NovelToon NovelToon
Suami Darurat: Sahabat Sendiri!

Suami Darurat: Sahabat Sendiri!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
​Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
​Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
​Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
​Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
​Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Aplikasi Jodoh dan Pertaruhan Terakhir

​Matahari pagi menembus celah gorden kamar, menyilaukan mata Nadira yang baru saja terbuka perlahan. Ia menguap lebar, menepuk-nepuk kepalanya yang terasa sedikit berat, lalu tiba-tiba tertegun.

​Ia berada di atas tempat tidurnya sendiri. Selimut tebal terpasang rapi menutupi dadanya, dan di lantai dekat kasur, sandal karet warna pink neon milik Askara sudah tertata presisi.

​"Aduh, goblok banget sih lo, Nadira!" umpat Nadira seraya memukul dahinya sendiri dengan bantal.

​Ia memiringkan badan, merutuki kebiasaannya yang sama sekali tidak berubah sejak zaman sekolah. Tiap kali hujan turun dan ia berada di mobil Askara, hawa dingin plus aroma parfum pria itu selalu berhasil membuatnya tertidur pulas seperti orang pingsan.

​"Pasti semalem gue digendong lagi sampai kamar... Ya Tuhan, mau ditaruh di mana muka gue di depan Om Doni sama Tante Dinan? Di depan Deo juga?!" gerutunya histeris.

​Ting!

​Suara notifikasi bernada nyaring menginterupsi omelan mandirinya. Nadira meraih ponsel di atas nakas. Layar ponsel menampilkan pemberitahuan dari Tinder—aplikasi kencan daring yang diam-diam ia unduh minggu lalu sebagai bentuk keputusasaannya menghindari tenggat usia 30 tahun.

​[Match Baru! Bryan mengirimi Anda pesan.]

​Bryan: "Pagi, Nadira. Hari ini ada waktu? Mau coffee date siang ini di daerah Senopati?"

​Mata Nadira membelalak. Ia membaca pesan itu berulang kali dengan napas tertahan.

​"Bryan..." bisik Nadira pada dirinya sendiri. Pria berwajah tampan, berprofesi sebagai manajer keuangan di perusahaan multinasional, dan dari obrolan singkat mereka dua hari lalu, pria ini terdengar sangat sopan dan dewasa.

​"Ini dia! Ini kesempatan terakhir gue!" seru Nadira bangkit duduk tegak di atas kasurnya. "Gue gak boleh menyerah! Pokoknya sebelum bulan depan, gue harus bisa dapet pacar yang beneran sreg biar gak harus nikah sama Askara gara-gara janji konyol itu!"

​Meski di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada suara kecil yang terus berbisik: Askara itu udah paling sempurna buat lo, Nad. Mau nyari yang kayak gimana lagi?

​"Diem lo, otak!" bentak Nadira pada pikirannya sendiri. "Gue bukan gak tahu Askara itu terbaik, tapi... tapi gengsi lah! Masa dari sahabat jadi suami cuma gara-gara janji darurat? Gue mau kisah cinta yang normal!"

​Pukul sebelas siang. Nadira sengaja keluar kantor lebih awal dengan alasan ada janji bertemu klien luar. Ia mendatangi sebuah kafe bernuansa modern di kawasan Senopati dengan pakaian terbaiknya—gaun terusan warna krem dipadu outer tipis.

​"Nadira?" sapa seorang pria bertubuh tinggi, mengenakan kemeja putih rapi dan jam tangan mewah.

​Nadira menoleh dan tersenyum manis. "Bryan, ya? Hai!"

​Bryan duduk di hadapan Nadira. "Sori ya kalau mendadak ajakannya. Tapi aku beneran penasaran sama kamu sejak kita match kemarin."

​"Eh, gak papa kok. Aku juga lagi senggang jam makan siang ini," sahut Nadira, mencoba bersikap seanggun mungkin.

​"Kamu kelihatan lebih cantik dari foto profil kamu," puji Bryan terang-terangan, menatap Nadira dengan senyuman menawan.

​Wajah Nadira merona tipis. Nah, gini dong! Ini baru pendekatan yang romantis! Gak kayak Askara yang sukanya ngomel-ngomel gara-gara high heels!

​"Makasih, Bryan. Kamu juga ganteng kok, sesuai sama foto," balas Nadira ramah. "Oya, kerjaan kamu gimana? Katanya baru balik dari cabang luar kota?"

​"Iya, agak sibuk sih. Tapi ya disempat-sempatin buat kenalan sama cewek secantik kamu," kata Bryan sambil memanggil pelayan untuk memesan minuman.

​Obrolan mengalir lancar selama tiga puluh menit pertama. Nadira mulai merasa optimis. Ia membayangkan bagaimana reaksinya nanti saat memamerkan Bryan di depan keluarganya dan Askara.

​Namun, optimisme itu mendadak menguap saat ponsel Bryan yang tergeletak di atas meja terus-menerus bergetar.

​Vibrating... 'Mama Rika'

Vibrating... 'Mama Rika'

​Bryan buru-buru mematikan layarnya dengan raut wajah yang sedikit panik.

​"Gak diangkat? Dari mama kamu tuh," tanya Nadira polos.

​"Ah... enggak, ini bukan mama aku. Ini... katering buat acara rumah," jawab Bryan terbata-bata, mencoba tertawa santai.

​Nadira mengernyit. "Nama kontak katering 'Mama Rika'?"

​Bryan berdeham, meminum kopinya dengan terburu-buru. "Maksud aku, yang punya katering itu temannya mamaku. Nanti aja aku hubungi balik."

​Belum sempat Nadira mencerna kejanggalan itu, suara langkah sepatu bertumit tinggi yang menghentak keras terdengar mendekati meja mereka. Seorang wanita bergaun merah dengan riasan tebal berdiri tepat di samping Bryan, menyilangkan tangan di dada dengan tatapan membunuh.

​"Oh... jadi ini alasan kamu pamit ada meeting sama investor luar kota, Mas?!" bentak wanita itu dengan suara melengking.

​Bryan mendadak pucat pasi. Ia langsung berdiri dari kursinya. "Rika?! K-kamu kok bisa ada di sini?!"

​Nadira melongo, matanya berpindah-pindah menatap Bryan dan wanita bernama Rika itu. "Tunggu... kalian saling kenal?"

​"Saling kenal kamu bilang?!" jerit Rika, menatap Nadira dengan penuh amarah. "Gue istrinya! Kita baru nikah enam bulan lalu! Dan lo... lo cewek simpanan barunya ya?!"

​DEG!

​Darah Nadira rasanya berhenti mengalir seketika. Muka Nadira memerah bukan karena malu, melainkan shock dan murka yang luar biasa.

​"Mbak, jaga mulut ya! Gue gak tahu dia udah punya istri! Dia ajak gue ketemuan lewat Tinder!" seru Nadira tak terima, ikut berdiri dari kursinya.

​"Tinder?!" Rika menoleh tajam pada Bryan. "Bagus ya kamu, Mas! Berani-beraninya main Tinder di belakang aku!"

​"Rika, tunggu dulu! Ini gak kayak yang kamu pikirkan! Cewek ini yang gatel godain aku duluan di aplikasi!" tuduh Bryan panik, menunjuk wajah Nadira tanpa dosa demi menyelamatkan mukanya sendiri di depan sang istri.

​"APA-APAAN LO?! LO YANG CHAT GUE DULUAN, BANGSAT!" teriak Nadira hilang kesabaran.

​Suasana kafe mendadak riuh. Semua pengunjung menoleh ke arah meja mereka. Nadira merasa bumi di bawah kakinya seolah runtuh. Kenapa? Kenapa dari sekian juta pria di dunia, ia selalu dipertemukan dengan pria-pria bangsat seperti ini?!

​Saat situasi makin memanas dan Bryan mulai mendorong bahu Nadira untuk menyalahkannya, sebuah tangan kekar tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Bryan dengan sangat kuat dari belakang.

​Klek!

​"Aww! Sakit! Siapa lo?!" ringis Bryan kesakitan.

​Nadira menoleh mendadak, dan matanya membelalak sempurna.

​Askara berdiri di sana. Pria itu mengenakan setelan jas kerja lengkap, wajahnya dingin bagai es, dan tatapan matanya begitu tajam menembus netra Bryan.

​"Jangan pernah nyentuh dia pake tangan kotor lo," suara Askara terdengar sangat rendah, namun penuh ancaman yang mampu membekukan ruangan.

​"Askara...?" bisik Nadira gagu.

​Askara tidak menoleh ke arah Nadira. Ia menghempaskan tangan Bryan kasar hingga pria itu mundur beberapa langkah. Lalu, dengan tenang, Askara merogoh saku jasnya, mengeluarkan dompet leather hitam, dan meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di atas meja untuk membayar seluruh makanan.

​"Urusan rumah tangga kalian yang menjijikkan ini, silakan selesaikan sendiri," kata Askara dingin pada Bryan dan istrinya. "Tapi kalau sampai nama wanita saya terseret, perusahaan lo bakal gue pastikan hancur dalam hitungan hari."

​Bryan membisu, mengenali siapa sosok pria berwibawa di hadapannya.

​Askara lalu berbalik, menatap Nadira yang masih berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca. Tanpa mengucapkan sepatah kata omelan pun, Askara menggenggam jemari Nadira yang dingin, menariknya lembut keluar dari kafe tersebut.

...****************...

​Di dalam mobil Askara yang terparkir di luar kafe, hening menguasai udara.

​Nadira menunduk dalam-dalam. Tangannya meremas gaunnya sendiri. Air mata frustrasi yang ditahannya sejak tadi akhirnya menetes juga membasahi pipinya. Rasa malu, marah pada diri sendiri, dan rasa bersalah bercampur menjadi satu.

​"Nangis aja," ujar Askara pelan. Ia tidak mengomeli Nadira. Ia justru menyodorkan beberapa lembar tisu ke pangkuan wanita itu.

​"Gue... gue bego banget ya, Ka?" bisik Nadira terisak. "Kenapa sih... kenapa semua cowok yang gue deketin selalu bangsat? Kenapa gak ada satu pun yang beneran tulus sama gue?"

​Askara mematikan mesin mobil. Ia berbalik, memiringkan tubuhnya menghadap Nadira. Tangannya terulur mengusap air mata di pipi Nadira dengan lembut.

​"Gue udah pernah bilang kan, Nad," suara Askara terdengar sangat hangat dan dalam. "Cowok yang lo kejar itu selalu red flag karena lo nyari di tempat yang salah. Dan lo selalu nutup mata dari cowok yang jelas-jelas ada di depan lo."

​Nadira mendongak, menatap mata cokelat gelap milik Askara melalui pandangannya yang kabur oleh air mata.

​"Lo tahu gak kenapa gue selalu ada tiap kali lo masalah kayak gini?" tanya Askara pelan, matanya menatap tajam ke dalam iris mata Nadira. "Karena gue gak pernah membiarkan lo sendirian. Gue yang mantau lo, Nad. Dari dulu."

​"Askara..."

​"Waktu lo buat main-main dan nyari cowok aneh-aneh udah abis, Nadira," tegur Askara lembut namun sangat tegas. "Bulan depan umur lo 30. Gengsi lo itu gak bakal bikin lo bahagia. Berhenti lari dari gue."

​Nadira menahan nafasnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. Dinding pertahanan dan gengsi yang ia bangun bertahun-tahun rasanya benar-benar hancur tak tersisa di hadapan pria ini.

​"Kalau gue nikah sama lo..." suara Nadira terdengar bergetar, "kita gak bakal bisa jadi sahabat lagi, Ka."

​Askara tersenyum tipis, mengelus rahang Nadira dengan jemarinya yang hangat.

​"Gue emang gak pernah mau cuma jadi sahabat lo, Nadira Ruella. Dari dulu... gue maunya jadi suami lo."

1
Azizah az
ikutan disini Thor ☺️🤗
Fitra Sari
lanjut lagi KK 🙏🥰
N07
New reader nie Thor. Suka sama gaya berceritanya, susunan kata & tanda baca juga rapi jadi enak bacanya. Semoga ceritanya juga menarik sampe ending ga bertele2.
mak mak doyan novel
nah gini kan adem.. g ada gengsi yg tinggi lgi
mak mak doyan novel
ini mah calon suami idaman
mak mak doyan novel
udah ya nad gengsinya.. semua dukung kmu sama aska
Fitra Sari
lanjut KK sampe halal 🥰
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏
aku jadi semangat nih...
total 1 replies
umie chaby_ba
lanjut thor
umie chaby_ba
ceritanya ringan, dan bagus...
semangat terus thor...
/Heart/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak ya kakak♥️
total 1 replies
English Lesson
Bagus👍🏻👍🏻
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
waduh... askara serem juga...
umie chaby_ba
lah aska mah lemah banget ngambek bentaran doang... 🤣
umie chaby_ba
hayo loh ...
umie chaby_ba
nadira ngeselin ih... malah cerita lagi udah tahu suasananya lagi ga beres malah cerita
mak mak doyan novel: setuju..
ngeselin bgt dia
total 1 replies
umie chaby_ba
nah kan... bukan orang biasa aja yang ujug-ujug dateng. pasti ada maksud terselubung 🤭
umie chaby_ba
mode protektif nih🤭
umie chaby_ba
dih... bisa aja brondong... bahaya banget nih... nanti nadira tergoda lagi, kesempatan banget buat nadira malah ini mah...🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
umie chaby_ba
kagak inget umur banget si nad sumpah 30 tahun masih begitu, askara lo sabarnya kebangetan ini mah !!!
umie chaby_ba
sumpah nadia ini ngeselin! main nuduh penjahat kelamin lagi🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
nah loh... kan bader banget lo nad udah tua geh🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!