NovelToon NovelToon
Ma Chérie, Don'T Run!

Ma Chérie, Don'T Run!

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Matahari sore memantulkan cahaya keemasan di atas deretan butik mewah di Avenue Montaigne, Paris. Suasana jalanan yang biasanya dipenuhi oleh para pelancong dan sosialita mendadak tampak berbeda. Dalam waktu kurang dari dua jam sejak jet pribadi mereka mendarat, Percy dan Tyche telah mengubah pusat mode dunia itu menjadi arena bermain pribadi mereka.

​Ditemani oleh beberapa asisten toko yang membawakan puluhan kantong belanjaan bermerek desainer ternama, Percy melenggang keluar dari butik Chanel dengan senyuman puas terukir di bibirnya. Di sampingnya, Zeus kecil tampak menikmati petualangan itu, menggenggam sebatang es krim cokelat mahal di tangan kanannya sambil mengenakan jaket kulitnya dengan gaya arogan yang sangat mirip dengan sang ayah.

​"Kurasa batas limit kartu suamimu belum tersentuh sepersepuluhnya, Percy," goda Tyche sambil merapikan syal sutra Hermes yang baru saja ia beli. "Kau harus bekerja lebih keras jika ingin membuat seorang Hades Sterling merasa dompetnya menipis."

​Percy tertawa ringan, hendak membalas ucapan sahabatnya ketika tiba-tiba langkah kaki mereka terhenti.

​Suasana di ujung jalan Avenue Montaigne mendadak berubah hening secara janggal. Para pejalan kaki di sekitar mereka seolah ditarik mundur oleh barisan pria berjas hitam legam yang muncul dari berbagai sudut. Lalu lintas di jalan raya mendadak terhenti total, dikunci oleh tiga unit SUV lapis baja hitam berpelat diplomatik yang berhenti tepat di depan trotoar tempat mereka berdiri.

​Pintu mobil tengah terbuka perlahan.

​Dari dalam kendaraan itu, sesosok pria berbalut setelan jas kelabu gelap dengan kemeja hitam tanpa dasi melangkah keluar. Posturnya yang tinggi tegap, aura dominasi mutlak yang menguar tanpa celah, serta manik mata kelabu tajam yang menatap lurus ke arah Percy membuat seluruh udara di sekitar seolah tersedot habis.

​Hades Sterling telah tiba di Paris. Dan pria itu tidak datang untuk bernegosiasi.

​Percy menelan ludah seketika, namun ia tetap mempertahankan dagunya terangkat tinggi. Di hadapannya, Hades melangkah mendekat dengan langkah lambat namun pasti setiap derap sepatu pantofelnya terdengar bagaikan hitungan mundur menuju kehancuran rencana liburan mereka.

Jarak di antara mereka menyusut dalam hitungan detik. Hades berhenti tepat satu langkah di hadapan Percy, menghalangi jalan keluar sang istri. Tidak ada senyuman di wajah tampan pria itu, hanya ada garis rahang yang mengeras dan manik mata kelabu yang menyimpan badai kemurkaan sekaligus kelegaan yang teramat dalam setelah penerbangan panjang tanpa henti dari Swiss.

​Di samping Percy, Tyche bergeser setengah langkah ke belakang, secara refleks mengambil posisi siaga meski ia tahu betul bahwa berhadapan dengan Hades dalam mode murka adalah hal yang sia-sia. Zeus kecil, di sisi lain, menatap sang ayah dengan mata kelabu yang sama tajamnya, lalu menggigit kecil es krimnya seolah tidak peduli pada ketegangan yang membekukan udara di sekitar mereka.

​"Kau benar-benar menguji batas kesabaranku, Ma chérie," suara Hades terdengar rendah, bergetar dalam nada dingin yang mengancam namun sarat akan kepemilikan mutlak.

​Percy mengerjap perlahan, menegakkan punggungnya untuk menyembunyikan debar jantungnya yang tiba-tiba bergemuruh kencang. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata suaminya dengan seringai tipis yang menantang.

​"Aku hanya mengambil cuti kecil, Hades," jawab Percy tanpa gentar, suaranya terdengar santai di tengah situasi yang menegangkan. "Empat tahun mendekam di mansion membuatku lupa bagaimana rasanya menghirup udara Paris."

​Hades menghela napas panjang, sebuah helaan napas berat yang menandakan bahwa ia sedang menahan diri agar tidak mengangkat tubuh istrinya saat itu juga dan membawanya kembali ke pesawat dengan paksa. Tanpa berkata-kata lagi, Hades mengulurkan tangannya yang kokoh, menggenggam pergelangan tangan Percy dengan erat namun terukur, lalu mengambil alih kantong-kantong belanjaan mewah dari tangan para asisten toko dengan satu tangan kosong lainnya.

​"Cuti kecilmu sudah habis, Ratu Sterling," bisik Hades tepat di dekat telinga Percy, suaranya berubah menjadi geraman rendah yang intim dan mematikan. "Sekarang, kita pulang."

Udara di Avenue Montaigne mendadak membeku. Hades, yang tadinya bersiap menarik tangan istrinya untuk membawanya kembali ke jet pribadi, tertegun di tempat. Cengkeramannya di pergelangan tangan Percy mengendur seketika.

​Bukan karena ancaman atau perlawanan dari sang istri, melainkan karena suara mungil namun penuh wibawa yang tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.

​Zeus kecil melangkah maju selangkah, meletakkan sisa es krimnya ke tangan asisten toko di dekatnya, lalu menatap sang Daddy dengan manik mata kelabu yang tajamnya menjiplak sempurna milik Hades. Bocah empat tahun itu berkacak pinggang dengan gaya arogan yang sangat mirip dengan sang penguasa Sterling.

​"Daddy, biarkan Mommy dan Aunty Tyche bersenang-senang," ucap Zeus dengan nada tegas yang membuat seluruh pengawal berjas hitam di belakang Hades menahan napas. "Daddy jangan khawatir, Zeus menjaga mereka berdua sejak tadi."

​Hades mengerjap, alis tebalnya terangkat sebelah. Ia menatap putranya tidak percaya.

​"Jadi, Daddy diam dan duduk tenang di kafe sambil menunggu mereka bersenang-senang," lanjut Zeus tanpa sedikit pun rasa gentar, menunjuk ke arah sebuah kafe bergaya klasik di seberang jalan dengan ibu jarinya. "Zeus yang mengantar, Zeus yang menunggu mereka, Daddy."

​Jawaban polos namun telak dari sang bocah membuat semua orang yang berdiri di trotoar itu terperangah. Para asisten toko menahan tawa, sementara Tyche Vance menutup mulutnya rapat-rapat untuk meredam ledakan gelak tawa yang hampir pecah dari tenggorokannya.

​Bahkan Hades Sterling pria yang ditakuti oleh seluruh sindikat gelap dan dewan direksi global, untuk pertama kalinya dalam hidupnya terdiam seribu bahasa, tak berkutik di hadapan putra kandungnya sendiri.

​Tentu saja, ini adalah kesempatan emas yang tidak akan disia-siakan oleh Percy.

​Melihat sang suami membeku dalam keterkejutan mutlak, Percy langsung menarik tangannya dari genggaman Hades. Dengan seringai penuh kemenangan, ia menyambar tangan mungil Zeus dan merangkul lengan Tyche erat-erat.

​"Kau dengar kata bos kecil kita, Hades?" bisik Percy dengan nada menggoda tepat di depan wajah suaminya yang masih tertegun. "Duduklah dengan manis di kafe, nikmati kopi hitammu, dan tunggu kami kembali."

​Sebelum Hades sempat memproses situasi atau menarik kembali kendali atas ratunya, Percy berbalik dengan kibasan mantel kasmirnya yang anggun. Bersama Tyche dan sang "bos kecil" yang melambaikan tangan kecilnya dengan gaya pimpinan mafia cilik, ketiganya melenggang pergi meninggalkan sang penguasa imperium yang terpaku sendirian di tengah jalanan Paris.

Hades Sterling berdiri terpaku di atas trotoar Avenue Montaigne, dikelilingi oleh barisan pengawalnya yang menunduk kaku, berusaha menahan diri agar tidak tertawa melihat bos besar mereka baru saja diskakmat oleh balita berusia empat tahun.

​Manik mata kelabu Hades menatap nanar ke arah punggung sang istri yang melenggang pergi bersama Tyche Vance, sementara Zeus menoleh ke belakang sesaat, memberikan kedipan mata kecil yang seolah berkata bahwa segalanya berada di bawah kendali sang bos kecil.

​Pria itu menghela napas panjang—helaan napas frustrasi pertama yang ia lepaskan setelah sekian lama. Ketegasan, kekuasaan mutlak, dan jaringan mata-mata global miliknya seolah tidak ada gunanya di hadapan kombinasi antara jiwa "cegil" istrinya dan darah pemimpin yang diwariskan kepada putranya.

​Salah seorang pengawal utamanya melangkah maju dengan ragu-ragu, menunduk hormat. "Tuan... apakah kami harus mengejar mereka dan membawa Nyonya kembali?"

​Hades melirik tajam pengawal tersebut, membuat sang anak buah langsung menegakkan tubuh dan menutup mulut rapat-rapat.

​"Jangan bergerak," suara Hades terdengar rendah, bernada pasrah namun tetap penuh otoritas. Ia melirik ke arah kafe klasik di seberang jalan yang tadi ditunjuk oleh putranya. "Dan jangan biarkan siapa pun mengganggu mereka."

​Dengan langkah kaku, penguasa imperium Sterling itu berjalan melintasi jalanan Paris menuju kafe yang dimaksud. Ia memilih meja nomor tujuh di sudut luar kafe meja tepat di bawah payung kanopi yang menghadap langsung ke arah butik-butik mewah tempat Percy dan Tyche kini melanjutkan aksi belanja brutal mereka.

​Seorang pelayan kafe datang dengan gemetar, membawakan buku menu dan menatap pria berjas rapi dengan aura mematikan di hadapannya.

​"Secangkir espresso ganda. Hitam, tanpa gula," ucap Hades dingin tanpa melirik menu, manik mata kelabunya terus mengawasi sosok kecil berjaket kulit yang kini tampak sibuk mengatur jalannya "operasi" belanja sang mommy dari kejauhan.

1
Hema Simangunsong
sukaaaaa cerita nyaaa, tp bukan mau tamat kan ya cerita thor.
you see me: terima kasih kakak /Whimper/
belum tamat kakak, masih ada lanjutannya.
terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca karya saya kakak hema /Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!