Demi menyelamatkan kembarannya dari pernikahan dengan pemimpin Yakuza yang paling ditakuti, Stella Rossi nekat menyamar menjadi Luna dan berjalan ke altar.
Takeo Akira, Kumicho berdarah dingin, memilih Luna karena mengira perempuan lembut itu paling mudah dikendalikan. Pernikahan ini hanyalah langkah pertama dari balas dendamnya pada keluarga Lombardi, dan begitu pewarisnya lahir, istrinya tak lagi berguna.
Tapi malam pertama membongkar penyamaran itu. Dan perempuan yang terbaring di ranjangnya sama sekali bukan bidak penurut yang dia bayangkan.
Satu dikurung dalam gelap. Satu bersumpah tak akan pernah menunduk.
Antara dendam yang membara dan debar yang tak mau padam, siapa yang sebenarnya sedang memerangkap siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Tanda Pengkhianatan
Stella
Tangan Takeo mencengkeram leherku makin kuat.
Udara lenyap dari paru-paruku.
Aku berusaha bernapas, tapi hanya sakit yang kutemukan. Kuku-kukuku mencakar pergelangan tangannya dalam refleks putus asa. Pandanganku mulai kabur, sementara mata gelap di hadapanku menyala oleh kebencian. Belum pernah kulihat seseorang menatap orang lain dengan amarah sebesar ini.
Jadi beginilah akhirnya.
Kalau aku mati hari ini... aku mati bahagia.
Aku berhasil.
Dia menyempurnakan pernikahan ini dengan mengira aku Luna. Kakakku bebas. Jauh dari sini. Jauh dari pria ini.
Senyum nyaris lolos dari bibirku, bahkan saat dunia menggelap di sekelilingku.
Tapi tiba-tiba...
Tekanan itu lenyap.
Takeo melepaskan leherku dengan kasar.
Aku terjatuh ke depan, terbatuk tak terkendali. Dadaku terbakar saat aku berusaha menarik udara kembali ke paru-paru. Setiap tarikan napas menyakitkan, seakan ribuan jarum menembus tenggorokanku.
Kuletakkan tangan di leher, merasakan kulitku berdenyut.
Sambil memulihkan napas, kuamati Takeo.
Dia menjauh dari ranjang dengan gerakan kasar.
Sesaat kukira dia akan pergi.
Tapi aku salah.
Raungan murka keluar dari tenggorokannya.
Dengan satu ayunan keras, dia melempar lampu ke dinding. Benda itu meledak jadi ratusan keping.
"Sialan!"
Sebuah vas dilemparnya menyusul.
Lalu sebuah kursi.
Bunyi perabot pecah menggema di seluruh suite.
Aku bergidik di setiap benturan.
Takeo seperti binatang terluka, mondar-mandir sambil bernapas berat. Otot-otot tubuhnya kaku, tinjunya terkepal, rahangnya terkunci.
Dia menyambar sebotol whiskey dari atas lemari dan membantingnya ke dinding batu.
Kaca berhamburan.
Bau minuman keras yang menyengat memenuhi kamar.
Aku tak bergerak.
Dengan tangan gemetar, kutarik seprai sampai dada dan menutupi tubuhku sepenuhnya, seakan sehelai kain itu sanggup melindungiku dari badai di hadapanku.
Jantungku berdegup begitu keras sampai aku yakin dia bisa mendengarnya.
Aku tak berani mengucapkan sepatah kata pun.
Satu-satunya yang kulakukan adalah memperhatikannya dalam diam, saat dia menghancurkan segalanya di sekitarnya, tak sanggup menahan murkanya sendiri.
Takeo lenyap dari pandanganku.
Beberapa detik, hanya napasku yang tersengal dan bunyi benda-benda pecah yang berserakan di seluruh suite yang kudengar.
Ketika dia kembali, dia sudah mengenakan jubah mandi hitam. Rambutnya masih lembap. Dia menyisirnya ke belakang dengan tangan dan menatapku dengan kedinginan yang membuat bulu kudukku meremang.
Matanya bertemu mataku.
Tak ada lagi sisa topeng sopan yang dia pakai sejak pernikahan.
"Sekarang, tanpa topeng... selamat datang di neraka, istriku."
Tenggorokanku langsung kering.
Sebelum sempat bereaksi, dia memegang pergelangan kakiku.
"Lepaskan aku!"
Tubuhku merosot di ranjang saat dia menarikku tanpa belas kasihan. Kupegang seprai dengan segenap tenaga agar tidak lepas dan tetap menutupi sebagian tubuhku.
"Jangan sentuh aku!"
Suaraku menggema di suite.
Dia bahkan tak memperlambat langkah.
Dalam satu gerakan, dia memanggulku di bahunya seolah aku tak punya berat sama sekali.
Dunia terbalik.
Perutku bergolak.
Aku mulai meronta, menendang udara dan memukuli punggung lebarnya dengan kepalan tangan.
"Lepaskan! Dengar tidak? Turunkan aku!"
Setiap pukulan seolah tak berpengaruh apa pun.
Seperti memukul tembok beton.
Dia terus berjalan di lorong dengan ketenangan yang menakutkan.
Saat kami melintasi aula besar rumah itu, suaranya memecah keheningan.
"Isamu! Kunci ruang kurungan."
Seorang pria muncul tergesa, menatap Takeo dulu lalu aku.
Ekspresinya berubah seketika.
"Apa-apaan ini?"
Takeo bahkan tak repot menjawab.
Aku terus memukulinya, berusaha membebaskan diri.
Isamu memegang seikat kunci, tapi ragu.
"Mungkin... sebaiknya cari cara lain."
Takeo mendengus tertawa pelan, sama sekali tanpa humor.
"Minggir."
Perintahnya singkat.
Tak terbantahkan.
Isamu tak bergerak semenit penuh, seakan masih ingin membantah. Namun akhirnya dia menyingkir tanpa suara.
Kami menyusuri lorong-lorong rumah yang makin gelap.
Lampu-lampu makin jarang.
Udara terasa lebih dingin.
Kami menaiki tangga kayu tua yang sempit. Setiap anak tangga berderit di bawah bobotnya.
Jantungku berpacu.
Aku tak tahu ke mana dia membawaku.
Dia berhenti di depan sebuah pintu logam yang berat.
Bunyi kunci diputar bergema di lorong.
Pintu terbuka perlahan.
Di dalamnya...
Kegelapan.
Aku tak bisa membedakan apa pun.
Takeo menurunkanku dari bahunya dan, tanpa sedikit pun kelembutan, melemparku ke dalam.
Aku jatuh keras menghantam lantai dingin.
Benturannya menjalar ke sekujur tubuh.
Rasa sakit meledak di lengan, pinggul, dan lututku.
Sesaat, aku harus mengatupkan gigi agar tidak mengerang.
Tidak.
Aku tak akan memberinya kepuasan itu.
Aku tetap diam.
Takeo memandangiku hanya sedetik.
Lalu berbalik.
Pintu logam itu tertutup dengan dentuman.
Kudengar kunci diputar dari luar.
Aku terkunci.
Sendirian.
Dalam kegelapan total.
Kurapikan seprai yang membalut tubuhku, menekannya ke dada dengan kedua tangan.
Beberapa kali aku menarik napas dalam-dalam, berusaha mengabaikan sakit yang menjalar di setiap otot. Dampak jatuh tadi masih berdenyut di lengan, punggung, dan pinggulku.
Dengan susah payah, kutopangkan tangan ke lantai dan berdiri.
Kegelapan itu tak lagi mutlak.
Pelan-pelan, mataku terbiasa dengan remang, menyingkap tempat aku dikurung.
Ruangannya luas.
Ada kardus-kardus bertumpuk di salah satu sudut, tertutup selapis tipis debu. Sebuah rak tinggi menguasai hampir satu dinding penuh, dijejali buku-buku tua dan map-map yang terlupakan waktu.
Lantai batunya dingin di bawah telapak kakiku yang telanjang.
Merinding menjalari tubuhku.
Aku berjalan pelan, mengamati setiap detail, mencari jendela, pintu kedua... kemungkinan apa pun untuk keluar.
Tak kutemukan apa-apa.
Hanya dinding-dinding dingin.
Lebih jauh, kutemukan kamar mandi yang ternyata cukup besar. Wastafel, cermin, dan pancuran menunjukkan bahwa tempat itu tidak dibuat hanya untuk menyimpan barang.
Dan bagian ruangan itu lumayan terang.
Seseorang bisa tinggal di sini lama sekali.
Pikiran itu membuat perutku mengerut.
Lalu aku menyadari satu hal yang tak kulihat saat baru masuk.
Langit-langitnya.
Sebagian terbuka.
Tidak sepenuhnya, tapi cukup bagi cahaya akhir hari untuk menembus celahnya dan menerangi sebagian ruangan.
Angin juga masuk.
Embusan lembut menyentuh wajahku.
Kuangkat mata.
Kulihat sepetak langit.
Biru.
Bebas.
Begitu dekat...
Namun sekaligus tak terjangkau.
Kakiku lemas.
Aku merosot pelan sampai terduduk di lantai, menyandarkan punggung di dinding dingin.
Aku terus menatap sepetak langit itu, seakan itulah satu-satunya bukti bahwa masih ada dunia di luar penjara ini.
Aku tak sanggup menahannya lagi.
Air mata mengalir diam-diam di wajahku.
Pertama satu.
Lalu satu lagi.
Sebentar saja aku sudah tak bisa menahan tangis.
Kututup mulut dengan tangan agar isakku tak terdengar.
Aku tak ingin dia mendengarku.
Aku tak ingin dia tahu dia berhasil melukaiku.
Tapi di sana...
Sendirian.
Jauh dari keluargaku.
Tak tahu apa yang akan terjadi padaku.
Seluruh keberanian yang kupertahankan sampai detik ini runtuh.
Kupejamkan mata sesaat.
"Setidaknya Luna bebas..."
Aku berbisik pada diriku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini bermula, kubiarkan air mataku jatuh tanpa berusaha menyembunyikannya.