"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.
Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."
Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.
Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.
Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dekapan Sang Pembela
Pria bertubuh tinggi dengan setelan jas eksklusif itu adalah Arsen. Di usianya yang matang, Arsen dikenal sebagai CEO sukses yang dingin, tegas, dan disegani di dunia bisnis. Kedatangannya ke kafe mewah malam ini bukan tanpa alasan. Ia menyusul ke sana setelah mengetahui keponakannya, Sean, nekat meninggalkan ruang rapat penting perusahaan tanpa memberikan kabar atau alasan yang jelas. Arsen paling tidak suka dengan ketidakprofesionalan, dan sikap Sean malam ini sungguh memancing kemarahannya.
Namun, niat Arsen untuk memberi pelajaran pada keponakannya mendadak buyar saat seorang gadis bergaun marun tiba-tiba menabrak dadanya.
Arsen sempat membeku ketika gadis itu mendongak dan merancau memuji parasnya dengan tatapan sayu yang dipengaruhi alkohol. Sebelum Arsen sempat melepaskan pegangannya dari bahu gadis itu, suara tangis kecil mulai pecah.
"Bawa aku keluar dari sini... kumohon..." ucap Aura dengan suara parau yang sarat akan rasa sakit hati.
Tanpa ragu, Aura merengkuh leher Arsen dan memeluk tubuh pria asing itu dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arsen. Isak tangisnya semakin menjadi-jadi, membasahi kemeja putih mahal yang dikenakan Arsen. Gadis itu tampak begitu rapuh, seolah-olah seluruh dunianya baru saja runtuh dan ia butuh tempat untuk bersembunyi dari kenyataan pahit.
Arsen yang biasanya berjarak dan tak tersentuh oleh wanita mana pun, entah mengapa merasakan desakan aneh di dadanya saat mendengar bisikan putus asa itu. Ia menatap wajah Aura yang mulai memerah akibat pengaruh alkohol. Pandangan mata Aura perlahan mengabur, hingga akhirnya kedua matanya tertutup rapat dan tubuhnya melembek sepenuhnya dalam dekapan Arsen—gadis itu kehilangan kesadaran.
Dengan gerakan cepat dan sigap, Arsen menyelipkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Aura dan tangan lainnya menopang punggung gadis itu. Ia menggendong tubuh Aura dengan gaya bridal carry, membawanya dengan mudah seolah berat badan gadis itu tak ada artinya.
Tanpa membuang waktu untuk mencari Sean di dalam kafe, Arsen membalikkan badan dan melangkah lebar menuju pintu keluar. Sopir pribadinya yang bersiap di samping mobil sedan hitam mewah langsung membukakan pintu belakang dengan sigap saat melihat tuannya menggendong seorang wanita.
Arsen menyandarkan tubuh Aura secara perlahan di kursi belakang yang empuk, lalu ia ikut masuk dan duduk di sampingnya. Ia menarik kepala Aura agar bersandar nyaman di bahunya, mencegah posisi kepala gadis itu tertekuk selama perjalanan.
"Jalan," perintah Arsen singkat dan tegas kepada sopirnya.
Sedan mewah itu meluncur halus membelah kegelapan malam perkotaan. Di dalam mobil yang tenang, Arsen menatap wajah pulas Aura yang berada tepat di samping lehernya. Senyum kecut hinggap di bibir sang CEO saat menyadari bahwa gadis yang kini tak sadarkan diri di pelukannya adalah sosok yang belakangan ini kerap diungkit oleh Sean—kekasih keponakannya sendiri yang kini tengah berada dalam masalah besar dengannya.
Sedan hitam mewah itu melaju mulus menembus heningnya malam. Keheningan di dalam kabin mobil yang semula tenang perlahan pecah oleh suara erangan halus dari bibir Aura. Pengaruh alkohol pekat yang memikat kesadarannya kini mulai bercampur dengan gejolak emosi yang tertahan di dada. Walau matanya terpejam rapat, kening gadis itu berkerut dalam, memperlihatkan ketidaktenangan yang luar biasa dari alam bawah sadarnya.
Aura mulai merancau pelan. Kepala yang bersandar di bahu kokoh Arsen bergerak gelisah, mencari posisi yang tak pernah terasa pas.
"Kenapa... kenapa kamu tega..." gumam Aura dengan suara parau yang timbul tenggelam di antara hembusan nafasnya yang berat.
Arsen melirik wanita muda di sampingnya. Pria itu tetap diam, membiarkan Aura mengalirkan keresahannya. Namun, tatapan dingin sang CEO perlahan melunak saat melihat bulu mata lentik gadis itu basah oleh lelehan air mata baru yang menetes, membasahi kain jas mahal yang membalut bahunya.
"Aku menyesal... aku sangat menyesal mengenalmu!" tangis Aura pecah begitu saja, meski matanya tetap belum terbuka. Suaranya bergetar hebat, membawa seluruh rasa kecewa yang menusuk dadanya hingga merembet ke dada pria yang mendekapnya.