NovelToon NovelToon
Your Obsession

Your Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chikaku_chiko

Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.

Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.

Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.

Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Komentar yang Membakar dan Batas Posesif

Di lantai lima, kehadiran Raisha selalu berhasil mencuri perhatian, terlepas dari sejauh mana dia berusaha bersikap rendah hati. Pagi itu, Raisha mengenakan gaun pensil berpotongan A-line warna abu-abu yang membentuk siluet tubuhnya dengan sangat pas.

Lekuk tubuhnya yang proporsional, pinggang ramping, dada membusung alami, serta pinggul dan bokong yang padat berisi menjadi kombinasi memikat yang sulit diabaikan oleh pandangan mata kaum pria di kantor tersebut.

Ketika Raisha berjalan melewati lorong meja divisi keuangan menuju dispenser, dua orang staf pria dari divisi IT yang sedang berdiri mengobrol tak jauh dari sana mendadak menghentikan pembicaraan mereka. Pandangan mereka secara impulsif mengekor tiap jengkal pergerakan tubuh Raisha dari belakang.

"Coba lihat si Raisha..." bisik salah satu staf IT dengan nada suara rendah yang agak bersiul.

"Ternyata bodi dia pas banget ya. Ramping tapi isinya padat. Lekuk bokongnya kalau pakai gaun gitu bener-bener gak main-main."

"Iya, lho," timpal temannya seraya menyunggingkan senyum mesum yang tertahan.

"Pantesan Aldo sama Reno sampai begitu ngerebutin dia. Bentuk dada sama pinggulnya emang tipe yang bikin cowok mana aja kepikiran sampai malam."

Mereka berdua tertawa kecil, melontarkan komentar-komentar vulgar bernada objektifikasi tanpa menyadari bahwa sebuah sosok tinggi telah berdiri tepat di belakang mereka sejak beberapa detik lalu.

Aldo, yang baru saja keluar dari ruang rapat kecil membawa dokumen rekapitulasi, mendengarkan setiap patah kata dan komentar kotor yang dialamatkan pada tubuh Raisha.

Seketika itu juga, rahang Aldo menegang keras hingga urat di lehernya menonjol tajam. Kornea matanya meredup, berganti dengan kilatan amarah yang begitu pekat dan mematikan. Udara di sekitar koridor itu mendadak terasa begitu dingin dan menghimpit.

Aldo melangkah satu pijakan maju, membenturkan folder dokumen tebal di tangannya ke atas meja terdekat dengan suara dentuman keras yang menggelegar.

Brak!

Kedua staf IT itu terlonjak kaget. Saat membalikkan badan dan mendapati wajah Aldo yang siap menerkam, darah di wajah mereka seketika tersedot habis.

"Seru banget ngomongin tubuh rekan kerja kalian?" desis Aldo dengan nada suara yang teramat rendah, namun sarat akan ancaman yang melumpuhkan mental.

Aldo memajukan tubuhnya, menatap kedua pria itu satu per satu dengan pandangan yang bagaikan pisau tajam menancap di tenggorokan.

"Kalau aku sampai dengar sekali lagi mulut sampah kalian membahas bagian tubuh Raisha... aku pastikan akan aku buat aduan kepada direksi atas dugaan pelecehan serta surat pemecatan kalian tertanda tangan sebelum jam makan siang."

Kedua staf IT itu menelan ludah dengan susah payah. Tubuh mereka gemetar hebat melihat aura intimidasi yang begitu mengerikan dari Aldo. Tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri, mereka hanya bisa mengangguk cepat dan buru-buru melangkah pergi meninggalkan koridor dengan wajah pucat pasi.

Aldo mengepalkan tangannya di samping tubuh, dadanya naik turun menahan gelombang posesif yang kini membakar jiwanya. Perasaan tidak rela jika tubuh ideal wanita melajang yang dicintainya menjadi bahan imajinasi liar pria lain terasa jauh lebih menyiksa dibanding amarahnya saat Mita mencoba menjebaknya dulu.

Raisha, yang baru saja kembali ke kubikelnya membawa segelas air hangat, sempat menangkap ketegangan kecil di ujung koridor tersebut. Namun, sebelum dia sempat bertanya pada Siska, sosok Aldo sudah lebih dulu berjalan mendekati mejanya dengan langkah lebar yang mendominasi.

Tanpa memedulikan tatapan Siska atau rekan kerja lainnya di sekitar area tersebut, Aldo menarik sebuah kursi kosong di samping meja Raisha dan duduk di sana. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, menatap Raisha dari atas ke bawah dengan pandangan yang menuntut dan posesif.

"Besok-besok jangan pakai gaun berpotongan kayak gini lagi ke kantor," cetus Aldo to the point, suaranya terdengar tidak suka dan amat dominan.

Raisha tertegun sejenak. Dahi bahagianya berkerut dalam seraya meletakkan gelas air di meja. "Maksud kamu apa, Al?"

"Gaun ini terlalu membentuk lekuk tubuhmu," ujar Aldo tanpa basa-basi, matanya menggelap saat menatap garis dada dan pinggul Raisha yang ramping namun padat.

"Aku gak suka cara cowok-cowok di lantai ini menatap kamu dari belakang. Mulai besok, pakai pakaian yang lebih longgar."

Raisha membelalakkan matanya tidak percaya. Rasa heran bercampur kesal seketika membakar dadanya atas keberanian Aldo yang secara lancang mendikte cara berpakaiannya.

"Kamu makin ngelunjak ya, Al!" bisik Raisha dengan intonasi menekan agar tidak terdengar karyawan lain.

"Pakaianku ini sopan dan sesuai standar dress code kantor! Kamu gak punya hak sedikit pun buat ngatur apa yang boleh dan gak boleh aku pakai!"

Aldo justru memajukan tubuhnya lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka di balik sekat kubikel. Binar matanya yang tajam mengunci mata Raisha.

"Aku punya hak karena aku gak sudi tubuh ideal kamu jadi bahan tontonan dan komentar murah pria-pria brengsek di sini, Ra," sahut Aldo dengan nada posesif yang begitu pekat dan jujur, tanpa ada niat untuk menutupi rasa cemburunya.

"Terserah kamu mau sebut aku protektif atau gila, tapi aku nggak akan biarkan mata siapa pun menikmati apa yang seharusnya cuma jadi milikku."

Kalimat 'seharusnya cuma jadi milikku' terucap begitu tegas dan membakar udara di antara mereka.

Raisha terpaku di tempat duduknya. Jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur. Ada perasaan kaget luar biasa atas tingkat kepemilikan Aldo yang kian liar dan tak terkontrol, namun di saat yang sama... ada sentuhan aneh di sudut hatinya yang merasa terlindungi dari pandangan nakal para pria di luar sana.

Raisha mencoba menguasai dirinya kembali, mengalihkan pandangan dari mata Aldo yang begitu menghipnotis.

"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Al. Dan tolong kembali ke ruanganmu, orang-orang mulai memperhatikan kita."

Aldo menatap Raisha selama beberapa detik lagi, meresapi rona tipis yang perlahan merayapi pipi wanita itu. Rasa puas yang dingin menyelimuti hatinya saat melihat pertahanan Raisha yang makin goyah.

"Aku tunggu laporan bulananmu sebelum jam tiga," ujar Aldo datar, lalu berdiri tegak dan melangkah kembali ke ruangannya tanpa penyesalan sedikit pun atas aksinya yang posesif.

Sore harinya, saat jam kerja resmi berakhir, Raisha membereskan barang-barangnya. Sesuai janjinya tadi pagi, Raisha memilih pulang bersama Reno dan kekasihnya, Sisil, yang sudah menunggu di area parkir bawah tanah.

Saat Raisha melangkah menuju pintu lif, Aldo memperhatikan pergerakannya dari balik dinding kaca ruangannya. Meski hatinya masih dibakar rasa cemburu saat melihat Raisha berjalan pergi untuk menemui Reno, Aldo menahan dirinya untuk tidak menghadang lagi secara impulsif. Dia ingat betul janji Raisha bahwa pertemuan itu murni membahas liburan bertiga bersama Sisil.

Namun, saat Raisha berjalan menelusuri koridor sepi menuju lif, ponsel di dalam genggamannya bergetar pelan. Sebuah pesan singkat dari Aldo masuk:

'Hati-hati di jalan. Jangan biarkan pria mana pun—termasuk Reno—menatap atau menyentuhmu terlalu dekat malam ini. Dan ingat kata-kataku soal pakaianmu besok pagi.'

Raisha menghentikan langkahnya di depan pintu lif yang terbuka. Dia menatap layar ponselnya dengan pasang mata yang berbinar ragu.

Rasa posesif Aldo belakangan ini telah mencapai tingkat yang hampir berbahaya, sebuah dorongan kepemilikan yang intens, tajam, dan sama sekali tak tertandingi. Dan Raisha menyadari satu kenyataan pahit yang makin tak bisa dibantahnya: makin keras dia mencoba memprotes rasa posesif Aldo, makin dalam pula dirinya tenggelam ke dalam pesona pria yang telah mengunci hatinya tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!