NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Lelang di Hotel Mulia

Dua hari kemudian, Kevin membawa Keira ke sebuah butik di Plaza Indonesia.

"Pihak Hartono akan hadir di pelelangan malam ini," kata Edmond sebelum mereka berangkat. "Jangan mempermalukan keluarga Pratama."

Keira tidak bertanya mengapa keluarga yang mengaku tidak punya uang untuk pakaiannya kini bersedia membeli gaun butik. Jawabannya jelas: malam ini ia dibutuhkan sebagai putri Pratama.

Seorang staf memilihkan gaun hijau gelap dengan potongan sederhana agar perban tangan kirinya tidak terlalu menonjol. Saat Keira menunggu penyesuaian panjang rok, suara panik terdengar dari meja kerja belakang.

"Jas ini harus dikirim satu jam lagi!"

Seorang penjahit memegang jas hitam dengan bekas setrika di dada. Kain mahal itu mengilap pada satu titik, terlalu besar untuk disembunyikan dengan jahitan biasa.

"Siapa pemiliknya?" tanya Keira.

Staf itu ragu. "Klien penting. Kami tidak boleh menyebut nama."

Keira mendekat. "Kalau ditambal, bekasnya akan terlihat. Sulam motif di atasnya."

"Tidak ada penyulam yang bisa datang secepat ini."

"Aku bisa."

Kevin yang sedang menelepon menoleh. "Kamu?"

Keira tidak menjawab. Ia meminta benang sutra, jarum paling halus, dan bingkai kecil. Setelah duduk di dekat jendela, napasnya perlahan menjadi tenang.

Selama lima tahun di lapas, sulaman adalah satu-satunya hal indah yang bisa ia buat tanpa izin siapa pun.

Ia menarik satu helai benang sutra, membelahnya menjadi dua, lalu terus memisahkan serat sampai menjadi empat puluh delapan bagian yang nyaris tak terlihat.

Penjahit butik menahan napas. "Benang setipis itu tidak akan putus?"

"Kalau tegangannya benar, tidak."

Jarum bergerak di antara empat jari kirinya yang masih bisa digunakan dan tangan kanan yang stabil. Kelopak pertama menutup bekas setrika. Kelopak kedua memberi bayangan. Sedikit demi sedikit, bunga peony tumbuh di dada jas, seolah memang dirancang berada di sana sejak awal.

Tidak ada satu pun tusuk yang sia-sia.

Empat puluh menit kemudian, Keira melepas bingkai.

Staf butik menyentuh udara di atas bunga tanpa berani mengenai kain. "Ini seperti hidup."

Penjahit senior datang membawa kaca pembesar. Ia memeriksa sisi depan, lalu membalik lapisan dalam jas.

"Tidak ada simpul yang menonjol," katanya takjub. "Warna kelopaknya juga berubah hanya dari arah serat, bukan karena banyak benang."

Keira merapikan empat puluh delapan serat yang tersisa. "Pada kain gelap, cahaya harus dibentuk dari arah tusukan. Kalau memakai terlalu banyak warna, bunga terlihat berat."

"Berapa harga pekerjaan seperti ini?"

Keira terdiam. Di lapas, ia pernah dibayar dengan satu bungkus biskuit untuk menyelesaikan sulaman selama tiga minggu.

"Saya tidak tahu."

Staf butik saling pandang. Untuk pertama kalinya, mereka melihat bukan mantan narapidana dalam berita keluarga Pratama, melainkan seorang seniman yang bahkan tidak memahami nilai pekerjaannya sendiri.

Kevin menatap adiknya. "Kamu belajar dari siapa?"

"Seorang napi tua."

Jawaban itu mematikan semua pujian yang hendak keluar dari mulutnya.

Jas tersebut dimasukkan ke dalam penutup dan dibawa pergi oleh kurir khusus.

Malamnya, ballroom Hotel Mulia dipenuhi konglomerat Jakarta. Lampu gantung memantul pada meja bundar, layar besar menampilkan daftar aset, dan staf membawa papan penawaran ke setiap kelompok.

Keira duduk di antara Kevin dan Vanessa. Edmond berada satu meja dengan perwakilan Adiputra Corporation, meski proses penghentian kerja sama mereka belum selesai secara hukum.

Vanessa memakai gaun merah muda dan senyum yang sudah kembali sempurna.

"Kak Keira cantik sekali malam ini," katanya. "Akhirnya tidak memakai seragam sekolah."

"Akhirnya ada yang membayar pakaianku."

Senyum Vanessa menegang.

Pelelangan utama dimulai setelah pukul delapan. Gambar lahan seluas lima belas hektar di Jakarta Timur memenuhi layar.

"Harga pembukaan satu triliun rupiah," umum pembawa acara.

Papan mulai terangkat.

"Satu koma dua triliun."

"Satu koma lima."

"Dua triliun dari konsorsium Pratama dan Adiputra."

Kevin menoleh kepada ayahnya. "Kita sepakat batasnya tiga triliun."

"Itu sebelum Hartono masuk," bisik Edmond. "Kalau kita mendapatkan lahan ini, mereka akan terpaksa bernegosiasi dengan kita."

Harga naik menjadi empat triliun. Lalu lima.

Kevin menurunkan papan. Perwakilan Adiputra melakukan hal yang sama. Bahkan jika kedua perusahaan menyatukan dana, angka itu sudah melewati perhitungan awal.

Di meja kosong berlabel Hartono Group, seorang lelaki berjas menerima telepon. Ia mendengarkan kurang dari lima detik, lalu berdiri.

"Lima belas triliun rupiah."

Ballroom membeku.

Pembawa acara sampai lupa mengangkat palu. "Mohon konfirmasi, lima belas triliun?"

"Atas instruksi langsung pemimpin Hartono Group."

Tidak ada penawaran lanjutan.

Seorang bankir di meja depan langsung menelepon kantornya. Beberapa pengusaha membuka kalkulator, mencoba memahami mengapa seseorang bersedia membayar tiga kali lipat hanya untuk memastikan tidak ada pesaing yang berdiri. Layar ponsel menyala di seluruh ballroom. Berita tentang angka itu sudah bergerak sebelum palu turun.

Palu diketuk tiga kali. Hartono Group membeli lahan itu dengan angka tiga kali lebih besar daripada tawaran terakhir, tanpa Rayhan perlu memperlihatkan wajah.

Edmond mencengkeram papan sampai ruas jarinya putih. Perwakilan Adiputra menutup map dan pergi tanpa pamit.

Di layar besar, nama konsorsium Pratama-Adiputra masih berada tepat di bawah Hartono Group. Selisih sepuluh triliun membuat tawaran mereka tampak bukan seperti persaingan, melainkan angka pembuka yang diinjak begitu saja.

"Ini sengaja," bisik Edmond. "Dia ingin semua orang melihat kita kalah."

Kevin tidak menjawab. Di sekitar mereka, mitra yang tadi mendekat untuk membicarakan proyek kini memilih meja lain.

Keira memandang meja Hartono yang kosong. Rumor tentang seorang lelaki yang tidak disukai perempuan terasa kecil dibanding kekuasaan yang baru saja membuat seluruh ruangan diam melalui satu panggilan telepon.

"Kak, minum dulu," kata Vanessa.

Segelas jus jeruk diletakkan di depan Keira. Ketika Kevin dan Edmond sedang berdebat tentang kerugian konsorsium, Vanessa menutupi gelas dengan tubuhnya dan menuangkan cairan bening dari botol kecil.

Keira tidak melihatnya.

Ia minum beberapa teguk untuk menelan obat dari rumah sakit.

Sepuluh menit kemudian, panas aneh menjalar dari tengkuk ke seluruh tubuh. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Cahaya lampu pecah menjadi lingkaran-lingkaran kabur.

Telapak Keira berkeringat. Ujung jarinya mati rasa dan suara lelang terdengar jauh, seperti tertahan air. Ia menyentuh leher, memastikan masih bisa bernapas. Reaksi itu tidak menyerupai efek obat nyeri yang diresepkan Ryan.

"Apa yang ada di minumanku?" tanyanya kepada Vanessa.

Vanessa membelalakkan mata dengan polos. "Jus jeruk. Kak Keira sendiri yang meminumnya."

"Kei?" Kevin meraih lengannya.

Keira menarik diri. "Jangan sentuh."

Udara ballroom terasa habis. Ia berdiri, nyaris tersandung rok, lalu berjalan menuju pintu samping. Vanessa memperhatikannya pergi dengan senyum tipis di balik gelas.

Keira melewati koridor servis dan mendorong pintu menuju taman hotel. Udara malam menyentuh kulit, tetapi panas di tubuhnya tidak turun. Ia berpegangan pada dinding, bernapas cepat, lalu perlahan melorot ke lantai.

Sepasang sepatu kulit hitam berhenti di depannya.

Keira mengangkat kepala.

Seorang lelaki berdiri di bawah cahaya bulan. Wajahnya masih tertutup bayangan, tetapi jas hitam di tubuhnya terlihat jelas.

Di dada jas itu, sebuah peony sutra mekar di atas kain yang pernah terbakar.

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!