NovelToon NovelToon
Terikat Cinta Sang Mafia

Terikat Cinta Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.

‎Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.

‎"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.

‎Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 : Sisi tergelapku yang kau lihat.

‎Udara di dalam lift besi itu dingin dan berbau karat, menusuk hingga ke tulang. Di ruang sempit itu, tak ada suara lain selain napas Celine yang tertahan dan bunyi derit kabel yang menarik mereka makin dalam, seakan turun ke tempat yang tak lagi terjangkau oleh cahaya dan hukum.

‎‎Damian berdiri di sampingnya, sosok tegapnya seakan menembus kegelapan. Jas hitamnya sudah rapi tanpa kerutan, dasi dikencangkan dengan satu tarikan tegas. Satu tangannya menggenggam tangan Celine erat, jempolnya bergerak pelan mengusap punggung tangan wanita itu.

‎‎"Damian..." bisik Celine, suaranya nyaris tak terdengar di udara dingin. "Tempat apa ini?"

‎‎Damian menoleh sekilas. Di balik tatapan tajam yang biasa ia tunjukkan ke dunia luar, ada secercah kelembutan yang melintas sepersekian detik, sebelum kembali berganti ketegasan saat bunyi besi beradu terdengar.

‎‎DING!

‎‎Pintu lift terbuka perlahan. Hawa dingin langsung menyambar masuk, membuat bulu kuduk merinding.

‎‎Ruangan bawah tanah itu luas dan kosong, dinding-dinding betonnya telanjang, kasar dan dingin. Lampu neon putih menyala terang namun pucat, menyilaukan mata dan menciptakan bayangan panjang yang menari di setiap sudut. Di tengah ruangan yang sunyi itu berdiri satu meja panjang dari baja tebal. Di atasnya berantakan berkas-berkas dokumen, laptop yang menyala, dan noda cokelat tua yang sudah mengering di permukaan logam yang dingin.

‎‎Tujuh orang berdiri melingkar di sana. Tiga kepala divisi dengan wajah pucat pasi, bibir terkatup rapat menahan napas. Beberapa pengawal berdiri tegak dengan senjata tersilang di dada, mata mereka waspada menyapu setiap gerakan. Dan di kursi besi paling ujung...

‎‎Martin.

‎‎Kepala divisi logistik itu duduk terikat, wajahnya babak belur. Bibirnya pecah dan berdarah, salah satu matanya bengkak hingga hampir tertutup, namun ia masih mendongak, dagunya terangkat seakan menantang, seakan rasa sakit itu tak cukup untuk mematahkannya.

‎‎"Don," sapa Luca singkat, langsung menunduk hormat saat Damian melangkah keluar. "Kami sudah menunggu."

‎Hening menyelimuti ruangan itu seketika. Semua mata serentak beralih menatap Damian, lalu beralih ke wanita yang berjalan di sampingnya. Beberapa pengawal saling bertukar pandang sekilas, keraguan tersirat di tatapan mereka. Kenapa dia membawa wanita ke tempat seperti ini?

‎‎Damian tidak melepaskan genggamannya pada tangan Celine. Ia menarik sebuah kursi di pojok ruangan, jauh dari meja baja yang mengintimidasi itu, lalu menatap wanita itu lembut.

‎‎"Duduk dulu, Sayang. Jangan lihat ke arah sana kalau tidak kuat," bisiknya pelan, hanya terdengar oleh mereka berdua. "Tapi tetap di sini. Jangan pergi ke mana-mana."

‎‎Celine mengangguk pelan, tenggorokannya terasa kering. Jantungnya berpacu kencang di dalam dada, namun ia memaksa dirinya duduk tegak, tangannya meremas ujung roknya yang halus hingga jari-jemarinya memutih.

‎‎Keheningan itu menekan, berat dan menyelimuti setiap sudut ruangan bawah tanah yang dingin itu. Hanya terdengar suara tetesan air yang jatuh perlahan dari pipa yang bocor di dinding beton, dan napas Celine yang tertahan, terasa sesak di kerongkongan.

‎‎Damian berdiri tegak di depan Martin. Wajahnya datar, tak ada ekspresi apa pun, namun garis rahangnya mengeras hingga terlihat jelas di bawah cahaya neon yang pucat, menahan amarah yang siap meledak sewaktu-waktu.

‎‎"Siapa yang menyuruhmu?"

‎‎Suaranya rendah, pelan, namun setiap kata terasa tajam dan mematikan, seakan pisau yang dingin menempel di leher siapa pun yang mendengarnya.

‎‎Martin mendongak, lalu meludah ke lantai beton. Darah segar bercampur liur jatuh ke permukaan yang dingin itu.

‎‎"Kau pikir aku pengecut, Don?" suaranya parau namun masih menantang. "Aku lebih setia daripada anjing-anjingmu yang rela menjilat kaki siapa pun yang punya kuasa."

‎‎BRAK!

‎‎Tinju Damian menghantam permukaan meja baja tepat di samping kepala Martin. Getaran keras menjalar ke seluruh permukaan logam itu, membuat dokumen-dokumen di atasnya melompat sedikit. Lampu neon di atas ikut bergoyang pelan, menciptakan bayangan yang bergerak liar di dinding.

‎Semua orang di ruangan itu menahan napas. Tak ada yang bergerak sedikit pun.

‎"Empat anak buahku mati," kata Damian, masih dengan nada yang datar dan rendah, namun setiap kata terasa menekan dada seberat batu. "Mereka mati karena kau. Karena kode yang hanya tiga orang di ruangan ini yang tahu."

‎‎Matanya yang gelap menyapu tajam ke wajah ketiga kepala divisi yang berdiri di sisi ruangan. Mereka langsung menunduk dalam, keringat dingin menetes di pelipis, tak berani menatap mata pemimpin mereka.

‎Damian kembali menatap Martin. Tatapannya dingin dan mematikan.

‎‎"Sepuluh detik. Sebelum Luca yang mengambil alih pertanyaan ini dengan caranya sendiri."

‎‎Luca melangkah maju selangkah. Ia mengenakan sarung tangan kulit hitam yang ketat. Di tangannya, sebilah pisau kecil berputar pelan di antara jari-jemarinya.

‎‎Klik. Klik.

‎‎Suara itu kecil, namun terdengar sangat jelas di ruangan yang sunyi dan bergema itu.

‎‎Di pojok ruangan, Celine duduk terpaku. Tangannya mencengkeram ujung roknya begitu kuat hingga buku jarinya memutih dan kuku menancap ke telapak tangan yang terasa sakit, namun ia tak melepaskan. Dadanya sesak, napasnya terasa berat dan tertahan.

‎‎‎"BERHENTI!"

‎‎Suara Celine memecah keheningan itu — tinggi, pecah, dan penuh keputusasaan, berbeda jauh dari lembut yang biasa ia tunjukkan.

‎‎Semua orang di ruangan itu serentak menoleh ke arahnya.

‎‎Damian tidak bergerak. Punggungnya masih menghadap Celine, tegak dan tegang.

‎‎"Duduk," katanya singkat dan dingin. Sebuah perintah yang tak boleh dibantah.

‎‎"Tidak!" Celine berdiri dari kursinya. Kakinya gemetar hebat, lututnya terasa lemas, namun ia mengangkat dagunya tegak, menatap punggung Damian dengan tekad yang tak tergoyahkan. "Kalau kau lanjut seperti ini... kau bukan lagi Damian yang kukenal. Kau akan jadi sama seperti mereka!"

‎‎Hening kembali menyelimuti ruangan itu, kali ini terasa lebih panjang dan menyakitkan.

‎‎Perlahan, sangat perlahan, Damian berbalik. Matanya gelap pekat, ada amarah yang meluap, ada kekecewaan yang dalam, dan ada luka yang tersembunyi di balik tatapan tajamnya itu. Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Celine, jarak mereka begitu dekat hingga napas mereka saling bertemu.

‎‎"Kau tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan, Amore," bisiknya, suaranya terdengar berat dan serak, napasnya terasa panas menyentuh wajah Celine. "Mereka tidak sekedar mengambil alih gudang. Mereka membakarnya. Dengan orang-orangku masih terjebak di dalamnya saat api mulai melahap segalanya."

‎‎Tangannya terangkat perlahan. Celine menegang, refleks menutup mata sedikit, berpikir mungkin ia akan menamparnya. Namun tidak. Punggung jari-jemarinya justru mengusap pipi Celine dengan gerakan yang kasar karena amarah yang masih ditahan, namun di baliknya terselip kelembutan yang tak bisa ia sembunyikan.

‎‎"Dan sekarang kau minta aku berhenti?" tanyanya pelan, penuh kepahitan.

‎‎Celine menatapnya lekat-lekat, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya, namun suaranya tetap teguh dan kuat.

‎‎"Aku tidak minta kau melepaskan mereka begitu saja. Aku minta kau ingat... siapa dirimu sebenarnya. Jangan biarkan siapapun membuatmu berubah jadi monster, Damian."

‎‎Deg.

‎‎Sesuatu di kedalaman mata Damian yang gelap itu seakan retak. Pertahanan yang ia bangun begitu kokoh akhirnya runtuh juga di hadapan wanita ini.

‎‎Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang yang terdengar berat dan bergetar, lalu perlahan berbalik kembali menghadap Martin. Punggungnya masih terasa tegang, namun aura yang memancar darinya kini berubah, bukan lagi amarah yang meledak-ledak, melainkan ketegasan yang dingin dan terukur.

‎‎"Nama orang yang menyuruhmu," katanya pada Martin, tanpa menoleh ke belakang. "Sekarang. Sebelum aku kehilangan kesabaran sekali lagi."

‎‎Martin masih menyeringai keras kepala, meski matanya mulai terlihat ragu. "Bunuh aku saja kalau mau—"

‎‎DUG!

‎‎Kali ini Damian menendang kursi besi tempat Martin duduk begitu keras hingga kursi itu terpental menjauh dan menghantam dinding beton dengan bunyi dentuman yang memekakkan telinga.

‎‎"ANAKMU ADA DI MANA, MARTIN?!"

‎‎Raungan itu keluar begitu saja, mentah, penuh kemarahan, keputusasaan, dan tekanan yang tak bisa lagi ia tahan. Ini pertama kalinya Celine melihat Damian benar-benar kehilangan kendali atas emosinya.

‎‎Wajah Martin seketika pucat pasi, bibirnya bergetar hebat, matanya membelalak ketakutan.

‎‎"R-Romano..." suaranya tercekat dan gemetar. "Dia... dia menyekap anakku di gudang pelabuhan timur. Dia bilang kalau aku tidak membuka jalannya... anakku yang jadi tumbal. Aku tidak punya pilihan, Don. Aku benar-benar tidak punya pilihan..."

‎‎Damian memejamkan mata rapat-rapat. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku jarinya memutih dan urat-urat di pergelangan tangannya menonjol. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha menelan semua rasa sakit dan kemarahan yang meluap di dadanya.

‎"Luca..." panggilnya pelan, suaranya masih berat namun kembali terkendali.

‎"Siap, Don." Luca melangkah maju seketika.

‎‎"Bawa dia ke sel isolasi yang paling dalam," perintah Damian tegas. "Hidup. Jangan ada satu goresan pun di tubuhnya. Tapi pasang kamera dan pengawasan 24 jam. Aku mau dia merasakan ketakutan setiap detiknya sampai Romano datang sendiri menjemputnya."

‎‎Ia lalu berbalik sepenuhnya, melangkah kembali ke arah Celine, dan tanpa banyak bicara langsung menarik tubuh wanita itu masuk ke dalam pelukannya, begitu erat seakan takut jika ia melepaskan sedikit saja, wanita itu akan menghilang dari sisinya. Bahu bidangnya naik turun tak beraturan, napasnya masih memburu. Laki-laki yang tampak begitu tak terkalahkan dan dingin ini baru saja hampir hancur lebur di depan matanya.

‎‎"Maaf," bisiknya tertahan di sela-sela napas yang masih berat, suaranya terdengar rapuh di telinga Celine. "Maaf kau harus melihat sisi terburukku seperti ini. Maafkan aku..."

‎‎Celine segera membalas pelukannya, meremas kain jas hitamnya yang kaku dengan kedua tangan, membiarkan pria itu bersandar padanya sejenak, mencari kekuatan yang selama ini selalu ia dapatkan dari kehadiran wanita ini.

‎‎"Jangan jadi monster demi apa pun, Damian," bisiknya lembut namun tegas di telinga pria itu. "Jadilah manusia karena aku. Tetaplah jadi dirimu yang aku kenal."

‎‎Damian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menunduk, mengecup kening Celine lama dan penuh makna, seakan itu adalah janji yang tak terucap.

‎‎Namun di luar ruangan itu, di kejauhan, alarm berbunyi pelan dan samar. Ponsel Damian bergetar di dalam saku jasnya, pesan masuk tepat di saat mereka masih saling berpelukan.

‎‎LUCA : [Romano kirim pesan. "Jam 3 pagi. Gudang timur. Aku datang sendiri. Jangan bawa pasukan. Kalau tidak, kau yang tahu akibatnya."] 

‎‎Damian menggenggam ponselnya erat, tatapannya menajam membaca pesan itu. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kali ini... taruhannya bukan sekedar kekuasaan atau wilayah. Taruhannya adalah nyawa — nyawa orang-orang yang mereka sayangi, dan mungkin juga nyawa mereka sendiri.

-

-

-

Bersambung...

1
🍓ADIRA🍓
Yuuhuuuuu 💃 selamat buat kalian berdua yang mau jadi orang tua 🤗
🍓ADIRA🍓
Etdah ini si nona,,, masih aja banyak bacot gak jelas 🙄🙄🙄 perlu diseruduk banteng dulu kayaknya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
bakalan ada Don junior kah 😱
〈⎳ FT. Zira
kecebong sudah berkembang beneran kann🤭
🍓ADIRA🍓
Kalaupun si Matt tak balik, masih ada yang nganggur di depan mu noh Val 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Masih aja dirimu Val /Proud/
〈⎳ FT. Zira
bales aja Cel.. doakan juga yaa sambil ngelus perut🤣
〈⎳ FT. Zira
ketika kekakuan berubah menjdi jelly🤭🤭
🍓ADIRA🍓
Kwkwkwkwk... diriku cuma intip dikit Thoorrr 🫣😂😂
🍓ADIRA🍓: Diriku masih polos Thorrrr 😂😂 janganlah kau nodai dengan kelakuan messyyumm si Revan 😂😂😂
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
jawab apa hayo 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Seketika Val pun lupa dengan gengsinya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Pamer 🤮🤮🤮
🍓ADIRA🍓
Oh si remote toh 😂😂
MamDeyh
Aku bukan bocil tp emak yg punya bocil, jadi boleh yaaa/Grin/
🔥Violetta🔥: boleh banget... diwajibkan malah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
Siapa. pulak ini /CoolGuy/
🍓ADIRA🍓
Yeeee suka^ Oma donk /Tongue/
MamDeyh
Siapa itu yaaaa
🍓ADIRA🍓
Nah 👏👏👏
🍓ADIRA🍓
Semoga si Oma melunak kali ini
🍓ADIRA🍓
main peran jadi ceo dulu y Dam 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!