Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu pria lain
Selang sepuluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat yang di tuju. Nisa sempat menghelakan nafasnya pelan setelah terbebas dari rasa canggung yang mencekik. Mereka saling terdiam setelah dari percakapan terakhir.
Kini, keduanya mulai berjalan mengitari taman dimana Rangga menjadi pemandu jalan bagi Nisa.
"Jika ada yang ingin di bicarakan. Akan lebih baik jika Mas Rangga bicara sekarang. Aku ingin mengakhiri semuanya di sini." tutur Nisa membuka suara saat mereka kini meniti langkah mengelilingi taman yang tidak lagi dapat Nisa lihat keindahannya.
"Apa maksudmu ingin mengakhiri semuanya di sini? Aku bahkan belum memulainya, Nisa" kata Rangga dengan penekanan di kata-katanya. Matanya menatap lurus pada wajah Nisa yang hanya terlihat menatap kosong. Itu wajar karena wanita itu buta sekarang.
"Sudahlah Mas Rangga. Ini juga untuk kebaikan Mas. Aku tidak ingin Mas Rangga terus berselisih tegang dengan kak Ali."
"Jika itu yang kamu takutkan. Kamu tidak perlu khawatir. Kali ini aku siap menerima resiko apapun yang akan menimpaku." tekad Rangga pasti. Nisa hanya menunduk, berusaha menekan dalam dadanya saat kata kata Rangga terlontar. Kenapa kata-kata itu harus hadir saat mereka tidak lagi terikat dan saat Nisa sudah memutuskan untuk melepaskan semuanya.
"Terserah apa kata Mas Rangga , tapi sekarang aku sedang tidak ingin memikirkan sebuah hubungan apapun, ataupun hal-hal yang berbau cinta. Aku harap Mas mengerti!" tutur Nisa yang berhasil membuat Rangga terdiam membisu.
🍀🍀🍀
Nisa berjalan pelan menuju kursi taman dengan tongkat walker-nya sebagai penuntun setelah Rangga pamit sebentar padanya untuk membeli minuman. Sebelumnya Nisa sempat berkata kalau dia lelah setelah berkeliling taman tersebut. Walau matanya tidak dapat melihat tapi telinganya dapat mendengar suara penuh keceriaan dari orang-orang yang bercengkrama di taman itu, terlebih anak-anak yang tertawa lepas. Nisa spontan menyentuh perutnya yang telah rata. Andai anaknya masih hidup, dia pasti akan mendengar suara serupa setiap harinya.
Karena alasan lelahnya Nisa-lah yang membuat Rangga akhirnya memilih untuk pergi membelikan minuman tanpa sempat mengajak Nisa untuk duduk di bangku taman.
Nisa melangkah pelan, namun tiba-tiba dari arah berlawanan seorang pria melangkah cepat dengan mata yang mengarah pada ponselnya, dan yang terjadi selanjutnya.
"Aah... Astaghfirullah." jeritan pelan keluar dari bibir Nisa saat tubuhnya bertubrukan dengan tubuh si pria. Bersamaan dengan tubuhnya yang terjatuh ke tanah.
"Astaghfirullah, maafkan saya Nona," ujar si pria spontan merasa menyesal dan mencoba membantu Nisa berdiri setelah dia berhasil menegakkan tubuhnya yang juga sempat terhuyung tadi. Namun Nisa dengan cepat menolak niat baik si pria. Dia merasa tidak suka saat si pria menyentuh lengannya walaupun berlapis baju.
Si pria yang mengerti dengan penolakan Nisa tidak lagi membantu. Dia hanya memastikan Nisa bangkit berdiri dengan usahanya sendiri.
"Saya minta maaf Nona, saya tidak bermaksud menyentuh Anda" kata si pria lagi yang kini mulai menatap si wanita dengan fokus, dan wajah si pria segera berubah mimik menjadi terkejut saat Nisa mengangkat wajahnya yang tadinya masih menunduk
"Annisa...?" ujar si pria takut takut salah orang. Dia juga merasa ragu walau wajah di depannya sangatlah tidak asing.
Sekarang gantian Nisa yang terkejut saat namanya di sebut oleh pria yang menabraknya. Batinnya bertanya-tanya, bagaimana bisa pria itu mengenalnya karena seingat Nisa, dia hampir tidak pernah dekat dengan pria lainnya selain Rangga. Bahkan setelah dia menikah, hubungannya dengan dunia luar terputus total.
"Iya, saya Annisa. Tapi maaf! Anda siapa ya?" Nisa bertanya dengan sopan. Dengan kondisi matanya, Nisa semakin tidak bisa mengenali siapa kemungkinan pria di depannya saat ini.
"Saya Radit. Kamu lupa sama saya?" pria yang mengenalkan diri sebagai Radit itu balik bertanya. Wajahnya terlihat sumringah dengan senyuman cerah.
"Radit" gumam Nisa pelan mencoba mengingat nama itu. Nisa merasa nama itu tidaklah asing untuk di dengarnya dan itu berarti dia mengenal pria bernama Radit itu.
"Raditya Arifin" ujar Nisa kemudian saat nama pria yang pernah cukup dekat dengannya beberapa waktu saat di kampus dulu terkenang dalam ingatannya.
"Iya, ini aku! Ternyata kamu masih ingat. Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Kamu apa kabar?" tanya Radit belum menyadari kondisi mata Nisa.
"Alhamdulillah baik. Mas Radit sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Nisa balik sembari tersenyum lembut.
"Alhamdulillah, aku juga baik. Oh ya! Bagaimana kalau kita mengobrol sambil duduk di kursi itu. Tidak enak rasanya kita bicara sembari berdiri begini. Aku ingin sedikit melepas rindu denganmu yang sudah lama tak bertemu, padahal dulu kita cukup dekat" kata Radit seraya menunjuk kearah bangku yang sebelumnya ingin Nisa tuju. Nisa mengangguk masih dengan senyuman di wajahnya yang terkembang sopan. Reaksi Nisa sekarang sama sekali tidak terlihat seperti wanita itu buta.
Radit mulai berjalan ke arah bangku di depan Nisa yang juga mulai melangkah pelan dengan tongkat penuntunnya. Radit yang melihatnya berkerut bingung, sembari bertanya dalam batinnya kenapa Nisa membawa tongkat. Rasa penasaran menyeruak masuk dalam kepalanya. Radit kembali melangkah tanpa suara ke dekat Nisa dan mencoba melambaikan tangannya di depan wajah wanita itu, tapi tidak ada respon apapun dari Nisa. Wanita itu tetap berjalan dengan pandangan yang kosong.
Tangan Radit jatuh terkulai saat mulai menyadari satu fakta kalau Nisa kini buta. Berbagai pertanyaan mulai merasuk masuk menyerang pikirannya tentang apa yang mungkin telah wanita itu alami hingga dia kini buta. Radit ingin segera bertanya, tapi berakhir dengan tertelan kembali semua pertanyaan itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu Nisa?" batin Radit masih menatap tidak percaya pada wanita yang telah menemukan bangku saat tongkatnya berhasil membentur kaki bangku tersebut dan dengan pelan mulai meraba permukaannya untuk duduk.
.
.
.
oh tidak bisa
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean