azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sembilan belas
"ting tong"
Wajah kiano sumringah cerah, tangannya sibuk menekan bel, dan mengetuk pintu yang tak kunjung terbuka.
Alisnya tertaut heran, melirik jam tangannya."jam 2 siang, kemana azalea?" gumamnya.
Kiano tersentak kaget, ketika daun pintu berwarna coklat tinggi itu terbuka lebar. Mbak yuni art mereka yang berbadan tambun itu menatapnya heran.
"loh, pulang cepat pak kiano?"
Kiano mengangguk tersenyum, "iya mbak, mbak yuni mau pulang?"
Wanita tambun itu mengangguk, di kedua tangannya membawa plastik sampah.
"semua sudah beres pak, saya mau pulang karena kerjaan sudah kelar semua"
Kiano mengangguk hendak melangkah, namun mbak yuni, art itu berbalik lagi.
"oh yah pak kian, mbak aza dan rara pergi keluar, tadi dijemput mobil, katanya mungkin sekitar jam 5 an baru pulang"
Kiano mengerutkan keningnya heran,"kemana?" tanyanya penuh selidik, namun wanita tambun itu hanya menggeleng dan mengedikkan bahunya sesaat sebelum meninggalkan kiano dalam kebingungan.
Kiano meletakkan tart yang dibawanya ke atas meja makan, membuka jas dan membawa tas kerjanya ke dalam kamar.
'siapa yang menjemput azalea dan rara?'
Seingat kiano, Azalea tidak memiliki kenalan di Jakarta, gadis itu juga selalu sibuk mengurus Rania. Jadi sedikit membingungkan dimana Azalea saat ini.
Kiano menatap jam dinding, sudah pukul 5 sore dan belum ada tanda-tanda Azalea pulang. Kiano beranjak bangun, melangkah menuju ruang tamu.
Menunggu di ruang tamu saja, tart ulang tahun Rania juga sudah ia pindahkan ke dalam lemari pendingin.
Kiano baru saja duduk, saat telinganya mendengar suara mobil. Perlahan ia bangun, tangannya sudah terulur hendak membuka daun pintu berwarna coklat itu. Namun Kiano mengurungkan niatnya, suara tawa Azalea yang saling menimpali dengan suara pria yang ia kenal menahannya.
"yohan?" alisnya naik sebelah, tangannya sudah berada di atas handle pintu.
"mas Yo, hati-hati di jalan, dan terima kasih sudah mau menemaniku merayakan ulang tahun Rara"
Kiano menarik tangannya, pintu yang sudah terbuka ia tahan sedikit dengan ujung kakinya. Kiano tidak ingin Azalea dan Yohan menyadari kehadirannya.
"kalau butuh apa-apa, hubungin aku Za. Jangan keluar sendirian, aku nggak tenang"
Azalea tersenyum tipis,kepalanya mengangguk.
"Bagi Kian mungkin kamu hanya seorang teman serumah, tapi bagiku kamu memiliki arti khusus"
"Apaan sih mas Yo" ujar Azalea tertawa geli, "gombalannya receh amat"
Yohan, pria setengah bule itu tergelak lucu, kedua tangannya merengkuh pundak Azalea.
"Tapi aku serius za" mata biru Yohan berubah serius, Azalea sampai harus menelan salivanya yang mendadak menyumbat tenggorokan.
"aku serius menyukaimu"
"mas!" panggil Azalea lirih, "aku.."
"jangan jawab sekarang Za, pikirkan saja. Nggak usah buru-buru"
Azalea masih berdiri di teras, melambaikan tangannya. Melepas kepergian Yohan dengan tatapan nanar.
Pria setengah bule itu jelas-jelas menyatakan perasaannya, Yohan menyukai Azalea dan itu sudah berulangkali pria itu katakan padanya.
Azalea menghela nafasnya yang terasa sesak, perlahan memutar tubuhnya,mata seketika membelalak lebar, Kiano berdiri di ambang pintu menatapnya lekat.
Azalea tercekat sesaat nafasnya tertahan, Kiano menatapnya tanpa reaksi apapun, datar.
"mas kian!" panggilnya gugup, "sejak kapan mas kian berdiri di situ?"
"sejak tadi" sahut Kiano datar, ia meraih rania dari gendongan Azalea yang gelisah.
"anu mas Kian, mas Yohan tad—"
"itu bukan urusanku za" sahut Kiano cepat, pria itu meninggalkan Azalea yang termangu.
"aku tidak perduli apa yang kalian bicarakan, hanya tolong perdulikan Rania, Rara sudah tidur kelelahan sedari tadi"
Azalea mengikuti langkah Kiano, pria itu menuju ke kamarnya. Langkah Azalea terhenti tepat di ambang pintu kamar pria itu.
Azalea tidak berani melangkah, terakhir kali dia di kamar Kiano, saat pria itu menciumnya. Ada rasa gugup dan aneh yang menahannya untuk ikut masuk, Azalea hanya berdiri di mulut pintu.
"Malam ini, Rara tidur denganku di kamar"
"Mas Kian" teriak Azalea tak terima, "Rara belum pernah pisah tidur dariku"
"kita harus biasakan Za, Rara harus terbiasa" Kiano membalikkan tubuhnya, setelah meletakkan rania hati-hati. Pria itu menghampiri Azalea, dengan kode ia mengajak Azalea ke ruang keluarga.
"maksud mas Kian apa?" tanya Azalea tak terima, ia berjalan tepat di belakang Kiano.
"mas" sergah Azalea menyambar lengan Kiano,mata indahnya melotot. "jelasin padaku, maksud mas tadi!"
Kiano memutar tubuhnya, sorot mata pria itu menatap nanar.
"Apa yang perlu aku jelaskan Za?, kamu sendiri paham apa yang kubicarakan"
"Tidak.." geleng Azalea kesal, "Aku tidak paham mas" tangannya masih mencengkeram lengan Kiano.
"Kenapa mas Kian tiba-tiba memisahkan rara dariku?"
Kiano berdiri, dengan sebelah tangannya di dalam saku celana.
"aku harus membiasakan rara untuk mulai perlahan menjauh darimu, satu tahun lagi Za, batas waktu yang kuminta darimu"
Azalea mengernyitkan keningnya, mengapa begitu tiba-tiba. Tak ada angin tak ada hujan, Kiano berbuat seenaknya.
"Kamu akan bebas setahun lagi Za, aku tak mau rara semakin tak bisa jauh darimu"
"Mas Kian!" seru Azalea setengah membentak, rasa kesal di hatinya semakin membuncah.
"Mas Kian bertingkah seperti ini bukan karena mas Yohan kan?"
Kiano memicingkan matanya, rasanya tak terima mendengar ucapan Azalea yang terdengar menuduh.
"Mas nggak lagi cemburu kan?"
"Cemburu?" dengus Kiano, terdengar tawa di ujung nafasnya, "kamu serius nanya begituan padaku?" matanya menelisik dalam, mencari sesuatu dari tatapan Azalea.
"Yah.." angguk Azalea cepat, "Mas Kian marah karena aku keluar membawa rania ketemu mas Yohan"
"Azaa, Azaaa" seru Kiano tersenyum tipis, "Yohan itu sahabatku, aku seharusnya bersyukur kalau dia mau menemanimu keluar..."
"Tapi.." sergah Azalea cepat, kepala gadis itu sudah menggeleng tidak setuju, "Kenyataannya mas Kian marah, mas nggak usah denial deh"
Kiano tidak menjawab, hanya tatapan matanya begitu penuh selidik. Mengamati Azalea yang masih terlihat kesal.
"Bukankah Yohan menyukaimu?" tanya Kiano lirih, seketika Azalea tersentak, pupil matanya membesar.
"aku hanya tak ingin membuatmu ragu, Za. Kalau kalian saling menyukai, jangan sampai kamu bingung hanya karena rara"
Azalea terperangah, tak percaya menatap Kiano lekat tak berkedip. Bisa-bisanya pria yang berdiri di depannya ini sesantai itu.
Azalea menundukkan kepala, ada rasa sakit mendenyut di dalam dadanya. Ternyata Kiano benar-benar tidak memiliki perasaan apapun padanya, pria itu dengan sangat tenang menjelaskan alasan.
Kiano, wajah pria itu tetap datar, tanpa reaksi apapun. Dengan tenang pria itu menjelaskan mengapa Rania harus menjaga jarak darinya.
"Kamu menyukainya juga kan?"
Perlahan kepala Azalea terangkat, mendongak menatap mata Kiano. Azalea berusaha menelusuri mata itu, mencari sesuatu di sana, walau Azalea yakin tidak akan menemukan apa yang ia cari.
"Aku tidak ingin Rara jadi penghalang kebahagiaanmu Za, kamu juga berhak bahagia"
Azalea kembali merasakan denyutan nyeri itu, tatapan Kiano terasa begitu menusuk sakit hatinya.
"tapi aku ingin hidup bersamamu dan rara selamanya mas"
Pupil mata Kiano membesar, tanpa sadar mulutnya setengah terbuka, tak percaya mendengar ucapan Azalea barusan.
"Aku ingin menjadi istrimu seutuhnya mas"
Bersambung...
.