NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:188k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar rahasia : 20

“Dikunci? Siapa yang menguncinya? Terus kenapa sampai harus dikunci?” Hamima menekan kuat handle pintu seraya mendorong menggunakan tubuh bagian samping, tetap tidak ada pergerakan berarti.

Pintu terkunci kuat, menambah rasa curiga tak dapat lagi dibendung. Pikiran positif hilang sekejap mata tergantikan banyak praduga liar seperti ribuan anak panah melesat secepat kilat menghujam dada.

“Pake apa biasanya agar bisa membuka pintu terkunci ini? Atau mas Galih ….” kalimatnya tak terselesaikan, Mima tergesa-gesa berjalan ke ruang tengah.

Rasa sakit kalah oleh keinginan kuat menyingkap tabir belum juga menemukan jalan menuju rahasia tersembunyi.

Tas ransel diatas meja pun langsung ditarik resletingnya, begitu terbuka — tercium wangi berbagai jenis bunga.

Degup jantung Mima seperti baru melihat penampakan hantu, bertalu-talu.

Kresek hitam dikeluarkan, simpulnya dilepas … terlihatlah kelopak bunga Mawar, kuntum Melati, Kantil, dan Kenanga.

“Bunga ini persis seperti yang dibilang Rosna, bahkan ada juga telur ayam kampungnya. Mas Galih ….”gemetar tubuh belum cukup untuk mendeskripsikan rasa tak percaya, kecewa, dan amarah menggumpal dalam dada.

‘Cari kuncinya!’ sebuah suara menyentak, mendesak, ternyata kata hatinya.

Jemari tangan keriput akibat terlalu lama terendam air, gemetaran saat merogoh bagian tas lebih dalam.

Hamima merasa seperti seorang pencuri, belum pernah dia menggeledah barang pribadi suaminya. Selama ini begitu percaya, Galih tak mungkin merahasiakan sesuatu darinya.

Jarinya tertusuk gerigi tumpul anak kunci, dengan perasaan keruh, ditariknya benda tersebut.

Anak kunci tanpa gantungan, dan hanya satu, dipegang erat. Ia berlalu, kali ini langkahnya jauh terasa berat.

Bunyi kunci diputar seperti musik horor, bergema pada hunian terlewat besar bagi wanita terbiasa hidup sederhana.

Sedikit ragu, tangannya masih menggenggam handle terbuat dari logam kuningan bercampur warna kehitaman.

“Apapun itu, aku harus berani. Semua kulakukan demi melindungi Guntur, Ara, dan memecah misteri rumah ini.” Ia menarik napas, menyiapkan diri menghadapi kemungkinan yang bisa jadi memporak-porandakan kehidupan tenangnya sebelum pindah kesini.

Kreeiiittt ….

Bunyi derit pintu terdengar menyeramkan ditelinga wanita yang kaki kanannya sudah masuk ke celah terbuka sedikit.

Indera penciuman Hamima langsung disambut aroma kapur barus, dan wangi yang dia sendiri tak mengenalnya, tetapi terasa manis, lembut, tak membuat hidungnya gatal dan terasa mual.

Pintu ditutup lagi. Sejenak matanya beradaptasi dengan cahaya sedikit gelap, tapi masih bisa melihat apa saja yang ada di sana.

Ia berdiri dengan tubuh menegang, sepasang mata terbelalak dan napas tercekat — kamar belum pernah disinggahi olehnya tampak bersih, rapi, dan mirip ruangan pribadi seorang putri maupun ratu dalam drama kolosal pernah di tontonnya.

Ranjang ukir ulir dengan tiang disetiap sudut yang dijadikan penyangga kelambu putih berenda, seprei lembut terlihat licin menjuntai hingga menyentuh lantai.

‘Kamar siapa ini?’ batinnya berbisik, dan telapak tangan mengusap kulit lengan yang meremang.

Ia maju dengan langkah sempit, sampai pada tengah-tengah ruangan yang bisa dijadikan tiga kamar ukuran standar. Mima menandai apa saja yang tertangkap oleh netra.

Lemari enam pintu berdiri kokoh, ukiran ulir berwarna keemasan pada setiap sisi mempertegas model elegan, kemudian meja rias berada tepat di sampingnya.

‘Ayunan bayi?’ lagi dan lagi, Hamima kembali menahan napas, dia mendekati tempat tidur bayi terbuat dari rotan dan dapat digoyang seperti ayunan.

Pinggiran rotan membulat membentuk cekungan didorong pelan sampai bergerak, beberapa detik kemudian keanehan pun dirasakan oleh wanita yang tiba-tiba menangis dalam diam, hatinya meratap pilu, tetapi dia tidak dapat menebak karena apa.

Tubuh Hamima tersentak pelan, angin semilir menerpa kulit wajahnya, dan dia langsung memalingkan muka mengikuti dari mana sumber hembusan tadi.

“Pintu apa itu, kamar mandi kah?” tanyanya pada ruangan sunyi, tak berjendela, tetapi berventilasi banyak pada bagian tembok dekat plafon.

Derap kakinya tidak menimbulkan suara gaduh seakan lantai yang diinjaknya kedap suara. Mima mendorong sebuah pintu kayu berukir kembang sepatu.

Suara derit pintu terdengar lebih berat, seakan penuh beban atau menyembunyikan sesuatu kelam.

Hamima masuk ke ruangan temaram yang hanya mengandalkan cahaya matahari yang masuk dari lubang ventilasi.

‘Kamar bayi,’ ia memandangi dinding dicat merah muda, lemari pendek berjajar berdampingan, dan box bayi berukuran besar berada di tengah-tengah ruangan sebesar kamar yang ditempatinya.

Entah keberanian dari mana, dan seperti didorong sesuatu kuat, Mima tertarik pada karpet tebal yang bagian ujungnya ditimpa box bayi warna putih.

Ia pun mendekat, lalu berjongkok — karpet berbulu lembut, motif abstrak, diangkat bagian ujung yang tidak tertimpa kaki box bayi.

Debu tebal mengumpul di bawah karpet yang masih sangat layak pakai.

Awalnya tangan Hamima hendak menurunkan karpet warna merah campur hitam, karena terlihat wajar, normal.

Akan tetapi, sesuatu membuatnya urung. Pada bagian tengah, terdapat semburat benang yang apabila tidak diperhatikan seksama maka tak tampak.

Hamima pun maju — digulungnya karpet agar bagian bawah naik ke atas.

“Ini bekas sobek, kan?” bisiknya pada diri sendiri. Ia menekan garis benang keluar dari bagian luar yang masuk ke dalam.

Masih belum puas, jari jempol dan telunjuk memeriksa bagian sobek yang ternyata berbentuk persegi.

‘Ada sesuatu didalamnya?’ Mima berlutut. Kedua tangannya bergerak dengan jari masuk ke dalam lubang karpet tebal.

‘Apa ini? Terasa licin, berpasir, dan tipis?’ ia ragu hendak menarik, namun ditarik juga.

Ternyata plastik hitam di isolasi transparan berukuran persegi tak begitu besar. Takut-takut ibunya Guntur melepaskan perekat, merobek pelan agar tak menimbulkan suara nyaring.

Hamima menelan air liur, badannya panas dingin, dan bibir kering. Sesuatu di dalam plastik ditarik keluar.

Pertama yang dilihatnya kertas kaku bergambar hitam putih, lalu tiga pasang kaki menggunakan sepatu dan kaos kaki, kemudian sepasang kaki mungil berkaos kaki renda tanpa sandal maupun sepatu.

Sampai seluruh potret hitam putih terbebas dari penutup, tubuh Hamima lemas.

“Hamima! Mima! Kamu di mana? Ini Pujiara sudah ketemu!” suara Galih sampai ke dalam kamar bayi dimana wanita yang tengah dicari-cari, sekujur tubuhnya melemah.

“Bu, Ibu! Adek tadi ditolong bude Rosna, pas kebetulan dia lewat depan rumah kita, terus denger Ara nangis kenceng, lalu digendongnya. Ibu dimana?!” Guntur juga berteriak mencari keberadaan ibunya.

Wajah Mima pucat pasi, foto tadi jatuh diatas pangkuannya, ia bak patung hidup yang tak memiliki jiwa.

Sorot mata bergetar namun pandangan kosong. Hamima tak bergerak, bergeser barang sedikitpun enggan.

🎶 Tak lelo, lelo, lelo ledung

Wes menengo anakku si kuncung

Embokmu lagi lungo menyang kali

Ngumbah popok nyangking beruk

‘Anakmu kah yang sering mengajak putriku bermain?’

.

.

Bersambung.

1
neni nuraeni
lah sia menta di ampuni Sien paeh,,,podaran be Arwan meh kacung2na si Geneng hiji2 modyar, ngurangan sugan kacungna,, lnjutt
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔✰͜͡v᭄
enak aja mohon ampun dulu aja brutal membunuh nya🤭.... sekarang hadapi kematian kalian 🤣
neni nuraeni
walah hari pmblsan telah tiba seruu euy,,, ya atuh kak lanjutin cerita Candra kanti aku nunggu2 loh,, kangen ma Rajendra aku,, lnjutt
FiaNasa
paling jijik sama manusia yg jahatnya diluar kewajaran tp pas Kena balasan merengek² minta ampun
Shee_👚
tolong saat orang yang akan kamu bunuh minta ampun kamu tak ada belas kasian, malah lngsung membunuh secara kejam😤
Shee_👚
😭😭😭😭😭😭
Heni Fitoria
walau ceritanya horor ttp harus dibaca ❤️❤️❤️
Shee_👚
jahara emang si tresno, pengin enaknya doang😤
FLA
wuhuuu satu persatu penghianat bakal tewas
Shee_👚
sebelum gendeng datang juga kamu duluan dah musnah😂
FiaNasa
lanjutkan aja kisah Candra Kanti,,GPP walaupun ada silumannya yg penting tampan kak🤣🤣🤣
Bulan-³ M⃟3💋
Helehhh sekarang diambang maut baru minta tolong, dulu waktu berkhianat dan membunuh juragan mu gak punya belas kasihan
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Sudah terjadi
Sudah telat
tak ada ampunan buatmu abdi
walau kau memakai nama anak dan istrimu sekalipun.
maka serahkan nyawa mu sebagai ganti atas kehilangan keluarga yang kau khianati.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Jangannn kasih ampunnn! dulu saja dia membunuhh tanpa perasaan, telinga di tulikan dan mata di buta kan, saat melihat tuannya di siksaa habis2san. sekarang enakk saja, memohon untuk di kasihani. arwahh tak punya rasa kasihan 🤭 karena yang ada cuma dendammm! masalah istrinya mau melahirkan bodo mamatt 🤭
Shee_👚
ampun antek antek gendeng emang orang pada gendeng semua, karena gak mau tanggung jawab sampai di bunuh😤
nah sekarang giliran dia yang di bunuh😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
apa kamu jg kasihan pd ku Abdi waktu kamu dan juragan barumu membantai dan membunuh seluruh keluarga ku dan aku jd skrng nikmatilah kematian mu sbntr lg 😏😡
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
sekarang kamu lihatt dulu gimana cara menyiksa para musangg birahii mima, nanti kalau saatnya sudah tiba. kamu terapkan apa yang sekarang kamu lihat, untuk menyiksaa Galih 😆 Siksaa smapai telurnya jadi telurr orak arik, potongg lidahnyaa yang suka merendahkan kamu dan suka kasih kamu janji2 maniss 🤭 dan buatt kakinya buntungg karena suka pergi tak pulang2 mima 🤭
Al Fatih
Apakah dirimu juga lupa,, ketika dulu nyonya Arum,, istri juragan mu juga kalian bunuh ketika dia sedang hamil anak pertama...,, jadi jangan sok merasa menjadi korban yang terdzolimi...,, karna apa yang kau rasakan skrg adalah hasil perbuatan mu dulu😡
Lia: bkn anak pertama kk, tpi k dua ayu yg pertama🙏🙏🙏
total 1 replies
Anonim
Lanjut keluarin thor cerita chandra kanti ga sabar pengen baca 🤭
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
jangan langsung di bun2, siksa saja...matikan uyungnya , kalau perlu kebirii sekalian. biar seumur hidup nya mereka menderita dan gilaaaa....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!