Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Cek Rp 5 Miliar
Pertanyaan Xavier tentang jantungnya tidak sempat menemukan jawaban, karena keesokan paginya Engkong sudah mengetuk pintu kamarnya pukul tujuh lewat lima belas.
"Xav, telepon Keira."
Xavier yang baru selesai mandi berhenti mengeringkan rambut. "Untuk apa?"
"Engkong mau pamit."
"Nanti aku sampaikan."
"Engkong mau pamit langsung."
Xavier menatap Engkong dari balik handuk. Lelaki tua itu sudah rapi dengan kemeja lengan panjang, tongkat di tangan, dan ekspresi yang tidak menerima penolakan. Koper kecilnya sudah berdiri di dekat pintu. Sopir menunggu di bawah. Semua tanda menunjukkan ia benar-benar akan kembali ke Jakarta, tetapi masih punya satu agenda terakhir.
Agenda itu bernama Keira.
"Engkong," kata Xavier pelan, "ini masih pagi."
"Anak baik bangun pagi."
"Dia sakit."
Engkong langsung menatap lebih tajam. "Sakit apa?"
Xavier sadar ia salah memilih kata. "Maksudku, dia sering lelah. Kuliahnya banyak."
"Makanya harus diberi perhatian."
Tidak ada jalan keluar.
Lima menit kemudian, Keira berdiri di depan pintu Xavier dengan kardigan tipis menutupi kaus tidur, rambut diikat asal, dan wajah yang jelas belum siap menghadapi keluarga konglomerat sebelum sarapan.
Xavier membuka pintu. Begitu melihatnya, ia berkata lirih, "Maaf."
"Aku kira kemarin sudah puncaknya."
"Aku juga."
Dari ruang tamu, suara Engkong terdengar ceria. "Keira? Masuk, Nak!"
Keira menarik napas dan melangkah masuk. Mochi langsung muncul, menggosok kakinya seolah pagi ini agenda resminya adalah memperkuat bukti bahwa Keira memang cocok tinggal di rumah itu.
"Pagi, Engkong," kata Keira sambil menunduk sopan.
"Pagi. Duduk sini." Engkong menunjuk sofa di sampingnya. "Engkong sebentar lagi pulang ke Jakarta. Tapi sebelum itu ada yang harus Engkong berikan."
Keira sempat mengira maksudnya oleh-oleh kecil. Kue, mungkin. Atau angpao simbolis karena keluarga Tionghoa memang kadang punya cara manis yang terlalu langsung.
Ia salah.
Engkong mengambil buku cek dari tas kulit tipis di sampingnya.
Xavier, yang sedang menuang air hangat, berhenti.
"Engkong."
"Diam. Ini urusan Engkong dengan calon cucu menantu."
Keira membeku pada kata `cucu menantu`, tetapi belum sempat memperbaiki karena Engkong sudah menulis sesuatu dengan pulpen hitam. Gerakannya tenang. Terlatih. Seperti orang yang menulis daftar belanja, bukan angka yang bisa membeli hidup baru bagi orang biasa.
Kertas itu disobek.
Engkong menyerahkannya pada Keira dengan dua jari.
"Ini hadiah perkenalan dari Engkong. Untuk cucu menantu."
Keira menerima karena refleks sopan. Matanya turun ke angka di atas cek.
Rp 5.000.000.000
Lima miliar rupiah.
Angka nolnya terlalu banyak. Otak Keira berhenti menghitung setelah beberapa detik. Tangannya mendadak dingin, tetapi kertas itu terasa panas seperti benda yang seharusnya tidak disentuh.
Lima miliar.
Dengan jumlah itu, ia bisa membayar seluruh biaya rumah sakit tanpa membuat Angela bolak-balik menyembunyikan wajah lelah. Ia bisa membeli obat tanpa membandingkan harga. Ia bisa mengganti laptop yang mulai sekarat, membayar semester, bahkan menyewa studio kecil untuk menggambar.
Ia bisa bernapas.
Justru karena itu, dadanya terasa sesak.
Uang itu bukan miliknya.
Hubungan ini bukan sungguhan.
Engkong tidak tahu bahwa gadis yang ia panggil calon cucu menantu sedang berdiri di atas kebohongan kecil yang dibuat untuk menenangkan hatinya. Ia tidak tahu bahwa Keira mendekati Xavier karena sebuah sistem absurd di Nokia tua, bukan karena kisah cinta yang bersih dan pantas diberi cek.
Keira mengangkat wajah pelan.
"Engkong," suaranya nyaris tidak keluar. Ia menelan ludah dan mencoba lagi. "Maaf. Saya tidak bisa terima."
Senyum Engkong tidak langsung hilang, hanya berubah bingung. "Kenapa?"
"Ini terlalu besar."
"Namanya juga hadiah dari Engkong."
"Justru karena dari Engkong, saya harus hormat. Tapi saya belum pantas menerima ini."
Xavier menatapnya.
Keira bisa merasakan tatapan itu, tetapi ia tetap memegang cek dengan kedua tangan, mengembalikannya ke arah Engkong.
Engkong tidak mengambil.
"Keira, ini bukan apa-apa."
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada angka di cek.
Bukan apa-apa.
Bagi keluarga Xavier, mungkin benar. Lima miliar bisa menjadi hadiah perkenalan, angka yang ditulis sambil duduk di sofa pagi hari. Bagi Keira, angka itu bisa mengubah seluruh hidupnya.
Perbedaan itu tiba-tiba berdiri di antara mereka seperti tembok kaca.
Keira memaksa senyum. "Bagi saya, ini sangat besar."
"Bagus kalau begitu. Bisa kamu simpan. Buat kuliah, buat belanja, buat apa saja."
"Saya tidak kekurangan sampai harus menerima uang sebesar ini dari Engkong."
Suara Keira pelan, tetapi ruang tamu langsung sunyi.
Ia tahu kalimat itu mungkin terdengar kaku. Mungkin bahkan tidak sopan. Tapi jika ia menerima, ia tidak tahu bagaimana bisa menatap wajahnya sendiri di cermin. Ia sedang berpura-pura sebagai pacar Xavier, tetapi ia tidak mau berpura-pura tidak punya harga diri.
Engkong memandangnya lama.
Xavier akhirnya bergerak. Ia meletakkan gelas air di meja, lalu duduk di sisi kursi, dekat Keira tetapi tidak menyentuhnya.
"Engkong," katanya dengan suara tenang, "kalau dia terima, nanti dia cuma suka Engkong, bukan aku."
Keira menoleh.
Xavier menatap Engkong dengan wajah datar yang sangat serius, seolah argumen itu masuk akal secara hukum.
"Aku sudah susah payah punya pacar. Jangan diambil pakai cek."
Satu detik.
Dua detik.
Engkong tertawa keras sampai tongkatnya bergeser di lantai.
"Dasar cucu nakal." Ia akhirnya mengambil kembali cek dari tangan Keira. "Takut kalah sama Engkong?"
"Dengan lima miliar, semua orang bisa kalah."
"Benar juga."
Keira menunduk, menahan napas yang baru terasa kembali. Ketegangan di bahunya pelan-pelan turun. Cek itu sudah tidak di tangannya, tetapi bekas dinginnya masih menempel di kulit.
Engkong melipat cek itu dan memasukkannya lagi ke buku cek. "Baiklah. Kalau sekarang tidak mau, Engkong simpan untuk nanti ya."
"Engkong," kata Keira, panik lagi.
"Nanti itu nanti. Jangan takut." Engkong tersenyum, lebih lembut dari sebelumnya. "Engkong cuma senang Xav akhirnya dekat dengan seseorang. Uang itu cara orang tua seperti Engkong bilang, selamat datang."
Keira tidak tahu harus menjawab apa.
Ia hanya menunduk. "Terima kasih sudah menerima saya dengan baik."
"Harus. Kalau Xav menyukaimu, berarti kamu pasti tidak sembarangan."
Xavier terdiam.
Keira juga.
Kata `menyukai` itu jatuh terlalu dekat dengan sesuatu yang belum mereka sepakati.
Setengah jam kemudian, mereka turun bersama ke lobi The Springs. Di depan pintu utama, mobil hitam mengilap sudah menunggu dengan sopir berdiri di samping pintu belakang. Bukan sekadar mobil mahal. Mobil itu seperti membawa udara Jakarta Selatan, kaca gelap, jok kulit, dan dunia yang tidak pernah Keira pelajari cara memasukinya.
Engkong memeluk Xavier singkat, lalu menepuk bahunya.
"Jangan terlalu dingin sama orang yang kamu sayang."
"Engkong."
"Iya, iya. Engkong pergi."
Lalu Engkong menoleh ke Keira. "Keira, kalau Xav menyebalkan, telepon Engkong."
Keira tersenyum kecil. "Saya belum punya nomor Engkong."
Engkong langsung menatap Xavier. "Berikan nanti."
Xavier menghela napas. "Iya."
"Bagus."
Engkong masuk ke mobil. Sebelum pintu ditutup, ia masih sempat mengangkat tangan pada Keira. Mobil itu bergerak keluar dari area The Springs, melewati satpam yang membungkuk sopan.
Keira dan Xavier berdiri berdampingan di lobi.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara.
Keira masih melihat ke arah mobil itu menghilang. Pagi di luar lobi cerah, tetapi dadanya terasa berat. Bukan karena Engkong jahat. Justru karena Engkong terlalu baik, terlalu mudah menerima, terlalu siap memberikan sesuatu yang tidak sanggup ia bayangkan.
"Keira."
Ia menoleh.
Xavier menatap wajahnya, kali ini tanpa nada bercanda. "Soal cek tadi, maaf. Aku nggak tahu Engkong akan melakukan itu."
"Aku tahu."
"Kalau kamu tidak nyaman..."
"Aku memang tidak nyaman." Keira tertawa kecil, tetapi suaranya rapuh. "Keluargamu... memang selalu begini?"
"Begini apa?"
Ia menatapnya, lalu mengangkat tangan seperti masih merasakan berat kertas cek.
"Kaya raya sampai menakutkan."
Xavier tidak langsung menjawab.
Keira menarik napas, mencoba membuat nadanya ringan. "Di keluargaku, kalau ada yang kasih hadiah perkenalan, paling mahal kue lapis legit. Itu pun masih dibahas tiga hari."
Sudut bibir Xavier bergerak tipis, tapi matanya tetap memperhatikan Keira.
"Engkong memang suka berlebihan."
"Lima miliar itu bukan berlebihan. Itu plot twist ekonomi."
"Kamu marah?"
Keira memikirkan jawabannya. Ia tidak marah pada Engkong. Ia juga tidak marah pada Xavier. Tapi ada sesuatu yang retak kecil di dalam dirinya: kesadaran bahwa dunia Xavier punya pintu-pintu yang terbuat dari uang, nama keluarga, dan mobil gelap di lobi. Dunia yang bisa tersenyum ramah, tetapi tetap membuat orang seperti Keira menghitung napas sebelum masuk.
"Nggak," katanya akhirnya. "Cuma... kaget."
"Kamu menolak dengan baik."
"Aku menolak sambil hampir pingsan."
"Tetap baik."
Keira menatapnya. Cara Xavier mengatakannya sederhana, tanpa menghibur berlebihan, justru membuat dadanya lebih tenang.
Mereka naik lift dalam diam. Di lantai 16, Keira berhenti di depan unitnya. Xavier di depan unit seberang.
"Terima kasih," katanya.
"Untuk apa?"
"Tadi. Kamu bantu cairkan suasana."
"Aku cuma tidak mau pacarku palsu direbut Engkong."
Keira hampir tersedak.
Xavier tampak sadar kalimatnya sendiri sedetik kemudian. Ia memalingkan wajah sedikit. "Maksudku, dalam konteks sandiwara."
"Iya," kata Keira cepat. "Konteks sandiwara."
Pintu masing-masing tertutup tidak lama setelah itu.
Di dalam apartemennya, Keira menyandarkan tubuh ke pintu dan mengeluarkan Nokia dari laci. Layar kecil itu sudah menyala.
`Nilai Replika meningkat signifikan.`
`Kedekatan sosial dengan target terkonfirmasi.`
Keira menatap pesan itu lama. Kalau bukan demi hidup, ia sungguh tidak ingin terus bermain di wilayah yang semakin lama semakin terasa nyata.
Masalahnya, saat mengingat Xavier berdiri di sampingnya, membelanya dari cek lima miliar dengan wajah datar dan kalimat konyol, dada Keira menghangat lagi.
Ia menutup mata.
Ia mulai menunggu kapan pintu seberang itu terbuka.