Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Roda Berputar
Beberapa hari setelah transaksi perdagangan resmi pertama berjalan sukses, suasana Desa Haruto kembali tenang dan damai. Di area bengkel, Brom menghabiskan waktu selama dua hari penuh hanya untuk memeriksa, merapikan, dan mengelompokkan seluruh material besi berkualitas tinggi yang dibawa oleh Roven. Batangan besi dipisahkan berdasarkan tingkat ketebalan dan jenisnya, paku-paku baja ditaruh di dalam kotak kayu khusus, dan engsel pintu serta perkakas disusun rapi di rak tersendiri.
Haruto, yang melangkah masuk ke bengkel untuk melihat progres kerja sang pandai besi, hanya bisa tersenyum simpul. "Kau benar-benar menikmati ini, ya, Brom."
Brom mengusap permukaan salah satu batangan besi mentah dengan penuh kelembutan, seolah-olah ia sedang menyentuh permata paling berharga di dunia. "Bagi seorang dwarf, Haruto... besi dengan kualitas semurni ini jauh lebih indah daripada batu permata mana pun di istana raja."
Haruto tertawa kecil mendengar jawaban khas para ras pandai besi itu.
Semenjak kedatangan pasokan besi baru, Haruto sempat memperhatikan aktivitas harian para penghuni desa. Ia melihat Fina dan Luna harus bolak-balik mengangkut potongan kayu bakar menggunakan tangan kosong, kelelahan setelah melakukan perjalanan berkali-kali dari tepi hutan ke halaman tengah.
Mengingat kembali sketsa alat yang sempat ia gambar di atas tanah beberapa malam lalu, Haruto mendatangi Brom dan bertanya apakah alat tersebut sudah bisa dikerjakan sekarang. Dengan seringai lebar, Brom menyatakan bahwa rancangan mekanis itu sangat sederhana dan bisa diselesaikan dalam waktu setengah hari.
Pekerjaan pembuatan alat angkut itu pun langsung dimulai. Haruto merancang kerangka utama menggunakan balok kayu pilihan, sementara Brom menempa poros roda serta as besi dengan presisi tinggi di atas landasan tempa. Keberadaan pisau-pisau baru berkualitas tinggi buatan Brom membuat proses memotong dan membentuk kayu berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan.
Seluruh Ras Kelinci turut ambil bagian membantu di sekitar bengkel. Mira dan Fira mengangkut balok kayu, Fina dengan sabar menghaluskan permukaan papan menggunakan serutan, dan Kaelin memastikan area kerja tetap bersih dari sisa serbuk kayu. Hanya Luna yang mondar-mandir sambil terus memberondong Haruto dengan pertanyaan penasaran.
"Haruto, kenapa rodanya cuma dipasang satu di depan?" tanya Luna polos. "Kalau pakai dua di kiri dan kanan, bukannya jauh lebih stabil?"
Haruto tersenyum sabar menjelaskan, "Kalau rodanya satu, alat ini bisa bermanuver dan berbelok dengan jauh lebih mudah di jalan sempit." Luna mengangguk-angguk kecil, meski dari ekspresinya ia belum sepenuhnya paham.
Menjelang siang hari, purwarupa gerobak dorong (wheelbarrow) beroda satu itu akhirnya selesai sepenuhnya. Untuk menguji fungsinya, Haruto menumpuk beberapa batu berat di dalam bak kayu gerobak, lalu mengangkat pegangannya.
Begitu ia mendorongnya ke depan, seluruh warga yang melihat langsung terbelalak kaget. Beban batu yang sebelumnya sangat berat dan melelahkan jika dipanggul kini bisa digeser dengan mudah berkat bantuan poros roda mekanis.
Brom mengangguk takjub, melipat tangan di dadanya. "Ide yang sangat sederhana... tapi kegunaannya luar biasa besar."
Namun, situasi mendadak berubah arah dalam waktu singkat. Begitu sesi uji coba selesai, Luna tiba-tiba meminta izin untuk mencoba menaiki alat tersebut. Haruto mengizinkannya, mengira gadis kecil itu ingin mendorongnya.
Alih-alih mendorong, Luna justru melompat masuk dan duduk meringkuk di dalam bak gerobak. "Hei, seru sekali! Dorong aku, Fina!" teriaknya riang.
Fina yang sigap langsung mendorong gerobak itu keliling halaman, membuat Luna tertawa kegirangan. Tak lama kemudian, Fira ikut mencoba duduk, dan dalam sekejap seluruh Ras Kelinci antri bergiliran menaikinya. Gerobak dorong pertama yang diciptakan untuk meningkatkan produktivitas desa itu mendadak beralih fungsi menjadi wahana permainan anak-anak.
Haruto hanya bisa memegang dahinya sendiri, menghela napas pasrah. "Bukan... bukan begitu cara pakainya..."
Brom tertawa terbahak-bahak melihat suasana yang meriah itu, sementara Elara yang berdiri di dekat pintu rumah tersenyum lembut, menikmati kehangatan tawa yang menghidupkan desa mereka.
Sore harinya, setelah puas dijadikan wahana bermain, gerobak dorong itu akhirnya digunakan sebagaimana mestinya. Kayu bakar, tumpukan batu, dan karung-karung hasil panen diangkut secara massal dengan efisiensi tinggi. Haruto menghitung ulang; pekerjaan yang biasanya membutuhkan empat kali perjalanan melelahkan kini bisa diselesaikan hanya dalam satu atau dua kali jalan saja. Efisiensi kerja desa melonjak drastis.
Malam harinya, ketika suasana desa mulai senyap dan yang lain beristirahat, Brom melangkah masuk ke dalam gudang penyimpanan utama. Matanya menyapu bersih setiap sudut ruangan yang kini penuh sesak oleh karung padi, karung kedelai, tumpukan buah apel segar, sayuran hijau, dan persediaan kayu rapi.
Ia berdiri terdiam cukup lama di tengah ruangan. Haruto, yang kebetulan hendak mengambil air minum, melihat sang pandai besi berdiri mematung di dalam gudang.
"Ada apa, Brom?" tanya Haruto bingung.
Brom menarik napas panjang, menoleh perlahan, lalu secara dramatis menjatuhkan diri berlutut di hadapan Haruto. "Haruto... aku punya satu permintaan besar."
Haruto mulai merasa tidak enak, mengira ada kerusakan fatal pada peralatan baru mereka. "Apa itu?"
Brom menunjuk isi gudang satu per satu dengan tangan gemetar. "Beras... buah-buahan... kayu... tong penyimpanan... air bersih..." Ia menatap Haruto dengan mata berkaca-kaca yang tampak hampir menangis. "Semua bahan dasar untuk membuat minuman terbaik di dunia ini sudah lengkap tersedia di sini... jadi, kenapa kita belum juga membuat alkohol?!"
Suasana di dalam gudang mendadak hening total. Beberapa Ras Kelinci yang kebetulan lewat melongok ke dalam, saling berpandangan dengan bingung. Luna mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan bertanya polos, "Alkohol itu apa?"
Brom menoleh pelan ke arah Luna, ekspresi wajahnya berubah seolah ia baru saja menyadari sebuah tragedi kemanusiaan terbesar. Ia menatap para gadis Ras Kelinci satu per satu. "Kalian... kalian semua... belum pernah mencicipi alkohol seumur hidup kalian?!"
para Ras Kelinci menggeleng bersamaan dengan kompak.
Brom mematung kaku. Beberapa detik kemudian, ia menjatuhkan seluruh tubuhnya tengkurap ke lantai gudang, meratap dramatis. "Kasihan sekali hidup kalian..."
Haruto hanya bisa berdiri terpaku, merasa dilema antara ingin tertawa terbahak-bahak atau menghibur sang pandai besi yang patah hati.
Malam itu, saat makan malam bersama, Brom menjelaskan panjang lebar mengenai arti penting alkohol bagi kaumnya. Bagi para dwarf, alkohol bukan sekadar minuman penghangat tubuh, melainkan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan mereka—disajikan saat perayaan panen, untuk menyambut tamu kehormatan, hingga sarana sakral mengenang keluarga yang telah tiada.
Haruto mendengarkan penjelasan itu dengan seksama. Setelah berpikir sejenak, ia akhirnya berkata, "Kalau memang itu bagian dari tradisi kalian... kita akan coba membuatnya."
Wajah Brom langsung berseri-seri seketika, matanya berbinar terang. Namun, Haruto segera melanjutkan, "Tapi, bukan sekarang. Buah Masih sedikit dan anggur kita belum ada. Kalau kita mau membuat minuman dengan kualitas terbaik, kita harus menyiapkan lahan dan menanam kebun buah baru terlebih dahulu dari nol."
Mendengar syarat itu, Brom mengangguk patuh tanpa protes sedikit pun. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di desa terpencil ini, ia tidak hanya memiliki hasrat untuk menempa besi, melainkan sebuah impian baru yang ingin ia wujudkan di tanah tersebut.
Sebelum beranjak tidur malam itu, Haruto berdiri sendirian di depan teras, menatap lembar sketsa denah desa yang ia gambar di atas tanah lapang. Dengan sebatang ranting, ia memperluas garis pagar kayu untuk mencakup area yang lebih luas, menambahkan petak sawah kedua, merancang lokasi kebun anggur baru, serta menderetkan pohon-pohon buah tambahan di sisi utara.
Lalu, setelah merenung sejenak, ia menambahkan gambar sebuah bangunan rumah kecil berukuran sedang yang terletak tidak jauh dari area bengkel.
Brom, yang kebetulan berjalan lewat untuk memeriksa perkakasnya, berhenti sejenak dan menatap gambar baru di tanah. "Rumah siapa yang kau gambar di sebelah bengkel itu?" tanya Brom heran.
Haruto menjawab dengan nada santai tanpa menoleh, "Rumahmu."
Brom terdiam membisu di tempat. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membalasnya. Namun, senyuman tipis yang perlahan tersungging di wajah keras sang pandai besi tua sudah lebih dari cukup untuk mewakili seluruh isi hatinya.
Desa itu tidak lagi sekadar tempat singgah untuk bertahan hidup; tempat itu kini telah resmi menjadi sebuah rumah yang sesungguhnya bagi setiap jiwa yang bernaung di dalamnya.