NovelToon NovelToon
Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: DMAM

Udara dingin khas pegunungan di pagi hari perlahan-lahan merayap masuk melalui celah-celah dinding kayu rumah bersahaja itu. Di luar rumah, embun subuh menetes perlahan dari dedaunan pohon mangga di pekarangan tetangga membasahi tanah yang kini menjadi saksi bisu perjalanan hidup Aisyah.

Gema suara azan Subuh mengalun merdu dari pengeras suara masjid desa yang berjarak beberapa ratus meter. Suara sakral itu membelah kesunyian pagi yang pekat, bersahut-sahutan dengan lengkingan ayam jantan yang mulai menyambut fajar.

Allahu Akbar, Allahu Akbar...

Suara panggilan salat itu perlahan menyusup ke dalam kesadaran Aisyah. Kelopak matanya yang terasa berat akibat kelelahan fisik dan emosional sepanjang hari kemarin kini bergetar pelan.

Ia menggerakkan jemari tangannya dan merasakan kehangatan yang asing namun begitu nyata melingkupi seluruh tubuhnya.

Aisyah bernapas pelan. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Ada beban yang cukup berat namun hangat bertengger tepat di atas pinggangnya. Bukan hanya itu, sebuah terpaan napas yang teratur dan hangat berhembus lembut menghantam kulit leher bagian belakangnya yang sensitif, dan menerobos selah-selah kain jilbab instan yang masih melekat kaku di kepalanya.

"Eungh..." Aisyah bergumam halus, tapi kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya.

Ia mencoba menggeser tubuhnya ke arah kanan untuk meluruskan kakinya. Namun, gulungan selimut tebal di tubuhnya terasa begitu ketat dan membelenggu gerakannya.

Saat Aisyah menurunkan pandangannya ke arah dada dan perut, matanya yang semula redup mendadak membelalak lebar.

Sebuah lengan kekar berselimut lengan kemeja mahal yang sudah kusut melingkar erat di pinggangnya. Jemari tangan itu mencengkram kain gamisnya dengan begitu posesif, seperti anak kecil yang tak ingin kehilangan boneka kesayangannya saat tidur.

Deg! Deg! Deg! Deg!

Aisyah memaku tubuhnya. Keringat dingin menyemul di balik dahi pucatnya. Dengan perlahan dan penuh rasa takut, ia memutarkan kepalanya ke belakang secara perlahan dan hati-hati.

Tepat di samping wajahnya yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja, terbaring sosok pria yang sangat ia kenal.

Wajah Dimas terlihat begitu dekat. Ketampanan Pria muda itu tampak sangat polos tanpa ekspresi angkuh atau rasa takut yang biasa ditunjukkannya di hadapan Bu Rosma.

Bekas memar tipis di pipinya masih tampak sedikit memerah, sementara napasnya berhembus teratur membelai pipi Aisyah.

Aisyah langsung menyatukan kedua tangannya di dadanya yang naik turun dengan cepat akibat rasa syok yang besar.

"Astagfirullahaladzim...!" pekik Aisyah. Ia menahan napas agar suara histerisnya tidak meluncur keluar dengan ceroboh.

Lalu, ingatannya berputar liar. Semalam ia meninggalkan Dimas di sofa ruang tengah! Semalam ia memastikan pria itu sudah terlelap meringkuk sendirian di atas sofa kain yang sempit! Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin pria ini bisa memanjat kasur busanya dan berbaring di sampingnya tanpa ia sadari sedikit pun?!

Dengan jemari gemetar, Aisyah memberanikan diri mendorong pelan dada Dimas dengan kedua telapak tangannya.

"Mas... Mas Dimas...?" bisik Aisyah dengan suara bergetar dan terdengar canggung.

Usikan lembut di dadanya dan panggilan bersuara halus itu membuat Dimas terusik dari alam mimpinya.

Namun, pria muda itu tidak langsung membuka mata. Malahan, Dimas makin mempererat pelukan tangannya di pinggang Aisyah, dan menyembunyikan wajahnya lebih dalam ke celah antara bahu dan tengkuk Aisyah.

Ia menggeliat pelan, dan menikmati kehangatan luar biasa yang membalut tubuhnya dari tusukan hawa dingin subuh desa.

"Eunghhh... Mami... lima menit lagi..." gumam Dimas dengan suara yang serak khas bangun tidur yang sangat kental dan manja.

Dimas lantas menggeser badannya dan merapatkan dada bidangnya ke punggung Aisyah tanpa dosa. Rasanya kasur busa tipis di lantai ini jauh lebih hangat dan nyaman dibandingkan sofa sempit tempat ia terbangun kedinginan tadi malam.

Kini Aisyah membeku total. Sensasi tubuh pria yang kini berstatus sebagai suaminya menempel erat pada tubuhnya hingga membuat seluruh persendian Aisyah terasa lolos. Rona merah padam pun membakar seluruh permukaan wajah hingga ke balik jilbabnya.

"Mas Dimas... bangun, Mas..." panggil Aisyah lagi, kali ini dengan nada suara yang agak ditekan dan dorongan yang lebih kuat di bahu Dimas. "Ini Aisyah, Mas! Bukan Bu Rosma!"

Mendengar nama "Aisyah" disebut tepat di depan telinganya, gerakan Dimas pun langsung terhenti.

Jemari tangan Dimas yang melingkar di pinggang Aisyah perlahan mengendur. Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka dengan perlahan.

Iris matanya yang coklat jernih menatap langsung ke dalam mata Aisyah yang dipenuhi kepanikan dari jarak yang amat dekat.

Dimas mengedipkan matanya tiga kali secara beruntun. Rasa kantuk yang berat masih menggelayut di kepalanya, hingga membuat pikirannya bekerja sedikit lambat.

"Ai... Aisyah...?" gumam Dimas.

"I-iya, Mas... Ini Aisyah," jawab Aisyah cepat, dengan napas yang memburu. "Mas Dimas kenapa ada di sini?! Kenapa tidur di kasur Aisyah?!"

Dimas mengusap matanya dengan sebelah tangan, lalu menyandarkan kepalanya pada bantal yang sama dengan Aisyah tanpa berniat menggeser tubuhnya menjauh.

Ia justru tersenyum polos, sebuah senyuman tanpa dosa yang membuat Aisyah makin salah tingkah.

"Dingin banget tau, Syah..." ujar Dimas seraya merengek kecil, dan merapatkan selimut ke lehernya sendiri. "Semalam aku terbangun di sofa depan. Kakiku pegal, badanku menggigil semua. Terus aku ingat kan kita udah nikah kemarin... ya udah, aku masuk aja ke kamar kamu. Kasur kamu ternyata empuk banget walau di lantai."

Aisyah mengelus dadanya, dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang bagaikan ditabuh genderang perang.

"Tapi Mas... harusnya Mas bangunin Aisyah dulu atau Ibu..." tutur Aisyah canggung. "Aisyah kaget setengah mati pas bangun ada Mas Dimas di sini..."

"Kan kamu tidurnya nyenyak banget, aku gak tega bangunin," potong Dimas santai, dan sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan tindakannya.

Pria itu malah meregangkan kedua tangannya ke atas, dan menguap lebar-lebar di atas kasur busa tersebut. "Lagian kita kan udah sah, Syah. Mami juga kemarin bilang aku ini suami kamu. Masa suami tidur kedinginan di luar kamu biarin?"

Aisyah membisu. Kata-kata polos namun telak dari Dimas itu mengunci rapat mulutnya. Ya, pria di depannya ini adalah suaminya yang sah secara hukum agama dan negara.

Namun, mengingat status hubungan mereka yang lahir dari fitnah dan paksaan, rasanya keintiman mendadak seperti ini terlalu cepat dan mengejutkan bagi jiwa Aisyah yang tertutup.

Tepat saat suasana di atas kasur itu semakin canggung, tiba-tiba suara ketukan pelan terdengar dari pintu kamar.

Klek, klek.

"Aisyah...? Dimas...? Sudah bangun, Nak? Sudah azan Subuh..." suara Bu Rahmi dari luar kamar.

Aisyah bagaikan tersengat listrik ketika mendengar suara ibunya itu. Dengan cepat ia mendorong tubuh Dimas menjauh dan langsung bangkit duduk di atas kasur, sembari merapikan letak jilbab dan gamisnya yang agak kusut.

"I-iya, Bu! Aisyah sudah bangun!" sahut Aisyah dengan suara agak bergetar.

Dimas pun ikut mendudukkan tubuhnya di atas kasur. Rambutnya yang biasanya ditata rapi kini tampak mencuat ke segala arah (messy hair), dan setelan jas mahalnya sudah terlepas, menyisakan kemeja putih tipis yang agak kusut di bagian lengan.

Ia lalu mengacak-acak rambutnya sendiri sambil memandang Aisyah yang sibuk merapikan selimut dengan gerakan serba panik.

"Kamu kenapa sih panik banget, Syah?" tanya Dimas heran, sambil memasang raut wajah bingung. "Ibu kamu kan tau kita udah nikah."

Aisyah menoleh dan menatap suaminya dengan pandangan serba salah. "Mas Dimas... Mas belum paham situasi kita. Aisyah cuma... Aisyah belum terbiasa, Mas."

Bersambung...

1
Tuti Nurhayati
up LG KK dtunggu
Aurora: udah update Kaka... yuk lanjut baca lagi 🤗. Kalau suka, jangan lupa kasih like nya ya...🥰
total 1 replies
Tuti Nurhayati
up LG y dtunggu
Aurora: siap kakak... makasih udah mau mampir 🤗🥰
total 1 replies
fans
Menarik, lanjutkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!