Yang baca Author do'akan semoga kalian lancar rezekinya😍😍 up dijam yang sama
Dari Selir yang Diabaikan menjadi Permaisuri
👑 Kaisar Tang Xuanze (唐玄泽)
👸 Permaisuri Mu Qingran (慕清然)
🌸 Gelar: Permaisuri Xianhe (贤和皇后)
🏯 Istana: Istana Ziyun
📜 Era Pemerintahan: Zhengzhou (正州)
Mu Qingran hanyalah seorang selir yang hidup dalam bayang-bayang istana. Diabaikan Kaisar Tang Xuanze, dihina para selir, dan dijadikan pion dalam perebutan kekuasaan, ia memilih bertahan dengan kecerdasan dan kesabarannya. Saat berbagai intrik mengancam takhta, Qingran membuktikan kesetiaan serta keberaniannya hingga perlahan merebut kepercayaan sang kaisar. Namun, jalan menuju singgasana permaisuri dipenuhi pengkhianatan, fitnah, dan pengorbanan. Mampukah seorang wanita yang pernah dianggap tak berharga mengubah nasibnya menjadi Permaisuri Xianhe yang dihormati seluruh negeri? Ataukah ambisi istana akan menghancurkan cinta dan harapan yang akhirnya ia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di Atas Salju Kertas
Desas-desus mengenai dijatuhkannya sanksi kepada Menteri Mei menyebar ke seluruh penjuru istana dalam bagaikan sambaran petir di tengah langit cerah. Di dalam kekaisaran Zhengzhou, di mana setiap jengkal tanah diatur oleh keseimbangan kekuasaan antara klan-klan bangsawan dan singgasana naga, kejatuhan seorang menteri senior bukanlah perkara sepele. Itu adalah gempa bumi politik yang mengguncang fondasi para pejabat tinggi di luar istana.
Di dalam Paviliun Lanting, udara pagi terasa begitu hening. Daun-daun bambu yang basah oleh embun malam bergesekan pelan diterpa angin utara yang mulai membawa hawa dingin musim dingin.
Mu Qingran berdiri di dekat jendela utama, mengenakan jubah beludru tebal berwarna merah marun dengan sulaman benang perak berbentuk bunga prem di bagian ujungnya. Rambut hitamnya tergerai setengah, dihiasi tusuk konde giok hijau tua yang memancarkan kilau lembut. Di hadapannya, sebuah dupa gaharu membakar perlahan, mengepulkan asap tipis berwarna putih yang meliuk-liuk ke udara sebelum akhirnya buyut oleh angin.
Chun’er melangkah masuk perlahan, membawa sebuah nampan kayu berisi mangkuk teh ginseng hangat. Wajah pelayan setia itu tampak masih menyimpan sisa-sisa keterkejutan yang luar biasa.
"Nyonya..." suara Chun’er bergetar halus saat ia meletakkan nampan tersebut di atas meja bundar porselen. "Berita itu sudah dikonfirmasi oleh para kasim di biro arsip. Menteri Mei benar-benar telah dilucuti lencana jabatannya oleh Kaisar pagi ini. Seluruh dokumen penyelidikan kasus penggelapan pajak di provinsi selatan diserahkan langsung kepada Kaisar tanpa melalui dewan menteri."
Qingran tidak langsung menjawab. Ia mengambil mangkuk teh ginseng itu, meniup permukaannya yang mengepulkan uap hangat dengan perlahan, lalu menyesapnya sedikit. Rasa hangat langsung mengalir melalui tenggorokannya, meredakan dinginnya udara pagi.
"Kaisar Tang Xuanze adalah penguasa yang memegang kendali penuh atas bidak-bidak di tangannya, Chun’er," suara Qingran meluncur tenang, bagaikan air telaga yang tidak bergeming sedikit pun. "Selama ini, Klan Mei merasa diri mereka begitu kuat karena menguasai jalur birokrasi sipil di luar istana. Mereka mengira ancaman petisi kemarin akan membuat Kaisar tunduk dan berkompromi."
Qingran meletakkan kembali mangkuk tehnya ke atas meja. Suara porselen beradu dengan kayu terdengar begitu renyah di tengah kesunyian ruangan.
"Tetapi mereka lupa satu hukum besi di dunia persilatan maupun istana kekaisaran," lanjut Qingran, matanya menyipit tajam menatap bayangannya sendiri di balik kaca jendela. "Seekor naga tidak akan pernah membiarkan cacing tanah mengatur arah angin. Ketika Klan Mei mencoba mendesak singgasana dengan cara yang kotor, mereka bukan hanya mencari mati di dalam harem, tetapi juga membuka celah selebar-lebarnya bagi Kaisar untuk memotong leher politik mereka dari luar."
Chun’er menelan ludah kasar. Ada aura wibawa yang begitu kuat memancar dari tubuh nyonya mudanya—sebuah ketenangan jiwa tingkat tinggi yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasa seolah-olah mereka sedang berdiri di hadapan seorang pendekar agung yang menguasai tenaga dalam tingkat kesempurnaan.
"Lalu, apa yang akan dilakukan oleh Permaisuri Agung dan faksi mereka sekarang, Nyonya?" tanya Chun’er dengan nada cemas. "Menteri Mei adalah paman kandung dari Selir Mei. Kejatuhannya berarti sayap kekuasaan Selir Mei telah patah sebelah. Mereka pasti tidak akan tinggal diam dan membiarkan kita bernapas dengan mudah."
"Justru di sinilah letak bahaya yang sesungguhnya," jawab Qingran, tatapannya mendadak berubah serius. Ia berbalik badan, menghadap langsung ke arah Chun’er. "Musuh yang terluka parah dan terpojok di sudut ruangan adalah jenis makhluk yang paling berbahaya di dunia ini. Mereka tidak lagi memikirkan strategi yang anggun atau intrik yang rapi. Yang ada di dalam kepala mereka sekarang hanyalah satu hal: menghancurkan musuhnya bersama-sama dalam satu kebinasaan."
Sebelum Chun’er sempat merespons peringatan tersebut, suasana di luar halaman Paviliun Lanting mendadak berubah riuh. Suara derap langkah kaki berat, suara logam zirah yang beradu, dan teriakan-teriakan panik terdengar mendekat dengan kecepatan tinggi.
Brak!
Pintu gerbang halaman Paviliun Lanting didorong paksa dari luar. Seorang pengawal kekaisaran dengan napas terengah-engah dan baju berlumuran debu berlari masuk, langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan pintu utama.
"Melapor kepada Selir Mu!" teriak pengawal itu dengan suara parau yang penuh kepanikan. "Keadaan di istana bagian dalam mendadak kacau! Pasukan pengawal gerbang utara melaporkan adanya... adanya pergerakan mencurigakan dari pasukan bayangan yang mencoba menyusup masuk ke area harem kekaisaran!"
Deg.
Chun’er membelalakkan matanya, wajahnya langsung memucat pasi hingga kehilangan seluruh warnanya. "Pasukan bayangan?! Menyusup ke harem?!"
Di dunia istana kekaisaran, pengerahan pasukan bersenjata rahasia ke dalam area harem adalah bentuk pengkhianatan tingkat tinggi yang hukumannya adalah penyiksaan sembilan turunan. Ini bukan lagi sekadar intrik antar selir, melainkan sebuah kudeta berdarah yang coba dilancarkan oleh pihak-pihak yang sudah kehilangan akal sehat.
Mu Qingran tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, dan membiarkan ketenangan mutlak menguasai seluruh panca inderanya.
"Akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari bayang-bayang," bisik Qingran pelan, sudut bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang setajam bilah pedang tersembunyi.
Ia melangkah maju melewati Chun’er yang masih membeku ketakutan. Dengan satu gerakan tangan yang anggun, Qingran membuka pintu utama Paviliun Lanting lebar-lebar, menyambut angin dingin musim dingin yang menderu kencang, siap menghadapi badai berdarah yang datang menerjang pintu istananya.