NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pewaris

Takdir Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:16.1k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.

Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.

Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35.

Beberapa hari berikutnya, kode yang Elang temukan menjadi bagian yang paling sering ia cari setiap kali memiliki waktu luang di sela pekerjaannya.

Ia menelusuri riwayat transaksi lama, mencocokkan waktu akses, memeriksa perubahan otorisasi, sampai membandingkan struktur kewenangan beberapa divisi di kantor pusat. Namun semakin jauh ia masuk, semakin sulit menemukan siapa pemilik sebenarnya.

Kode tersebut tidak terhubung pada satu nama, hanya jabatan.

Akses lintas divisi.

Dan beberapa jalur persetujuan yang berubah mengikuti jenis transaksi. Seolah siapa pun yang berada di baliknya sengaja memastikan namanya tidak pernah muncul di tempat yang sama dua kali.

Elang bahkan sempat meminta beberapa data tambahan menggunakan otorisasi yang ia miliki. Hasilnya tetap tidak memberikan jawaban langsung.

Namun satu hal mulai terlihat jelas. Orang itu bukan staf biasa. Dia memiliki cukup kewenangan untuk menyentuh beberapa jalur berbeda tanpa membuat aksesnya terlihat aneh.

Dan lebih mengganggu lagi, setiap kali kode tersebut muncul, tidak lama setelahnya jejak transaksi selalu kembali berhenti pada Bram. Terlalu rapi. Seolah seseorang memang menginginkan siapa pun yang memeriksa data itu berhenti di sana.

Elang belum berani menyimpulkan apa pun. Ia hanya menyimpan seluruh temuannya, memperluas catatan, dan terus mencari satu kesalahan kecil yang mungkin pernah dilewatkan orang tersebut.

.

.

.

Menjelang malam, suasana kantor Arkatama Group mulai lebih lengang. Semburat warna jingga yang sebelumnya membentang di cakrawala mulai meredup seiring perubahan warna langit yang menjadi gelap. Elang masih duduk di depan laptop ketika sebuah bayangan jatuh di atas meja kerjanya.

Ia mengangkat wajah, dan menemukan Keira berdiri di depan mejanya dengan dua kaleng minuman di tangan.

“Belum pulang?”

Elang melirik jam di sudut layar laptop. “Masih sore.”

Keira mendengus. “Kalau menurutmu jam segini masih sore, berarti beberapa hari di Arkatama sudah merusak jam biologismu.”

Keira meletakkan dua kaleng minuman yang ia bawa ke meja, lalu menarik kursi kosong di depan meja kerja Elang dan mendudukinya tanpa menunggu izin.

“Kamu ada urusan di sini?” tanya Elang meraih kedua kaleng di meja, membuka salah satunya, lalu memberikan satu kaleng yang sudah ia buka pada Keira.

“Ya." Keira mengambil kaleng yang sudah dibuka, meneguk isinya sesaat sebelum menjawab, "Selesai satu jam yang lalu.”

“Lalu, kenapa masih di sini?” tanya Elang seraya membuka satu kaleng minuman tersisa untuk dirinya sendiri.

Keira memperhatikan pemuda di depannya yang tengah meneguk minuman. “Karena ada seseorang yang katanya cuma sebentar, tapi kalau ditinggal bisa berubah jadi penghuni tetap gedung ini.”

Elang tertawa pelan. “Jadi, kamu sejak tadi menungguku?”

Keira mengangkat bahu. “Mungkin.”

Jawaban itu membuat Elang tersenyum. Ia tidak berniat untuk mengomentari, karena ia tahu hal itu akan berujung pada perdebatan yang tidak ada habisnya.

Beberapa detik kemudian, suasana kembali tenang saat Elang kembali fokus pada laptop di hadapannya. Keira tidak bertanya apa yang sedang ia kerjakan, tidak pula mencoba melihat layar laptopnya. Wanita itu hanya duduk bersandar sambil sesekali meneguk minuman dari kaleng di tangannya.

Anehnya, keberadaan wanita itu justru membuat kepala Elang yang sejak tadi terasa penuh, kini menjadi sedikit lebih ringan.

Keira mengamati bagaimana Elang fokus bekerja tanpa rasa canggung seperti beberapa hari lalu. Jemari yang bergerak cepat di atas keyboard, mata tajam yang fokus pada layar, dan reaksi alami menggerakkan bahu saat rasa pegal mulai datang, membuat ia tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya.

“Kamu tidak capek?” tanya Keira akhirnya memecah keheningan.

“Sedikit,” jawab Elang tanpa mengangkat wajah.

“Sedikit versi kamu biasanya berarti banyak,” sahut Keira setengah mencibir.

Wajah Elang terangkat. “Kamu mulai menghafal caraku.”

“Sayangnya... Ya.”

“Kamu sendiri?” Elang balas bertanya.

Alis Keira terangkat tipis. “Apa?”

“Capek?”

Keira menggeleng. “Tidak terlalu.”

Elang memperhatikan wajah Keira sebentar. “Bohong.”

“Kok tahu?”

“Kamu menjadi pendiam saat kamu merasa capek.”

Keira terdiam, sesaat kemudian sudut bibirnya terangkat. “Berarti kamu juga mulai menghafal caraku.”

“Sayangnya... Ya.”

Keira tertawa kecil mendengar jawabannya kembali dilemparkan. Tidak ada lagi kecanggungan seperti beberapa hari lalu, tidak ada wajah yang buru-buru dialihkan hanya karena tatapan mereka bertemu. Ia bahkan menikmati saat Elang menatap dirinya lebih lama.

“Elang.”

“Hm?”

“Kapan kamu selesai?”

“Sebentar lagi.”

Keira mengembuskan napas cepat. “Sebentar itu berapa lama?”

Elang berpikir, kembali menatap layar laptop sejenak sebelum kembali menatap Keira. “Satu jam?”

Keira langsung menghela napas, kali ini lebih panjang. “Setengah jam.”

“Empat puluh lima menit."

“Tiga puluh.”

“Kei.”

“Kalau tidak, aku tinggal.”

Elang diam beberapa detik. “Oke. Tiga puluh menit. Kamu senang?”

Keira tersenyum puas. "Sangat."

Elang kembali menatap layar. Beberapa menit berikutnya ruangan kembali sunyi.

Elang bekerja. Sementara Keira duduk diam di depan meja kerjanya sambil memainkan ponsel, sesekali memperhatikan pria yang masih fokus menatap layar.

Sampai akhirnya Elang menutup laptop sebelum waktu tiga puluh menit yang dijanjikan habis.

“Sudah?”

“Sudah." jawab Elang santai seraya berdiri. "Ayo kuantar pulang."

Keira mengangguk, lalu beranjak dari duduknya. Mereka berjalan berdampingan keluar dari ruangan. Saat sampai di depan lift, Keira berdiri sedikit lebih dekat dari biasanya.

Elang melirik tangan wanita itu yang berada di sisi tubuhnya. Beberapa detik kemudian jemarinya bergerak perlahan, menyentuh punggung tangan Keira. Ia tidak mengatakan apa pun, hanya mengaitkan jemarinya.

Keira menoleh, menurunkan pandangannya ke tangannya sebentar, lalu membalas genggaman. Tampak sederhana, namun baginya, itu cukup.

Pintu lift terbuka. Keduanya masuk tanpa melepaskan tautan tangan mereka. Tidak ada kalimat romantis, namun sepanjang perjalanan turun, genggaman itu tetap ada.

.

.

.

Di tempat berbeda, beberapa lembar foto terbentang di atas meja kerja Kresna. Beberapa di antaranya, merupakan foto candid seorang wanita yang diambil dari tempat dan waktu berbeda oleh seorang pria berperawakan tinggi dan besar yang kini sedang berdiri di hadapannya.

“Kami sudah mengikutinya beberapa hari terakhir sesuai perintah Anda,” ujarnya.

Kresna mengambil salah satu foto. “Bagaimana dengan jadwal hariannya?”

“Hampir tidak ada perubahan. Andaipun berbeda, kami sudah tahu di mana lokasi yang akan dia tuju.”

“Pengawalan?” tanya Kresna lagi.

“Tidak selalu ada.” pria itu menjawab tanpa perubahan ekspresi. "Tapi saya pastikan, sembilan puluh persen dia lebih sering tanpa pengawal."

Kresna mengangguk pelan, jemarinya menarik satu foto mendekat ke arahnya, kemudian menarik satu foto lagi dengan pose berbeda.

Tidak ada perubahan berarti pada ekspresi wajah Kresna, namun jemarinya berhenti pada satu foto yang memuat empat orang lebih lama. Ravian, Keira, Elang, dan Savera

“Pastikan lagi. Aku tidak mau ada kesalahan.”

“Baik.” Pria itu mengangguk.

Kresna meletakkan foto kembali ke meja. Ingatan tentang pertemuan terakhir di Arkatama kembali melintas. Penolakan Ravian dan Elang yang dengan tenang mempersilakan dirinya keluar.

Kresna menyandarkan punggungnya.

“Mereka terlalu nyaman karena merasa semua ada di bawah kendali mereka.”

Pria di hadapannya tetap diam.

Sudut bibir Kresna terangkat tipis. “Sekarang aku ingin melihat apa yang mereka lakukan kalau sesuatu yang mereka anggap penting berada di tangan kita.”

Tatapannya kembali jatuh pada foto. “Pergilah. Tunggu perintahku selanjutnya."

Pria itu mengangguk sekali lagi, membungkukkan badan, lalu berbalik meninggalkan ruangan.

Kresna tetap duduk di kursinya, jemarinya mengetuk meja dengan ketukan yang terdengar seperti vonis yang siap untuk dijatuhkan pada targetnya. Satu kali, dua kali, tiga kali, kemudian berhenti.

“Ravian Arkatama...” Senyum di bibirnya menghilang. “Mari kita lihat apa yang akan kau lakukan kali ini.”

. . .

. . .

To be continued...

1
Juansaja
di real life ada gak sih pemuda yg cara pikirnya kaya Elang gini, ibunya sukses dalam mendidik anak
di jaman sekarang tau lah pergaulan anak muda, cuman ini fiksi ye
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
telat... udah baca🤭
Zhu Yun💫
Ditunggu karya selanjutnya kak Zira... semangat 💪🥳
Zhu Yun💫
Tambah bonchap kak 😁
Zhu Yun💫
Mau ngelamar ya... 🤭
Zhu Yun💫
Mau jadi power rangers 😭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
😍😍😍😍😍
〈⎳ FT. Zira: tengkyuu ibuuu/Kiss//Kiss/
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
lahhh... kok gak sampai mereka menikah sih, gantung amat
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: heh, maksud nya?
total 2 replies
Endah Puji Lestari
😍😍😍😍😍🙏🙏🙏🙏🙏
〈⎳ FT. Zira: terima kasih sudah setia menemani kaka🥰
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
eh... ciyus ini 😱😱😱🤔🤔🤔
〈⎳ FT. Zira: dari yg nanya🤣🤣🤣..kaborrr🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
total 3 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
ini sih kopernya🤭
〈⎳ FT. Zira: emang🤣🤣🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
affa affaan ini 🤦‍♀️🤦‍♀️
〈⎳ FT. Zira: kaborrrr🤣🤣🏃‍♀️🏃‍♀️
total 3 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
karakter si elang ini cool banget dah. bkn kyk karakter utama novel biasanya yang bucin abis ama pasangannya. cinta tapi ga lebay
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: hidung mana ini
total 6 replies
Muft Smoker
selamat menikmati hidup mu Bram ,,
Zhu Yun💫
Ya nikmati sajalah Bram dari apa yang kamu tabur di masa lalu 🤭
Zhu Yun💫
Sudah matang kan mereka berdua buat diajak ngadon /Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Cihuy.. terpesona nih ya 🤭
Zhu Yun💫
Dan sekarang mereka sudah semakin dewasa, semakin tampan, semakin kokoh, semakin kekar, semakin tegak juga anunya /Facepalm//Facepalm//Hammer//Hammer/ tubuhnya maksudnya /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Kirain pak Raksa sudah... 🤭
Endah Puji Lestari
😍🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!