NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga, Didekap Sang Mafia

Dibuang Keluarga, Didekap Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arraziq

Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.

Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.

Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persidangan

Seminggu berlalu, udara Jakarta terasa agak sejuk diselimuti kabut tipis. Di dalam kamar utama mansion Alister, Aisha berdiri di dekat jendela kaca besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit. Jemarinya meremas pelan tepian kain gorden sutra. Hari ini adalah hari pertama persidangan terbuka di Pengadilan Negeri, momen penentuan di mana seluruh kejahatan Hendra akan dibongkar habis di hadapan majelis hakim.

"Masih merasa cemas?"

Sebuah suara bariton yang hangat memecah keheningan kamar. Devan melangkah mendekat dari arah ruang ganti, mengenakan kemeja putih bersih yang belum terkancing sepenuhnya di bagian kerah. Pria itu berdiri di belakang Aisha, melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang sang istri, lalu menyandarkan dagunya di bahu Aisha.

Aisha menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya pada dada bidang Devan yang selalu memberi rasa aman dan nyaman.

"Bukan cemas seperti dulu, Devan. Aku cuma... merasa aneh. Setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan kebohongan mereka, hari ini semuanya akan benar-benar diuji di depan hukum."

Devan memiringkan kepalanya, mendaratkan kecupan lembut di ceruk leher Aisha.

"Keadaan sudah berbalik, Aisha. Dulu mereka yang memegang kendali atas ketakutanmu, tapi hari ini kamu yang memegang kebenaran. Kamu tidak perlu membuktikan apa pun pada siapa pun, cukup berdiri tegak dan biarkan tim hukum kita menyelesaikan tugasnya."

Aisha berbalik dalam pelukan Devan, menatap manik mata hitam suaminya yang begitu dalam dan penuh kasih sayang. Jemari lentiknya terangkat merapikan kerah kemeja Devan.

"Kamu akan selalu ada di sampingku selama persidangan, kan?"

"Detik demi detik," janji Devan mantap. Pria itu menyatukan dahi mereka sejenak, membiarkan kehangatan napas mereka bertaut sebelum tersenyum tipis.

"Sekarang, bantu aku memakai dasi ini. Kita tidak boleh terlambat menuju pengadilan."

Gedung Pengadilan Negeri dipadati oleh puluhan jurnalis, juru kamera, dan pengamat hukum sejak pukul delapan pagi. Barisan pengawal berseragam hitam milik Alister Group sudah bersiaga membentuk barikade ketat di sepanjang koridor utama menuju ruang sidang VIP.

Saat mobil sedan mewah Rolls-Royce hitam milik Devan mendarat mulus di pelataran pengadilan, sorot lampu kilat kamera seketika menyambar bertubi-tubi.

Pintu mobil terbuka. Devan melangkah turun terlebih dahulu, merapikan jas hitam buatan penjahit Italia terbaiknya, lalu mengulurkan tangan untuk menyambut Aisha. Aisha turun dengan keanggunan yang sempurna, mengenakan setelan blazer dan rok panjang berwarna abu-abu yang elegan, dengan rambut disanggul rapi dan kalung berlian bunga matahari milik ibunya berkilau anggun di dada.

Sikap percaya diri dan tenang yang dipancarkan Aisha membuat para jurnalis berebut melontarkan pertanyaan, namun Devan dengan protektif merangkul pinggang Aisha, menuntunnya menembus kerumunan media tanpa hambatan.

Di dalam ruang tunggu khusus saksi korban, Asisten Arya dan Ketua Tim Pengacara Alister Group, seorang pengacara senior kenamaan bernama Bapak Herman, SH, sudah menunggu dengan tumpukan map berkas merah.

"Selamat pagi, Tuan Devan, Nona Aisha," sapa Bapak Herman dengan tundukan penuh hormat.

"Seluruh saksi ahli, bukti audit forensik keuangan dari auditor independen, serta dokumen autentik sertifikat kepemilikan tanah dan saham milik almarhum Aris Dirgantara sudah berada di meja panitera."

"Apakah ada celah bagi tim kuasa hukum Hendra untuk melakukan perlawanan balik?" tanya Devan tegas.

Bapak Herman tersenyum penuh percaya diri. "Hampir mustahil, Tuan Devan. Bukti tindak pidana pencucian uang, pemalsuan tanda tangan pada surat hibah, hingga rekaman percakapan saat Hendra berusaha menyabotase aset dua puluh tahun lalu sudah terkunci sangat rapat. Ditambah lagi, kesaksian mantan sekretaris pribadi Hendra yang telah kita amankan akan menjadi pukulan telak terakhir."

Aisha mendengarkan penjelasan itu dengan seksama. Dadanya bergetar pelan oleh kepuasan hukum yang sebentar lagi akan digenapi.

Tiba-tiba, pintu koridor luar terbuka. Petugas kepolisian mengawal tiga orang tahanan yang mengenakan rompi oranye dengan tangan terborgol menuju ruang sidang utama.

Hendra berjalan paling depan dengan langkah terseret-seret. Wajahnya yang dulu selalu memancarkan keangkuhan kini tampak kusam, keriput, dan matanya cekung menyiratkan keputusasaan yang dalam. Di belakangnya, Sinta, istrinya, terus menundukkan kepala seraya menangis sesenggukan, sementara Clara melangkah kaku dengan pandangan mata yang kosong, seolah jiwanya telah terguncang oleh kenyataan dingin sel tahanan.

Saat melewati pintu ruang tunggu saksi, mata Hendra sempat berpapasan langsung dengan mata Aisha.

Pria tua itu menghentikan langkahnya sejenak, bibirnya yang kering gemetar seolah ingin menyuarakan sesuatu. Ada raut memohon, penyesalan, sekaligus ketakutan yang teramat sangat di dalam matanya.

Namun Aisha tidak sedikit pun memalingkan pandangannya atau memperlihatkan kelemahan. Aisha menatap Hendra lurus-lurus dengan tatapan jernih, dingin, dan penuh martabat. Tidak ada dendam membara di sana, hanya ada kebenaran mutlak yang berdiri tegak tanpa cela.

Devan meremas pelan jemari Aisha di dalam genggamannya, berdiri pas di samping sang istri sebagai benteng kokoh yang tak tertembus.

Petugas kepolisian segera mendorong bahu Hendra untuk kembali berjalan. "Jalan terus, Terdakwa!"

Hendra terpaksa melangkah pergi, menyadari dengan kepahitan paling dalam bahwa gadis kecil yang dulu ditindas dan diabaikannya di rumah mewahnya itu, kini telah menjelma menjadi sosok wanita Alister yang tak tersentuh oleh rasa iba.

Suara ketukan palu hakim menggema kuat di dalam ruang sidang utama yang dipenuhi sesak oleh pengunjung.

Tuk! Tuk! Tuk!

"Sidang perkara pidana atas nama Terdakwa Hendra, Sinta, dan Clara, resmi dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum," tegas Ketua Majelis Hakim dengan wibawa tinggi.

Aisha duduk di jajaran kursi terdepan area pengunjung VIP, tepat di samping Devan yang memegang tangannya erat di bawah lipatan kain jas. Di seberang ruangan, di kursi pesakitan, Hendra dan keluarganya tertunduk layu di bawah paparan lampu kamera media dan tatapan menghakimi dari publik.

Bapak Herman berdiri di depan majelis hakim, mulai membacakan uraian tuntutan dan bukti forensik dengan suara yang mantap dan menggelegar. Lembar demi lembar kejahatan finansial, manipulasi hukum, dan kekejaman emosional yang dilakukan keluarga Hendra selama dua puluh tahun dibuka terang-benderang tanpa ada satu pun yang tersembunyi.

Saat bukti rekaman suara pengakuan Hendra diputar di ruang sidang, di mana Hendra secara terencana menyatakan niatnya untuk menghabiskan seluruh warisan Aisha dan membuangnya setelah dewasa, suasana ruang sidang mendadak riuh oleh cemoohan para pengunjung.

Hendra memejamkan matanya rapat-rapat, tak sanggup lagi menahan rasa malu yang menghancurkan sisa-sisa harga dirinya.

Aisha menggenggam balik tangan Devan dengan erat. Di dalam hatinya, Aisha berbisik pelan pada ingatan almarhum kedua orang tuanya

"Ayah... Ibu... kebenaran yang kalian perjuangkan akhirnya berhembus hari ini."

Persidangan maraton yang akan menentukan vonis hukum bagi para pelaku kejahatan masa lalu itu baru saja dimulai, dan Aisha siap mengawalnya hingga ketukan palu terakhir dibunyikan.

1
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!