Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.
Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.
"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."
"Saya siap."
"Aku ingin kau menghamili istriku."
“….”
Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.
Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02. Ardhana Vendra
"Untuk dunia luar, untuk musuh, bahkan untuk sebagian besar rekan kita sendiri, kau akan menjadi orang ini."
Jari Direktur mengetuk nama yang tertera pada berkas. Ardhana Vendra.
"Seorang mantan penyelundup yang memiliki hubungan dengan beberapa kelompok kriminal regional. Identitas ini telah dibangun selama bertahun-tahun. Semua jejak digitalnya ada. Semua catatan keuangannya ada. Bahkan jika Klan Black Gold menyelidiki sampai ke akar, mereka akan menemukan kehidupan yang sempurna."
Dhana menatap dokumen itu lama. Ia merasa seperti sedang melihat kehidupan orang lain. Namun orang itu akan segera menjadi dirinya.
"Kau tidak akan sekadar berpura-pura menjadi Ardhana," lanjut Direktur. "Kau akan hidup sebagai Ardhana Vendra."
Layar kembali berubah. Kali ini menampilkan jadwal pelatihan, lokasi aman, serta daftar kontak yang harus dihafal.
"Selama operasi berlangsung, kau tidak boleh menggunakan nama aslimu."
Foto keluarganya muncul sesaat, kemudian lenyap. "Hubunganmu dengan masa lalumu akan diputus sementara."
Dhana merasakan tenggorokannya mengering.
"Keluargaku?"
"Mereka tidak akan mengetahui rincian operasi ini."
"Teman-temanku?"
"Mereka akan menganggapmu sedang menjalankan tugas rahasia."
"Dan jika sesuatu terjadi?"
Direktur menatapnya lurus. "Kalau penyamaranmu terbongkar, kami tidak bisa menjamin bantuan akan datang tepat waktu."
Kalimat itu menggantung seperti pisau. Dhana memahami arti sebenarnya. Ia akan berjalan sendirian di sarang para predator. Seperti yang Presiden katakan tidak ada seragam, tidak ada pangkat, tidak ada pasukan, tidak ada kehormatan militer yang bisa melindunginya hanya identitas palsu dan kemampuannya bertahan hidup.
Direktur kemudian menutup map hitam tersebut. "Banyak orang mengira tugas seorang jenderal adalah memimpin dari belakang meja."
Tatapannya mengeras. "Tapi perang modern tidak selalu dimenangkan dengan tank dan pasukan. Kadang perang dimenangkan oleh satu orang yang berani masuk ke jantung kegelapan."
Ruangan kembali sunyi. Dhana mengambil napas panjang. Lalu tangannya bergerak mengambil map itu. Nama Ardhana Vendra tercetak tebal di sampul depan. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa menerima tugas ini bukan hanya berarti menghadapi klan mafia paling berbahaya di negara itu. Ia juga harus mengorbankan identitasnya sendiri. Menjadi seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar ada.
Perlahan, ia menutup map tersebut. Tatapannya kini jauh lebih mantap daripada sebelumnya. Dhana lantas tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum seseorang yang baru saja menyadari bahwa hidup lamanya telah berakhir.
Dan malam itu, di bawah cahaya lampu yang redup, seorang jenderal muda menerima kenyataan bahwa misi pertamanya akan dimulai bukan dengan memimpin pasukan. Melainkan dengan menghilang dari dunia dan terlahir kembali sebagai orang lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Empat tahun kemudian…
Tidak ada lagi yang mengenal nama Sadhana Abhiseva. Di dunia bawah tanah, ia memiliki identitas baru. Nama baru, masa lalu baru dan reputasi yang mengerikan. Pria yang kini dikenal sebagai "Ardhana Vendra" berdiri di balkon lantai tiga markas utama Klan Black Gold. Tangannya berlumuran darah yang belum sempat dibersihkan.
Di bawah sana, puluhan anggota mafia menundukkan kepala penuh hormat. Tak ada seorang pun yang tahu. Orang yang selama hampir empat tahun mereka percayai. Orang yang berhasil naik menjadi salah satu petinggi klan. Orang yang mengetahui hampir seluruh rahasia organisasi… adalah musuh terbesar mereka.
Dhana memandang kota yang diselimuti hujan malam. Lalu perlahan membuka sebuah flashdisk hitam kecil yang selama ini ia sembunyikan. Di dalam benda sekecil itu tersimpan bukti yang cukup untuk menjatuhkan seluruh kerajaan kriminal Klan Black Gold.
Namun disaat ia merasa misinya akan segera terselesaikan dengan baik, satu fakta mengerikan baru saja ia temukan. Semua rahasia yang telah berhasil ia kumpulkan didalam flashdisk itu… bukanlah rahasia besar klan Black Gold yang sesungguhnya. Posisinya saat ini juga bukan merupakan salah satu posisi dalam klan tersebut. Mereka, termasuk Dhana di dalamnya hanya bidak yang bisa dibuang kapan saja jika sudah diperlukan lagi.
Siapa sangka, masih ada tingkatan tertinggi di dalam klan tersebut yang tidak Dhana ketahui selama ini. Ada seseorang yang jauh lebih berkuasa sedang menunggu di balik bayang-bayang. Seseorang yang selama ini berada sangat dekat dengan pusat kekuasaan negara.
Sadhana menatap layar ponselnya yang menampilkan satu nama. Matanya menyipit, sementara darah di tubuhnya seakan membeku.
"Jadi... ini dalangnya utamanya. Siapa sangka, selama empat tahun ini misi utamaku tidak pernah berjalan sedikitpun dan semua informasi yang aku kumpulkan dengan susah payah di dalam Flashdisk ini sama sekali tidak berguna."
“Sepertinya aku harus bertahan di tempat ini sedikit lebih lama lagi,” gumam Dhana yang harus bersabar lagi.
“Dhana! Ayo, cepat… ini kesempatan langka untuk menjadi salah satu orang kepercayaan Tuan besar, pemimpin utama klan Black Gold!” seru salah satu anggota klan yang mampu bertahan dari awal hingga saat ini.
“Mmm, ayo pergi,” sahut Sadhana atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Ardhana Vendra dalam klan.
...****************...
Hujan semakin deras dan misi atau tugas yang sebenarnya harus Dhana selesaikan baru saja resmi dimulai. Gudang tua di kawasan pelabuhan dipenuhi bau karat, minyak, dan darah. Puluhan pria berdiri berjajar membentuk setengah lingkaran, termasuk Dhana di dalamnya. Tak seorang pun berani bersuara.
Di tengah ruangan, enam orang berlutut dengan tangan terikat. Wajah mereka lebam, sedangkan tubuh mereka penuh luka yang berlumuran darah. Di hadapan mereka kini berdiri seorang pria berusia awal tiga puluhan dengan setelan hitam mahal yang tampak kontras dengan suasana brutal di sekitarnya.
Revaldo Arsenalio, pemimpin Klan Black Gold. Nama yang ditakuti dunia bawah tanah. Pria yang dalam waktu kurang dari lima tahun berhasil menyatukan berbagai kelompok kriminal menjadi satu organisasi raksasa yang mengendalikan hampir seluruh jalur perdagangan ilegal di kawasan tersebut.
Wajahnya tampan, bahkan terlalu tampan untuk seorang mafia. Namun justru itulah yang membuatnya semakin berbahaya. Karena di balik senyum tenangnya tersimpan kekejaman yang bahkan membuat para pembunuh bayaran sekalipun memilih menundukkan kepala.
Dhana langsung mengenali wajah itu. Wajah yang selalu menghiasi media social, surat kabar dan bahkan berita utama sebagai Ceo paling berpengaruh dalam dunia bisnis.
Untuk sesaat Dhana cukup terkejut mengetahui fakta tersebut, bahwa pria yang mendapatkan penghargaan dari pemerintah sebagai pebisnis muda terbaik adalah pemimpin sebuah klan mafia yang sangat merugikan negara. Dan saat itu juga Dhana menyadari bahwa misinya bukan ‘lah misi biasa dan sangat berbahaya untuk keselamatannya sendiri.
Reval menatap keenam tawanan itu seolah sedang mengamati barang dagangan. "Tahukah kalian kenapa kalian ada di sini?"
Tak ada jawaban. Pria itu lalu tersenyum tipis. "Aku tidak suka pengkhianat."
Salah satu tawanan langsung menangis. "Tuan... saya tidak mengkhianati Black Gold... saya bersumpah..."
DOR!
Bersambung ….