Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.
Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.
Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!
IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com
Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Mahal untuk Sebuah Perlindungan
Angin malam Jakarta yang membawa aroma tanah basah menerpa wajah Sean di balkon penthouse. Kemeja putihnya yang setengah basah menempel kaku di tubuhnya, namun rasa dingin itu sama sekali tak mampu mengalahkan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
Di dalam ruangan, terlihat dari balik dinding kaca tebal, Emily terlelap dengan sangat tenang di atas sofa empuk. Kacamata tebalnya tergeletak di meja, wajahnya yang polos dan bersih dari kepura-puraan memancarkan rasa damai, sebuah kehangatan langka yang baru pertama kali dirasakan gadis itu setelah bertahun-tahun hidup dalam pengabaian keluarganya.
Layar ponsel di genggaman Sean masih menyala, menampilkan pesan terakhir dari Valerie Wijaya. Sebuah ancaman eksekusi mati bagi masa depan Emily dalam dunia akademik.
Sean mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih dan memotong aliran darah. Menghancurkan Valerie dan bisnis keluarganya menggunakan pengaruh keluarga Anderson bukan hal yang mustahil, namun proses hukum dan perang kekuasaan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Sementara itu, keputusan pencabutan beasiswa dan blacklist nama Emily hanya butuh satu detik untuk memusnahkan seluruh mimpi yang dibangun Emily dengan darah dan air mata.
"Aku nggak bisa biarin kamu kehilangan impian kamu, Mil..." bisik Sean pelan pada kegelapan malam. Suaranya pecah, sarat dengan penderitaan yang tak mampu ia bagikan pada siapa pun. "Kalau harga dari keselamatan kamu adalah diriku sendiri... aku bakal bayar."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sinar matahari pagi yang lembut menerobos masuk melalui celah gorden jendela raksasa, membiaskan cahaya keemasan di atas karpet tebal.
Emily mengerjapkan matanya perlahan. Aroma harum teh chamomile dan roti panggang mentega memenuhi indra penciumannya. Saat ia membuka mata sepenuhnya, ia mendapati Sean sedang berdiri di dekat meja makan kecil, menata piring dengan kemeja hitam santai yang lengannya tergulung hingga siku.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Emily tidak terbangun oleh teriakan ibunya atau suara bentakan pertengkaran di rumah.
"Pagi, Princess," sapa Sean. Senyum tipis mengukir bibirnya, begitu tenang dan hangat, seolah badai ancaman Valerie semalam tak pernah terjadi.
Emily duduk perlahan, merapikan kaus abu-abu kebesaran milik Sean yang menenggelamkan tubuh kecilnya. "Pagi, Sean... Kamu yang bikin semua ini?"
"Cuma sarapan biasa kok, soalnya aku belum beli bahan-bahan lain," sahut Sean sembari mendekati Emily, membawa cangkir teh hangat dan meletakkannya di tangan gadis itu. Tanpa diminta, Sean mengambil kacamata tebal Emily dari meja, membersihkan lensanya dengan ujung bajunya, lalu memasangkannya kembali ke wajah Emily dengan gerakan yang sangat lembut.
Jari jemari Sean sempat bertahan sejenak di pipi halus Emily, mengelus kulit dingin itu dengan tatapan mata yang teramat dalam, tatapan yang menyimpan kerinduan seolah ia sedang mengucapkan perpisahan terselubung.
"Sean?" panggil Emily lirih, merasakan desiran aneh di dadanya akibat tatapan itu. "Kamu nggak apa-apa? Wajah kamu pucat banget."
Sean mengalihkan pandangannya dengan cepat, terkekeh pelan untuk menutupi getar di dadanya. "Nggak apa-apa. Cuma kepikiran ulangan Akuntansi nanti. Kamu harus makan yang banyak, hari ini kita harus siap menghadapi sekolah."
Emily mengangguk pelan, mempercayai kata-kata cowok di hadapannya sepenuhnya. Ia menyesap teh hangat itu, merasa seolah ia akhirnya menemukan sebuah rumah yang aman di dalam diri Sean.
Namun, di balik senyum tenangnya, Sean mengepalkan tangannya di bawah meja, menyembunyikan getaran hebat dari keputusan mematikan yang telah ia ambil dua jam lalu sebelum Emily terbangun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 07.15 WIB, SMA Harapan Bangsa berubah menjadi arena eksekusi publik.
Begitu mobil sedan hitam milik Sean berhenti di depan gerbang utama, puluhan pasang mata murid-murid langsung tertuju pada mereka. Suasana lapangan utama yang biasanya riuh mendadak hening mencengangkan.
Di atas tangga teras gedung utama, Valerie Danuarta berdiri dengan anggun bersama tiga orang pengawal pribadinya dan seorang pejabat sekolah. Di tangan pejabat sekolah itu, terdapat map merah tebal, dokumen pencabutan beasiswa dan rekomendasi kelulusan Emily Valencia.
Valerie menyilangkan dadanya, mengukir senyum kemenangan yang amat memuakkan saat melihat Sean turun dari mobil, diikuti oleh Emily yang berjalan canggung di belakangnya.
"Lihat siapa yang datang," suara Valerie menggema melalui pengeras suara kecil di tangannya, sengaja diperdengarkan ke seluruh lapangan. "Pahlawan kesiangan kita dan cewek pemerasnya."
Emily menggenggam tali ranselnya erat-erat, melangkah berimpit di belakang Sean. Rasa takut kembali merayapi dadanya ketika melihat tatapan penuh kebencian dan penghinaan dari teman-teman seangkatannya.
"Sean," panggil Valerie seraya melangkah turun beberapa anak tangga. "Kemarin malam aku sudah kasih kamu tawaran yang sangat adil. Dan sekarang, dokumen pembatalan masa depan cewek di belakang kamu ini tinggal menunggu tanda tangan terakhir. Semua tergantung keputusan kamu detik ini juga."
Kerumunan murid menahan napas. Mereka semua tahu seberapa kaya dan berkuasanya keluarga Valerie. Semua mata kini tertuju pada Sean, menantikan respon dari cowok paling berpengaruh di sekolah itu.
Emily memegang ujung jaket Sean dengan jari gemetar. "Sean... apa maksudnya?" bisik Emily bingung.
Sean berdiri mematung. Matanya menatap lurus ke arah Valerie, lalu beralih menatap map merah di tangan pejabat sekolah. Di dalam benaknya, kilasan masa depan Emily berputar tajam. Papan peringkat pertama, senyum bahagia Emily saat berhasil menguasai materi sulit, dan impian gadis itu untuk masuk ke universitas impiannya.
Kalau aku memilih bertarung sekarang, Valerie bakal langsung menandatangani dokumen itu dan menghancurkanmu dalam sekejap, Mil, batin Sean, dadanya terasa dihantam godam raksasa. Aku harus menarikmu keluar dari sasaran musuh, walaupun kamu harus membenciku seumur hidupmu.
Sean menarik napas panjang, menghembuskannya pelan. Wajahnya yang semula hangat dan protektif mendadak membeku, berubah menjadi sosok Sean Anderson yang dingin, kaku, dan tak berhati. Sosok yang dikenal publik dua tahun lalu.
Secara perlahan, Sean melepaskan genggaman jemari Emily dari ujung jaketnya. Genggaman itu terlepas. Emily terperanjat, menatap tangannya yang kini hampa dengan mata membelalak. "Sean...?"
Sean sama sekali tidak menoleh ke arah Emily. Dengan langkah mantap dan wajah tanpa ekspresi, ia melangkah maju, menaiki anak tangga mendekati Valerie.
"Aku sudah buat keputusan," suara Sean terdengar datar, menggema dingin di tengah lapangan.
Valerie tersenyum puas, memiringkan kepalanya. "Buktikan di depan semua orang, Sean. Biar cewek itu tahu di mana tempatnya yang sebenarnya."
Sean berbalik secara perlahan. Ia berdiri di tangga yang lebih tinggi, menatap turun ke arah Emily yang berdiri sendirian di tengah lapangan yang luas. Tatapan mata Sean begitu asing, penuh jarak, dan tanpa emosi, sebuah akting sempurna yang sedang merobek jiwanya sendiri hingga hancur berkeping-keping.
"Foto dua tahun lalu itu... memang cuma kebohongan," ucap Sean dengan suara lantang yang memecah keheningan. "Gua cuma pakai foto Emily buat bahan taruhan dan lelucon sama anak-anak cowok."
Deg.
Jantung Emily seolah berhenti berdetak saat itu juga. Dunia di sekitarnya mendadak berputar hebat.
"Gua nggak pernah punya perasaan apa pun sama Emily Valencia," lanjut Sean, setiap kata yang keluar dari bibirnya bagai sembilu tajam yang menusuk tepat di dada Emily. "Tas mewah itu cuma hadiah biasa karena dia udah bantu gua ngerjain tugas. Gua nggak pernah berniat pacaran sama cewek dari kalangan menengah kayak dia."
Riuh bisik-bisik dan tawa ejekan dari para murid langsung meledak di sekeliling lapangan.
"Tuh kan, bener! Cuma dijadikan bahan taruhan!"
"Kasian banget, udah GR dikasih tas mahal ternyata cuma dipermainkan."
"Kasihan, sok jual mahal sih dari kemarin!"
Emily berdiri mematung di tengah gumpalan makian itu. Lensa kacamatanya mulai buram oleh genangan air mata yang merebak cepat. Wajahnya pucat pasi, seluruh persendiannya terasa lolos. Rasa sakit dari pengkhianatan ini ribuan kali lebih menyiksa daripada tamparan ibunya kemarin sore.
"Dan soal hubungan kita, Valerie..." Sean memutar tubuhnya, menatap Valerie dengan wajah kaku, lalu mengulurkan tangannya pada gadis berambut gelombang itu. "Pertunangan kita minggu depan bakal tetap dilaksanakan sesuai rencana keluarga kita."
Valerie menyambut uluran tangan Sean dengan senyum kemenangan. Ia melirik pejabat sekolah di sampingnya dan memberi kode singkat. Pejabatan itu langsung menarik kembali map merah tebal tersebut dan menyimpannya ke dalam tas, tanda bahwa beasiswa dan masa depan akademis Emily telah aman dari ancaman.
"Keputusan yang sangat bijaksana, Sayang," bisik Valerie penuh kemenangan, merangkul lengan Sean di hadapan seluruh siswa.
Di bawah sana, Emily menatap pemandangan itu dengan dada yang hancur berkeping-keping. Air mata panas akhirnya meluncur deras menembus lensa kacamatanya, menetes ke atas seragam sekolahnya.
Cowok yang semalam memeluknya di tengah hujan, cowok yang menyeduhkan teh hangat dan mengeringkan rambutnya dengan penuh kelembutan, kini berdiri di sana, menggandeng tangan musuhnya dan menginjak-injak harga dirinya di depan ratusan pasang mata.
"Kamu... pembohong, Sean..." bisik Emily dengan suara serak yang tenggelam oleh tawa ejekan di sekelilingnya.
Tanpa sanggup menahan rasa malu dan hancur yang membakar dadanya, Emily membalikkan badan dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan lapangan, menembus kerumunan murid yang tertawa puas atas penderitaannya.
Di atas tangga, tangan Sean yang berada di balik saku celananya mengepal begitu keras hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri, meneteskan darah segar yang tersembunyi.
Matanya menatap punggung Emily yang menjauh sambil menangis, menahan jeritan frustrasi yang ingin meledak dari dalam dadanya.
"Maafin aku, Emily... Maafin aku..." jerit Sean dalam hatinya yang hancur.
Aku lebih rela kamu membenciku seumur hidupmu, asal kamu tetap bisa meraih semua mimpimu. batin Sean sambil merenung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua jam kemudian, ruang kelas 12 IPS terasa sangat dingin dan mencekam.
Emily duduk di bangkunya di pojok belakang, menundukkan kepala dalam-dalam. Tidak ada yang mau duduk di sampingnya, seluruh teman sekelasnya menjauh seolah Emily membawa wabah penyakit. Namun Emily tak memedulikannya lagi. Hatinya sudah kebas, mati rasa oleh pengkhianatan Sean.
Saat bel istirahat berbunyi, sebuah amplop cokelat tanpa nama mendadak tergeletak di atas meja Emily.
Emily mendongak pelan, namun tidak ada seorang pun di dekat mejanya. Dengan tangan gemetar, Emily membuka segel amplop cokelat tersebut. Di dalamnya, terdapat sebuah surat resmi kepindahan sekolah atas nama Emily Valencia ke salah satu SMA di Swiss, lengkap dengan beasiswa penuh yang sudah dilunasi untuk tiga tahun ke depan.
Dan terselip di balik surat itu, terdapat sebuah rekaman suara berbentuk flashdisk kecil berwarna hitam, dengan tulisan tangan yang sangat dikenalinya di atas selembar kertas kecil:
"Buka rekaman ini kalau kamu sudah sampai di bandara, Emily. Jangan percaya pada apa yang matamu lihat hari ini."
Jantung Emily kembali berdegup kencang saat membaca tulisan tangan Sean tersebut.
Bersambung......