NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1 — Ulang Tahun Ibu Mertua dan Meja Makan yang Membeku

Uap terakhir telah lenyap dari semangkuk opor ayam ketika jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam.

Raka berdiri di sisi meja makan rumah keluarga Prawira, menatap hidangan yang telah ia siapkan sejak subuh. Rendang di piring porselen mulai mengering di pinggir. Kuah sayur lodeh sudah membentuk lapisan tipis. Di tengah meja, tumpeng kecil dengan hiasan cabai merah masih tampak meriah, tetapi lilin angka lima puluh delapan di sampingnya belum pernah dinyalakan.

Enam kursi kosong mengelilingi meja.

Pukul enam tadi, Raka masih mengira jalanan Jakarta macet.

Pukul tujuh, ia menghangatkan opor untuk pertama kali.

Pukul delapan, tiga panggilannya kepada Larasati tidak dijawab.

Kini layar ponselnya menyala. Bukan panggilan balik, melainkan satu pesan dari istrinya.

Kami di Restoran Puncak Langit. Sebas berhasil memesan ruang VIP lantai teratas untuk ulang tahun Mama. Jangan datang. Pakaianmu tidak cocok dan Mama tidak mau dibuat malu.

Raka membaca pesan itu dua kali.

Bukan karena ia tidak mengerti. Ia hanya ingin memastikan bahwa lima tahun pernikahan mereka memang dapat diringkas menjadi empat kalimat sedingin itu.

Di bawah pesan tersebut, Larasati mengirim sebuah foto. Sulastri duduk di kursi utama dengan kalung berlian baru melingkari lehernya. Bambang tersenyum kaku. Ratna mengangkat gelas. Keisha duduk di pangkuan Larasati sambil memegang es krim berlapis emas. Di belakang mereka, Sebastian berdiri dalam setelan mahal, satu tangannya bertumpu akrab pada sandaran kursi Larasati.

Mereka terlihat seperti keluarga yang lengkap.

Tak ada satu pun yang ingat bahwa seseorang sedang menunggu di rumah.

Raka meletakkan ponsel dengan layar menghadap meja. Ujung jarinya menyentuh bekas luka tipis akibat parutan kelapa pagi tadi. Ia sudah pergi ke pasar sebelum matahari terbit, memilih ayam, santan, dan bumbu sendiri. Sulastri pernah berkata masakan ibunya adalah satu-satunya hadiah ulang tahun yang tidak bisa dibeli dengan uang. Karena itu, Raka mempelajari resepnya selama dua minggu.

Ternyata ada hal yang lebih mudah dibeli daripada hadiah.

Perhatian seluruh keluarga Prawira.

Hanya dibutuhkan satu ruang VIP yang sulit dipesan dan seorang pria bernama Sebastian Sanjaya.

"Masih mau menunggu?"

Suara Pak Joko, sopir keluarga yang baru masuk dari pintu samping, membuat Raka mengangkat kepala. Pria tua itu memandang meja dengan serba salah.

"Mereka bilang akan pulang setelah makan penutup," lanjutnya pelan. "Saya diminta menjemput hadiah Bu Sulastri yang tertinggal."

Raka melihat kotak kecil di tangan Pak Joko. "Hadiah dari siapa?"

"Pak Sebastian. Katanya ada satu lagi."

Tentu saja.

Raka mengambil tudung saji dari dapur dan menutup makanan satu per satu. "Bawa saja, Pak. Saya tidak akan menyentuh barang mereka."

Pak Joko ragu di tempatnya. "Mas Raka, masakan ini..."

"Kalau Bapak belum makan, bungkuslah sebagian. Sisanya besok dibagikan kepada petugas keamanan. Sayang kalau dibuang."

"Tapi ini untuk ulang tahun—"

"Orang yang berulang tahun sudah memilih meja lain."

Tidak ada kepahitan dalam suara Raka. Justru itulah yang membuat Pak Joko terdiam.

Selama lima tahun, semua orang di rumah ini terbiasa melihat Raka mengalah. Jika Sulastri mengeluh sarapan terlambat, ia meminta maaf. Jika Ratna menuduhnya hidup dari uang keluarga, ia diam. Jika Larasati pulang lewat tengah malam tanpa kabar, ia tetap menyiapkan air hangat untuk kakinya yang lelah setelah latihan balet.

Mereka menyebutnya tak punya harga diri.

Malam ini, Raka akhirnya sadar bahwa kesabaran yang diberikan kepada orang yang salah hanya akan dibaca sebagai izin untuk menginjak lebih keras.

Ia melepas celemek, melipatnya rapi, lalu duduk di kursi paling ujung. Dari balik kerah kausnya, sesuatu yang dingin menyentuh kulit dada. Ujung sebuah liontin giok berukir naga terlihat sesaat ketika ia menunduk.

Raka menggenggamnya.

Liontin itu satu-satunya benda yang ia miliki sebelum menikah dengan Larasati. Ia tidak tahu berapa nilainya atau siapa yang mengukir naga kecil di permukaannya. Namun, setiap kali dunia menolaknya, dingin giok itu selalu mengingatkan bahwa setidaknya ada satu benda yang benar-benar menjadi miliknya.

Pukul sebelas lewat dua puluh menit, deru dua mobil memasuki halaman.

Pintu depan terbuka disertai tawa.

"Mama harus pakai kalung itu saat acara yayasan minggu depan," kata Ratna. "Biar semua orang tahu siapa yang memberikannya."

"Sebas memang perhatian," balas Sulastri. "Tidak seperti orang tertentu."

Keisha berlari lebih dulu ke dalam rumah. Gaun merah mudanya berkilau di bawah lampu, dan noda es krim masih menempel di ujung bibirnya.

"Ayah!" serunya.

Untuk satu detik, dada Raka menghangat. Ia bangkit dan berjongkok, membuka tangan.

Namun Keisha berhenti dua langkah di depannya. Anak empat tahun itu mengangkat wadah es krim kosong yang dihiasi pita emas.

"Lihat! Om Sebastian belikan es krim emas. Mahal sekali!"

"Kamu menghabiskannya?" Raka bertanya, menahan tatapan pada noda di bibir putrinya.

"Sedikit. Mama bilang besok boleh beli lagi." Keisha berputar ke arah Larasati yang baru masuk. "Mama, Om Sebastian jadi papa Keisha saja, ya? Papa yang punya restoran di langit!"

Tawa Ratna pecah lebih dulu.

Sulastri menyusul sambil menutup mulut, seolah ucapan itu hanya kelucuan seorang anak.

Larasati tidak tertawa. Namun, ia juga tidak menegur.

Raka berdiri perlahan. "Keisha punya alergi kacang dan mangga. Kalian sudah menanyakan komposisinya?"

"Jangan merusak suasana dengan kecemasanmu," kata Larasati. Ia melepas sepatu haknya, lalu menyerahkan tas kepada Raka secara refleks. "Itu restoran terbaik, Mas. Mereka tahu apa yang mereka sajikan."

Raka tidak mengambil tas tersebut.

Tangan Larasati tertahan di udara.

Baru kali itu ia benar-benar menatap suaminya malam ini. Kemeja sederhana Raka masih berbau asap tumisan. Ada bekas minyak di lengan bajunya. Namun sorot mata yang biasanya mengalah telah hilang.

"Kenapa?" tanyanya.

"Simpan tasmu sendiri."

Alis Larasati terangkat. "Mas, aku lelah. Jangan mulai cari masalah."

"Dia memang mulai kurang ajar." Sulastri berjalan ke ruang makan, lalu mendecakkan lidah saat melihat hidangan tertutup. "Untuk apa memasak sebanyak ini? Mau pamer seolah-olah uang belanjamu bukan dari keluarga kami?"

Raka mengikuti mereka sampai ambang ruang makan. "Saya memakai uang dari pekerjaan ilustrasi bulan lalu. Tidak satu rupiah pun dari Bu Sulastri."

"Pekerjaan receh itu?" Sulastri membuka tudung rendang, mengendus, lalu menutupnya kembali dengan kasar. "Sebas menghabiskan lebih banyak untuk satu botol anggur malam ini. Seorang kacung juga bisa memasak. Jangan merasa sudah menjadi kepala keluarga hanya karena bisa mengaduk santan."

Bambang yang berdiri di belakang istrinya menghela napas. "Sudahlah. Sudah malam."

"Kenapa harus sudah?" Ratna menyandarkan bahu pada dinding. Matanya turun ke tangan Raka yang masih menggenggam liontin di balik baju, lalu kembali ke wajahnya. "Dia sengaja memasang wajah korban. Besok orang-orang akan mengira kami menelantarkan menantu miskin yang begitu berbakti."

"Mbak Ratna tidak perlu khawatir," kata Raka.

"Tentang apa?"

"Besok saya tidak lagi tinggal di sini."

Ruangan mendadak sunyi.

Keisha berhenti memainkan pita emas pada wadah es krimnya. Bambang menatap Raka. Bahkan Sulastri tampak kehilangan kata-kata selama satu tarikan napas.

Larasati menaruh tasnya sendiri di sofa. "Maksudmu apa?"

Raka meraih ponsel dari meja, membuka pesan Larasati, dan mengangkat layarnya agar semua orang dapat melihat.

"Lima tahun saya mengurus rumah ini. Saya membesarkan Keisha, mengantar latihanmu, menyiapkan kebutuhan orang tua Anda, dan menelan setiap ucapan karena saya pikir pernikahan berarti bertahan bersama." Suaranya datar. "Malam ini Anda memberi jawaban yang cukup jelas."

Larasati menatap foto di layar, lalu memalingkan wajah. "Hanya makan malam. Jangan berlebihan."

"Benar. Hanya makan malam." Raka menunjuk meja di belakangnya. "Dan itu hanya makanan yang dingin. Pesanmu juga hanya beberapa kata. Keisha meminta pria lain menjadi ayahnya juga hanya ucapan anak kecil. Kalau semuanya dianggap kecil, berarti pernikahan ini memang tidak menyisakan sesuatu yang layak dipertahankan."

"Mas!" Larasati meninggikan suara. "Kamu mau mengancamku gara-gara cemburu pada Sebas?"

"Saya tidak mengancam. Saya mengambil keputusan."

Perubahan kata ganti itu menghantam lebih keras daripada bentakan. Larasati membeku. Selama lima tahun, Raka selalu memakai aku-kamu kepadanya.

Sulastri tertawa mencibir. "Keputusan? Tanpa keluarga kami, kau mau makan apa? Mau tidur di trotoar? Jangan bertingkah seolah kami yang membutuhkanmu."

"Saya juga tidak menganggap begitu."

Raka membuka aplikasi catatan dan meletakkan ponselnya di meja. Setiap poin sudah ia ketik ketika menunggu mereka pulang.

"Besok saya akan mengajukan permohonan cerai talak di Pengadilan Agama. Mediasi dan sidang tetap kita jalani sesuai prosedur. Saya tidak menuntut bagian harta gono-gini keluarga Prawira. Hak asuh Keisha boleh tetap pada ibunya, dan nafkah anak akan saya penuhi sesuai kemampuan saya serta putusan pengadilan. Barang yang saya bawa hanya pakaian, alat gambar, dan liontin milik saya. Mbak Ratna boleh memeriksa semuanya."

Tak seorang pun tertawa sekarang.

Bambang maju setengah langkah. "Raka, jangan membuat keputusan saat marah. Kita bisa bicara besok."

"Saya sudah menunggu mereka pulang selama lima jam, Pak Bambang." Raka menatap meja yang membeku. "Waktu marah saya sudah lewat."

Ratna melipat tangan, tetapi jarinya mencengkeram lengan sendiri. "Kau pikir Laras akan menahanmu?"

"Tidak. Itu sebabnya prosesnya akan mudah."

Wajah Larasati berubah. Untuk pertama kali malam itu, dinginnya retak oleh sesuatu yang mirip tersinggung.

"Baik," katanya. "Kalau itu maumu, pergi. Jangan kembali saat kamu sadar hidup di luar tidak semudah tinggal di rumah kami."

Raka menatap perempuan yang pernah ia cintai, lalu mengangguk sekali.

Ia berbalik menuju tangga. Di bawah lampu kristal yang dibeli keluarga Prawira, liontin giok itu terlepas dari kerahnya. Ukiran naga pada permukaannya memantulkan seberkas cahaya hijau tua.

Sulastri hanya melihat sebuah batu kusam.

Ratna hanya sempat mengernyit.

Tak seorang pun di ruangan itu tahu bahwa puluhan tahun lalu, tangan seorang maestro dari keluarga konglomerat terbesar di negeri ini pernah mengukir liontin tersebut untuk putranya yang hilang.

Raka mengepalkannya, menatap Larasati untuk terakhir kali, lalu mengucapkan tujuh kata yang membuat seluruh keluarga Prawira kehilangan suara.

"Pernikahan ini selesai. Saya yang akan pergi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!