NovelToon NovelToon
Terikat Cinta Sang Mafia

Terikat Cinta Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.

‎Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.

‎"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.

‎Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 : Saat rencana berubah menjadi jerat.

‎Jam 03.21

‎‎Hujan masih turun rintik-rintik, dinginnya menyusup ke tulang. Damian melangkah keluar dari area gudang, satu tangannya masih memegang pistol yang sudah diamankan, sementara di gendongan kirinya ia mengangkat tubuh kecil Arga yang kini sudah dilepas ikatan lakban di matanya, namun tubuhnya masih sesekali tergigil ketakutan. Pelipisnya sendiri terluka, darah masih menetes pelan membasahi kemeja hitamnya yang basah kuyup, menyatu dengan air hujan yang terus membasahi wajahnya yang tegap namun tampak kelelahan.

‎‎Mobil pengawal sudah menunggu di luar gerbang, lampu depannya menyala samar menembus kabut tipis yang mulai turun. Luca membukakan pintu belakang segera begitu melihat mereka keluar, matanya langsung menangkap luka di pelipis pimpinannya.

‎‎"Don, biarkan saya yang mengantar Arga ke rumah Nyonya Elena. Anda sebaiknya kembali ke mansion dulu untuk diobati lukanya," sarannya rendah, suaranya penuh kekhawatiran namun tetap menjaga sikap hormat.

‎‎Damian menurunkan anak itu perlahan ke kursi belakang, lalu baru menepuk kepala kecil Arga pelan dengan tangan yang bebas.

‎‎"Kau mau ikut Om Luca, atau... mau aku antar sendiri?" tanyanya lembut, menunduk menatap mata anak itu yang masih merah dan bengkak.

‎‎Arga menatapnya ragu sejenak, lalu tangannya kecil itu meraih ujung lengan kemeja Damian yang basah. "Aku... aku mau ikut Tuan. Boleh?"

‎‎Damian terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan dan ikut masuk ke dalam mobil, duduk di samping anak itu. "Baik. Kita bersama-sama. Luca, langsung ke rumah Ibunya Celine."

‎‎Perjalanan berlangsung sunyi. Arga sesekali melirik Damian, lalu menatap lurus ke luar jendela melihat lampu jalan yang berkelebat pelan di kegelapan.

‎‎"Tuan..." suaranya kecil dan serak memecah keheningan.

‎‎"Panggil Om Damian saja. Tidak perlu sopan-sopan."

‎‎"Om Damian... Ayahku... dia baik-baik saja kan?"

‎‎Damian menelan ludah yang terasa pahit. Ia tidak ingin berbohong pada anak ini, tapi juga belum sanggup menyampaikan kebenaran yang pahit itu.

‎‎"Dia aman, Arga. Sedang di tempat yang dijaga ketat. Untuk sementara waktu, kau tinggal dulu bersama Nenek Elena dan Tante Celine, ya? Mereka akan merawatmu sampai semuanya selesai."

‎‎Arga mengangguk pelan, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, matanya perlahan terpejam kelelahan.

‎‎Sesampainya di rumah Elena, lampu ruang tamu masih menyala. Begitu mobil berhenti di halaman, pintu depan langsung terbuka. Celine berlari keluar tanpa memakai payung, rambutnya terurai basah terkena rintik hujan, wajahnya pucat dan penuh kekhawatiran.

‎‎"Damian!" serunya pelan namun penuh lega bercampur cemas saat melihat pria itu turun dari mobil. Matanya langsung menangkap darah di pelipisnya. "Kau terluka..."

‎‎"Hanya goresan kecil," jawab Damian tenang, lalu mengangkat Arga keluar dari mobil. "Arga, ini Tante Celine. Wanita yang Om ceritakan tadi di mobil."

‎‎Arga mengintip dari balik bahu Damian, lalu perlahan mengulurkan tangan kecilnya menyapa Celine.

‎‎Celine langsung menyambutnya dengan senyum lembut dan pelukan hangat. "Ayo masuk ke dalam, Sayang. Di luar dingin sekali. Nenek Elena sudah menyiapkan susu hangat dan selimut untukmu."

‎‎Mereka masuk ke dalam rumah yang hangat dan beraroma menenangkan. Elena sudah menunggu di ruang tengah, wajahnya tampak cemas namun begitu melihat Arga, ia langsung menyambutnya dengan kehangatan seorang nenek yang penuh kasih sayang.

‎‎"Sini, Nak. Hangatkan badan dulu. Jangan takut, di sini aman," bujuk Elena lembut sambil menuntun Arga ke sofa empuk dan menyelimutinya tebal.

‎‎Sementara itu, di sudut ruangan, Celine sudah menyiapkan kotak obat di meja kecil. Ia menatap Damian dengan tatapan antara lega dan sedih yang mendalam.

‎‎"Duduklah. Biar aku obati lukanya," pintanya pelan.

‎‎Damian menurut, duduk di tepi sofa, membiarkan Celine membersihkan luka di pelipisnya dengan hati-hati. Tangannya lembut, namun napasnya masih sedikit memburu seolah ia yang merasakan sakit itu.

‎‎"Kau tahu betapa takutnya aku tadi?" bisiknya saat menempelkan plester tipis di luka itu. "Di layar CCTV... saat kau berlutut di depan Romano... jantungku rasanya mau berhenti berdetak."

‎‎Damian mengangkat tangannya, menyentuh pipi Celine yang masih terasa dingin dan sedikit basah oleh sisa air mata.

‎‎"Itu satu-satunya cara agar dia tidak menyakiti Arga. Dan aku tahu... tim sudah siap. Aku tidak benar-benar menyerah, Celine. Tidak pernah."

‎‎"Tapi itu tetap berbahaya. Kalau rencananya gagal?"

‎‎"Tidak akan gagal. Selama aku tahu kau menungguku pulang." Damian tersenyum tipis, lalu menariknya masuk ke dalam pelukan hangatnya, melupakan sejenak dunia kejam di luar sana. "Aku janji akan selalu berusaha pulang, apa pun yang terjadi."

‎‎Di seberang ruangan, Arga sudah mulai tertidur pulas di pelukan Elena, napasnya teratur dan tenang untuk pertama kalinya setelah berhari-hari dihantui ketakutan.

‎‎Elena perlahan berdiri, menyesuaikan posisi tubuhnya dengan hati-hati agar tidak membangunkan Arga yang kini terlelap di sofa. Ia menyelimuti anak itu lebih rapi, lalu melangkah pelan mendekati Damian dan Celine yang masih duduk berdekatan di sofa, seakan dunia di luar sana tidak lagi menyentuh mereka di sini.

‎‎Wajah Elena tampak tenang namun serius, matanya menatap lembut namun penuh kebijaksanaan yang mendalam.

‎‎"Kalian berdua..." suaranya rendah dan lembut, namun terdengar jelas di keheningan ruangan itu. "Aku ingin bicara."

‎‎-

‎‎-

‎‎-

‎‎Di ruang kerja kediamannya yang luas namun kini terasa pengap, Matteo menghempaskan tubuhnya ke kursi kulit besar. Ponsel di tangan kirinya hampir terhimpit hancur saat ia menekan layar dengan jari gemetar merah padam. Berita yang baru saja masuk dari mata-mata terakhirnya di pelabuhan itu bagaikan pukulan telak di ulu hati. Romano tertangkap, anak buahnya lumpuh, rencana yang sudah dirancang sebulan ini hancur seketika dalam hitungan menit.

‎‎"Bodoh... bodoh sekali!" geramnya pelan, lalu tinjunya menghantam permukaan meja keras hingga dokumen-dokumen di atasnya melompat sedikit. "Aku sudah bilang jangan terburu-buru! Tapi dia mau menang cepat, mau melumpuhkan Damian di depan semua orang! Sekarang apa? Semuanya berantakan!"

‎‎Matteo berdiri gelisah, berjalan mondar-mandir di sela rak buku. Pikirannya berputar kacau, membayangkan skenario terburuk yang bisa terjadi dalam hitungan jam.

‎"Kalau Romano mulai bicara... kalau dia menyebut namaku di depan Damian..." Ia menelan ludah yang terasa pahit. Damian tidak akan segan-segan, bahkan terhadap iparnya sendiri. Pertalian darah dan perkawinan dengan Valentina tidak akan menjadi tameng yang cukup kuat jika Damian tahu siapa dalang di balik semua ini.

‎‎Pintu ruang kerja terbuka pelan tanpa diketuk. Valentina masuk, wajahnya masih terlihat lesu dan bingung, namun matanya langsung menangkap gelagat suaminya yang sedang berada di ambang kehancuran kendali diri.

‎‎"Matteo? Ada apa? Kenapa kau terlihat begitu panik?"

-

-

-

Bersambung...

1
🍓ADIRA🍓
teganya kau menggantung di saat^ tegang bgini Thoorr /Cry//Cry//Cry/
🍓ADIRA🍓
jangan goblok kau Matt, percaya sama iblis 🙂‍↔️🙂‍↔️
🍓ADIRA🍓
dasar busuk kau Vin 😤😤😤
🍓ADIRA🍓
nurut aja nurut Luc 😂😂
🍓ADIRA🍓
Biarkan saja lah si Valen jadi Rapunzel disna.. tak perlu diselamatkan 😂😂
🍓ADIRA🍓
Mampus lah kau Valen 😂😂😂
Mei Mei
mampus kau valentine
🍓ADIRA🍓
Lagi lagi Luca yang jadi orang ketiga 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
temui aja biar tau jawabannya 😂😂
🍓ADIRA🍓
Jawab Yes! gitu Matt 😂😂
🍓ADIRA🍓
si Matt nih 😂😂
🍓ADIRA🍓
Langsung jadi suami siaga ya Dam 😂
Mei Mei
ini valentine jg terlalu bodoh dan bucin sama Matteo, GK mikirin Damian yg sudah merawat membesarkan nya selama ini,
〈⎳ FT. Zira
jangan turutin Val
Lembang Azam
udah sana ikuti suamimu yg penghianat itu,, biar kamu bisa melihat kbenaran klw mmg Matteo itu ingin menggantikan posisi damian😤
🔥Violetta🔥: Perlu dikasih faham dulu si Valen kak 🤭😂😂
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
sulit Cel... mana dia bos nya
🍓ADIRA🍓
Yuuhuuuuu 💃 selamat buat kalian berdua yang mau jadi orang tua 🤗
🍓ADIRA🍓
Etdah ini si nona,,, masih aja banyak bacot gak jelas 🙄🙄🙄 perlu diseruduk banteng dulu kayaknya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
bakalan ada Don junior kah 😱
〈⎳ FT. Zira
kecebong sudah berkembang beneran kann🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!