NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Kenangan yang Tak Pernah Terlupakan

Mobil melaju tenang meninggalkan pusat kota, menuju kawasan pinggiran yang lebih teduh dan sepi. Su Yi menatap ke luar jendela, namun pikirannya masih tertinggal di ruang rapat tadi — betapa teguhnya punggung Mo Ha berdiri di depannya, melindunginya dari segala serangan yang selama ini ia tanggung sendirian. Jantungnya masih berdebar pelan setiap kali teringat tatapan pria itu, penuh keyakinan bahwa ia layak diperjuangkan, bukan sekadar ditoleransi.

"Kita mau ke mana?" tanyanya pelan memecah keheningan lembut di dalam mobil.

Mo Ha tersenyum tipis, tangannya kanannya melepaskan kemudi sejenak meremas lembut punggung tangan Su Yi di pangkuannya.

"Ke satu tempat yang dulu sering kulewati sendirian," jawabnya pelan, matanya menatap lurus ke jalan namun ada kerinduan samar di sana. "Mungkin... kau juga pernah ke sana."

Setengah jam kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kafe kecil bergaya kuno yang tersembunyi di balik deretan pohon rindang. Dindingnya berwarna krem tua, jendela besar berjendela kayu yang terbuka separuh, dari dalam tercium aroma kopi murni dan vanila yang harumnya menyebar hingga ke trotoar. Tempatnya tenang, nyaris tak ada tamu lain selain mereka berdua.

Mo Ha membukakan pintunya, membimbingnya ke meja di sudut paling dalam dekat jendela besar yang menghadap ke taman kecil penuh bunga mawar berwarna-warni. Su Yi duduk perlahan, matanya tak lepas dari wajah pria di hadapannya. Ia merasakan sesuatu yang akrab di sini, seakan udara, cahaya, bahkan keheningan di tempat ini pernah ia temui bertahun-tahun silam.

"Kau kenal tempat ini?" tanya Mo Ha lembut saat pelayan pergi meninggalkan mereka berdua setelah mencatat pesanan.

Su Yi mengangguk pelan, menatap meja kayu tua yang halus permukaannya penuh goresan halus kenangan.

"Dulu... sering ke sini setiap hari Sabtu sepuluh tahun lalu," suaranya pelan nyaris tertelan angin sepoi-sepoi dari jendela. "Sendirian. Duduk di meja ini juga. Membaca buku berjam-jam tanpa diganggu siapa pun." Ia mendongak menatapnya terkejut baru menyadari sesuatu. "Bagaimana kau tahu?"

Mo Ha tersenyum getir, menyandarkan punggungnya ke kursi menatapnya dalam-dalam seakan melihat bayangan gadis muda di sana duduk sendirian menunduk membaca buku persis seperti dulu.

"Karena aku juga ke sini setiap Sabtu," ucapnya pelan namun jelas, setiap kata jatuh berat namun tak terelakkan. "Duduk di meja pojok seberang sana. Menontonmu dari jauh. Selama dua tahun penuh."

Su Yi terbelalak tak percaya, napasnya tercekat di tenggorokan. Selama ini ia pikir ia benar-benar sendirian di dunia itu, tak ada yang memperhatikannya, tak ada yang peduli. Ternyata... ada sepasang mata yang menjaganya setiap minggu selama bertahun-tahun lamanya, dan ia tak pernah sadar sedikit pun.

"Kenapa..." suaranya gemetar pelan, jantungnya berdebar kencang nyaris meloncat keluar dada. "Kenapa tak pernah kau panggil? Tak pernah kau sapa?"

"Karena saat itu aku bukan siapa-siapa," jawab Mo Ha getir menunduk menatap punggung tangannya di atas meja. "Hanya anak yatim piatu yang diambil paksa ke rumah besar itu, dihina di mana-mana, tak punya hak apa pun — bahkan berbicara dengan gadis secerah dan semulia kamu pun rasanya dosa besar bagiku. Aku cukup bahagia sekadar melihatmu sehat dan tersenyum dari jauh. Tak berani berharap lebih." Ia mendongak perlahan, matanya berkaca namun tak meneteskan air mata. "Hingga hari pertunangan diumumkan... dan dunia seakan runtuh di kakiku."

Su Yi menatapnya terpaku, air mata perlahan mengalir di pipinya tanpa sadar. Selama ini ia pikir Mo Ha membencinya sejak awal. Selama ini ia pikir pernikahan mereka hanyalah beban yang dipaksakan pada pria yang tak pernah menginginkannya. Ternyata... benih perasaan itu sudah ada jauh sebelum pertemuan resmi mereka. Tumbuh dalam diam, disembunyikan rapat-rapat karena rasa rendah diri yang mendalam.

"Kau..." suaranya tercekik emosi tak tertahankan, "kau tak pernah membenciku?"

"Tak pernah," Mo Ha menjawab tegas dan mantap seakan bersumpah di hadapan langit. "Tak sedetik pun dalam hidupku aku tak pernah membencimu. Yang kubenci hanyalah diriku sendiri yang tak pantas berdiri di sampingmu. Yang kubenci adalah takdir yang mempertemukan kita dengan cara yang salah, di saat yang paling keliru." Ia meraih kedua tangannya di atas meja, menggenggam erat seakan takut ia lenyap jika dilepaskan. "Dan ketika hari pernikahan tiba... aku pikir itu hukuman bagiku — memiliki apa yang paling kuinginkan namun tak boleh kusentuh, tak boleh kucintai, tak boleh kuakui. Aku dingin padamu bukan karena tak peduli, Su Yi. Aku dingin karena takut jika mulai menyayangimu sedikit saja... aku takkan pernah sanggup melepaskanmu nanti."

Su Yi terisak pelan menutup mulutnya dengan tangan bebasnya. Selama bertahun-tahun ia menangis di pelukan kesepian karena berpikir tak diinginkan. Padahal di balik kedinginan itu tersembunyi cinta yang begitu besar begitu dalam hingga nyaris menghancurkan pemiliknya sendiri.

"Bodoh..." isaknya lembut memukul pelan dada bidangnya di seberang meja, "sama-sama bodohnya kita berdua..."

Mo Ha tersenyum getir namun matanya basah bersinar lembut. Ia menarik kursinya berkeliling ke sisi meja di sebelah Su Yi, duduk tepat di sampingnya, merangkul bahunya lembut mendekapnya perlahan ke dada. Su Yi tak menolak. Ia menyandarkan pipinya ke dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang kuat dan tenang — irama yang selama ini ia cari tanpa tahu keberadaannya.

"Maaf..." bisik Mo Ha berulang-ulang di atas ubun-ubunnya, mencium pelan rambutnya berkali-kali penuh penyesalan dan kasih sayang yang tertunda bertahun-tahun. "Maaf karena membuatmu menunggu sendirian begitu lama. Maaf karena tak berani bicara lebih cepat. Maaf untuk setiap tetes air mata yang jatuh sia-sia."

Su Yi memeluk pinggangnya erat, menyembunyikan wajahnya di dada lebar itu membiarkan dirinya hanyut sepenuhnya dalam pelukan yang tak pernah ia sangka akan terasa seaman ini.

"Tak perlu maaf lagi..." bisiknya pelan menahan isak, telapak tangannya menempel hangat di dada kiri Mo Ha tepat di atas jantungnya. "Yang lalu biarlah berlalu. Kita punya hari ini. Dan hari esok. Dan semua hari yang tersisa."

Mo Ha merenggangkan pelukannya perlahan, menangkup kedua pipinya dengan lembut menatap matanya lekat-lekat seakan menghafal setiap inci wajahnya di bawah cahaya sore yang miring masuk lewat jendela.

"Janji padaku satu hal," pintanya lembut namun serius. "Mulai sekarang, apa pun yang kau rasakan — sedih, marah, ragu, bahagia... katakan padaku. Langsung. Jangan dipendam sendiri lagi. Kita hadapi bersama, ingat?"

Su Yi tersenyum di antara air mata, mengangguk mantap hingga pipinya bergesekan lembut dengan telapak tangannya.

"Janji. Dan kau juga, Mo Ha. Jangan simpan apa pun sendirian lagi."

"Janji," ulangnya lembut sebelum menunduk perlahan menyatukan bibir mereka — lembut, penuh, dan penuh harapan yang takkan pernah padam lagi. Di kafe kecil itu di sore yang damai, dua hati yang saling mencari selama sepuluh tahun akhirnya menemukan jalan pulang ke satu sama lain. Dan kali ini... tak ada lagi rahasia. Tak ada lagi jarak. Tak ada lagi waktu yang terbuang sia-sia.

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!