Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASIH GENGSI
Pengakuan Refan saat dia capek dan menyalurkan hasratnya ke Cindy mengusik pikiran Pevita. Selepas pulang dari pertemuan itu, hati kecil Pevita tercetus dugaan bahwa Kala pun juga bisa seperti itu. Ia pun menghubungkan kejadian saat sang papa menikah, Pevita pikir sang papa akan setia dengan mama, tapi nyatanya menikah lagi. Saat itu, Pevita kecil marah, protes karena ada yang menggantikan posisi sang mama, tapi sekarang ia menyadari bahwa pemenuhan kebutuhan biologis laki-laki sangat berbeda dengan yang dirasakan oleh perempuan.
Pevita pun sengaja searching pengaruh dan efek bila seorang laki-laki sering menahan penyaluran, salah satunya emosi yang tidak stabil, apalagi yang sudah pernah merasakan berhubungan, sangat tidak bisa menahannya. Soal Kala, Pevita sungkan bertanya, tak mungkin dia mengajak diskusi hanya karena itu.
Sejenak, urusan keintiman terlupakan oleh Pevita karena perkuliahan, sudah masuk semester 5, tentu lebih sibuk. Banyak praktik, dia yang memilih jurusan tata boga, semakin terasah skill dalam hal memasak maupun memanage perdapuran. Sengaja tak memilih jurusan dokter seperti sang papa, karena ia tak mau terlalu sibuk. Dia ingin berdaya di rumah saja. Tak mau ikut orang.
Sedangkan Kala yang baru semester 1, tampak santai karena mata kuliah kebanyakan masih mata kuliah dasar. "Mau bareng?" tawar Kala yang sudah mencangklong tas laptop.
"Enggak, gue bawa mobil!" ujar Pevita yang masih memakai maskara.
"Oke, aku berangkat dulu!" pamit Kala, kemudian mendekati Pevita. "Gak usah menor-menor, jelek!" ucapnya sembari meninggalkan jejak kecupan di pipi sang istri.
Pevita langsung mendengus kesal, berani-beraninya suami bocil itu mencium pipi tanpa izin dulu, menyebalkan, tapi menggemaskan juga.
Papa hanya menggelengkan kepala saat melihat sang menantu berangkat menggunakan motornya. "Pev, yang benar saja dong, kamu berangkat pakai mobil, sedangkan suamimu naik motor. Berangkat bareng kek," tegur papa. Tante Lily hanya tersenyum sama. Meski Kala keponakannya, beliau tak mau ikut campur berlebihan. Biarkan dia menjalani keputusan yang ia ambil, toh tidak ada yang memaksa.
"Kita sepakat tak perlu menjalani pernikahan dengan ribet, kita masih belajar saling terima, Pa. Yang penting kita gak selingkuh satu sama lain!" jawab Pevita sembari mencomot roti panggang keju.
"Tuh mulut enteng banget bilang gitu ya Allah! Kasih tahu Bun, Kala suruh sabar sama Pevita!" pinta papa.
"Biarin aja kenapa sih, Pa. Anggap aja mereka masih PDKT, gak perlu banyak intervensi. Nanti kalau sudah cinta mati kan gak mau lepas, ya kan Mbak?" ledek Tante Lily, dan Pevita hanya mengangguk saja, tak mau berdebat dengan sang papa. Hari pertama kuliah, please harus jaga mood.
Pevita pun berangkat, sepanjang perjalanan menuju kampus, ia sedikit melamun dan pikirannya tertuju pada Tania. Sosok yang sempat mengirim sepatu ke rumah Kala, eh tadi pagi sempat menelepon sang suami, mana diangkat lagi. Pevita ingin bertanya ada hubungan apa di antara keduanya, gak mungkin adik kakak kan? Setahu Pevita, adik Kala masih kecil juga. "Awas saja kalau HTS-an, gue labrak tuh cewek," ancam Pevita. Sedikit aneh bukan, terkesan menyesal menikah dengan Kala, tapi kalau Kala didekati perempuan, Pevita langsung tantrum. Nih cewek maunya gimana sih?
Sampai di parkiran kampus, Pevita menyempatkan chat sang suami, mendadak panas saja teringat obrolan mama mertua dan Kala tentang Tania.
Jaga hati, teman lo udah ketahuan naksir, siapa kemarin yang telepon? Ayun ya namanya.
Kala tak langsung membalas, karena ia sudah masuk kelas dan mengobrol dengan teman laki-lakinya. Berasa masih seperti anak SMA, dan tak lama dosen pun datang. Sebagai mahasiswa baru di pertemuan pertama, sesi perkenalan dan pembuatan kesepakatan serta aturan saat di kelas pun dimulai.
Namanya anak teknik, mahasiswi hanya ada 8 orang dari 25 mahasiswa dalam satu kelas, mereka serasa diratukan oleh teman lainnya. Sehingga pemilihan penanggung jawab mata kuliah pun Kala yang handle. Kala juga berinisiatif membuat grup kelas, agar setiap ada perubahan jam mata kuliah tak perlu repot menghubungi satu per satu. Suami Pevita itu juga memberikan aturan dalam grup, salah satunya dilarang jualan atau spam dagangan, dan tidak ada pembullyan digital dan pornoaksi dalam bentuk apapun. Bercanda boleh asalkan tidak ada pelecehan atau tindakan kriminal lain.
Kala tak sempat scroll ponsel, dia sedang menikmati bangku kuliah. Mungkin masih semester 1 jadi, jumlah SKS dan mata kuliah, masih diatur oleh pihak jurusan.
Sedangkan Pevita yang sedang menempuh mata kuliah makanan nusantara, sedikit kesal karena beberapa kali melihat ponsel tidak ada pesan Kala yang masuk. "Sialan, ngapain juga gue tunggu balasan si bocil itu!" gumamnya kemudian memfokuskan diri pada teori masakan nusantara.
Sedang asyik mencatat, bisikan Bella membuyarkan konsentrasi Pevita. "Suami lo anak jurusan apa, Pev?" tanya Bella, salah satu teman dekat Pevita yang tahu pergantian suami Pevita hari itu.
"Teknik Informatika," jawab Pevita singkat.
"Wah, keren. Nanti kalau ada project marketing online, gue sekelompok sama lo ya. Bisa dong memanfaatkan suami lo buat garap web atau toko onlinenya!" tambah Bella mengingatkan Pevita, bahwa nanti semester 6 full praktik bisnis kuliner, baik offline maupun online, dengan sks setara dengan skripsi, harus bagus pastinya.
"Baru semester depan, lagian mengharapkan apa dari bocah cilik semester awal, emang dia bisa?," tolak Pevita, terpaksa meremehkan Kala, daripada mengiyakan ide Bella, bisa-bisa mereka dekat dengan sang suami. Ah, Pevita gak rela kalau ada yang cari perhatian sama sang suami.
Pevita pulang sekitar pukul 2 siang, rumah tampak sepi, hanya Mbak ART saja. Dio juga belum pulang, maklum sang adik mengikuti full day school.
Pulang jam berapa? Pevita kembali mengirim pesan pada sang suami. Agak jengkel karena pesan tadi pagi saja belum dibalas, dan pasti pesan kali ini juga tak dibalas. "Emang semester awal sesibuk ini? Kayaknya sengaja gak mau balas sih, sialan tuh bocil!" umpat Pevita, sudah ancang-ancang kalau Kala pulang bakal ngomel.
Kala sendiri pulang sebelum maghrib, tampak lelah sekali. Bahkan saat masuk kamar, tak menyapa Pevita. Setelah meletakkan tas, langsung mandi.
"Emang maba sudah sibuk banget ya, sampai gak balas WA?" sindir Pevita saat Kala keluar dari kamar mandi.
"Mbak chat aku?" tanya Kala dengan mengeringkan rambutnya.
"Basi," balas Pevita sewot. Kala hanya mengucap maaf, kemudian sholat maghrib dan membuka ponselnya. Pevita abai, dia masih fokus dengan laptop untuk mencari bahan masakan nusantara.
"Ayun gak macam-macam, cuma tadi aku merasa dia melihat cincin nikahku!" lapor Kala. Pevita tak menjawab. "Mbak cemburu?"
"Enggak!"
"Oh kirain!" jawab Kala santai.
nobar , pengajian nya mamah Dedeh