu ini sepertinya tidak seimbang. Berapa harga batu hitam kotor yang kau pakai untuk mengganjalnya ini?" tanya Gibran sambil menunjuk santai ke bawah meja.
Suasana toko mendadak hening selama dua detik. Setelah itu, tawa pecah meledak dari semua orang yang ada di sana.
"Hahahaha! Dia benar-benar berniat mau membeli batu pengganjal kaki meja!" Rio tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya.
"Gibran, kamu benar-benar sudah gila karena putus asa dan terlalu miskin. Ini sangat memalukan untuk dilihat," Siska menggelengkan kepalanya dengan tatapan iba yang palsu.
Bos toko mengusap air mata tawanya dan menatap Gibran dengan pandangan remeh yang maksimal.
"Itu batu kali sisa buangan yang dipungut pekerjaku dari selokan depan jalan. Kamu mau beli batu sampah kotor itu?" tanyanya mengejek telak.
"Aku tanya berapa harganya. Kau cukup jawab saja," ucap Gibran dengan nada menekan yang membuat bos toko itu sedikit tersentak kaget.
"Bawa saja dengan uang lima puluh ribu rupiah kalau kamu mau, gembel! Anggap saja aku sedang membuang sial dan bersedekah kepadamu hari ini!" jawab bos toko sambil mendengus kasar.
Gibran merogoh saku celananya yang masih lembab akibat hujan. Ia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu terakhir miliknya yang sudah lecek terlipat.
Ia meletakkan uang bergambar pahlawan itu ke atas meja etalase kaca dengan gerakan sangat mantap.
"Aku ambil batu ini. Dan aku ingin batu pengganjal meja ini dipotong di depan semua orang sekarang juga."
Rio kembali tertawa keras kegirangan. Pria itu sengaja berteriak untuk menarik perhatian para pengunjung pasar yang berlalu lalang di depan toko.
"Semuanya, merapat dan lihat ke sini! Ada gembel gila yang memaksa memotong batu pengganjal meja! Mari kita saksikan bersama keajaiban apa yang akan keluar dari selokan!" teriak Rio memprovokasi massa.
Puluhan orang langsung berkerumun penasaran menutupi pintu toko. Mereka menyiapkan kamera ponsel dan bersiap untuk menertawakan kebodohan Gibran.
Siska melipat tangannya di dada dengan sangat angkuh.
"Kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri lebih jauh dari ini, Gibran. Sampah di mana pun tempatnya akan tetap menjadi sampah."
Gibran mengambil batu hitam kotor itu dari bawah meja tanpa ragu. Ia menyerahkannya ke tangan petugas pemotong mesin toko.
Senyum tipis perlahan terbentuk di sudut bibir Gibran.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang sebenarnya sedang menggenggam sampah kotor," batin Gibran dengan dada dipenuhi rasa percaya diri mutlak.
Petugas pemotong mesin mengambil batu hitam itu dengan gerakan lambat dan malas. Ia bahkan tidak repot-repot menggunakan sarung tangan pelindung kerjanya.
"Mau dipotong langsung dari tengah atau dikupas pinggir kulitnya dulu, Tuan Gembel?" tanya petugas itu sambil tersenyum sinis memancing tawa penonton.
"Kupas kulit sebelah kanannya pelan-pelan sekitar dua sentimeter," instruksi Gibran dengan nada berwibawa.
"Sok tahu sekali, gaya bicaranya membelah batu sudah seperti master ahli tua saja," cibir Rio dari kejauhan sambil memeluk pinggang Siska.
Petugas itu menyalakan mesin pemotong batu listrik raksasa yang menggunakan mata pisau berlian tajam.
Ngiiiiing!
Suara nyaring pisau pemotong yang berputar sangat cepat langsung memekakkan telinga seluruh ruangan.
Petugas itu menekan pelan sisi kanan batu hitam milik Gibran ke arah pisau besi yang berputar kencang.
Bzzzt! Crak!
Debu batu putih langsung beterbangan menebar ke udara. Proses pengelupasan kulit luar batu itu hanya memakan waktu sepuluh detik saja.
"Nah, sudah kupotong kan. Lihat semuanya, isinya cuma pasir dan kapur pu..." ucapan sombong petugas itu terhenti tiba-tiba seolah ada batu yang menyumbat tenggorokannya.
Petugas itu buru-buru mengambil sebotol air mineral botolan. Ia menyiramkan air tersebut ke permukaan batu yang baru saja dipotong untuk membersihkan sisa debu kapurnya.
Byur.
Begitu debu putih itu luruh membasahi nampan bersama air, sebuah pantulan cahaya hijau bening yang sangat pekat dan menyilaukan memancar kuat dari dalam sayatan batu tersebut.
Suasana toko yang tadinya riuh dipenuhi tawa ejekan dan hinaan mendadak senyap seketika. Tidak ada satu pun orang yang berani bernapas.
Mata bos toko membelalak horor hingga rasanya bola matanya mau copot. Rahang berlipatnya jatuh lemas menghadap lantai.
"H-hijau... Hijau kaisar tanpa cacat? T-tidak mungkin! Batu selokan itu..." Bos toko itu tergagap hebat dengan tubuh gemetar ketakutan menyadari kerugian mutlaknya.
Wajah arogan Rio memucat pasi seperti mayat kehabisan darah. Matanya menatap tak percaya pada kilauan mematikan dari hijau sutra es yang menembus keheningan toko.
Siska menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Kaki wanita itu terasa sangat lemas nyaris ambruk melihat pemandangan ajaib di depannya.
Gibran berdiri tegak dan tersenyum sangat dingin. Ia menatap lurus ke arah mata Rio yang kini dipenuhi kepanikan dan ketidakpercayaan yang menyiksa.
Pertunjukan tamparan wajah baru saja dimulai.