NovelToon NovelToon
Benang Merah Diujung Mimpi

Benang Merah Diujung Mimpi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / SPYxFAMILY
Popularitas:412
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

No Plagiat ❌


Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.

Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.

Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlahan mulai nyaman

Damian memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Aku tidak ingin menyantapmu, aku hanya ingin mengecek suhu tubuhmu.”

Wajah Valerie memerah seketika.

Damian menatapnya datar.

“Minum obatmu.”

“Istirahat.”

“Dan kurangi menghayal.”

Setelah mengatakan itu, Damian berbalik lalu berjalan keluar dari kamar. Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Valerie yang masih memegangi keningnya.

“Dasar om-om menyebalkan!”

Valerie mengusap keningnya sambil mendumel pelan.

“Awas saja kening ku tumbuh tanduk.”

Valerie terdiam sesaat.

Tatapannya beralih ke sofa di samping tempat tidur, ada selimut yang terlipat rapi di sana. Tanda bahwa Damian benar-benar menjaga dirinya sepanjang malam.

Untuk beberapa detik, Valerie tersenyum tipis. Meski pria itu dingin, kaku, dan suka menyebalkan. Setidaknya, masih ada seseorang yang perduli dengannya saat sakit.

Setelah selesai bersiap-siap, Valerie turun ke lantai bawah dengan langkah ringan.

Ia mengenakan blouse berwarna krem dipadukan dengan rok panjang sederhana. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, sementara wajahnya tampak lebih segar dibandingkan malam sebelumnya, walau masih sedikit pucat.

Begitu memasuki ruang makan, Damian yang sedang membaca dokumen di tangannya perlahan mengangkat pandangan. Tatapannya berhenti pada Valerie selama beberapa detik. Namun bukanya memuji, ekspresinya justru berubah.

“Mau kemana?” tanyanya datar.

Valerie berkedip bingung.

“Sarapan?”

Damian meletakkan dokumennya.

“Setelah sarapan?”

Valerie menarik kursi dan duduk.

“Mau ke kampus.”

Mendengar itu, Damian langsung menghela napas panjang.

“Tadi kamu tidak dengar, aku menyuruhmu istirahat.”

“Untuk hari ini kamu tidak usah pergi kekampus.”

Valerie mengernyit.

“Kenapa?”

“Aku sudah mengirim surat izin sakit ke kampusmu.”

Valerie membelalakkan matanya.

“Apa?!”

Damian berusaha tetap tenang.

“Aku mengirim surat cuti sakit selama satu minggu.”

“Dokter menyarankanmu beristirahat sampai benar-benar pulih.”

“Jadi aku mengikuti saran dokter.”

Valerie langsung meletakkan sendoknya.

“Kamu?!”

“Kenapa kamu tidak membicarakannya denganku dulu.”

Damian mengangkat sebelah alis.

“Membicarakan apa lagi?”

“Bukannya berterima kasih, kamu malah histeris melihatku.”

“Saat aku ingin mengecek suhu tubuhmu.”

“Kau sudah berpikir mesum duluan.”

Valerie mendengus kesal.

“Itu karena aku kaget.”

“Lagi pula satu minggu itu cukup lama!”

“Aku bisa mati karena bosan mengelilingi rumah ini.”

Damian menyeruput kopinya dengan santai.

“Jangan drama.”

Valerie menatapnya.

“Kamu!”

Damian meliriknya santai.

“Aku akan bekerja dari rumah selama kamu sakit.”

Valerie sedikit terkejut.

“Kamu bisa seperti itu?”

Damian mengangguk.

“Aku tidak mungkin melepas pasien yang liar sendiri dirumahku.”

Valerie memutar matanya.

“Kamu bilang aku apa?!”

Damian berusaha menahan senyumnya.

“Pasien liar.”

Valerie membuang muka dengan kesal.

“Aku tidak liar!”

Damian lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Lagipula, aku cukup kasihan padamu.”

Valerie mengernyit.

“Apa lagi sih, sekarang kasihan?”

Damian mengangguk santai.

“Iya. Aku lihat kamu jatuh sakit karena terlalu merindukan mantan kekasihmu.”

Valerie menatap Damian dengan bingung sekaligus bertambah kesal.

“Aku belum pernah pacaran.”

“Jadi jangan sok tau maupun sok akrab.”

Damian menatapnya datar.

“Lalu siapa Hazel.”

Valerie langsung membeku.

“Semalaman kamu mengigau.”

“Kamu terus memanggil nama Hazel.”

Damian menatap Valerie dengan wajah tanpa ekspresi.

“Jadi aku berasumsi dia adalah seseorang yang sepesial bagimu.”

Wajah Valerie langsung memerah.

“Sudah aku bilang, aku tidak pernah pacaran.”

Damian kembali mengambil dokumennya.

“Setelah sarapan, ingat minum obatnya.”

Valerie tidak menjawab, tangannya sibuk mengaduk buburnya.

Damian kemudian berdiri sambil membawa cangkir kopinya, lalu berjalan menuju ruang kerjanya. Meninggalkan Valerie yang masih duduk dengan wajah cemberut.

“Dia benar-benar menyebalkan.”

•●✿●•

Sore itu, Valerie menghabiskan waktunya di taman belakang mansion. Di bawah rindangnya pohon besar, ia duduk di kursi kayu sambil memegang buku sketsa kesayangannya.

Ujung pensilnya bergerak perlahan, menggambar hamparan bunga, ayunan, dan sebuah pohon yang begitu familiar baginya. Taman tempat Hazel selalu menunggunya.

Meski sudah beberapa hari berlalu, Valerie masih belum pernah memimpikan Hazel lagi. Hal itu membuat hatinya terasa kosong.

“Ternyata kamu pintar menggambar.”

Suara Damian tiba-tiba terdengar dari belakang.

Valerie menoleh.

Damian berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, menatap buku sketsa di pangkuannya.

“Iya. Dengan menggambar atau melukis, aku bisa menuangkan perasaanku pada goresan penanya.”

Damian mengangguk pelan.

“Keahlian yang cukup menakjubkan.”

Lalu ia melihat arlojinya.

“Kamu bersiaplah.”

Valerie mengernyit.

“Kemana?”

Damian menjawab dengan tenang.

“Tempat fitting baju.”

Valerie tampak bingung.

Damian melanjutkan.

“Satu minggu lagi kita mendapat undangan pernikahan.”

“Kita akan menghadiri resepsinya saja.”

“Kita perlu pakaian yang formal untuk menghadiri pestanya.”

Valerie menghela napas.

“Iya, aku anggap ini sebagai pengalaman baru untuku.”

Damian menatapnya datar.

“Kamu harus cepat menyesuaikan dirimu sebagai menantu keluarga Robert.”

Valerie terkekeh kecil.

“Baiklah, Tuan Damian.”

Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah butik eksklusif. Beberapa pegawai langsung menyambut kedatangan Damian dengan ramah.

“Selamat datang, Tuan Damian.”

“Kami sudah menyiapkan beberapa koleksi terbaru.”

Valerie dibawa menuju ruang ganti.

Gaun pertama yang dikenakannya berwarna putih dengan detail renda elegan.

Valerie keluar sambil sedikit memutar tubuhnya.

“Bagaimana?”

Damian hanya melirik sekilas.

“Kurang.”

Valerie menghela napas.

Gaun kedua berwarna merah marun.

“Terlalu mencolok.”

Gaun ketiga berwarna biru muda.

“Ganti.”

Gaun keempat berwarna emas.

“Terlalu berlebihan.”

Valerie menatap Damian dengan kesal.

“Kalau begitu, kamu saja yang masuk kedalam lalu pilihkan sendiri untukku.”

Damian menyesap kopinya dengan santai.

“Kamu harus memakainya terlebih dahulu, agar aku dapat menemukan yang cocok untukmu.”

Valerie mendecakkan lidah.

“Katakan saja kalau kamu senang melihatku susah.”

Damian hanya tersenyum tipis.

Setelah mencoba beberapa gaun lagi, Valerie akhirnya menemukan sebuah gaun panjang berwarna violet lembut. Warnanya anggun, potongannya sederhana tetapi elegan. Gaun itu membalut tubuh Valerie dengan sempurna, membuat kecantikannya terlihat semakin menonjol.

Valerie tersenyum kecil.

“Aku menemukan warna kesukaanku.”

Ia keluar dari ruang ganti.

“Bagaimana?”

Untuk pertama kalinya, Damian terdiam. Tatapannya terpaku pada Valerie.

Gaun violet itu membuat kulit Valerie tampak semakin cerah. Rambut panjangnya tergerai indah di bahu. Dan senyum kecil yang menghiasi wajahnya membuat Damian kehilangan kata-kata sesaat.

Valerie melambaikan tangan di depan wajahnya.

“Jangan terpesona dulu, cepat katakan!”

Pria itu tersadar.

“Hm?”

“Bagaimana?”

Damian berdeham pelan.

“Iya, cocok untumu.”

Valerie tersenyum senang.

“Cantik kan?”

Damian mengalihkan pandangan sejenak.

“Warnanya cocok untukmu.”

Pegawai butik tersenyum.

“Siapkan satu set.”

Pegawai itu tampak bingung.

Damian menunjuk setelan jas yang dipajang tidak jauh dari sana.

“Sesuaikan warna jas dan dasiku dengan gaun... ehem, istriku.”

Valerie terkejut mendengar ucapan Damian.

“Kanapa harus satu set?”

Damian tampak santai.

“Karena kita adalah suami istri.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!