NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:78.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keguguran : 12

“Mas, mas Galih, Pujiara bangun, ya?” Hamima berjalan dengan langkah pendek-pendek, dan menahan rasa takut yang membuat kakinya lemas.

Semakin sempit jarak ke ruang santai, bulu-bulu halus di tengkuk serta lengannya berdiri tegak dengan pori-pori membesar.

Pintu kamarnya dan sang putra tertutup rapat, Hamima bergeser kesamping berencana membuka pintu kamarnya, memeriksa apa benar suami dan putrinya tidak ada di sana.

Napasnya tertahan hingga dada membusung, wangi bunga Melati menusuk hidung, tercium kuat.

Aroma bunga itu seperti obat penenang memberi efek damai mengusir rasa takut, dan keberanian yang tadi terkikis, sekarang kembali lagi.

Wanita berdaster motif daun pakis tidak jadi membuka pintu, tangan yang sudah memegang handle, diturunkan.

Pas sudah berdiri di tengah-tengah ruangan luas yang kanan kiri berjendela besar, Hamima tak menemukan siapapun di sana. Kosong.

“Apa perasaanku saja ya?” tanyanya pada diri sendiri.

Pintu depan terkunci rapat, jendela tertutup dan gorden pun belum di sibak ke pinggiran.

“Syukurlah,” ada perasaan lega, namun masih tertinggal rasa penasaran yang coba diusirnya.

Tap tap tap ….

Mata Hamima menyipit, telinganya mendengar suara langkah kaki seperti menginjak lantai menggunakan sandal bertapak keras.

Hamima berputar menyamping arah kanan, netra terpaku menatap dinding batas ruang santai dengan tembok kamarnya. ‘Suaranya tadi dari situ.’

Pandangannya naik, menatap lamat-lamat plafon putih terpasang rapi.

Tiba-tiba perutnya nyeri, rasa sakit berputar menjalar ke pinggang.

Akhh!!

Ia terseret mundur beberapa langkah, sesuatu kuat, keras, menjambak rambutnya, menarik kencang, lalu melepaskan begitu saja membuat tubuhnya terhuyung.

“Apa? Siapa?!” Mima berteriak tetapi yang keluar suara bisikan bergetar, sudut matanya melirik ke belakang, tidak ada siapa-siapa.

“Mas! Mas Galih!” Hamima menjerit dengan posisi tak beranjak. Kepalanya pusing, bagian intim perih.

Pintu kamar dibuka. “Ada apa Mima?”

Keluarlah pria memakai kain sarung, mata masih mengantuk tiba-tiba terbelalak dan tubuhnya terperanjat.

“Kamu menstruasi, Mima? Kenapa jorok sekali sampai merembes ke lantai?!” suaranya setengah membentak.

Kepala Hamima tertunduk, matanya melotot melihat kedua betisnya berdarah serta warna merah pekat itu menetes ke lantai putih. “Harusnya dua minggu lagi jadwal datang bulanku, Mas.”

“Lantas itu apa? Sana bersihkan, malu kalau dilihat Guntur!” titahnya pongah.

Raut wajah Hamima meringis, rasa sakit yang tadi menyerangnya bertambah menjadi, dan kepalanya pun nyeri, ia benar-benar merasa seperti seseorang habis dijambak rambutnya.

“Mas, tolong aku. Ini sakit sekali,” pintanya tersendat-sendat.

“Kamu kenapa lagi? Jangan manja, nyusahin saja!” meski menggerutu, tetapi Galih mendekat dan membopong istrinya ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, Hamima bersandar pada dinding, dibawah penerangan lampu pijar cukup terang, diturunkannya celana dalam, sementara ujung daster dinaikan lalu diselipkan pada bra.

Bagian intimnya terasa panas dan nyeri, lalu sesuatu terjun, bunyinya terdengar seperti benda jatuh ke dalam air.

Rasa sakit ditahan dengan cara menggigit bibir bagian dalam, Hamima berjongkok agar bisa mengamati apa yang baru saja keluar dari kewanitaannya.

“Darah menggumpal, disebabkan oleh apa? Haidku lancar, atau jangan-jangan keguguran?” Mima shock, jari telunjuknya menyentuh permukaan darah sebesar dua jari tangannya.

“Mas Galih, Mas!”

Galih mendorong pintu, perhatiannya langsung ke istri yang berjongkok dalam keadaan setengah telanjang.

“Apa itu?” tanyanya heran sekaligus penasaran.

“Sepertinya aku keguguran, Mas,” bisik Hamima, meyakini jika gumpalan ini cikal bakal jabang bayi, anaknya.

“Kamu main serong sama siapa, Mima?” tiba-tiba Galih menuduh, suaranya terdengar lebih dingin dari tetesan embun.

Hamima tersentak, tak sadar kalau sudah berdiri, gerakan spontanitasnya lebih cepat daripada mulut yang mengeluarkan suara kecewa.

Plak!

Pipi kiri Galih ditampar, dan noda darah Hamima menempel di sana.

“Belasan tahun aku menikah denganmu, tak sekalipun kepikiran mendua, dan sangat menjaga batasan dengan lawan jenis. Mengapa mulut bak sampah itu sangat mudah menuduh tanpa perlu disaring dulu ucapan kejimu!” Hamima mendorong Galih sampai pria itu hampir terjerembab tersandung batas pintu.

Brak!

Daun pintu dibanting, wanita yang baru saja dituduh tak setia terduduk di lantai semen.

Kedua telapak tangan dirapatkan, ia ciduk gumpalan darah seperti menadah air, lalu ditaruh ke cangkir plastik mainan Pujiara.

“Nak, kalau benar ini kamu … maaf, Ibu gak tau akan hadirmu,” ucapnya penuh sesal.

Hamima meyakini jika dia memang keguguran. Bukan asal percaya, tetapi tanda-tandanya sama seperti dua kali keguguran calon adiknya Guntur sebelum Pujiara hadir.

“Bu, Ibu! Itu air panasnya sudah mendidih, apa mau dituang ke termos?”

Hamima menarik napas demi menjernihkan suara, baru setelahnya menjawab. “Iya. Tolong ya, Guntur. Ibu lagi sesak bab.”

“Iya!”

Hatinya hancur, tetapi dia tidak ingin anak-anaknya mengetahui apa yang baru saja terjadi. Dengan berpegangan pada bak mandi, Hamima berdiri.

Gerakannya terburu-buru menyiram bagian bawah tubuhnya, lalu mengeringkan menggunakan handuk tergantung di paku belakang pintu.

Gelas dan celana dalam sudah basah dibungkus handuk dan ditaruh pada bagian bawah ember tempat baju kotor.

Tak berselang lama, Hamima keluar. Dia pun merasa heran tidak melihat Guntur di sana. Galih juga entah kemana.

Hamima tidak bisa berpikir jernih disaat perasaan kacau, dia mendahulukan masuk ke dalam kamar, bergerak pelan mendekati lemari, lalu mengambil celana dalam dan pembalut.

Hesstt ….

Rasa mulas, nyeri masih terasa pada perut bagian bawah. Hamima tahan demi bisa melayani keluarganya, jika bukan dirinya maka tak ada yang bisa diandalkan.

Pujiara masih terlelap sendirian, ayahnya tidak menemani.

Teng … teng … teng ….

Jam dinding berbunyi enam kali, menandakan sudah pukul enam.

Ibu yang terbiasa bangun pagi langsung beraktivitas, keluar dari dalam kamar. Langkahnya tertatih, ia kehilangan rona kemerahan pada wajah yang pias.

Hamima memandangi lantai, jejak noda kemerahan sudah tak ada. Bersih. Kemudian berjalan ke depan, membuka pintu tidak lagi dikunci. “Sepertinya sebelum lari pagi, dia membersihkan lantai dulu.”

Masih tersisa rasa kesal atas tuduhan kejam tak berdasar. Dia tidak habis pikir, bagaimana mungkin suaminya bisa berkata seperti tadi.

Ditutup lagi pintu depan, lalu Mima menuju kamar putranya.

Ia mengetuk pintu kamar Guntur. Beberapa saat menunggu tidak juga ada jawaban.

“Bukannya tadi sudah bangun, atau kembali tidur lagi?” Dibuka pintu tidak dikunci, dan ya … Guntur masih terlelap di bawah selimut tebal.

“Nak bangun, Guntur. Sudah jam enam, waktunya mandi!” rambut tebal putranya disisir menggunakan jari.

Hemmm …..

Guntur menggeliat, belum sepenuhnya terjaga, antara sadar dan masih mengantuk, dia nyeletuk. “Bude, aku lebih suka tidur di loteng. Disana nyaman, terus harum bunga, dan banyak buku bacaan seru.”

Sejenak Hamima termenung, mencoba mencerna. Kata loteng mengingatkannya pada kejadian beberapa hari lalu kala putranya diterjang bu Desita. Ulu hatinya terasa nyeri, dan kecemasan menguasai.

“Guntur! Bangun, Nak!!”

.

.

Bersambung.

1
Damn Nwtch
darah ayam yg d bawa Mima kn, gak mungkin darah guntur dan ara
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Galih sudah menumbalkan kedua anaknya demi kekayaan dan pangkat di pandang hormat???
Kenapa manusia2 dungu ini ,gampang sekali tergoda iman nya, tergadai kepercayaan pada Sang Pencipta NYA, demi harta dunia fana??
Galih kasihan anak istrimu....
Mbah Nar ,tolong jangan habisi nyawa anak2 tak bersalah
Betri Betmawati
gara2 Sigalih anak istri nya JD korban
bersekutu dengan tujuan apa lh Sigalih ini mungkin ada hubungannya dengan dia JD guru itu kali ya
Betri Betmawati
apa si Rosna anak nya Simbah nar ya kyk udh biasa bangat dia.
Popo Hanipo
ini pasti si galih pengen cepat kaya lalu mengambil jalan pintas kemaren kan dia bilang sakitnya di hina karna miskin sedangkan hamima dari kecil sudah kaya karna anak juragan 😡
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
walah kan galih bego itu malah bersekutuu sama iblis ...guru edan bukan jadi pengajar yang baik malah jadi pemuja setan
FiaNasa
mulai ada titik terang,,darah apa ya ditangan Mbah nar ini,,gimana nasib Ara n guntur,,suamimu bener² biadab Mima,
neni nuraeni
apa galih bersekutu dgn juragan sarkam kah,,,, semoga mereka ga knp2,,, aduuhhh deg2 ser ini,,, lnjut kak🥰
Secret Admire
astaghfirullah apakah Galih mau menumbalkan anak dan istrinya?😭
Eli Rahma
mb kun..
Eli Rahma
Rosnaaa kamu jahat yaaa
Eli Rahma
pasukan demit ya mbah yg menemani...
Eli Rahma
kena jampi² nih..
AFPA
judulnya masih fenazaran
AFPA
sedikit terbuka....
Mawar Hitam
ternyata.galihan sesat. tah...
sryharty
gara2 galih anak dan istrinya jadi korban
sepertinya galih pengen cepet kaya
gara2 dari kecil hidupnya miskin dan banyak hinaan,,
kasian guntur dan Ara
semoga tidak terjadi apa2 sama mereka
🌺WASI'AH_MISKA🍁😘
sekarang Sudh jelas alurnya thor😂😂😂😂😂😂
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Galih sudah bersekutu dengan manusia2 biadapp yang sudah membunuhh orang2 itu apa? Dan sekrang Galih berusaha menumbalkan anak dan istrinya, makanya anak2 mima terus di kejar dan di gangguin sama mereka? 🤔 dan darah itu...darah di telapak tangan mbh nar, apa darah ayam cemani yang di bawa mima? 🤔
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ: Guntur punya keistimewaan kak, makanya dia selalu bisa menyelamatkan adik dan ibunya. ada sosok bayangan putih yang selalu merasuki Guntur kan...makanya pas galih melakukan Ritual waktu itu Ara di selamat kan Guntur.
total 16 replies
Nining Nurjanah
sedikit mulai terkuak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!