Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Api yang Padam oleh Kehampaan
GRAAAURRR!
Raungan Baron Iblis Api mengguncang fondasi istana obsidian. Suaranya terdengar seperti gemuruh gunung berapi yang siap meletus, memaksa batu-batu dari langit-langit ruangan runtuh berjatuhan.
Makhluk raksasa setinggi lima meter itu bangkit dari takhtanya. Dengan satu rentangan tangan, aliran magma dari bawah lantai istana melesat naik, berkumpul di telapak tangannya, dan memadat menjadi sebilah pedang raksasa bersuhu ribuan derajat celcius.
"Serangga fana! Beraninya kau menodai wilayah kekuasaanku!" geram Baron Iblis Api dalam bahasa iblis. Hawa panas yang mematikan menyebar ke segala penjuru, membakar oksigen di dalam ruangan tersebut.
Bagi Pembangkit pemula, sekadar berada di ruangan yang sama dengan monster Tingkat C sudah cukup untuk membuat paru-paru mereka melepuh dari dalam. Namun, Han Do-Yoon hanya berdiri dengan santai. Energi Sihir berwarna hitam pekat yang menyelimuti tubuhnya bertindak sebagai perisai absolut, menelan semua hawa panas yang mencoba menyentuh kulitnya.
"Banyak bicara untuk seekor kadal berlebihan berat badan," balas Do-Yoon, memutar pedang bayangan di tangan kanannya. "Ayo kita lihat apakah kau bisa menari."
Baron Iblis Api mengayunkan pedang magmanya secara mendatar, menciptakan gelombang sabit api yang menyapu seluruh lebar ruangan takhta.
WUSSH!
Bukannya mundur menghindar, Do-Yoon justru melangkah maju. Matanya yang kelam menyala saat keahlian Mata Kehampaan aktif sepenuhnya. Di matanya, gelombang api yang mematikan itu tampak memiliki celah aliran energi yang tidak merata.
Do-Yoon mengayunkan pedang bayangannya ke arah titik terlemah dari gelombang api tersebut.
TRANG!
Sesuatu yang mustahil terjadi. Gelombang api raksasa itu terbelah dua tepat di depan Do-Yoon, menyapu melewati sisi kiri dan kanannya tanpa melukainya sedikit pun. Pilar-pilar obsidian di belakang Do-Yoon meleleh akibat sisa serangan itu, namun sang Pemburu tetap berdiri tanpa luka gores.
Melihat serangannya dipatahkan dengan begitu mudah, mata kuning Baron Iblis Api melebar. Tanpa memberi jeda, monster itu mengepakkan sayap naganya, melesat maju bagaikan meteor, dan menghantamkan pedang magmanya langsung ke arah kepala Do-Yoon.
BAM!
Lantai obsidian hancur menjadi kawah besar. Asap tebal mengepul.
Namun, Baron Iblis Api menyadari senjatanya hanya menghantam batu kosong. Do-Yoon tidak ada di sana.
"Terlalu lambat," bisik sebuah suara dari atas udara.
Baron Iblis mendongak. Do-Yoon sedang melayang di udara, tepat di atas wajah monster tersebut. Memanfaatkan puing-puing batu yang beterbangan sebagai pijakan, Do-Yoon telah melompat menghindari hantaman pedang magma.
Dengan kecepatan kilat, Do-Yoon menusukkan pedang bayangannya lurus ke arah mata kiri Baron Iblis Api.
CROT!
"GRAAAAKK!"
Darah berwarna lahar menyembur dari mata sang monster. Raungan kesakitan bergema hebat. Baron Iblis itu memukul udara secara membabi buta dengan tangan kirinya yang bebas, berusaha menyingkirkan manusia yang bergelantungan di wajahnya.
Do-Yoon mencabut pedangnya, lalu melakukan salto ke belakang, mendarat dengan mulus di atas salah satu pilar yang patah.
[Pencapaian Kritis! Anda telah menghancurkan organ vital Penguasa Labirin.]
[Pertahanan Baron Iblis Api menurun drastis.]
Do-Yoon tersenyum sinis. Pertarungan ini terlalu mudah. Monster di hadapannya memang memiliki kekuatan perusak yang luar biasa, namun gerakannya terlalu kasar dan mudah dibaca oleh veteran yang telah bertahan hidup selama sepuluh tahun di neraka.
Namun, tepat ketika Do-Yoon hendak melesat untuk memberikan serangan penutup ke arah tenggorokan sang monster, sebuah pemberitahuan Sistem berwarna merah menyala tiba-tiba muncul memenuhi pandangannya.
[Peringatan Anomali!]
[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' mencampuri keseimbangan Tahap Percobaan!]
[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' memaksakan transmisi energi dewa ke dalam Labirin!]
[Penguasa Labirin: Baron Iblis Api menerima 'Berkah Api Penyucian'.]
Tiba-tiba, pilar cahaya berwarna merah darah turun dari langit-langit istana, menyelimuti tubuh Baron Iblis Api yang sedang meraung kesakitan.
Luka di matanya beregenerasi dengan kecepatan yang tidak wajar. Otot-ototnya membesar hingga merobek kulitnya sendiri, digantikan oleh sisik baja yang menyala-nyala. Suhu di dalam ruangan melonjak dua kali lipat, membuat pilar-pilar batu obsidian mulai mencair menjadi genangan lahar seutuhnya.
[Baron Iblis Api telah berevolusi sementara menjadi Tingkat B-!]
[Sistem Pusat memberikan peringatan kepada Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' atas pelanggaran aturan!]
[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' tertawa arogan: "Mati dan jadilah abu, dasar kecoa sombong!"]
Do-Yoon menatap perubahan wujud sang monster. Tidak ada kepanikan di wajahnya. Hanya ada rasa muak yang mendalam.
"Selalu seperti ini," gumam Do-Yoon, suaranya terdengar sangat dingin di tengah lautan api yang mengelilinginya. "Kalian, makhluk-makhluk sok suci yang duduk di atas singgasana kosmik, selalu mengubah aturan main saat kalian mulai kalah."
GRAAAAAAA!!!
Baron Iblis Api, yang kini telah kehilangan kesadarannya dan murni dikendalikan oleh amarah Rasi Bintang, mengayunkan pedang magmanya yang kini berukuran dua kali lipat lebih besar.
Kecepatannya melonjak drastis. Kali ini, tidak ada ruang bagi Do-Yoon untuk menghindar.
"Baiklah. Mari kita lihat, apakah api penyucianmu bisa membakar ketiadaan mutlak," ucap Do-Yoon tenang.
Ia membuang pedang bayangannya. Sebagai gantinya, ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Buka segel tahap satu. Keahlian Tingkat Mitos: Domain Kehampaan."
Seketika itu juga, warna di seluruh ruangan menghilang. Waktu seolah berhenti berdetak. Api neraka yang berkobar, genangan lahar yang mendidih, bahkan pergerakan pedang raksasa Baron Iblis yang hanya berjarak satu jengkal dari kepala Do-Yoon—semuanya membeku dan berubah menjadi abu-abu pudar.
Sebuah kubah kegelapan yang pekat meluas dari tubuh Do-Yoon, menelan seluruh ruang takhta. Di dalam kubah ini, tidak ada cahaya, tidak ada panas, dan tidak ada suara. Hanya ada keheningan absolut.
[Rasi Bintang 'Penimbang Keadilan Bersayap' terkesiap menatap energi yang mustahil itu!]
[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' terbelalak panik! Ia kehilangan koneksi dengan berkatnya!]
[Sistem Pusat gagal mendeteksi jenis kekuatan Anda!]
Mata Do-Yoon, yang kini sepenuhnya diselimuti kegelapan pekat tanpa pupil maupun putih mata, menatap lurus ke arah Baron Iblis Api yang membeku.
Do-Yoon melangkah perlahan di udara kosong, seolah ada tangga tak kasat mata di bawah kakinya. Ia berjalan mendekati dada monster raksasa itu, tempat di mana inti sihir kemerahan berdenyut di balik sisik baja.
Ia mengangkat tangan kanannya, dan dengan gerakan santai seperti menusuk sepotong mentega panas, ia menancapkan tangannya menembus dada baja Baron Iblis Api, tepat ke dalam inti sihirnya.
"Penyerapan Bayangan: Eksekusi," bisik Do-Yoon.
KRAAAK!
Domain kegelapan seketika pecah. Waktu kembali berjalan.
Namun, pedang magma yang seharusnya menebas kepala Do-Yoon hancur menjadi debu sebelum sempat menyentuhnya. Baron Iblis Api menjerit dalam penderitaan yang melampaui akal sehat. Kegelapan pekat dari tangan Do-Yoon merambat ke seluruh pembuluh darah monster tersebut, melahap seluruh energi sihir, api, dan daging dari dalam ke luar.
Hanya dalam hitungan detik, makhluk raksasa Tingkat B- itu mengering seperti mumi purba. Api di mahkotanya padam, dan tubuh besarnya runtuh menjadi tumpukan abu vulkanik abu-abu.
Do-Yoon mendarat dengan anggun di atas lantai obsidian, menggenggam sebuah kristal sebesar kepalan tangan yang memancarkan cahaya merah murni.
[Anda telah mengalahkan Penguasa Labirin: Baron Iblis Api (Tingkat C) yang Terinfeksi!]
[Kemenangan yang Melampaui Akal Sehat!]
[Anda adalah manusia pertama yang membunuh monster di atas dua tingkat dari batasan Anda.]
[Anda mendapatkan 10.000 Poin Pengalaman.]
[Tingkat Anda telah naik!]
[Tingkat Anda telah naik!]
[Tingkat Anda telah naik!]
[...Tingkat Anda saat ini adalah 15.]
[Anda mendapatkan Rampasan: Inti Jantung Api Penyucian (Peringkat Langka).]
Rentetan notifikasi itu diakhiri dengan sebuah keheningan yang mencekam dari saluran para dewa.
[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' gemetar dalam kemarahan dan ketakutan.]
[Rasi Bintang 'Raja Serigala Pemakan Bangkai' bersujud dalam kekaguman! Ia menyumbangkan 5.000 Koin Bintang!]
[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' mengirimkan pesan: "Monster macam apa kau ini?"]
Do-Yoon melirik layar biru dengan tatapan meremehkan. "Ingatlah baik-baik rasa takut ini. Karena tak lama lagi, aku akan mendatangi kalian dan memotong leher kalian satu per satu."
KRETAK... KRETAK...
Langit-langit ruangan dan dinding istana obsidian mulai retak. Kematian sang Penguasa Labirin memicu runtuhnya Gerbang Merah.
Udara yang tadinya panas kini perlahan tergantikan oleh udara segar kota sore. Ruang dimensi itu perlahan terkelupas layaknya kertas yang terbakar, memperlihatkan pemandangan reruntuhan Distrik Gangnam di luar sana.
Dari celah reruntuhan pintu istana, terdengar suara langkah kaki yang terseret.
Do-Yoon menoleh. Yoo Ji-Ah berdiri di sana, terengah-engah dan bersimbah darah iblis. Pedang parangnya sudah hancur tak berbentuk, namun di wajahnya tidak ada lagi keputusasaan. Matanya menyala oleh tekad seorang prajurit sejati. Di punggungnya, sang adik, Ji-Hye, tertidur pulas akibat kelelahan batin, namun utuh tanpa luka sedikit pun.
"Aku... aku membunuh mereka semua," lapor Ji-Ah dengan suara serak, matanya menatap tajam ke arah Do-Yoon. "Apakah aku lulus ujianmu?"
Do-Yoon mengamati aura hijau yang kini berputar mengelilingi tubuh gadis itu. Jelas bahwa ia telah naik tingkat berkali-kali lipat dari pembantaian massal tersebut.
Sang Pewaris Ketiadaan tersenyum tulus untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke masa lalu.
"Ya," jawab Do-Yoon seraya melemparkan sebuah kantong kecil berisi persediaan air minum yang tadi ia temukan di saku seragam salah satu mayat penjaga ke arah Ji-Ah. "Kau lulus, Permaisuri."
jangan lupa hadir juga 😉