"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
"Ya sudah, sekarang kalian berdua mandi dulu sana. Sudah sore," ujar Abi.
"Nanti habis mandi dan rapi, kita ke rumah Nenek lagi. Kasihan Tante Nadia sama Nenek sendirian di sana."
"Mandi sama Ayah, ya?" seru Akbar dan Aqil serempak dengan mata berbinar-binar.
"Ehh, kok mandi sama Ayah?" Abi menaikkan alisnya, berpura-pura menolak. "Kan sudah besar, masa mandinya masih harus dimandikan Ayah?"
"Nanti sekalian main air, Yah! Biar ada yang gosok punggung!" sahut Akbar penuh semangat sambil menarik-narik ujung kaus Abi.
"Iya, Ayah! Mandi mandi mandi!" timpal Aqil ikut-ikutan melompat-lompat kecil.
Abi tak bisa menahan tawa melihat tingkah kompak kedua jagoannya. Beban pikiran yang sempat menyita kepalanya perlahan sirna digantikan kehangatan kecil bersama sang buah hati.
"Ya sudah, ya sudah! Ayo mandi! Tapi awas ya, jangan malah main lempar-lemparan gayung!" kata Abi menyerah, lalu merangkul kedua anaknya masuk ke dalam rumah menuju kamar mandi.
Abi pasrah saja ketika kedua jagoannya itu justru menyeretnya duduk di atas bangku kecil di dalam kamar mandi. Niat hati ingin memandikan anak-anaknya, yang terjadi justru malah sebaliknya.
"Ayah duduk diam ya! Sekarang giliran Akbar sama Aqil yang mandiin Ayah!" seru Akbar dengan gaya sok serius.
"Iya, Ayah diam! Buka mata nanti pedih!" timpal Aqil heboh.
"Tutup mata cil."
Sebelum Abi sempat protes, gebyurrr!
Satu gayung air dingin langsung disiramkan Akbar tepat ke kepala Abi tanpa aba-aba. Abi cuma bisa meringis sambil memejamkan mata erat-erat, menahan dinginnya air yang menyiram tubuhnya. Belum sempat ia mengusap wajahnya, giliran Aqil yang beraksi. Bocah kecil itu mengambil sabun batangan, menggosoknya asal-asalan ke tangan lalu mengusapkannya heboh ke busa shampo yang ada di kepala sang ayah.
Abi hanya bisa tertawa pasrah sambil mengusap air dari matanya. Tangan-tangan kecil anak-anaknya yang sibuk menggosok punggung dan kepalanya, meski agak tergesa-gesa dan berantakan, justru terasa begitu menghangatkan hatinya.
Selesai urusan bilas-membilas yang penuh kehebohan, Abi mengeringkan tubuh kedua anaknya dengan handuk, lalu menuntun mereka ke kamar. Dengan telaten, ia membantu Akbar memakaikan kaus dan celana pendeknya, sebelum beralih memakaikan baju bergambar dinosaurus kesayangan Aqil.
Abi tersenyum kecil melihat kedua jagoannya kini sudah wangi dan segar. Namun, saat ia sedang membetulkan kerah baju si bungsu, jari-jari kecil Aqil mendadak memegang tangan Abi.
"Yah... kenapa kita ngga punya mama?" tanya Aqil tiba-tiba dengan nada cadelnya yang polos.
Abi tertegun, tangannya yang sedang mengancingkan baju Aqil terhenti seketika.
"Ladit punya mama... tiap main pasti nanti dipanggilin mama," lanjut Aqil sambil mendongak, matanya yang bulat menatap sang ayah tanpa dosa.
"Ayah sama Tante Nadia juga punya Mama. Tapi kenapa Aqil sama Mas Akbal ngga punya mama, Yah?"
Pertanyaan jujur yang keluar dari mulut bocah kecil itu seketika membuat kamar yang tadinya penuh tawa menjadi hening. Akbar yang sedang merapikan celananya ikut terdiam dan menunduk pelan.
Abi mengecup puncak kepala Aqil cukup lama, berusaha mengumpulkan kekuatannya sebelum melepaskan pelukan itu. Ditatapnya mata bulat si bungsu dengan usapan lembut di pipi chubby nya.
"Aqil sama Mas Akbar punya Mama, Nak..." ujar Abi dengan suara yang pelan dan sedalam mungkin. Memilih kata-kata terbaik agar mudah dimengerti oleh anak sekecil Aqil.
"Tapi, Ayah sama Mama sekarang sudah tinggal di rumah yang beda. Janji Ayah sama Mama untuk jalan bareng-bareng sudah selesai."
Aqil mengedipkan matanya polos, masih menatap sang ayah penuh tanya. "Kenapa beda lumah, Yah? Biar kayak Ladit, dipanggilin pulan?"
Abi tersenyum tipis, menatap kedua anaknya bergantian dengan tatapan penuh kasih sayang. "Iya, memang jalannya harus begini. Tapi Aqil sama Mas Akbar ndak usah sedih, ya? Walaupun Mama ndak tinggal di sini lagi, kan sudah ada Ayah. Ayah yang bakal selalu ada buat Aqil dan Mas Akbar. Ada Nenek juga, ada Tante Nadia..."
Akbar yang sejak tadi diam, perlahan mendekat dan memeluk punggung Abi dari samping. "Iya, Qil... Kan ada Ayah yang selalu masakin kita, yang nemenin main,"
Abi merengkuh kedua jagoannya itu rapat-rapat ke dalam pelukannya. Ia bersumpah dalam hati, walau pernikahan dirinya harus gagal, ia tidak akan pernah gagal menjadi seorang ayah bagi Akbar dan Aqil.
"Bener kata Mas Akbar," bisik Abi.
"Ayah bakal terus ada di sini, jagain kalian berdua sampai kalian besar nanti. Maafin Ayah ya..."
"Ngga apa-apa, Yah... Aqil sayang Ayah," cicit si bungsu sambil melingkarkan lengan kecilnya di leher Abi, disusul Akbar yang ikut memeluk leher ayahnya erat-erat.
"Kita bobo disana yah?" tanya Akbar tiba-tiba, mendongak menatap ayahnya.
Abi mengangguk pelan sembari menyunggingkan senyum hangat. "Iya, disana aja kita bobo, nemenin Tante Nadia sama Nenek."
"Bentar, Yah!" ucap Akbar cepat, lalu langsung melesat berlari keluar kamar sebelum Abi sempat bertanya lagi.
"Mau kemana lagi?" seru Abi heran, melihat anak sulungnya yang tiba-tiba heboh sendiri.
Tak butuh waktu lama, Akbar kembali muncul di ambang pintu kamar. Abi sampai tidak bisa menahan tawa kecilnya saat melihat pemandangan di depannya, Akbar berjalan bersusah payah sambil memeluk erat sekumpulan guling buluk kesayangannya yang ditumpuk sampai menutupi separuh wajahnya. Guling-guling kain kusam yang sudah lepek tapi tak pernah boleh dicuci itu diboyong semua tanpa tersisa.
"Lho, Mas... kok gulingnya dibawa semua?" tanya Abi sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Punya Aqil juga dibawain Mas Akbal!" seru Aqil girang, langsung mengenali guling buluk miliknya yang ikut diseret sang kakak.
"Iya, biar nanti kalau bobo di rumah Nenek rasanya sama kayak di rumah," sahut Akbar mantap, meski napasnya sedikit terengah-engah menahan beban tumpukan guling di pelukannya.
"Itu beneran mau di bawa semua.?"
"Biar pules bobonya, Yah. nanti Aqil suka kebangun nyariin," alasan Akbar.
Aqil yang mendengar nama gulingnya disebut langsung merebut satu guling yang paling kusam dari tangan Abi, lalu memeluknya erat-erat seolah takut dipisah.
"Iya, ini punya Aqil! Ngga boleh tinggal!"
"Iya, iya, dibawain semua," kata Abi sambil mengusap kepala kedua anaknya.
Abi berkacak pinggang sambil menatap Akbar berpura-pura heran. "Emangnya kalau dipeluk Ayah nggak nyenyak bobonya?"
Akbar mendongak, menatap ayahnya polos tanpa rasa dosa sedikit pun. "Ayah ngences kalau tidur. Bau!"
"Eh, sembarangan!" seru Abi berpura-pura melotot, yang justru disambut tawa melengking dari Akbar dan Aqil.
Aqil yang mendengar jawaban kakaknya ikut-ikutan tertawa sambil memeluk erat guling buluk miliknya.
"Iya, Ayah ngences! Bau!"
"Ooh, berani mengejek Ayah ya?" Abi langsung memajukan tubuhnya dan menyerang perut kedua anaknya dengan ketiakan jari-jarinya. Suara tawa geli dan jeritan riang dari Akbar dan Aqil seketika memenuhi ruangan itu.