NovelToon NovelToon
ILA ( Si Gadis Permata Biru)

ILA ( Si Gadis Permata Biru)

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Arrosyad

Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Komodo v4

Menatap gedung besar di depan. Aku mengusap wajah Mengingat sebelumnya bertemu tentara di tempat oprasi masal. Seandainya kami harus melawan, apakah aku bisa mengatasi tentara terlatih?

“HEY BERHENTI DI SANA!!” Terdengar seruan.

Aku, Ila sontak berbalik. Dari jalan raya. Enam petugas sekaligus menghampiri dengan motor patroli. Mereka menodongkan senjata.

“Ayo!” Ila berseru. Segera berlari mendekati Gedung. Bangunan ini adalah pasar swalayan yang cukup besar. Beberapa orang yang meneduh di bawah payon bangunan seketika bubar, lari ketakutan ke dalam.

Ila menyerahkan salah satu pistol di tangannya. “Pelurunya tinggal dua. Gunakan sebaik mungkin”

Aku segera mengambil pistol itu, langsung mengangguk. Menyembunyikannya di dalam kostum.

Kami berlari melewati sedikit lahan parkir, melompati tembok penghalang lagi. Menerobos semak hiasan. Sampai di depan Gedung, teras yang luas, sekarang bertambah lengang. Tidak ada yang berani ke luar.

Menuju sisi samping Gedung. Berbelok. Nasib, Beberapa petugas ternyata telah menyusul dari arah berlawanan. Mulai menodongkan senjata api.

Jantungku kembali berdetak kencang. Ini situasi terlibat tembakan pertama kali dalam hidupku

“Intinya satu. Sebelum sedetik setelah peluru dilepas, kita harus segera menghindar. Kita unggul dalam fisik” Ila berkata serius.

Aku mengangguk. Kami terus maju. Jarak antara petugas mungkin sekitar dua puluh meter. Berlari sangat cepat. Menyejajari langkah Ila di samping.

Langkah petugas terhenti. Memasang sebuah formasi dan kuda-kuda masing-masing.

DOR! Tembakan pertama.

Aku berkelit menghindar, ke kiri, mepet tembok bangunan. Ila juga, arah satunya. Peluru melesat di udara kosong. Suaranya terdengar.

“Setelah ini kita harus melebar, mereka menang jumlah, arah peluru juga semakin sulit di tebak”

DOR!! DOR!! Yang lain ikut menembak.

Aku menghenatakkan kaki. Aku merasakan kelebatan peluru di samping pinggang. Tubuhku berkelir jauh ke kanan. Turun ke area lahan parkir. Ila tidak, dia justru ke kiri. Dempet dengan tembok bangunan.

Semua petugas langsung memindah moncong pistol ke arah gadis itu

DOR! DOR! DOR DOR! Beruntun serentak.

Ila melakukan manuver gila. Berkelit zig-zag, tak peduli lantai licin karena hujan. Kiri, kanan, kanan lagi. Cepat sekali gerakannya. Tak sadar anak itu hampir sampai di tempat berdiri para petugas tersebut.

Manuver berhenti. Ila kembali melesat ke dapan. Petugas-petugas di sana tercecar. Ila tiba di sekitarnya, melepaskan pukulan ke sembarang kepala. Satu orang terpental. Berseru bertahan. Dilanjut begerak sigap ke arah petugas lainnya, dua tangan anak itu barmain runtun, mengincar dua orang sekaligus. Buk, buk, satu langsung terkapar, yang kedua terpundur, Ila lanjut memegang kepalanya, lutut gadis itu terangkat. Kepalanya terhunjam keras. Sisa dua lagi. Di belakang. Mereka hampir menarik pelatuk –setelah dari tadi tangannya bergetar.

Aku datang tepat waktu, telah naik ke teras. Melesatkan tendangan. Mengincar dari belakang. Bruk! Satu orang terjatuh kedepan, kepalanya menghantam ubin dengan keras. Satu lagi tersentak. Tanganku mengepal kuat. Melesat cepat mengincar wajah.

Bug! Petugas terakhir ambruk.

Ila tersengal. Menatap wajahku. “Not bad, you can one hit?”

“that’s is easy”aku mengepalkan tangan. Ila tidak tahu kisah-kisahku sebelum ini

Ila tersenyum. “Kita bisa melewati ini. Kita kuat”

Aku mengangguk.

Gemuruh hujan mengisi suasana. Sayup-sayup di bayangi suara sirine dari kejauhan. “Kita hanya punya kesempatan jika tidak terkepung. Keamanan negara pasti telah mengerahkan banyak personil untuk ini”

Aku menatap ke depan. Di sudut tembok bangunan. Muncul moncong senjata api. “Jangan lengah, ada tentara di sini”

DOR! Ila tiba-tiba menembakkan satu peluru.

Tembakannya meleset, Ila memang sengaja agar tidak membunuh.

Orang di balik tembok tetap terkelagap bersembunyi.

“Dia sedang realoding” Gadis di sampingku berkata. “Dia terlihat amatir”

“Ayo!” Aku berseru. Segera turun dari teras, berlari di halaman parkir.

Ila menyusul. Ikut berlari di antara mobil-mobil yang terparkir. Ini sangat berguna untuk menghilangkan jejak. Kebetulan juga banyak mini truck dan mobil kargo. Tubuh kami menghilang dari pengawasan.

Sayup-sayup longlongan sirine semakin ramai. Ada yang sudah dekat. Itu adalah polisi dengan sepeda motor tadi.

Ila berhenti di balik sebuah box mobil pick up. Aku juga terhenti.

“Ada apa” aku bertanya.

“Tunggu sebentar” Balas gadis itu.

Senyap dibuatnya, menyisakan suara hujan yang semakin deras. Langit maghrib tertutupi awan mendung. Jujur saja detak jantungku berdegup kencang, nafas menderu. Aku sedikit panik.

Beberapa saat terlewati. Tidak ada tanda-tanda orang mendekat. Suara langkah kaki pun tidak.

Ila berjalan perlahan mengintip ke arah bangunan swalayan sebelumnya. “Bagus. Mereka kehilangan jejak”

Aku ikut mengintip. Mereka sedang menginvestigasi korban kami sebelumnya, beberapa memang terlihat turun ke area parkiran. Tapi itu justru membuat mereka semakin jauh karena mencari ke arah yang lain.

“Di sana ada motor. Kita harus mengambilnya jika mau lari dari sini” Ila menunjuk sebuah arah.

“he’eh” Aku mengangguk.

Kembali bersembunyi. Ada petugas yang menengok ke arah kami.

Ila memegang pundakku. “Aku akan memancing perhatian sebentar”

Tubuhku mendesir “Kau yakin”

“Ya!” Ila berkata serius. “Kau tahu persis tugasmu. Lakukan dengan cepat. Aku juga percaya jika kau akan mahir dalam menyerobot motor seperti semalam”

Aku termangu melihatnya. Gadis itu berkata seakan percaya penuh denganku. Namun, bagaimana dengan diriku sendiri?

“Ayolah Aro. kamu perlu tahu, ada yang aneh dalam diriku, aku sebenarnya jauh lebih takut daripada kau. Tapi, karena kau mendukung sebelumnya, kekuatan itu merasuk dalam tubuhku, semua rasa takutku hilang” Ila berkata lagi. Gestur wajahnya lebih serius.

Aku menelean ludah, sedikit gentar dan bingung. “Kekuatan apa?”

“Aku tidak tahu! Tapi kita harus berbuat sesuatu. Kita tidak akan lama di balik mobil ini” Ila sedikit menyentak.

“O, oke..” Balasku agak ragu.

“Baik. Aku akan keluar terlebih dulu. Kau hanya harus membawanya menjauh dari sini. Aku akan mengawasimu dan kita akan bertemu di suatu tempat” Begitu ucapnya hingga kemudian dia benar-benar keluar dari persembunyian.

Beberapa langkah. Anak itu masih belum terdeteksi petugas-petugas di depan sana. Aku sejenak mengintip. Melihat ke arah motor yang ditunjuk Ila sebelumnya. Beberapa petugas mulai menjauh. Ada yang berjalan menuju sisi gedung yang lainnya.

“HEI” Ila berteriak. Posisinya beberapa meter di belakangku. “Di sini bodoh! Apa yang kalian cari?!”

Aku tidak melihatnya –memang tidak mau, semoga akan baik-baik saja.

Kembali fokus. Petugas-petugas di sana mulai teralihkan. Serentak berlari menuju asal suara. Aku mulai beranjak. Perlahan dari mobil box pickup, berpindah ke mobil lain.

DERRRRTTTTT! DERRRRT!!!! Deru senjata otomatis segera menggila.

Aku sedikit tersentak. Jantung berdetak kencang. Segera melihat ke tempat Ila sebelumnya. Ah, terhalangi banyak mobil. Apakah dia baik baik saja.

“Ah, aku harus cepat” Aku bergumam. Berhenti berpikir yang tidak-tidak.

Aku memberanikan diri untuk berlari. Keciprak air terdengar. Aku berlari cepat menembus hujan. Pergi menuju pembatas parkir. Sengaja memutar agar tidak langsung bertemu petugas yang memarkir motor di depan gedung. Lalu melompati pagar. Mendarat di trotoar, lanjut lari lagi, kembali mengarah bagian depan gedung.

Hampir mendekati lahan depan gedung swalayan. Langkahku sedikit tertahan. Melihat ke arah jalan raya, puluhan meter di depan sana dua mobil petugas juga sedang mendekat. Aku menatap jeri. Itu adalah Komodo v4. Mobil berat khusus menanggulangi misi beresiko tinggi. Mobil ini biasa di pakai untuk pengawalan dan oprasi tempur terbatas. Meski hanya berfungsi sebagai badan yang kokoh, tanpa moncong keluar seperti tank atau peluncur rudal. Pasukan di dalamnya pasti bukan pasukan biasa, senjatanya saja bisa sangat mematikan.

Tapi bukankah itu sangat ironi? Mengincar bocah 17 tahun dengan alat tersebut.

Ah, biarkan. Aku menambah laju lariku. Membelah udara dan memecah bulir hujan. Genangan terciprak brutal. Aku harus lebih dulu mengambil motor di depan bangunan swalayan.

Mataku menyipit, mengatur nafas. Tiga meter lagi.

Berbelok. Memaksa agar terperosok di atas trotoar yang licin, bak di rem. Langkah terhenti. Langsung melesat. Memasuki area depan gedung. Tiga petugas sedang berjaga.

Sesuai dugaan. Mereka segera bersiaga. Mengangkat senjata api masing-masing. Pandanganku membeku seketika. Mulai fokus menatap petugas-petugas tersebut.

DOR!

Tubuhku beringsut ke kiri. Lanjut melompat, melesat cepat, memotong jarak dalam sedetik. Tiba dua  meter di depan para petugas barusan. Mereka terperanjat. Terkelagap mundur.

Aku mendengus. Ini kali pertamaku bertarung dengan kepolisian.

Aku melepas tinju. Mengerahkan semua kekuatan. Ini biasanya akan membuat satu pria dewasa biasa pingsan.

Bug! Satu orang terkapar. Berkelebat cepat ke petugas yang lain. Orang itu coba menarik pelatuk. DOR! Aku bereaksi lebih cepat. Refleks merendahkan badan. Lalu naik lagi sambil melancarkan serangan balasan

Bug! Tanganku menghunjam janggutnya dengan keras. Orang itu berseru tertahan.

Satu lagi. Aku melebarkan langkah. Aku tahu orang terakhir menodongkan senjata di samping. Aku beringsut menepis, menggerakan lengan. Menghantam telak tangan petugas.

Orang yang ku lawan tersentak. Senjatanya terpental.

Bug! Selesai. Tiga orang tumbang.

Aku langsung cekatan mencari kunci motor. Menggeledah pakaian yang di kenakan para petugas. Tidak butuh waktu lama. Aku mendapatkan sesuatu. Sebuah remot. Terdapat gambar gembok pada remot tersebut.

Aku langsung paham. Menekan tombol gembok. Sebuah motor di halaman gedung membunyikan suara khas. Aku menoleh, mulai berlari kecil menghampiri. Tidak ada lubang kunci, tapi ada tuas khusus yang bisa di putar.

Aku memutarnya. Motor telah aktif. Panel digital di atas stang kendali memberikan panel barometer dan rincian yang tidak ku kenal. Aku langsung menaikinya. Menekan tombol starter mesin motor segera menyala.

Sebenarnya ini agak telat. Mobil Komodo v4 telah melewati depan bangunan swalayan, tetap di jalan raya, tidak peduli dengan sesuatu yang terjadi di sini. Orang-orang yang ada di dalamnya fokus memburu Ila. Kendaraan tersebut menuju barat, arah kanan dari gedung swalayan. Ila pasti ada di sana.

Tunggu Ila.

Aku menurunkan grip. Mulai melenggang dari halaman depan bangunan. Berbelok ke kanan di jalan raya. Melihat Komodo v4 yang telah jauh puluhan meter di depan sana.

Suara hujan masih membungkam suasana, menyandingi tegang. Langit sudah gelap, malam menyongsong di atas mendung.

Aku tidak tahu apa yang sedang di lakukan Ila, dia dimana, apakah dia baik-baik saja. Tapi tidak lagi terdengar suara tembakan dari senjata berat sebelumnya. Mungkin dia sedang dikejar dan berlari ke suatu arah.

Laju Komodo v4 terhenti. Personil tentara di dalamnya segera berhamburan turun.

Aku mengatupkan rahang. Jika mereka benar-benar tidak sadar kalau aku adalah orang yang membantu Ila. Aku akan aman selama berkendara agak jauh di belakangnya.

1
Marina
keran, keren bgt
Arrosyad: makasih ibu'
total 1 replies
Kiritsugu Emiya
Harus jam berapa baru bisa update ya thor? Jangan sampai terlalu malam~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!