NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.

Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.

Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANGERAN BAYANGAN DARI LEMBAH KABUT

Cahaya biru keperakan itu kian mendekat, membelah kepekatan kabut malam di dasar tebing dingin. Cahaya itu bukan berasal dari obor atau lentera biasa, melainkan pendaran magis yang keluar dari permukaan sebilah pedang kuno yang digenggam oleh seorang pria. Langkah kaki pria itu sangat ringan, bahkan hampir tidak meninggalkan jejak di atas lapisan salju tebal yang menutupi tanah.

Pria itu mengenakan jubah hitam legam bersulam benang perak berbentuk naga bayangan motif yang sangat terlarang di Kekaisaran Han, karena hanya boleh dikenakan oleh garis keturunan kekaisaran yang diasingkan atau mereka yang menguasai wilayah terlarang.

Wajahnya yang tegas dihiasi oleh sepasang mata elang yang tajam, sedingin es, namun menyimpan kedalaman yang tak terduga. Dialah Long Junwei, pria yang dijuluki sebagai "Pangeran Bayangan", penguasa wilayah perbatasan barat yang kejam dan terasing dari hiruk-pikuk politik ibu kota.

"Yang Mulia, ada aroma darah yang sangat pekat di depan," bisik seorang pengawal bayangan bernama Mo Reng yang tiba-tiba muncul dari balik sebatang pohon pinus.

Long Junwei tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar pengawalnya tetap waspada sementara ia terus melangkah maju. Bau anyir darah itu menuntunnya ke sebuah area terbuka di mana salju putih telah berubah menjadi merah pekat. Di tengah hamparan salju berdarah itu, tergeletak tubuh ringkih seorang wanita dengan pakaian yang telah robek-robek.

Junwei mendekat dan berlutut di samping tubuh tersebut. Menggunakan ujung pedangnya yang bersinar, ia mengangkat sedikit helai rambut yang menutupi wajah wanita itu. Detik berikutnya, sang pangeran sedikit tertegun. Di balik noda darah dan luka goresan ranting, wajah wanita itu memiliki kecantikan yang murni, seolah-olah sebutir mutiara berharga telah dilemparkan begitu saja ke dalam lumpur.

Namun yang menarik perhatian Junwei bukanlah kecantikannya, melainkan sepasang mata wanita itu. Meski tubuhnya sudah hancur dan napasnya berada di ujung tanduk, matanya masih terbuka sedikit, memancarkan kilat kebencian yang luar biasa pekat. Tangan wanita itu bahkan masih mencengkeram salju dengan sisa tenaga terakhirnya, seolah-olah ia menolak untuk mati sebelum membalaskan dendamnya.

"Menarik," gumam Long Junwei, suara baritonnya terdengar rendah dan berwibawa. "Jatuh dari ketinggian ini dengan tulang yang patah, namun jiwanya menolak untuk menyerah pada dewa kematian. Siapa dia, Mo Reng?"

Mo Reng maju, memeriksa sisa-sisa pakaian dan sebuah liontin giok kecil yang terlepas dari leher wanita itu. Setelah mengamati lambang teratai yang terukir samar di atas giok, mata Mo Reng membelalak. "Yang Mulia... ini adalah lambang Paviliun Anggrek. Wanita ini adalah Shen Xianle, Putri Kesembilan yang terbuang dari Kekaisaran Han."

"Putri Kesembilan? Gadis lemah yang kabarnya selalu dijadikan keset kaki oleh anak-anak Permaisuri?" Junwei menaikkan sebelah alisnya. Ia tahu sedikit tentang politik istana. Kaisar Han memiliki banyak anak, dan Xianle adalah yang paling tidak berharga di mata publik. "Mengapa seorang putri yang penurut bisa berakhir di dasar jurang ini dengan tubuh penuh racun istana?"

"Tampaknya dia telah menjadi korban pengkhianatan," jawab Mo Reng pendek.

Tepat pada saat itu, Shen Xianle mengeluarkan suara erangan lirih. Kesadarannya yang tersisa menangkap suara obrolan di dekatnya. Dengan sisa energi yang hampir mustahil, ia menggerakkan bibirnya yang pecah-pecah, membentuk kata-kata tanpa suara: “Selamatkan... aku... aku harus... membalas... mereka...”

Melihat tekad hidup yang begitu besar di dalam tubuh yang sekarat itu, sebuah senyuman tipis yang sarat akan intrik muncul di sudut bibir Long Junwei. Di dalam permainan catur politik Kekaisaran Han, bidak yang paling tidak terduga sering kali menjadi bidak yang paling mematikan. Seorang putri yang dianggap sudah mati, jika diberi kekuatan dan kesempatan, bisa menjadi senjata yang sempurna untuk menghancurkan istana dari dalam.

"Bawa dia kembali ke Kediaman Bayangan," perintah Junwei seraya berdiri tegak. "Gunakan Pil Pembakar Jiwa dan ramuan giok seribu tahun untuk menyambung hidupnya. Aku tidak ingin senjata semenarik ini rusak sebelum sempat kugunakan."

"Tapi Yang Mulia, mengobati racun istana dan patah tulang separah ini akan memakan waktu berbulan-bulan, dan risikonya sangat besar jika mata-mata kaisar mengetahui kita menyelamatkannya," Mo Reng memperingatkan dengan cemas.

"Biarkan mereka mencari mayatnya di dasar jurang ini. Mulai malam ini, Putri Kesembilan Shen Xianle telah mati. Yang tersisa hanyalah bayangan yang siap menerkam," jawab Junwei dingin, sebelum berbalik dan menghilang ke dalam kabut malam yang pekat, diikuti oleh Mo Reng yang menggendong tubuh lemas Xianle dengan sangat hati-hati.

Tiga bulan kemudian.

Di dalam sebuah kamar yang dipenuhi aroma harum tanaman herbal dan uap hangat di Kediaman Bayangan, Shen Xianle perlahan-lahan membuka matanya. Rasa sakit yang luar biasa tidak lagi mendominasi tubuhnya, digantikan oleh rasa hangat yang mengalir di sepanjang meridian darahnya. Ia menatap langit-langit kamar yang terbuat dari kayu hitam berukir mewah, sangat berbeda dengan Paviliun Anggrek yang bocor dan lapuk.

Xianle mencoba duduk, dan ia terkejut saat mengetahui bahwa tulang-tulangnya yang semula patah kini telah menyatu kembali dengan sempurna. Kulitnya yang penuh luka goresan kini kembali mulus tanpa cacat, bahkan terasa lebih sehat dari sebelumnya berkat ramuan langka yang diberikan selama ia tidak sadarkan diri.

"Kau sudah bangun?" sebuah suara berat memecah keheningan kamar.

Xianle menoleh dengan cepat dan melihat seorang pria jangkung berpakaian hitam sedang duduk di dekat meja teh, memperhatikannya dengan tatapan intens. Ingatan malam itu samar-samar kembali ke kepalanya cahaya biru, suara pria ini, dan keputusannya untuk bertahan hidup.

"Siapa... Anda? Dan di mana ini?" tanya Xianle, suaranya masih agak serak namun tidak lagi memancarkan ketakutan palsu yang biasa ia gunakan di istana. Topeng lamanya telah hancur; di hadapan orang asing yang menyelamatkannya ini, ia tidak perlu berpura-pura menjadi gadis lemah yang bodoh.

Long Junwei menuangkan secangkir teh hangat dan meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidur Xianle. "Ini adalah Kediaman Bayangan di perbatasan barat. Dan aku adalah Long Junwei."

Mendengar nama itu, sepasang mata Xianle menyipit. "Pangeran Ketiga dari dinasti sebelumnya... pria yang memimpin pasukan bayangan dan membuat kaisar ketakutan hingga mengasingkan Anda ke perbatasan?"

Junwei terkekeh pelan, merasa puas dengan kecerdasan wanita di hadapannya. "Ternyata Putri Kesembilan yang terkenal bodoh dan rapuh sebenarnya menyembunyikan banyak informasi di kepalanya. Kau tahu siapa aku, itu bagus. Berarti kita tidak perlu membuang waktu untuk basa-basi."

Xianle menarik napas dalam-dalam, merasakan kekuatan baru yang mengalir di tubuhnya. "Mengapa Anda menyelamatkannya? Di dunia ini, tidak ada makan siang gratis, terutama dari seorang penguasa seperti Anda."

"Pertanyaan yang bagus," Junwei berdiri, melangkah mendekati jendela yang menyajikan pemandangan pegunungan bersalju. "Aku menyelamatkanmu karena aku melihat seekor serigala yang sedang menyamar sebagai kelinci. Kau dikhianati oleh tunanganmu, Li Feng, dan saudaramu, Shen Meili. Mereka mengira kau sudah hancur di dasar tebing itu. Aku ingin menawarkan sebuah kerja sama."

Mendengar nama Li Feng dan Shen Meili, kilat kebencian yang amat sangat kembali menyala di mata Xianle. Jemarinya mencengkeram selimut sutra dengan erat hingga kukunya memutih. "Kerja sama seperti apa?"

"Aku akan memberimu identitas baru, melatihmu menguasai seni bela diri terlarang, dan memberimu jaringan informasi terbaik di kekaisaran. Sebagai gantinya, kau akan kembali ke ibu kota sebagai bidak katupku. Kau akan menghancurkan aliansi antara keluarga Jenderal Li dan faksi Perdana Menteri dari dalam, mengacaukan istana hingga fondasinya runtuh," ucap Junwei dengan nada penuh perhitungan.

Xianle terdiam sejenak. Menjadi bidak orang lain tentu memiliki risiko besar, namun saat ini, ia tidak memiliki apa-apa lagi. Tanpa kekuatan, ia tidak akan pernah bisa menyentuh lembaran jubah mewah Shen Meili atau membalas pengkhianatan Li Feng. Jika ia harus menjadi iblis demi menyeret musuh-musuhnya ke neraka, maka ia akan melakukannya dengan senang hati.

Xianle turun dari tempat tidur, mengabaikan rasa canggung pada tubuhnya yang baru sembuh. Ia berjalan mendekati Long Junwei, lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan pria itu bukan sebagai bentuk ketakutan, melainkan sebagai sumpah setia seorang sekutu.

"Aku menerima tawaran Anda, Yang Mulia," ucap Xianle dengan suara yang mantap dan sedingin es. "Mulai hari ini, Shen Xianle yang lemah telah mati di dasar tebing. Aku akan menjadi badai yang Anda butuhkan untuk meruntuhkan istana itu. Namun, aku memiliki satu syarat."

Junwei menatap wanita yang berlutut di hadapannya dengan pandangan kagum atas perubahan sikapnya yang begitu cepat. "Katakan."

"Nyawa Li Feng dan Shen Meili... harus berada di tanganku sendiri. Aku ingin melihat wajah mereka dipenuhi penyesalan saat aku mencabut semua kekuasaan dan kebahagiaan yang mereka sombongkan," tuntut Xianle dengan mata yang berkilat kejam.

Long Junwei tersenyum puas, sebuah senyuman yang menandakan bahwa badai besar akan segera melanda Kekaisaran Han. "Kesepakatan tercapai. Mulai hari ini, namamu adalah Gu Rulan, seorang putri bangsawan dari wilayah barat yang hilang. Bersiaplah, karena latihanmu akan dimulai besok pagi, dan neraka yang akan kau ciptakan tidak akan menerima kelemahan sekecil apa pun.

1
aku
xianle yg berdialog bw pedang aq yg berasa kereennn 😁😁
SRIANA: terima kasih sudah mampir, semoga suka sampai akhir. selamat membaca🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!