NovelToon NovelToon
Kontrak Rahasia Sang Istri

Kontrak Rahasia Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.

Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Mengapa Azam memilih dirinya?

Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?

Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 — Siapa Ayah Kandungku?

"Orang itu adalah ayah kandungmu."

Kalimat Azam jatuh begitu saja di ruang bawah tanah yang lembap itu. Tidak keras, tapi menggema.

Dila berdiri terpaku.

Untuk beberapa detik, ia lupa cara bernapas. Udara yang pengap, bau semen basah, dan cahaya satu bohlam kuning di atasnya tiba-tiba terasa menekan dadanya.

Ayah kandung.

Dua kata yang tidak pernah benar-benar ia cari. Seumur hidupnya, Dila hanya mengenal satu ayah — lelaki sederhana yang mengajarinya mengeja huruf, yang membelikan es lilin saat ia menangis, yang selalu berkata, "Kita mungkin tidak punya banyak uang, Nak, tapi kita punya satu sama lain."

Dan sekarang, keyakinan itu retak.

"Siapa?" Akhirnya suara itu keluar dari tenggorokan Dila. Tipis. Hampir tidak terdengar.

Azam tidak langsung menjawab. Ia menatap Dila dengan sorot yang sulit dibaca — antara iba dan rasa bersalah yang sudah lama ia pendam.

Fadil melangkah setengah maju, rahangnya mengeras. "Kalau kamu tahu, katakan saja, Zam. Jangan menggantung seperti ini."

Azam menghela napas panjang.

"Namanya Jatmiko Wiratama."

Dila mengerjap.

"Wiratama?"

Azam mengangguk pelan. "Dia kakak tertua saya. Kakak kandung."

Fadil menoleh cepat ke arah Azam. "Jadi... ayah Dila adalah kakakmu sendiri?"

"Iya."

Dila mundur satu langkah. Punggungnya menyentuh dinding dingin di belakangnya.

"Tidak mungkin," bisiknya.

Azam diam, membiarkan keheningan itu yang menjawab.

"Kalau Larasati adalah ibu saya..." Dila menatap Azam dengan mata yang mulai berkaca-kaca, suaranya pecah. "Dan Jatmiko adalah ayah saya... berarti saya—"

"Bagian dari keluarga Wiratama," lanjut Azam lirih. "Darah Wiratama mengalir di dalam dirimu, Dila."

"Tidak!" Dila menggeleng keras. Kepalanya terasa berdenyut. "Tidak!"

Ia menutup kedua telinganya dengan tangan, seolah ingin menghalau kenyataan itu masuk.

"Aku tidak mau menjadi bagian dari keluarga ini! Aku tidak mau!"

Fadil segera menariknya ke dalam pelukannya. Tubuh Dila gemetar hebat di dadanya, air matanya tumpah tanpa bisa ditahan.

"Aku cuma ingin hidup biasa, Mas," isaknya tertahan. "Aku cuma ingin kita... rumah kecil kita. Tidak lebih."

"Aku tahu," Fadil mengusap rambutnya dengan lembut, meski matanya sendiri memerah menahan amarah dan bingung. "Aku di sini. Kamu tidak sendirian menghadapinya."

"Aku tidak pernah meminta semua ini dilahirkan untukku."

Azam berdiri beberapa langkah dari mereka. Untuk pertama kalinya sejak Dila mengenalnya, lelaki yang selalu tampak tenang, terkendali, dan punya jawaban atas segalanya itu tampak kehilangan kata-kata. Bahunya turun.

Setelah beberapa menit, isak Dila mulai mereda menjadi napas yang tersengal. Ia melepaskan diri dari pelukan Fadil dan duduk di kursi kayu yang ada di sudut ruangan.

"Ceritakan semuanya," ucapnya dengan suara serak. "Aku ingin dengar semuanya sekarang."

Azam mengangguk. Ia duduk berhadapan dengannya.

"Jatmiko adalah putra pertama keluarga Wiratama. Pewaris utama."

"Lalu?"

"Dia menikah dengan Larasati secara diam-diam. Tidak ada pesta, tidak ada restu."

"Kenapa harus diam-diam?" tanya Dila.

"Karena ayah kami, almarhum ayah saya dan Jatmiko, tidak pernah merestuinya. Bagi beliau, Larasati bukan berasal dari keluarga yang sepadan. Bukan dari kalangan yang bisa mengangkat nama Wiratama."

Dila tersenyum pahit. Air matanya kembali menggenang. "Jadi karena uang. Selalu karena uang."

"Sebagian karena itu," jawab Azam. "Tapi bukan hanya itu."

"Apalagi?"

Azam terdiam cukup lama. Tatapannya menerawang ke lantai.

"Jatmiko menemukan kejanggalan di laporan keuangan perusahaan keluarga. Ada penggelapan dana dalam jumlah yang sangat besar, yang dilakukan secara sistematis selama bertahun-tahun."

"Siapa pelakunya?" Fadil menyela.

"Itulah masalahnya. Tidak pernah terbukti. Semua bukti menguap sebelum sempat sampai ke meja ayah kami."

Dila mengerutkan kening. "Apa hubungannya dengan Larasati? Ibu saya?"

"Larasati bekerja sebagai staf keuangan di sana. Dia yang pertama kali menemukan bukti transfer itu. Dia menyimpannya, dan berusaha memberikannya pada Jatmiko."

Azam menatap Dila dalam.

"Dan sebelum mereka sempat melakukan apa pun... Jatmiko menghilang."

"Menghilang?" Dila mengulang kata itu.

"Tanpa jejak. Tanpa kabar. Mobilnya ditemukan di pinggir sungai, tapi jasadnya tidak pernah ada. Semua orang menganggapnya meninggal."

"Dan ibu saya?" suara Dila hampir hilang.

Azam menjawab dengan suara yang jauh lebih pelan. "Larasati meninggal beberapa bulan kemudian. Laporan resminya... kecelakaan tunggal."

Dila membuka mata yang tadi terpejam. "Benarkah kecelakaan?"

Azam tidak menjawab. Ia hanya menatap Dila.

Dan dari keheningan itu, Dila mengerti.

"Bukan kecelakaan, ya?" bisiknya.

"Kami tidak pernah bisa membuktikannya. Tapi waktunya terlalu kebetulan. Terlalu rapi."

Fadil berdiri, tinjunya terkepal. "Jadi selama dua puluh delapan tahun, kalian semua diam? Kalian biarkan Dila hidup tanpa tahu siapa dirinya, membiarkan ibunya mati begitu saja?"

"Bukan saya," jawab Azam, suaranya akhirnya bergetar. "Saya yang mencari kebenaran itu selama dua puluh delapan tahun. Orang-orang yang ingin rahasia itu tetap terkubur... mereka masih ada di dalam keluarga kami sendiri."

Belum sempat Dila mencerna semuanya, suara langkah kaki tergesa terdengar dari tangga kayu di atas.

Laras muncul dengan wajah pucat pasi, napasnya terengah.

"Pak Azam."

Azam langsung berdiri. "Ada apa?"

"Kita harus pergi dari sini. Sekarang."

"Kenapa?"

"Rumah ini sudah tidak aman. Ada yang melapor ke polisi. Mereka bilang di rumah ini terjadi penyanderaan."

Dila terkejut. "Penyanderaan?"

Laras mengangguk cepat. "Laporan itu menyebut nama Dila dan Fadil. Mereka bilang kalian berdua disekap di sini."

Fadil langsung paham. "Jebakan. Seseorang ingin polisi datang dan membuat kita semua terlihat seperti penjahat."

"Tepat," sahut Azam. "Mereka ingin kita panik."

Dila menatap Azam cemas. "Lalu sekarang bagaimana?"

"Lewat jalur belakang. Lorong servis yang tembus ke kebun."

Mereka bergerak cepat. Namun di tengah langkahnya, Dila berhenti.

"Arif?" tanyanya panik.

Laras menjawab, "Masih di kamar atas. Tidur."

"Bawa dia. Jangan tinggalkan dia di sini," perintah Dila dengan suara tegas yang baru.

Azam mengangguk pada salah satu orangnya. "Bawa anak itu. Kita keluar sekarang."

Mereka menyelinap keluar melalui lorong sempit yang lembap dan gelap, membawa Arif yang masih setengah mengantuk dalam gendongan, tepat ketika sirene polisi terdengar samar dari kejauhan.

 

Rumah persinggahan itu kecil, berdinding bata tanpa cat, milik salah satu orang kepercayaan Azam di pinggiran kota.

Di dalamnya, sudah ada seseorang yang duduk dengan kepala tertunduk.

Bagus.

Fadil yang melihatnya langsung naik pitam.

"Kamu!" Fadil melangkah cepat dan menarik kerah kemeja Bagus. "Jadi benar kamu!"

Bagus mundur ketakutan. "Aku... aku bisa jelaskan, Dil... Fadil..."

"Kamu bekerja untuk mereka, hah? Selama ini kamu jual cerita tentang kami?"

"Aku tidak tahu awalnya akan jadi begini!" Bagus menunduk dalam. "Aku cuma disuruh cari informasi tentang Azam. Aku butuh uang, Fadil."

"Bohong!" Fadil hampir melayangkan pukulan.

"Mas, tunggu!" Dila menahan lengan suaminya. Tangannya gemetar tapi genggamannya kuat. "Biarkan dia bicara."

Fadil menatap Dila, lalu melepaskan Bagus dengan kasar.

Bagus menarik napas dengan rasa bersalah yang menumpuk di wajahnya.

"Aku memang diminta mencari jadwal dan pertemuan Azam. Aku hanya menerima uang transfer. Aku tidak tahu mereka akan sejauh ini."

"Siapa yang meminta?" tanya Dila, suaranya dingin.

Bagus terdiam lama.

"Jawab, Bagus. Siapa?"

"Ada orang dari keluarga Wiratama," bisiknya akhirnya.

"Siapa namanya?"

Bagus mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca.

"Sekar."

Nama itu membuat darah Dila berdesir.

"Sekar?" gumamnya.

Azam langsung menoleh tajam ke arah Laras. "Di mana Sekar sekarang?"

Laras buru-buru memeriksa ponselnya. "Tidak bisa dihubungi. Nomornya tidak aktif sejak satu jam lalu."

Azam rahangnya mengeras. "Cari dia. Sekarang."

 

Di tempat lain.

Sebuah kamar hotel bintang lima yang sunyi. Sekar berdiri di dekat jendela kaca yang menghadap ke gemerlap kota, ponsel menempel di telinganya.

"Dila sudah tahu tentang Jatmiko," lapornya.

Suara seorang pria di seberang terdengar tenang, terlalu tenang.

"Bagus."

"Azam juga tahu. Mereka sudah menghubungkan semuanya."

"Tidak masalah."

Sekar mengerutkan kening. "Bukankah itu berbahaya bagi kita?"

"Tidak. Karena Azam belum mengetahui satu hal yang paling penting."

"Apa?"

Suara itu terkekeh kecil.

"Jatmiko masih hidup."

Sekar membeku. Cengkeramannya pada ponsel menguat.

"Apa? Tidak mungkin. Semua orang bilang dia sudah mati dua puluh delapan tahun lalu."

"Selama dua puluh delapan tahun semua orang memang dibuat percaya begitu. Itu lebih aman."

"Di mana dia sekarang?" tanya Sekar dengan napas tercekat.

"Dekat," jawab suara itu. "Sangat dekat dengan Dila. Lebih dekat dari yang bisa kamu bayangkan."

 

Pagi berikutnya.

Dila terbangun di sebuah kamar sederhana dengan selimut tipis. Cahaya matahari masuk dari celah jendela kayu.

Fadil tertidur di sofa di depannya, dengan posisi duduk yang tidak nyaman, seolah semalaman ia berjaga.

Melihat itu, rasa sesak di dada Dila sedikit mereda. Di tengah kekacauan dunia yang tiba-tiba menimpanya, Fadil adalah satu-satunya hal yang masih terasa nyata.

Ia bangkit dan keluar. Azam sudah duduk di ruang tengah, secangkir kopi hitam di depannya yang tidak disentuh sama sekali. Matanya merah, jelas belum tidur semalaman.

"Kamu belum tidur?" tanya Dila pelan.

"Belum bisa," jawab Azam.

"Kenapa Anda begitu yakin Jatmiko adalah ayah saya?"

Azam mengambil sebuah foto dari dalam amplop cokelat di atas meja dan memberikannya pada Dila.

"Karena ini."

Foto itu menampilkan seorang pemuda berusia akhir dua puluhan, gagah dengan kemeja putih, berdiri di samping Larasati yang masih sangat muda dan tersenyum malu-malu.

Dila menatap wajah pemuda itu. Dadanya terasa aneh. Sesak. Perih. Familiar.

"Kenapa... kenapa saya merasa pernah melihat wajah ini?" bisiknya. "Rasanya... dekat sekali."

Azam menatapnya lekat.

"Karena mungkin kamu memang pernah melihatnya, Dila. Tanpa kamu sadari."

Dila mengangkat wajah.

"Maksud Anda?"

"Jatmiko tidak pernah meninggal, Dila. Dia masih hidup."

Dunia Dila seolah berhenti berputar.

"Apa?"

"Dia masih hidup. Dan dia ada di kota ini."

Jantung Dila berdegup begitu keras hingga telinganya berdengung.

"Kalau dia masih hidup... kenapa dia tidak pernah mencari saya? Kenapa dia membiarkan saya hidup seperti ini?"

Azam memejamkan mata. "Karena dia pikir kamu sudah meninggal."

"Apa?"

"Setelah Larasati meninggal, seseorang datang pada Jatmiko dan memberitahunya bahwa anak yang dikandung Larasati juga meninggal dalam kandungan. Dia hidup dalam duka dan rasa bersalah selama dua puluh delapan tahun, mengira ia telah kehilangan kalian berdua."

Dila menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata kembali mengalir deras.

"Siapa... siapa yang memberitahunya?" tanyanya terisak.

"Itulah orang yang sedang kita cari selama ini," jawab Azam pelan.

Tiba-tiba...

Tok. Tok. Tok.

Ketukan pintu. Tiga kali. Pelan tapi tegas.

Semua orang di rumah itu langsung siaga. Laras bergerak ke jendela, Fadil langsung berdiri di depan Dila.

Azam memberi isyarat agar semua diam. Ia berjalan perlahan mendekati pintu kayu itu.

"Siapa?" tanyanya.

Sebuah suara lelaki tua terdengar dari luar. Serak, lelah, namun begitu familiar bagi Azam.

"Azam... ini aku."

Azam membeku. Tangannya yang sudah memegang gagang pintu bergetar.

Dila merasakan bulu kuduknya berdiri. Suara itu... entah kenapa hatinya mengenalinya sebelum logikanya bekerja.

Azam membuka pintu sedikit.

Di luar, berdiri seorang lelaki tua. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, wajahnya penuh keriput lelah, punggungnya sedikit membungkuk. Namun matanya... matanya masih tajam, persis seperti yang ada di foto.

Azam mundur selangkah, suaranya tercekat.

"Tidak mungkin... Mas Jatmiko..."

Dila berdiri perlahan dari tempatnya. Fadil menoleh padanya dengan khawatir.

Lelaki tua itu kemudian melihat ke dalam. Matanya bertemu dengan mata Dila.

Untuk sesaat, waktu berhenti.

Matanya yang tua itu berkaca-kaca, bibirnya bergetar.

"Dila?" panggilnya dengan suara yang hampir hilang. "Anakku?"

Air mata mengalir di pipi lelaki itu.

Dila tidak mampu berkata apa-apa. Dadanya sesak, kakinya lemas. Ada sesuatu dalam dirinya yang merespons panggilan itu, sesuatu yang jauh lebih dalam dari ingatan.

Azam masih mematung. "Mas..."

Lelaki itu adalah Jatmiko. Ayah kandungnya.

Jatmiko melangkah masuk dengan langkah gontai, tangannya terulur ingin menyentuh Dila.

Namun sebelum jarak itu terhapus, suara deru mobil berhenti mendadak di depan rumah terdengar.

Laras mengintip dari celah jendela. Wajahnya seketika pucat.

"Pak Azam..."

"Apa?"

"Sekar datang. Tidak sendirian."

Dari jendela, terlihat tiga mobil hitam berhenti berderet. Beberapa pria berbadan besar turun.

Jatmiko langsung menatap Azam, ekspresinya berubah dari haru menjadi tegang.

"Sudah waktunya, Zam."

Dila menatap ayah kandung yang baru saja ia temui. "Waktunya apa?"

Jatmiko menjawab dengan suara berat yang menahan amarah selama puluhan tahun.

"Waktunya kamu tahu siapa yang membunuh ibumu, Nak."

Di luar, pintu depan digedor dengan keras.

Suara Sekar berteriak melengking, penuh amarah,

"AZAM! KELUAR! SERAHKAN DILA SEKARANG!"

Fadil langsung berdiri di depan Dila, melindunginya dengan tubuhnya.

Azam menatap pintu yang bergetar digedor.

Jatmiko mengepalkan tangannya yang keriput.

Dan di detik itu, Dila menyadari bahwa pertemuan pertamanya dengan ayah kandungnya bukanlah akhir dari pencarian.

Justru, inilah awal dari kebenaran yang paling berbahaya dan paling menyakitkan dalam hidupnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!