Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Serangan Halus yang Tak Terlihat
Suasana makan malam terasa hening dan kaku. Di meja makan yang panjang itu, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu pelan dengan piring. Laras masih belum pergi—atas undangan Arga sendiri. Setiap kali ia menyuap makanan ke mulutnya, matanya tak lepas dari wajah Arga, menatap dengan pandangan yang penuh harap dan kepunyaan. Sesekali ia menyelipkan candaan atau kenangan masa lalu mereka, seolah-olah aku sama sekali tak ada di sana.
Aku diam saja. Menunduk tenang menikmati makananku, tak menunjukkan sedikit pun rasa cemburu atau amarah. Padahal hatiku perih. Setiap senyum yang Arga berikan padanya, setiap nada suaranya yang melembut saat menyapa Laras, terasa seperti jarum kecil yang menusuk pelan namun terus-menerus. Dalam cerita aslinya, Freya pasti sudah membanting sendoknya, berdiri dengan marah besar dan menyuruh Laras keluar. Tapi aku bukan Freya yang dulu. Aku tahu, amarahku hanya akan menjadi senjata bagi mereka untuk menghancurkanku.
"Arga, kau ingat tidak? Dulu saat kita masih bersekolah, kau selalu membelikan aku kue stroberi ini?" ucap Laras tiba-tiba sambil tersenyum manis, mengangkat potongan kue yang ada di piringnya. "Kau bilang... rasanya persis seperti senyumku."
Arga terdiam sejenak, lalu melirikku sekilas sebelum menatap Laras. "Itu sudah lama sekali, Laras."
"Bagiku rasanya baru kemarin saja..." gumam Laras pelan, matanya kemudian beralih menatapku dengan senyum yang tetap terukir manis, namun matanya menyiratkan tantangan. "Sayangnya, Freya sepertinya tidak terlalu suka dengan kue ini ya? Lihat saja, piringnya masih penuh. Padahal ini kesukaan Arga juga lho. Pasangan yang serasi seharusnya memiliki selera yang sama, bukan?"
Kalimat itu terdengar polos, namun tajam seperti pisau. Ia ingin memancingku, membuatku merasa tersisih dan tak pantas berdiri di samping Arga.
Aku mengangkat wajah perlahan, menatapnya dengan senyum tenang. "Selera memang bisa berbeda, Laras. Yang terpenting bukan kesamaan selera, melainkan rasa hormat dan kesetiaan. Lagipula, selera bisa berubah seiring berjalannya waktu, bukan? Mungkin dulu Arga menyukainya... tapi siapa tahu, kini ia lebih menyukai hal-hal yang baru."
Ucapanku membuat Laras tersentak. Mulutnya sedikit terbuka, tak menemukan balasan yang tepat. Arga yang mendengar itu tiba-tiba menatapku lekat-lekat. Ada kilatan tak terduga di matanya—terkejut, namun entah mengapa, sudut bibirnya perlahan terangkat sedikit.
"Freya benar," ucap Arga tiba-tiba, suaranya terdengar tegas. "Waktu memang mengubah banyak hal."
Wajah Laras seketika berubah pucat pucat. Ia menggenggam napasnya, menatap Arga seakan tak percaya pria itu justru memihak kepadaku. Malam itu, untuk pertama kalinya, Arga menoleh padaku dan tersenyum—senyum tulus yang sepenuhnya milikku, bukan senyum yang teringat pada masa lalu bersama wanita lain.
Namun setelah malam itu, hal-hal aneh mulai terjadi.
Pertama, kalung pemberian ibuku yang selalu kupakai tiba-tiba hilang dari laci riasku. Lalu, bunga-bunga di kamarku yang baru saja mekar layu dalam semalam. Dan yang terakhir, surat undangan makan malam bisnis yang seharusnya ada di meja Arga, entah bagaimana masuk ke dalam tumpukan sampah di kamarku.
Saat Arga menemuiku dengan wajah tegang menanyakan undangan itu, Laras berdiri tak jauh di belakangnya, menyembunyikan senyum kemenangan yang nyaris pecah.
"Freya, bisakah kau jelaskan mengapa undangan itu ada di kamarmu?" tanya Arga, suaranya terdengar dingin namun masih menyisakan harapan. "Kau yang menyembunyikannya?"
Aku menatap Laras sekilas—menangkap kilatan kepuasan di matanya—lalu kembali menatap Arga dengan tenang.
"Aku tidak menyembunyikannya, Arga. Aku tahu betapa pentingnya acara itu bagimu. Mengapa aku akan melakukannya?" ucapku pelan namun tegas. "Tapi aku percaya... kau pasti bisa membedakan mana kebenaran dan mana fitnah. Selama kau mengenalku belakangan ini... apakah kau masih menganggapku wanita yang akan melakukan hal semacam itu?"
Arga terdiam. Tatapan matanya perlahan melembut. Ia menatapku lama, seakan berusaha membaca ketulusan di mataku. Perlahan ia berbalik menatap Laras yang kini wajahnya mulai tampak gelisah.
"Laras, kau tadi sendirian di ruang kerja sebentar, bukan?" tanya Arga tiba-tiba.
Wajah Laras seketika berubah pucat. "A-aku... iya, tapi hanya sebentar saja! Aku tidak—"
"Cukup," potong Arga pelan namun tegas. Ia melangkah mendekat padaku, lalu dengan lembut menggenggam tanganku. "Maafkan aku, Freya. Seharusnya aku tak langsung menuduhmu."
Hatiku bergetar hebat. Ini pertama kalinya ia meminta maaf padaku di depan orang lain. Pertama kalinya ia berdiri di sisiku, membelaku meski tanpa bukti yang nyata.
Laras berdiri terpaku, matanya membelalak menatap genggaman tangan kami berdua. Wajahnya merah padam menahan amarah dan rasa malu. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan—bukannya menjatuhkanku, serangan halusnya justru semakin mendekatkan Arga kepadaku.
Aku menatap Arga lekat-lekat. Di matanya, tak lagi ada keraguan. Hanya keyakinan yang perlahan tumbuh. Namun aku tahu... kekalahan Laras hari ini tak akan membuatnya menyerah. Justru sebaliknya. Rasa sakit hatinya akan membuatnya bertindak lebih gila, lebih berbahaya.
Dan pertanda itu datang lebih cepat dari yang kukira. Malam harinya, saat aku hendak tidur, pintu kamarku didobrak paksa. Laras berdiri di ambang pintu, wajahnya bengis, matanya memancarkan kebencian yang tak lagi disembunyikan.
"Kau witch!" desisnya dengan suara gemetar menahan marah. "Kau telah merubah Arga! Apa yang kau lakukan padanya?!"
Aku berdiri tenang dari tempat tidur, menatapnya tanpa rasa takut. "Aku tidak melakukan apa pun. Hanya saja... aku tidak lagi memberimu alasan untuk terlihat baik dan aku terlihat buruk. Itulah yang membuatmu takut, bukan?"
Laras melangkah maju, tangannya terkepal erat. "Jangan harap kau bisa menang, Freya! Arga milikku! Selamanya milikku! Aku tidak peduli apa pun yang kau lakukan... aku akan membuangmu dari hidupnya, persis seperti yang direncanakan semula!"
"Apakah kau yakin bisa?" suara lain tiba-tiba terdengar dari ambang pintu.
Laras membeku. Perlahan ia berbalik... dan wajahnya seketika menjadi pucat pasi saat melihat Arga berdiri di sana, menatapnya tajam dengan sorot mata yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Sorot mata yang penuh kemarahan... dan kekecewaan yang mendalam.
"Arga..." cicit Laras, suaranya hilang seketika.
Arga melangkah masuk perlahan, berdiri tepat di sampingku. Ia berdiri tegak, membayangi tubuhku seolah siap melindungiku dari apa pun. Dan saat itu, dengan suara dingin yang menusuk hingga ke tulang, Arga berucap:
"Cukup, Laras. Aku tak menyangka... selama ini hatimu penuh dengan kebencian dan kelicikan. Keluar dari rumahku. Dan jangan pernah kembali lagi."
Lanjut ke Bab 6? 😊