NovelToon NovelToon
The Twentieth Concubine Wants To Survive

The Twentieth Concubine Wants To Survive

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Timur
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fresh Tea

Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Emperor's Unexpected Question

Kabut tipis musim gugur masih menggantung di atas atap Perbendaharaan Dokumen Kerajaan ketika Ye Xinyue tiba sebelum fajar bersinar sempurna. Bau kertas lapuk, kayu tua, dan tinta kering menyambutnya sebuah aroma yang kini terasa jauh lebih bersahabat daripada wewangian melati di Kediaman Fenghua.

Di atas meja kayu cendana di sudut ruangan tertutup, lima belas tumpukan gulungan kertas beras bersampul merah pudar telah menunggunya. Ini adalah catatan pengeluaran kas militer wilayah barat selama lima tahun terakhir—wilayah di bawah genggaman besi Jenderal Liang, ayah dari Selir Liang.

Jemari Xinyue bergerak cepat namun metodis. Sebagai mantan pengacara senior yang terbiasa menangani kasus kejahatan kerah putih dan audit forensik, angka-angka ini bukan sekadar catatan logistik. Ini adalah peta kejahatan.

"Pengadaan gandum untuk barisan berkuda... dialokasikan tiga kali lipat saat musim kemarau," gumam Xinyue seraya menorehkan catatan kecil di lembaran kertas terpisah. "Tetapi catatan laporan cuaca wilayah barat menunjukkan tidak ada kekeringan pada tahun itu. Pembelian besi baja untuk senjata dipotong dua puluh persen, namun anggaran pemeliharaan meriam melonjak tanpa rincian spesifikasi..."

Setiap halaman yang dibukanya menyingkapkan pola manipulasi keuangan yang sangat terstruktur. Klan Liang tidak sekadar mencuri uang negara; mereka menyamarkannya di balik istilah-istilah teknis militer yang rumit, mengasumsikan bahwa pejabat sipil biasa tidak akan cukup paham untuk mempertanyakannya.

"Pola pembukuan ganda yang sangat klasik," bisik Xinyue, senyum tipis tebar di bibirnya. "Rapi untuk ukuran abad ini, tapi sangat transparan bagi seorang ahli hukum."

"Apakah menurutmu temuan itu cukup untuk menjatuhkan seorang jenderal perang, Selir ke-20?"

Suara berat yang familiar itu mengejutkan Xinyue. Ia tidak mendengar langkah kaki yang mendekat, namun ketika ia menoleh, Zhao Fengting sudah berdiri tepat di samping rak buku tinggi di belakangnya. Kaisar itu mengenakan jubah sutra biru tua bersulam naga perak, tanpa didampingi oleh Kasim Gao maupun pengawal pribadi.

Xinyue buru-buru bangkit dari duduknya dan merapatkan tangan dalam salam formal. "Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia Kaisar."

"Aku tidak memintamu memberi hormat," ujar Zhao Fengting datar, melangkah mendekati meja kerja Xinyue. Tangannya yang panjang terulur mengambil salah satu gulungan kertas yang telah ditandai Xinyue dengan Tinta Merah. "Jawab pertanyaanku. Apa yang kau temukan dalam tumpukan dokumen busuk ini?"

Xinyue menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Zhao Fengting tanpa gentar. "Menjawab Yang Mulia, dalam waktu kurang dari tiga jam, hamba menemukan selisih dana sebesar empat ratus ribu keping perak dalam alokasi logistik barat. Klan Liang tidak hanya memalsukan jumlah pasokan gandum, tetapi juga mengurangi kualitas persenjataan prajurit di garis depan demi mengalirkan dana tersebut ke kas pribadi faksi mereka."

Zhao Fengting menatap catatan ringkas yang ditulis Xinyue. Tulisan tangan gadis itu sangat rapi, terstruktur dalam kolom-kolom perbandingan yang belum pernah dilihat sang Kaisar sebelumnya—sebuah metode tabulasi statistik modern yang sangat efisien.

"Luar biasa," gumam Zhao Fengting pelan. Ada binar ketertarikan yang membakar di dalam iris mata kelamnya. "Pejabat Kementerian Keuangan membutuhkan waktu dua tahun untuk mencurigai kejanggalan ini, tetapi kau membongkarnya dalam hitungan jam."

"Tugas hamba adalah memeriksa dengan teliti, Yang Mulia," sahut Xinyue dingin, menjaga jarak profesionalismenya. "Kini laporan forensik maksud hamba, ringkasan bukti ini telah selesai. Yang Mulia bisa menggunakan ini untuk menyeret klan Liang ke pengadilan kekaisaran."

Zhao Fengting meletakkan gulungan kertas itu kembali ke meja. Ia tidak langsung memuji atau memberikan perintah untuk menangkap Jenderal Liang. Sebaliknya, sang Kaisar melangkah mendekati Xinyue, memangkas jarak di antara mereka hingga Xinyue dapat mencium aroma kayu gaharu yang kuat dari jubah pria itu.

"Bagaimana jika aku tidak ingin menggunakan bukti ini di pengadilan?" tanya Zhao Fengting tiba-tiba, suaranya merendah menjadi bisikan yang berbahaya.

Xinyue mengerutkan alisnya sedikit. "Yang Mulia?"

Zhao Fengting menundukkan wajahnya, mengunci tatapan Xinyue dengan intensitas yang sanggup membuat siapapun berlutut dalam ketakutan.

"Bagaimana jika tujuanku memberikan dokumen-dokumen ini padamu bukanlah untuk menjatuhkan Jenderal Liang..." Zhao Fengting jeda sejenak, jemarinya terulur merapikan kerah gaun biru tua yang dikenakan Xinyue dengan gerakan pelan yang penuh intimidasi, "...melainkan untuk menguji seberapa jauh kau bersedia bertaruh untuk menyelamatkan nyawamu sendiri?"

Jantung Xinyue berdesir, namun otaknya menolak untuk goyah. "Hamba tidak paham maksud Yang Mulia."

"Kau paham betul, Ye Xinyue," kekeh Zhao Fengting rendah. "Selir Liang sudah tahu kau memeriksa dokumen ini. Saat matahari terbenam hari ini, seluruh faksi militer barat akan memandangmu sebagai musuh mati mereka. Kau telah memegang kartu yang sangat berbahaya."

Kaisar tiran itu kemudian mengajukan sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak diduga oleh Xinyue—sebuah pertanyaan yang membalikkan seluruh papan catur politik Istana Dalam.

"Kini pilihannya ada padamu, Pengawas Ye," bisik Zhao Fengting, matanya menyipit tajam. "Apakah kau akan menyerahkan bukti korupsi ini kepadaku agar aku menghancurkan klan Liang hari ini juga... atau kau akan menyimpan kartu ini untuk memeras Selir Liang dan memaksanya berlutut tunduk di bawah kakimu?"

Xinyue membeku seketika.

Pertanyaan itu adalah sebuah jebakan psikologis yang sangat beracun. Jika Xinyue menjawab ingin menghancurkan klan Liang, Zhao Fengting akan menilainya sebagai pion penurut yang haus darah. Namun jika ia menjawab ingin memeras Selir Liang, Kaisar akan menganggapnya sebagai wanita ambisius yang berbahaya bagi takhta.

Ruang arsip yang luas itu mendadak hening total, hanya diselingi oleh deru angin musim gugur di luar jendela.

Xinyue menatap dalam-dalam ke dalam mata Zhao Fengting, membaca setiap celah dari raut wajah sang penguasa mutlak. Ketakutan yang sempat hinggap di benaknya perlahan menguap, digantikan oleh keberanian dingin seorang praktisi hukum yang menyukai tantangan ekstrem.

Xinyue menyunggingkan senyum tipis sebuah senyuman elegan yang dipenuhi kepercayaan diri mutlak.

"Jawaban hamba adalah tidak keduanya, Yang Mulia," tutur Xinyue dengan suara jernih tanpa keraguan sedikit pun.

Alis Zhao Fengting terangkat, sedikit terkejut. "Tidak keduanya?"

"Menyerahkan bukti ini sekarang hanya akan memicu perang saudara yang belum siap Yang Mulia tangani di batas barat," papar Xinyue dengan analisis logika yang tajam. "Sedangkan memeras Selir Liang hanya tindakan dangkal yang tidak menyelesaikan akar masalah."

Xinyue mengambil kuas tulisnya, lalu mengetukkannya pelan ke atas meja kerja.

"Hamba akan menggunakan bukti ini untuk membuat hukum baru di Istana Dalam," tegas Xinyue. "Hamba akan membiarkan klan Liang tahu bahwa hamba memegang leher mereka, sementara hamba memaksa Yang Mulia memberikan perlindungan hukum mutlak atas keselamatan hamba. Dengan begitu... hamba tidak perlu berlutut pada siapapun, termasuk pada Yang Mulia."

Zhao Fengting terdiam. Untuk pertama kalinya sejak ia naik takhta, seorang wanita seorang selir tingkat rendah secara terang-terangan menentang opsinya dan mengajukan syarat balasan yang setara.

Keheningan melingkupi mereka selama beberapa detik yang menegangkan, sebelum akhirnya tawa renyah dan keras bergetar di dada Zhao Fengting. Kaisar tiran itu tertawa murni, sebuah tawa yang dipenuhi rasa kagum dan ketertarikan yang tak lagi bisa disembunyikan.

"Luar biasa..." gumam Zhao Fengting seraya menatap Xinyue seolah baru saja menemukan harta karun paling berharga di muka bumi. "Kau benar-benar seekor rubah yang sangat berbakat, Ye Xinyue. Baiklah... mari kita lihat bagaimana kau mengeksekusi hukum barumu itu."

1
Raizel_0511
crazy up kk,semangat,sehat selalu💪💪💪😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!