Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.
Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].
Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!
Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Nama "Tim Buangan" Bergema di Guild
Seminggu di Desa Utara.
Kael menghabiskan waktu bantuin warga. Tebang kayu pake [Tombak Api]. Masak pake [Api Neraka] versi kecil biar hemat kayu bakar.
Nama "Tim Buangan" mulai dikenal. Anak-anak manggil Kael "Kak Api Hitam".
[Reputasi Desa Utara: Bersahabat → Dihormati]
Tapi malam ini mereka harus kembali ke Kota Perbatasan. Buat lapor quest dan... urusan yang belum selesai.
"Siap?" tanya Kael sambil mengikat tali di pinggang.
Luna merapikan jubahnya. "Siap. Kali ini jangan bikin masalah."
Grom mengacungkan jempol. "Grom siap! Balas dendam!"
"Siapa yang balas dendam?" Kael nepuk kepala Grom. "Kita lapor quest. Titik."
Tapi mereka semua tau. Titik pertemuannya pasti di Guild.
---
Sampai di Guild Kota Perbatasan, suasananya langsung berubah.
"Eh itu dia. Tim Buangan."
"Mereka beneran selesaikan quest rank C?"
"Katanya ngelawan utusan Menara juga?"
Bisik-bisik. Kali ini bukan cuma hinaan. Ada rasa penasaran.
Resepsionis yang kemarin langsung tersenyum. "Selamat datang kembali! Quest pengantaran sudah selesai ya?"
Kael meletakkan 2 peti dan surat dari kepala desa. "Selesai. Dengan tambahan laporan."
Dia mengeluarkan kristal rekaman. Isinya pertarungan vs pria berjubah hitam.
"Ini utusan Menara. Dia nyerang kami di jalan. Katanya 'Inti itu terlarang'."
Wajah resepsionis pucat. "A-aku harus lapor ke Master Guild..."
Tiba-tiba suara keras terdengar dari lantai 2.
"TIM BUANGAN? LEBIH KAYAK TIM SAMPAH!"
Sir Leon turun dengan partynya. Armor emasnya mengilap. Levelnya sekarang [Lv.16]
Dia berjalan ke meja Kael. Menatap dari atas.
"Denger-denger kalian sok jagoan di desa. Ngaku-ngaku ngalahin utusan Menara?"
Luna maju. "Kami punya bukti."
"Bukti palsu." Leon menyenggol peti. "Penyihir Sampah Level 7 mana bisa. Paling juga dibantuin orang."
[Quest Tersembunyi: Harga Diri "Tim Buangan"]
[Syarat: Buktikan kekuatan di depan Guild]
Kael menarik napas. Dia tidak mau ribut. Tapi kalau diam, nama Luna dan Grom juga ikut diinjak.
"Kalau kamu nggak percaya..." Kael menatap Leon. "Duel. Aku vs kamu. Di Arena Guild."
"HAH?!" Seluruh guild terdiam.
Leon menyipit. "Kamu serius? Level 7 lawan Level 16? Mau mati?"
"Aku serius." Kael mengangkat tangan. Api hitam menyala pelan. "Kalau aku menang, kamu minta maaf ke party ku. Dan nggak boleh hina 'Job' orang lagi."
"Dan kalau kamu kalah?"
"Aku keluar dari Guild ini. Dan nggak akan injak kota ini lagi."
"DEAL!" Leon langsung setuju. "Besok pagi! Arena Utama!"
Malamnya di penginapan.
Kael duduk melamun. Efek korupsi masih ada. Urat hitam sesekali muncul.
Luna masuk tanpa ketok. "Ngapain sendirian?"
"Kuatir?" Kael bercanda.
"Siapa yang kuatir!" Luna duduk di sebelahnya. "Aku cuma... nggak mau kamu mati bodoh."
Hening.
"Kael..." Luna berbisik. "Kamu nggak sampah. Buat aku... buat Grom... kamu paling kuat."
Jantung Kael berdegup. Dia menoleh. Wajah Luna sangat dekat.
"Lu-"
"TOK TOK" Grom nongol dari jendela. "Tuan! Ada latihan malam!"
Luna langsung merah dan batuk. "A-aku tidur dulu!" Kabur.
Kael garuk kepala. "Grom... timing mu..."
---
Pagi. Arena Guild penuh.
Semua petualang datang nonton. "Penyihir Sampah vs Ksatria Cahaya".
Di tribun, Magnus si Archmage juga duduk sambil seruput teh. "Menarik..."
[Duel Dimulai!]
Sir Leon langsung maju. [Skill: Tebasan Cahaya!]
"SHING!" Cahaya putih menyambar.
Kael menghindar. "Tombak Api!"
"DUAR!" Berbenturan dengan cahaya.
Leon tertawa. "Itu aja? Lihat ini!"
[Skill: Perisai Suci] [Skill: Serangan Beruntun]
10 tebasan cahaya bertubi-tubi. Kael menahan dengan tangan. [HP: 40/70]
Luna di pinggir arena gigit bibir. "Tahan Kael..."
Kael terengah. Bisikan muncul lagi. _'pakai... Api Neraka... bakar dia...'_
Tapi Kael ingat kata Luna semalam.
Dia mengepalkan tangan. Kali ini bukan api hitam yang keluar. Tapi api merah biasa.
[Sihir Api Level 2: Dinding Api]
"BOOM!" Menahan semua tebasan.
Leon kaget. "Kamu... nggak pakai api hitam itu?"
Kael tersenyum. "Aku bertarung sebagai diriku. Bukan sebagai monster."
Lalu dia berlari. Kecepatannya 2x lipat.
[Tombak Api x3!]
"DUARR DUARR DUARR!"
Perisai Leon retak. [HP Leon: 200/300]
Leon marah. "BERANI KAMU!" [Skill Pamungkas: Pedang Penghakiman!]
Pedang cahaya raksasa turun dari langit.
Saat itu juga Luna berteriak: "PERISAI CAHAYA!"
"DUUMM!" Perisai Luna menahan 70% serangan. Sisanya kena Kael. [HP: 5/70]
Kael terkapar. Tapi dia tertawa.
"Giliranku."
Dia mengumpulkan semua mana. Bukan api hitam. Api merah. Api biasa. Tapi dibakar dengan tekad.
[Sihir Api Level 2: Meteor Api]
"BOLA API RAKSASA JATUH DARI LANGIT!"
"BUUUMMM!!!"
Arena meledak. Asap tebal.
Saat asap hilang...
Sir Leon terkapar. Armornya hancur. [HP: 1/300]
Kael berdiri dengan sisa tenaga. Napas tersengal.
[Kael Menang!]
[Kael: Level 7 → Level 8]
[Luna: Level 7 → Level 8]
[Grom: Level 6 → Level 7]
Seluruh arena hening. Lalu...
"TIM BUANGAN!!! TIM BUANGAN!!!"
Sorakan menggema.
Leon batuk darah. Dia menatap Kael. Lama. Lalu...
"...aku kalah." Dia berlutut. "Maaf. Aku salah. Job bukan segalanya."
Kael mengulurkan tangan. "Bangun. Mulai sekarang kita saingan sehat ya."
Leon menerima tangan itu. Matanya berkaca-kaca.
Master Guild naik ke panggung. "Mulai hari ini! 'Tim Buangan' resmi naik ke Rank B! Dan Kael... kau diberi gelar: [Penyihir Api Pembebas]"
[Ding! Gelar Baru Didapat]
[Efek: Reduksi Efek Korupsi -30%]
Malamnya di pesta perayaan.
Warga, petualang, bahkan Magnus ikut.
Luna nyodorin gelas jus. "Selamat ya, Penyihir Api Pembebas."
Kael ketawa. "Gelar kepanjangan."
Grom joget-joget. "Tim Buangan paling kuat!"
Kael menatap langit kota. Bisikan di kepalanya sudah hampir hilang.
Karena dia menemukan jawabannya.
Kekuatan bukan untuk membuktikan ke orang yang membenci.
Tapi untuk melindungi orang yang percaya.
Di kejauhan, pria berjubah hitam dari hutan mengawasi dari atap.
"Menarik... 'Pembebas'... Menara akan mengawasi kalian."
[Status: Tim Buangan Rank B]
[Musuh Baru: Menara Sihir Terdeteksi]