Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sejak pagi buta, Shen Yunche tak henti-hentinya mengayunkan langkah. Perjalanan yang ditempuhnya sudah sangat jauh—Kota Qinghe bahkan telah melenyap sepenuhnya dari jangkauan pandangan. Jalan setapak yang semula lapang perlahan bertransformasi menjadi hutan belantara, hingga akhirnya menanjak membelah lereng pegunungan. Makin tinggi dia mendaki, makin menusuk pula hawa dingin yang menggerogoti kulitnya.
Yunche menghentikan langkah dan menyandarkan tubuhnya pada sebuah batu besar. Dia merogoh tasnya untuk mengeluarkan selembar peta kusam.
"Kalau menurut peta ini..." Gumamnya seraya memicingkan mata menatap jalur di depannya. "...Gunung Tianyuan masih berjarak dua hari perjalanan lagi."
Yunche menghela napas panjang. "Dua hari lagi?"
Dia menunduk, meratapi kedua kakinya yang mulai pegal, lalu kembali menatap kehalusan rute terjal di hadapannya.
"Kenapa juga aku tidak naik kereta kuda saja dari awal?" bisiknya heran pada diri sendiri.
Suasana hening sejenak. Yunche menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh, benar." Dia meringis tipis. "Lupa kalau aku miskin."
Tanpa pilihan lain, dia mengemasi petanya dan kembali mengayunkan langkah.
Malam pertama di perjalanan.
Yunche menyalakan api unggun kecil untuk mengusir dingin. Dia duduk bersila seorang diri di balik naungan pepohonan rindang. Santap malamnya teramat sederhana: sepotong roti kering, sedikit daging asap, dan seteguk air jernih.
Sembari menatap pendar lidah api yang menari-nari, entah mengapa ingatan Yunche mendadak melayang kembali ke Kota Qinghe—atau lebih tepatnya, kepada sesosok gadis. Gu Qingli.
Yunche mendesah pelan. "Jam segini... dia pasti sudah tidur."
Dia memotong sepotong daging kering, lalu bergumam lagi, "Atau jangan-jangan... dia masih marah padaku?"
Yunche mengerutkan keningnya, meracau pada diri sendiri, "Lagipula untuk apa aku memikirkannya?"
Dia menggigit daging kering itu sekuat tenaga. Keras. Sangat keras. Sembari mengunyah dengan susah payah, ingatan tentang percakapan terakhir mereka mendadak terngiang kembali di telinganya.
‘Aku pasti akan pergi mencarimu.’
Sebuah senyum tipis tanpa sadar terukir di bibir Yunche. Dia mendongak menatap gugusan bintang di langit malam. "Kalau dia sudah berkata begitu... dia pasti benar-benar akan datang mencariku."
Namun, senyuman itu tak bertahan lama. Bayangan saat setetes air mata jatuh menembus pipi Gu Qingli mendadak menghantam pikirannya. Senyum Yunche memudar seketika, berganti raut rasa bersalah yang dalam.
"Aku sudah membuatnya menangis..." Yunche menundukkan kepalanya seraya berbisik lirih pada angin malam, "Maafkan aku, Qingli."
Di tempat yang sangat jauh, di saat yang bersamaan.
Sesosok gadis juga tengah duduk menyendiri di dalam kamarnya di kediaman Keluarga Gu. Gu Qingli duduk bersandar di tepi tempat tidur dengan tatapan mata yang menerawang kosong.
Di jemarinya, tergenggam selembar kertas—surat yang sempat dia tulis untuk Yunche, namun tak pernah memberanikan diri untuk dikirimkan. Gadis itu membaca ulang setiap bait kata di dalamnya, sebelum akhirnya meremas kertas itu hingga menggumpal.
"Idiot..." gumam Gu Qingli kesal.
Dia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, menatap langit-langit kamar yang temaram. "Kenapa juga kau harus pergi sendirian?"
Gu Qingli memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik, mencoba mengusir bayangan pemuda itu dari benaknya. Namun tak lama, dia kembali membuka matanya dengan gusar.
"Lagipula... kenapa aku harus sepeduli ini padanya?!" cetusnya pada keheningan kamar.
Gu Qingli menarik selimut tebalnya hingga ke dada. "Dia kan cuma teman."
Hening.
"Cuma teman berlatih biasa."
Masih hening.
Kehabisan kesabaran dengan gejolak di dadanya sendiri, Gu Qingli mendadak menutupi seluruh wajahnya dengan bantal. "Argh!"
Dia mendudukkan tubuhnya kembali secara spontan. "Berisik sekali pikiran ini!"
Pelayan wanita yang berjaga di luar pintu kamar terperanjat mendengar teriakan itu. "Nona? Ada masalah di dalam?"
"Tidak ada apa-apa!" sahut Gu Qingli cepat.
Dia menatap pintu kamarnya sejenak, lalu perlahan merosot turun dan memeluk bantalnya erat-erat. "Shen Yunche..." bisiknya pelan. "...awas saja kalau kau lambat kembali."
Hari kedua perjalanan.
Yunche melangkah makin dalam membelah rimbunnya hutan liar. Jalur yang ditempuhnya kian terjal dan tak bersahabat, namun energi spiritual di sekitar area ini terasa kian pekat dan pekat. Yunche dapat merasakannya dengan jelas mengalir di udara.
Namun, ada satu hal aneh yang terjadi. Makin dekat langkahnya menuju Gunung Tianyuan, liontin hitam milik sang ayah yang tergantung di dadanya terasa makin hangat—bahkan mulai memanas.
Yunche menyentuh bagian dadanya seraya mengernyit bingung. "Ada apa dengan liontin ini?"
Pendar cahaya hitam tipis mendadak memancar dari balik permukaan liontin. Bersamaan dengan itu, sebuah dorongan kesadaran yang amat jelas terpatri di dalam pikirannya, menunjuk ke sebuah arah: Ke kiri.
Yunche menatap alur semak-semak tebal di sebelah kirinya. "Harus ke sana?"
Dia memutuskan untuk menuruti petunjuk gaib tersebut. Makin jauh dia menerobos semak, pendar cahaya hitam dari liontinnya kian terang menyilaukan. Hingga akhirnya, langkah Yunche terhenti tepat di tepi sebuah tebing curam.
Di bawah pijakan kakinya, membentang jurang yang teramat dalam dan tertutup halimun tebal.
Yunche menunduk, menatap ke dalam kegelapan jurang tersebut. "Jangan bilang kalau..." Dia menyapu pandangannya ke sekeliling area tebing yang buntu. "...aku harus turun ke bawah sana?"
Tiba-tiba, sebuah gema suara gaib berbisik samar tepat di samping telinganya: Shen Yunche.
Yunche tersentak dan berbalik cepat dengan posisi siaga. "Siapa itu?!"
Tak ada siapapun di sana. Hanya desir angin malam yang menyapu pepohonan.
Turunlah... gema suara itu berbisik lagi dari dasar jurang.
Yunche kembali menatap kedalaman jurang yang mencekam itu seraya menepuk dahinya. "Jawaban yang sungguh sangat membantu..."
Dia menatap jurang itu sekali lagi, menghela napas panjang seraya mengencangkan ikatan tas di bahunya.
"Baiklah kalau begitu," bisik Yunche mantap. "Mari kita turun."
Beberapa jam menuruni medan yang curam, Yunche akhirnya menginjakkan kaki di dasar jurang. Dia langsung terduduk lemas, menyandarkan punggungnya pada dinding batu dengan napas memburu.
"Kalau sampai di bawah sini ternyata tidak ada apa-apa..." Yunche mendongak menatap puncak tebing yang tertutup halimun, "...aku benar-benar akan marah."
Tiba-tiba, pendar cahaya lembut memancar dari kegelapan. Permukaan tanah mendadak bergetar pelan, membentuk sebujur jalan batu yang tersusun rapi menuju ke dalam gua bawah tanah.
Yunche bergegas bangkit berdiri. "Ini..."
Tanpa ragu, dia mengikuti alur jalan batu tersebut. Makin jauh melangkah masuk, makin banyak ukiran Kuno yang terpahat di dinding-dinding gua. Pahatannya memuat tulisan-tulisan purba yang asing dan tak mampu dipahami oleh Yunche.
Namun, tepat saat dia melintasi salah satu pahatan, liontin di dadanya mendadak bersinar terang. Seketika itu pula, deretan ukiran asing di dinding bergetar dan mentransformasikan wujudnya menjadi aksara yang bisa dia pahami.
Langkah Yunche terhenti seketika. "Aku... aku bisa membacanya?"
Dia melangkah mendekat, mengeja huruf demi huruf yang terukir di sana: Klan Shen.
"Klan Shen?" bisiknya heran.
Pendar cahaya berpindah, menyorot tulisan berikutnya yang baru saja muncul di sampingnya: Penjaga Gerbang Langit.
Kening Yunche bertaut tajam. "Penjaga Gerbang Langit? Apa maksudnya?"
Dia kembali berjalan menyusuri lorong gua hingga matanya menangkap satu ukiran nama yang teramat familier: Shen Tianyu.
Yunche mematung sepenuhnya. "Ayah?"
Nama sang ayah terukir amat dalam di dinding batu, dan tepat di bawahnya, tertera sebuah angka penanggalan: Tujuh Belas Tahun Lalu.
Dengan jemari bergetar, Yunche menyentuh pahatan nama tersebut. Seketika, gelombang memori terproyeksi keluar dari ukiran batu. Bayangan transparan seorang pria tampak berdiri di posisi yang sama—Shen Tianyu, ayahnya.
"Ayah..." panggil Yunche lirih, tenggorokannya mendadak tercekat.
Proyeksi memori itu bergerak pelan, lalu terdengar suara gema Shen Tianyu yang begitu hangat namun berwibawa: ‘Jika kau sudah berhasil sampai di tempat ini... artinya kau sudah cukup kuat, Yunche.’
Yunche menyunggingkan senyum pahit. "Aku bahkan belum kuat sama sekali, Yah..."
Proyeksi itu terus berbicara tanpa terdistraksi: ‘Yunche, hal pertama yang harus kau ketahui adalah... kau bukanlah seorang manusia biasa.’
Yunche mendesah pelan seraya menggelengkan kepala. "Ya... sudah kuduga akan ada pernyataan seperti ini."
Shen Tianyu dalam proyeksi itu melanjutkan: ‘Di dalam alir darahmu, bersemayam kekuatan dari dua garis keturunan yang amat agung.’
Yunche menyimak dalam hening, menunggu kelanjutan kalimat tersebut.
‘Separuh dari darahmu berasal dari Keluarga Shen... dan separuhnya lagi...’ Shen Tianyu menggantung kalimatnya sejenak. ‘...berasal dari Klan Langit.’
Yunche tersentak kaget. "Klan Langit?!"
Namun sebelum Yunche sempat mencerna informasi itu, pendar cahaya memudar dan proyeksi Shen Tianyu melenyap tanpa jejak.
Yunche panik setengah mati. "Tunggu dulu! Ayah!"
Tak ada sahutan. Lorong gua kembali hening.
"Hei! Jelaskan dulu padaku! Apa itu Klan Langit?!" serunya frustrasi.
Keheningan tetap membisu. Yunche menendang sebuah kerikil kecil di dekat kakinya hingga terlempar jauh. "Kenapa sih semua orang di dunia ini suka sekali memberikan informasi setengah-setengah?!"
Plak. Plak. Plak.
Gema suara langkah kaki yang teratur mendadak bergetar dari balik kegelapan lorong gua. Yunche refleks berbalik dan menarik pedangnya secara penuh. "Siapa di sana?!"
Tak ada suara balasan, tetapi derap langkah itu kian mendekat. Yunche mengencangkan genggamannya pada gagang pedang, pasang kuda-kuda siaga.
Hingga akhirnya, sosok itu muncul menembus kegelapan. Mata Yunche membelalak tak percaya. "Kau?!"
Sosok itu adalah pria berjubah hitam—orang misterius yang pernah menemuinya di Hutan Bambu Utara. Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. "Shen Yunche."
Yunche mengacungkan ujung pedangnya. "Jangan melangkah lebih dekat lagi! Siapa kau sebenarnya?!"
"Tenanglah," sahut pria itu santai. Dia perlahan menjatuhkan kain penutup wajahnya.
Yunche terpaku. Di balik penutup wajah itu, muncul paras seorang pemuda tampan berusia sekitar dua puluh lima tahun. Wajahnya rupawan, namun sepasang matanya memancarkan aura dingin yang mengintimidasi.
"Namaku..." Pria itu berdeham pelan. "...Shen Mo."
Kening Yunche berkerut. "Margamu Shen?"
"Ya."
"Kau dari Keluarga Shen juga?"
"Keluargaku jauh lebih tua daripada cabang keluargamu," sahutnya datar.
Yunche tak mengerti kerumitan silsilah tersebut. Shen Mo berjalan melewatinya begitu saja tanpa rasa takut, menghampiri dinding batu dan menyentuh ukiran nama Shen Tianyu.
"Jadi..." Shen Mo menatap pahatan itu. "...dia benar-benar meninggalkan jejak memori ini untukmu."
Yunche menoleh cepat. "Kau mengenal ayahku?"
"Tentu saja."
"Seberapa dekat kau mengenalnya?"
Shen Mo memalingkan kepala, menyunggingkan senyum misterius. "Dia adalah kakakku."
Yunche melongo lebar. "Lagi-lagi saudara Ayah?!"
"Hm?"
"Kenapa belakangan ini semua orang mendadak bermunculan dan mengaku sebagai saudara ayahku?!" omel Yunche gusar.
Shen Mo terkekeh pelan. "Aku bukan saudara kandungnya. Aku sepupunya."
Yunche menghela napas, mencoba menata pikirannya. "Berarti kau tetap bagian dari Keluarga Shen utama?"
"Ya."
"Lalu kenapa aku tidak pernah mendengar namamu atau keberadaan klan utama selama belas an tahun ini?"
Shen Mo menatap Yunche lurus-lurus, sorot matanya berubah teramat kelam. "Karena seluruh anggota Keluarga Shen utama sudah dibantai dan tewas belasan tahun lalu."
Yunche membeku seketika. "Apa katamu?"
"Satu-satunya keturunan yang tersisa dari garis darah itu..." Shen Mo menunjuk lurus ke dada Yunche. "...hanya kau."
Yunche mengepalkan tangannya rapat-raptat hingga buku-buku jarinya memutih. "Jelaskan semuanya padaku!"
Shen Mo berbalik dan melangkah masuk makin dalam ke lorong gua. "Ikut aku."
"Ke mana?"
"Ke tempat yang jauh lebih aman dari jangkauan para pemburu."
Yunche menahan langkahnya. "Atas dasar apa aku harus memercayaimu begitu saja?"
Shen Mo menghentikan langkahnya, menoleh sedikit seraya menunjuk liontin hitam yang tergantung di dada Yunche. "Aku adalah satu-satunya orang yang tahu cara membantumu membuka segel ketiga pada liontin itu."
Yunche terbungkam sepenuhnya, tak mampu membantah lagi.
apa gk syok tuh thor