Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Ko Kevin
"Nona Keira," kata Pak Ji dari ambang pintu. "Kevin Salim sudah tiba di gerbang compound."
Keira berdiri terlalu cepat sampai lututnya membentur meja kecil.
Rasa sakitnya tajam, tetapi tidak sempat ia hiraukan. Nama itu membuat seluruh pagi berubah. Ko Kevin bukan Natasha. Ia tidak datang untuk menusuk dengan kata anak panti. Ia datang dengan wajah yang dulu memberinya pekerjaan, kamar kecil, dan cara diperlakukan seperti manusia.
"Pak Darren tahu?" tanya Keira.
Pak Ji mengangguk. "Pak Darren sedang menemuinya di ruang kerja utama."
Keira hendak melangkah, tetapi Pak Ji menahan dengan satu kalimat.
"Pak Darren meminta Nona menunggu."
Menunggu.
Tentu saja.
Di rumah ini, orang-orang besar bicara lebih dulu. Orang kecil dipanggil setelah keputusan hampir selesai.
Di ruang kerja utama compound, dua laki-laki duduk berhadapan.
Kevin Salim mengenakan kemeja biru muda dan jas abu-abu. Ia tampak rapi tanpa berusaha terlihat berkuasa. Wajahnya lebih hangat daripada kebanyakan orang yang pernah duduk di depan Darren, tetapi pagi itu kehangatan itu tertahan oleh garis tegang di rahangnya.
Darren duduk di balik meja, jari-jarinya bertaut santai.
"Aku ingin bertemu Keira," kata Kevin.
"Kamu sudah datang sejauh ini hanya untuk mengatakan itu?"
"Aku datang karena adikku pulang dengan wajah seperti habis dipermalukan."
"Dia memang dipermalukan."
Kevin menatap Darren lebih tajam. "Keira bukan barang yang bisa kamu pindahkan sesuka hati."
Darren tidak berubah ekspresi. "Dia juga bukan milikmu."
Udara di antara mereka menipis.
Pak Ji berdiri di sisi ruangan, diam seperti perabot tua, tetapi telinganya menangkap setiap kata. Ia tahu percakapan ini bukan hanya tentang seorang perempuan dari Surabaya. Di balik kalimat-kalimat pendek itu ada kontrak kerja sama, saham, keluarga Salim, keluarga Hendrawan, dan dua pewaris yang sama-sama tidak suka kalah.
Kevin menarik napas.
"Kalau dia ingin pulang, aku akan membawanya."
"Tanyakan padanya."
"Kamu akan membiarkan dia menjawab?"
Darren menatapnya dingin. "Saya tidak perlu memaksa orang yang ingin tinggal."
Beberapa menit kemudian, Keira dipanggil ke Taman Utama.
Ia menemukan Kevin duduk di bangku panjang dekat pohon kamboja. Darren berdiri jauh di bawah bayangan koridor, tidak mendekat, tidak pergi. Pak Ji berada di antara jarak itu seperti garis pembatas yang sopan.
Kevin berdiri begitu melihat Keira.
"Keira."
Suara itu masih sama. Lembut. Tidak terburu-buru. Suara yang dulu bertanya apakah ia sudah makan, bukan karena sopan santun, tetapi karena benar-benar ingin tahu.
Keira menahan sesuatu di dadanya. "Ko Kevin."
Mata Kevin turun ke wajahnya, ke tubuhnya, ke cara ia berdiri. "Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan sederhana itu hampir membuat Keira ingin berbohong dengan terlalu cepat.
"Saya baik."
Kevin tersenyum kecil, tetapi matanya tidak ikut tersenyum. "Kamu selalu menjawab begitu kalau tidak mau membuat orang khawatir."
Keira menggenggam ujung bajunya.
Mereka duduk. Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara. Angin menggerakkan daun kamboja. Dari jauh, Keira bisa merasakan keberadaan Darren seperti dinding gelap di tepi pandangannya.
Kevin membuka suara lebih dulu.
"Kei, kamu mau ikut pulang?"
Nama panggilan itu jatuh lembut, membawa Surabaya, cafe kecil, kamar sempit, dan malam-malam ketika ia bisa tidur tanpa takut lemari makanan dikunci.
"Aku tidak akan memaksamu tinggal di rumah Salim," lanjut Kevin. "Tapi kalau kamu tidak mau berada di sini, aku akan membawamu keluar. Hari ini juga."
Keira menatap tangannya sendiri.
Rumah Salim berarti aman. Kevin tidak pernah memukul, tidak pernah memaki, tidak pernah menyentuh batas yang membuatnya takut. Ia pernah menjadi orang paling baik dalam hidup Keira.
Darren berbeda.
Darren tidak menjelaskan apa pun. Darren memindahkannya seperti keputusan bisnis. Darren jarang bicara. Darren membuat seluruh rumah menahan napas hanya dengan berjalan lewat.
Namun ketika Keira membayangkan meninggalkan compound sekarang, dadanya terasa seperti ada benang yang ditarik paksa.
Kolam Teratai.
Liontin Giok.
Suara dari dalam api.
Pria di kantor gelap dengan mata kosong.
Semua potongan itu belum punya bentuk, tetapi Keira tahu satu hal: jika ia pergi, sesuatu yang besar akan salah. Sesuatu yang mungkin tidak bisa diperbaiki.
Ia mengangkat wajah.
"Maaf, Ko Kevin."
Senyum Kevin menghilang pelan.
Keira memaksa dirinya melanjutkan. "Aku sudah memutuskan."
"Karena Darren?"
Keira diam.
Ia bisa saja menjawab iya agar semuanya terdengar seperti cerita cinta yang mudah dimengerti. Tapi itu tidak benar. Belum. Darren belum menjadi orang yang bisa ia sebut alasan dengan suara mantap.
"Karena aku harus tetap di sini," katanya akhirnya. "Aku belum tahu kenapa. Tapi aku tahu aku tidak bisa pergi sekarang."
Kevin menatapnya lama.
Di matanya ada luka yang rapi, luka milik orang yang cukup dewasa untuk tidak memaksa tetapi belum cukup kuat untuk tidak sakit.
"Dia tidak mudah," kata Kevin pelan.
"Aku juga tidak."
Kali ini Kevin tertawa pendek. Sedih, tetapi nyata.
"Itu benar."
Ia berdiri. Untuk sesaat, Keira mengira Kevin akan menyentuh kepalanya seperti dulu ketika ia berhasil membuat kopi tanpa terlalu pahit. Namun tangan Kevin berhenti di udara, lalu turun kembali ke sisi tubuhnya.
Batas itu membuat Keira lebih sakit daripada sentuhan.
"Jaga dirimu, Keira."
"Ko Kevin juga."
Kevin berjalan menuju koridor tempat Darren berdiri. Dua laki-laki itu saling berhadapan sebentar.
Keira tidak bisa mendengar semua kata mereka, tetapi ia melihat Kevin mencondongkan tubuh sedikit.
"Kalau kamu menyakitinya," kata Kevin rendah, hanya untuk Darren, "aku akan kembali."
Darren menatapnya tanpa berkedip. "Kalau saya menyakitinya, kamu tidak perlu menunggu diundang."
Kevin pergi setelah itu.
Mobil Salim keluar dari gerbang compound menjelang sore. Darren berdiri di dekat tangga utama, melihat mobil itu menghilang tanpa ekspresi. Keira berdiri beberapa langkah di belakangnya, tidak tahu harus merasa lega atau bersalah.
Malamnya, rasa bersalah itu berubah menjadi mimpi.
Keira berdiri di aula yang terbakar.
Kali ini semuanya lebih jelas. Asap menggigit matanya. Panas menjilat kulit. Di lantai, bayangan tubuh-tubuh tergeletak di antara pecahan kaca. Jauh di depan, pria itu berlutut sambil memeluk seorang perempuan yang tidak bergerak.
Keira tahu perempuan itu dirinya.
Pria itu mengangkat kepala.
Wajahnya penuh darah. Di jari tangannya ada cincin stempel berwarna gelap, tergores api, seperti lambang keluarga yang diperkecil menjadi kutukan.
Lalu Keira melihat matanya.
Merah.
Merah seperti bara yang hampir padam tetapi masih bisa membakar tangan.
Pria itu membuka mulut, memanggil namanya.
Kali ini Keira mendengarnya.
"Keira."
Ia terbangun dengan jeritan tertahan.
Kamar Sayap Giok gelap. Seprai di bawah tubuhnya basah oleh keringat dingin. Tangannya mencengkeram dada, seolah api tadi masih menyala di balik tulang rusuk.
Di telinganya, suara pria itu masih bergetar.
Dan mata merah itu tidak mau pergi.