"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keadaan Darurat
Entah sudah berapa hari aku berada di pondok ini. Rasanya baru kemarin aku tiba di sini, membawa barang-barang dan mencoba menyesuaikan diri dengan suasana yang masih terasa asing.
Malam itu, setelah menyelesaikan semua pekerjaan, aku merebahkan tubuh di atas kasur. Pondok sudah begitu sepi. Jam tidur telah berlalu, dan hampir semua santri pasti sudah terlelap.
Aku baru saja hendak memejamkan mata ketika—
Tok... tok... tok...
Aku mengernyitkan dahi.
Siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini? Bukankah semua santri sudah tidur?
Aku segera meraih jilbab yang tergeletak di samping tempat tidur, lalu berjalan menuju pintu.
Tok... tok... tok...
Ketukannya terdengar lagi, kali ini lebih tergesa.
Aku membuka pintu.
Di hadapanku berdiri dua orang santriwati. Wajah mereka tampak sangat cemas. Napas keduanya sedikit terengah, seolah baru saja berlari.
"Ustadzah..." salah satu dari mereka mulai berbicara dengan suara gemetar. "Firda, Usth. Badannya panas sekali... dia juga terus meracau."
Aku yang semula masih mengantuk langsung tersadar.
"Kamarnya di mana?" tanyaku spontan.
"Di kamar Khonsa', Ustadzah."
Tanpa banyak bertanya lagi, aku segera keluar kamar.
"Antarkan aku."
Aku berjalan cepat mengikuti mereka menyusuri lorong pondok yang sudah sunyi. Lampu-lampu kamar hanya menyisakan cahaya redup. Suara langkah kaki kami terdengar jelas di tengah kesunyian malam.
Entah kenapa, semakin dekat menuju kamar Khonsa', dadaku justru terasa semakin tidak tenang.
Semoga Firda baik-baik saja.
Aku mempercepat langkah.
Begitu sampai di depan kamar, salah satu santri langsung membuka pintu.
Dan saat aku melihat ke dalam, beberapa santriwati tampak mengerumuni satu tempat tidur.
"Ustadzah... itu Firda."
Aku segera mendekat.
Tubuh Firda terbaring lemah. Wajahnya memerah, napasnya terdengar berat, dan keringat membasahi dahinya.
Aku menyentuh dahinya.
Panas.
Sangat panas.
"Ya Allah..." lirihku.
Aku menoleh kepada para santri.
"Jangan mengerumuni dia. Beri ruang supaya udaranya lebih leluasa."
Mereka segera mundur.
Aku kembali menatap Firda.
"Firda..." panggilku pelan.
Kelopak matanya bergerak, tetapi tidak benar-benar terbuka.
"Firda, dengar suara Ustadzah?"
Bibirnya bergerak.
Namun, bukan jawaban yang keluar.
Hanya sebuah kalimat lirih yang membuatku terdiam.
"Ustadzah... jangan pergi..."
Aku menatapnya beberapa detik.
Ada sesuatu dalam suara itu yang membuat hatiku terasa sesak.
Aku menggenggam tangannya.
"Ustadzah di sini."
"Panasnya berapa derajat?" tanyaku.
"Empat puluh, Ustadzah," jawab salah satu santri.
"Sudah minum obat?"
"Sudah, Ustadzah."
Aku terdiam sejenak.
Empat puluh derajat.
Pikiranku langsung berputar. Jujur saja, aku belum pernah menangani santri yang demam setinggi ini. Aku harus melakukan sesuatu, tetapi apa?
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
"Harus dikompres..." gumamku.
Aku menoleh kepada dua santri yang masih berdiri di dekat pintu.
"Minta tolong rebus air di dapur."
"Baik, Ustadzah."
Keduanya segera keluar.
Aku kembali mendekati Firda. Kulihat selimut yang menutupi tubuhnya cukup tebal.
Aku mengambil selimut itu dan sedikit menyingkirkannya.
"Mbak, minta tolong kipas anginnya dinyalakan, ya. Tapi jangan diarahkan langsung ke Firda."
Salah satu santri langsung mengangguk dan menyalakan kipas.
Aku kemudian memperhatikan Firda yang masih tampak gelisah.
"Minta tolong, Mbak, diberi minum sedikit-sedikit, ya. Ustadzah mau mengabari Umi dulu."
"Baik, Ustadzah."
Aku segera keluar dari kamar.
Langkahku terasa lebih cepat dari biasanya. Begitu sampai di kamar, aku meraih ponsel yang tadi kutinggalkan.
Aku langsung mencari nomor Umi.
Kutekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak ada jawaban.
Aku menatap layar ponsel.
Apa beliau sudah tidur?
Aku mencoba menelepon lagi.
Tetap tidak diangkat.
Rasa cemas yang sejak tadi kutahan perlahan semakin besar.
Baiklah... sekali lagi.
Semoga kali ini beliau mengangkat.
Aku menekan tombol panggil untuk ketiga kalinya.
Nada sambung terdengar.
Aku hampir menyerah ketika akhirnya—
"Halo... Assalamu'alaikum."
Aku langsung mengembuskan napas lega.
"Wa'alaikumussalam, Umi. Ada santri yang demam tinggi. Sepertinya harus segera dibawa ke rumah sakit," kataku tergesa-gesa.
Aku bahkan tidak sempat berbasa-basi.
Entah karena terlalu cemas atau karena pikiranku masih tertuju pada Firda yang terbaring dengan suhu tubuh empat puluh derajat.
"Ya. Ini saya hubungi Ustadz Alam. Beliau juga dokter. Santrinya sekalian disuruh persiapan."
"Baik, Umi."
Panggilan berakhir.
Aku menurunkan ponsel dari telinga.
Untuk pertama kalinya sejak melihat kondisi Firda, aku bisa bernapas sedikit lebih lega.
Setidaknya sekarang ada yang lebih tahu apa yang harus dilakukan.
Ustadz Alam.
Aku baru beberapa hari berada di pondok ini, tetapi entah kenapa nama itu selalu muncul dalam berbagai urusan yang kuhadapi.
Aku kembali memandangi layar ponsel.
Baru kusadari, tadi aku bahkan tidak sempat bertanya apakah Umi sedang tidur atau tidak.
Aku langsung menelepon dan menyampaikan semuanya begitu saja.
Semoga aku tidak mengganggu istirahat beliau.
Aku menghela napas pelan, kemudian segera memasukkan ponsel ke saku.
Tidak ada waktu untuk memikirkan itu.
Aku harus kembali ke kamar Firda.
Namun, baru saja aku hendak melangkah, ponsel di tanganku kembali bergetar.
Satu pesan masuk.
Dari Umi.
Aku membukanya.
"Ustadz Alam sebentar lagi ke sana. Siapkan Firda dan satu pendamping."
Aku menatap pesan itu beberapa detik.
Sebentar lagi Ustadz Alam datang.
Entah kenapa, di tengah kecemasan terhadap kondisi Firda, jantungku tiba-tiba berdetak sedikit lebih cepat.
Aku segera menggelengkan kepala.
Bukan waktunya memikirkan hal-hal lain.
Aku memasukkan ponsel ke saku dan bergegas kembali menuju kamar Firda.
Sesampainya di kamar Khonsa', Kulihat dua santri sudah sibuk mengompres Firda. Wajah mereka masih terlihat cemas, tetapi setidaknya sekarang mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Aku mendekati tempat tidur Firda.
"Minta tolong, Mbak, ambilkan bajunya Firda. Jangan yang tebal, ya. Nanti kalau dia kedinginan, bawakan jaketnya saja."
"Baik, Ustadzah."
Santri itu langsung bergegas mengambil pakaian Firda.
Aku kemudian menoleh kepada santri yang lain.
"Kita akan bawa Firda ke rumah sakit. Qism Sihah-nya siapa?"
"Saya, Ustadzah," jawab salah satu santri.
"Kamu ikut ke rumah sakit, ya."
"Iya, Ustadzah."
Tanpa banyak bicara, para santri langsung bergerak. Ada yang menyiapkan pakaian, ada yang mengambil tas, ada pula yang memastikan barang-barang penting Firda sudah dibawa.
Suasana kamar yang semula sunyi kini berubah menjadi sedikit ramai.
Aku kembali duduk di sisi tempat tidur.
Firda masih tampak lemah. Sesekali bibirnya bergerak, seperti sedang berbicara dengan seseorang dalam tidurnya.
Aku meraih tangannya.
"Firda..." panggilku pelan.
Tangannya terasa panas.
"Tenang, ya. Ustadzah di sini."
Entah apakah dia benar-benar mendengarku atau tidak, aku tetap menggenggam tangannya.
Mungkin saat seseorang sedang sakit dan ketakutan, yang paling dia butuhkan bukan hanya obat, tetapi juga seseorang yang membuatnya merasa tidak sendirian.
Aku mengusap punggung tangannya perlahan.
"Sebentar lagi kita ke rumah sakit. Kamu kuat, ya."
Matanya sedikit terbuka.
Tatapannya kosong, seolah sulit mengenal siapa yang ada di hadapannya.
"Ustadzah..."
"Iya, Ustadzah di sini."
"Jangan tinggalin aku..."
Dadaku terasa sesak mendengarnya.
Aku menggenggam tangannya sedikit lebih erat.
"Enggak. Ustadzah enggak akan tinggalin kamu."
Aku terus melihat layar ponsel.
Sudah beberapa menit sejak Umi mengatakan Ustadz Alam akan datang.
Aku tidak tahu kenapa, tetapi setiap kali ada notifikasi aku langsung melihat ponsel.
Mungkin karena aku berharap itu beliau.
Aku kembali memerhatikan Firda, berusaha mengusir pikiran itu.
Saat ini yang paling penting adalah Firda.
Namun beberapa detik kemudian—
Ting
Ada notifikasi masuk.
wa dari ustadz Alam.
"Ustadzah, aku sudah di depan gerbang"
Dan entah kenapa, jantungku kembali berdetak lebih cepat.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏