Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah yang Berbeda
Pagi itu, Aula Masjid Al-Ikhlas dipenuhi puluhan jamaah yang mengikuti kegiatan penyuluhan kesehatan bertema "Menjaga Amanah Tubuh dalam Perspektif Islam."
Program tersebut merupakan hasil kerja sama Rumah Sakit Harapan Insani, beberapa klinik di kota, dan pengurus masjid setempat.
Di meja registrasi, panitia tampak sibuk membagikan brosur dan kartu pemeriksaan tekanan darah.
Rayyan berdiri di dekat layar proyektor sambil memeriksa susunan acara.
Seorang panitia menghampirinya.
"Dok, pemateri dari Klinik Arafah Medika sudah datang."
Rayyan menoleh.
"Silakan arahkan ke ruang persiapan."
Tak lama kemudian, Adzra memasuki ruangan sambil membawa tas berisi laptop dan beberapa lembar materi presentasi.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Rayyan tersenyum ramah.
"Terima kasih sudah datang."
"Terima kasih juga sudah mengundang."
"Klinik kami memang senang ikut kegiatan seperti ini."
Rayyan mengangguk.
"Saya memang yakin kamu akan cocok."
Adzra hanya membalas dengan senyum sopan.
Bagi dirinya, kegiatan penyuluhan seperti ini bukan sesuatu yang baru.
Sejak membuka Klinik Arafah Medika, ia beberapa kali menjadi pembicara di posyandu maupun pengajian kesehatan.
Namun kali ini skalanya lebih besar.
***
Acara dimulai setelah salat Dhuha.
Rayyan menjadi pemateri pertama.
Ia menjelaskan mengenai pentingnya deteksi dini penyakit hipertensi dan diabetes.
Penyampaiannya santai, diselingi humor ringan yang membuat jamaah beberapa kali tertawa.
Sesi berikutnya menjadi giliran Adzra.
Ia berdiri di depan peserta dengan tenang.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Suaranya lembut, tetapi jelas.
Hari itu ia membahas tentang pentingnya menjaga pola makan, mengatur waktu istirahat, dan memeriksakan kesehatan sebelum muncul keluhan berat.
Alih-alih menggunakan istilah medis yang rumit, Adzra memilih contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Para jamaah tampak antusias.
Beberapa bahkan mencatat poin-poin penting yang ia sampaikan.
Saat sesi tanya jawab dibuka, seorang bapak mengangkat tangan.
"Dok, kalau tekanan darah sudah normal, apa obatnya boleh dihentikan sendiri?"
Adzra tersenyum.
"Tidak, Pak."
"Tekanan darah yang normal sering kali justru karena obatnya diminum secara teratur."
"Kalau ingin menghentikan atau mengurangi obat, sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter."
Jawaban itu disambut anggukan para peserta.
Rayyan yang duduk di barisan depan memperhatikan dengan saksama.
Dalam hati ia mengakui satu hal.
Adzra memiliki kemampuan menjelaskan hal-hal yang rumit menjadi sangat mudah dipahami.
Itulah kemampuan yang tidak dimiliki semua dokter.
***
Menjelang siang, acara selesai.
Panitia mengajak seluruh pemateri berfoto bersama.
Salah seorang panitia berkata,
"Dok, senyumnya sedikit."
Rayyan tertawa.
"Kalau dokter terlalu serius nanti dikira habis jaga malam."
Suasana kembali dipenuhi tawa.
Adzra ikut tersenyum kecil.
Beberapa foto kemudian diunggah ke akun media sosial resmi Rumah Sakit Harapan Insani sebagai dokumentasi kegiatan.
Adzra tidak terlalu memperhatikan.
Begitu acara selesai, ia langsung berpamitan karena masih harus kembali ke klinik untuk praktik sore.
"Terima kasih, Kak Rayyan."
"Sama-sama."
"Semoga lain kali bisa bekerja sama lagi."
"Insyaallah, kalau jadwal memungkinkan."
Rayyan mengangguk.
"Hati-hati di jalan."
Adzra melambaikan tangan singkat sebelum masuk ke mobilnya.
Rayyan memperhatikan mobil itu hingga menghilang dari halaman masjid.
Bukan karena ada maksud tertentu.
Ia hanya merasa senang akhirnya menemukan rekan kerja yang memiliki visi yang sama tentang pelayanan kesehatan masyarakat.
***
Di tempat lain, pada waktu yang hampir bersamaan...
Ja'far sedang menyusun laporan kerja sama kegiatan sosial di kantor Safa Amanah Tour.
Ia membuka media sosial Rumah Sakit Harapan Insani untuk mencari dokumentasi kegiatan yang dapat digunakan sebagai referensi program kesehatan calon jamaah.
Beberapa foto kegiatan muncul di layar komputer.
Salah satunya memperlihatkan Adzra dan Rayyan berdiri berdampingan bersama para panitia.
"Mas Ghazi."
Ja'far memanggil dari ruangannya.
"Ada apa?"
Ghazi menghampiri.
"Rumah sakit mengadakan penyuluhan kesehatan."
"Sepertinya bagus untuk dijadikan referensi kalau nanti kita mengadakan manasik kesehatan."
Ghazi melihat layar monitor sekilas.
Tatapannya berhenti pada satu foto.
Adzra.
Ia mengenakan gamis putih dan jilbab hijau zaitun, tersenyum bersama para tenaga kesehatan lainnya.
Di sampingnya berdiri Rayyan.
Ghazi tidak berkata apa-apa.
Ia hanya membaca keterangan foto yang menjelaskan keberhasilan program penyuluhan tersebut.
"Lumayan ramai."
ucapnya singkat.
Ja'far mengangguk.
"Iya."
"Dokter Adzra ternyata jadi salah satu pemateri."
Ghazi kembali mengangguk.
"Bagus."
Hanya satu kata.
Namun setelah kembali ke ruang kerjanya, entah mengapa bayangan foto itu terus terlintas di benaknya.
Ia sadar...
Adzra sedang berkembang.
Kariernya semakin baik.
Lingkaran pergaulannya juga semakin luas.
Dan sebagai mantan suami...
Ia tidak memiliki hak sedikit pun untuk merasa keberatan.
Tetapi menerima kenyataan itu...
Ternyata jauh lebih sulit daripada yang selama ini ia bayangkan.
***
Ghazi menutup layar laptopnya perlahan.
Foto kegiatan penyuluhan itu masih terbayang jelas di benaknya.
Ia tidak iri pada keberhasilan Adzra.
Justru sebaliknya.
Ada rasa bangga yang diam-diam muncul melihat perempuan itu berhasil mewujudkan cita-citanya sebagai dokter yang bermanfaat bagi banyak orang.
Hanya saja...
Di dalam foto itu, Adzra tampak begitu nyaman berdiri di samping Rayyan.
Dan kenyataan sederhana itu cukup membuat dadanya terasa sesak.
"Mas?"
Suara Ja'far membuyarkan lamunannya.
Ghazi mengangkat kepala.
"Iya?"
"Kalau kerja sama penyuluhan seperti ini berhasil..."
"...bagaimana kalau Safa Amanah Tour ikut menjadi sponsor untuk kegiatan berikutnya?"
Ghazi berpikir sejenak.
"Itu ide yang bagus."
"Kegiatan seperti itu memang sejalan dengan program kesehatan calon jemaah."
Ja'far mengangguk semangat.
"Kalau begitu saya coba hubungi pihak rumah sakit minggu depan."
"Silakan."
Ghazi menjawab dengan tenang.
Tidak sedikit pun ia menyinggung nama Adzra ataupun Rayyan.
Baginya, keputusan mendukung kegiatan sosial memang murni untuk kepentingan perusahaan.
Dan ia tidak ingin perasaannya memengaruhi profesionalitasnya.
***
Sore itu, Klinik Arafah Medika kembali ramai.
Adzra baru saja menyelesaikan pemeriksaan seorang pasien lansia ketika ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari Rayyan.
Rayyan
Terima kasih sudah menjadi pemateri hari ini. Banyak peserta yang memberikan respons positif.
Adzra membaca pesan itu sekilas.
Lalu membalas.
Adzra
Alhamdulillah. Semoga ilmunya bermanfaat untuk masyarakat.
Tak lama kemudian, balasan kembali masuk.
Rayyan
Kalau tidak keberatan, bulan depan ada kegiatan serupa di kecamatan sebelah. Saya berharap Dokter bisa ikut lagi.
Adzra tidak langsung menjawab.
Ia membuka buku agenda yang berada di samping meja.
Bulan depan jadwal praktiknya memang cukup padat.
Namun kegiatan penyuluhan juga merupakan bagian dari misi yang selama ini ia bangun.
Setelah mempertimbangkan beberapa saat, ia akhirnya mengetik balasan.
Adzra
Insyaallah, kalau jadwal klinik memungkinkan saya akan ikut.
Rayyan segera membalas dengan ucapan terima kasih.
Percakapan mereka berhenti sampai di sana.
Tidak ada obrolan di luar urusan pekerjaan.
***
Menjelang Magrib.
Seluruh pasien sudah pulang.
Rina membantu membereskan ruang konsultasi.
"Dok."
"Hm?"
"Tadi penyuluhannya bagaimana?"
"Alhamdulillah lancar."
"Pesertanya banyak?"
"Cukup banyak."
Rina tersenyum.
"Bagus sekali."
"Dokter memang cocok jadi pembicara."
Adzra menggeleng kecil.
"Saya masih banyak belajar."
"Tapi saya senang kalau masyarakat mulai sadar pentingnya menjaga kesehatan sebelum sakit."
"Itu yang paling penting."
Rina mengangguk setuju.
Kemudian pandangannya tertuju pada kartu nama Rayyan yang masih terselip di sela buku agenda.
"Dokter Rayyan yang mengundang ya?"
"Iya."
"Beliau senior saya dulu."
"Hanya itu?"
Adzra mengangguk.
"Hanya itu."
Rina tertawa pelan.
"Kirain teman dekat."
Adzra ikut tersenyum.
"Dulu kami sama-sama sibuk jaga."
"Itu saja."
Jawaban itu terdengar ringan.
Namun cukup membuat Rina memahami bahwa hubungan mereka memang sebatas rekan profesi.
***
Sementara itu...
Di rumah, Siti Maryam sedang menyiram tanaman di halaman ketika Ghazi pulang.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Alhamdulillah, Ummi sudah mulai berkebun lagi?"
Siti Maryam tersenyum.
"Dokter Adzra bilang boleh beraktivitas."
"Asal tidak berlebihan."
Ghazi tersenyum tipis.
"Kalau begitu Ghazi tidak boleh melarang."
Siti Maryam meletakkan gembor air.
Lalu memperhatikan wajah putranya.
"Kamu sedang memikirkan sesuatu?"
Ghazi menggeleng.
"Tidak."
"Ibu yang melahirkanmu."
"Jangan kira Ummi tidak tahu."
Ghazi terkekeh pelan.
"Kelihatan sekali ya?"
"Sedikit."
Mereka duduk di bangku kayu di teras rumah.
Angin sore berembus pelan.
Beberapa saat keduanya memilih diam.
Hingga akhirnya Siti Maryam berkata lirih,
"Ghazi..."
"Iya, Mi?"
"Ummi ingin bertanya sesuatu."
"Tanya saja."
"Kamu masih sering memikirkan Adzra?"
Ghazi tidak langsung menjawab.
Tatapannya jatuh ke halaman yang mulai basah karena siraman air.
Lama sekali ia terdiam.
Sampai akhirnya ia mengembuskan napas pelan.
"Kadang."
Siti Maryam menggenggam tangan putranya.
"Itu wajar."
"Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar."
Ghazi tersenyum tipis.
"Bukan karena kami sering bertemu lagi, Mi."
"Lalu?"
"Karena setiap kali bertemu..."
"...Ghazi justru semakin sadar."
"Sadar apa?"
Ghazi menatap langit yang mulai berubah jingga.
"Kalau ternyata..."
"...Adzra berhasil menjadi perempuan yang dulu selalu dia impikan."
"Dia punya klinik."
"Pasien yang percaya kepadanya."
"Dan sekarang mulai dikenal banyak orang."
"Aku ikut bahagia."
"Benar."
"Tapi..."
"...di saat yang sama..."
"...aku sadar semua itu tidak lagi ada hubungannya denganku."
Siti Maryam terdiam.
Kalimat itu terasa begitu berat.
Bukan karena diucapkan dengan tangisan.
Justru karena diucapkan dengan senyum yang dipaksakan.
Beliau menepuk pelan punggung tangan Ghazi.
"Kalau memang Allah masih menyimpan jalan..."
"...tidak akan ada yang mampu menutupnya."
"Tapi kalau bukan..."
"...jangan biarkan penyesalan membuatmu berhenti menjadi hamba yang bersyukur."
Ghazi mengangguk pelan.
"Insyaallah, Mi."
Malam mulai turun.
Di dua tempat yang berbeda...
Adzra menutup buku agenda praktiknya setelah menambahkan jadwal penyuluhan bulan depan.
Sementara Ghazi menutup jendela kamarnya sebelum mengambil mushaf Al-Qur'an yang sudah beberapa hari terakhir selalu ia baca setiap selesai Isya.
Keduanya menjalani hidup masing-masing.
Masih di jalan yang berbeda.
Namun tanpa mereka sadari...
Allah perlahan sedang mempertemukan kembali langkah-langkah yang pernah terpisah.
Dan di balik semua itu...
Seseorang mulai menyimpan harapan baru.
Bukan Ghazi.
Bukan pula Adzra.
Melainkan dr. Rayyan, yang mulai menaruh rasa hormat dan ketertarikan kepada perempuan yang selama ini hanya ia kenal sebagai rekan sejawat.
Perasaan yang kelak...
Akan menjadi ujian terbesar bagi hati Ghazi.
— Bersambung —