NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~26

Zizan dan Dafa sudah terkapar pasrah seperti orang kekurangan oksigen, menunggu pesanan es jeruk mereka yang tak kunjung datang. Keduanya menyandarkan punggung di bawah pohon rindang tempat yang tadi sempat dijajah oleh Ares dan Andi.

"Mana sih si Ares? Lama banget! Enggak tahu apa kalau kita sudah kering kerontang begini? Ini kalau telat semenit lagi, kita bisa mati dehidrasi," gerutu Dafa sambil mengibas-ngibaskan kerah bajunya demi mengusir gerah yang sangat tidak karuan.

"Nyangkut di asrama putri kali," timpal Zizan asal. Mata pemuda itu terpejam, menikmati embusan angin sepoi-sepoi dan sandaran pohon yang mendadak terasa senikmat kasur hotel bintang lima.

Tepat saat tenaga mereka berada di titik kritis, batang hidung dua manusia yang dinanti akhirnya kelihatan juga.

"Nah, itu mereka! Hidup kita terselamatkan!" seru Dafa yang pertama kali menyadari kehadiran mereka.

Seketika Zizan membuka mata secepat kilat. Tatapannya berbinar, tidak sabar ingin segera menenggak cairan penolak dehidrasi tersebut.

"Woy, buruan! Jalan apa merangkak sih? Lama amat!" teriak Dafa tidak santai.

"Bentar kali! Sabar napa, bawa es empat gelas ini butuh keseimbangan tingkat dewa," balas Ares yang berjalan setengah menyeret kakinya.

"Sabar, sabar! Dari tadi kita sudah sabar sampai hampir lumutan!" Dafa langsung merebut gelas es jeruk dari tangan Ares tanpa permisi, lalu meminumnya seperti orang yang tidak pernah minum.

Andi menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Dafa. Ia kemudian menyerahkan satu cup es jeruk sisanya kepada Zizan yang sudah memasang wajah melas paling menderita sedunia.

"Tadi itu ada drama sebentar di koperasi, makanya agak lama," keluh Ares yang langsung ambruk, mengambil posisi duduk setelah kelelahan berdiri.

Mereka berempat akhirnya duduk melingkar, menikmati segarnya es jeruk di bawah pohon yang rindang. Suasana mendadak adem.

"Drama apaan? Ada yang berantem rebutan cilok?" tanya Zizan, mendadak jiwa keponya meronta-ronta.

"Lebih seru dari itu," Ares memajukan badannya, mulai bergosip.

"Pertama, si Zia tiba-tiba datang mengantar pesanan Rani. Terus, biasalah, ada sesi basa-basi tidak penting yang menyita waktu Rani buat melayani kita. Nah, ini gongnya, Zan! Pas Zia mau balik badan...

Beg!!!

Terjadi pertemuan tidak sengaja antara dua insan." Ares menjeda kalimatnya sengaja membuat efek dramatis.

"Dan mendadak, suasana di koperasi langsung berubah kayak di Kutub Utara. Dingin, tegang, mencekam!"

Uhuk! Uhuk!

Dafa tersedak es jeruk yang sedang ia sesap. "Siapa, Res? Jangan bikin penasaran deh!"

"Zia... sama Mas Charis! Jeng jeng jeng!" bisik Ares dengan ekspresi heboh.

Uhuk! Uhuk! Uhuk!

Zizan yang sedari tadi mendengarkan dengan tenang, mendadak tersedak paling keras sampai-sampai air es jeruknya menyembur ke depan.

"Weh, Zan! Biasa saja dong! Kenapa airnya jadi pindah ke muka gua begini sih?" protes Andi panik sambil mengusap wajahnya yang mendadak ketumpahan berkah es jeruk.

"Eh, maaf, maaf! Refleks, sumpah enggak sengaja," kilah Zizan panik, wajahnya memerah karena malu sekaligus batuk.

Dafa dan Ares yang melihat reaksi berlebihan Zizan seketika menautkan dahi. Keduanya saling melempar kode rahasia lewat kedipan mata. Dafa yang tangannya paling gatal langsung menyiku lengan Zizan dengan senyum penuh arti.

"Zan, kenapa kagetnya sampai seheboh itu? Hati aman? Apa jangan-jangan... ada yang terbakar cemburu nih?" ejek Dafa dengan nada naik-turun yang menyebalkan.

Muka Zizan makin merah padam, persis kepiting rebus. "Ngg... enggak ya! Apaan sih? Kagak! Siapa juga yang cemburu? Orang cuma batuk biasa kok!" jawabnya gugup, bicaranya bahkan sampai belepotan.

"Alah, mulut sama hati tidak sinkron banget, Bos! Lidah bisa bohong, tapi muka merahmu itu tidak bisa menipu detektif seperti kita," ledek Ares bersemangat, memanasi suasana.

Sementara Zizan hanya bisa menunduk, pura-pura sibuk mengaduk es jeruknya yang sudah tinggal es batu demi mengalihkan pembicaraan. Melihat tingkah salah tingkah sahabatnya itu, tawa ketiga temannya pun pecah seketika, memecah kesunyian di bawah pohon rindang siang itu.

***

Di sisi lain, Zia berjalan menyusuri jalan dengan langkah cepat. Perasaannya sudah hancur lebur setelah pertemuan tak terduga dengan Charis. Saat melewati dapur, ia hanya melintas begitu saja. Ia mengabaikan panggilan hangat teman-temannya yang sedang memasak. Fokusnya hanya satu yaitu kamar. Sepasang matanya sudah terasa panas, tak lagi mampu membendung desakan air mata yang siap tumpah.

Sinta, yang menyadari perubahan drastis pada wajah Zia, spontan mendongak. Langkah kaki Zia yang terburu-buru dan kepalanya yang tertunduk dalam langsung membuatnya khawatir.

"Kenapa lagi, Zia?" batin Sinta cemas. Sebagai sahabat, ia tahu betul seberapa dalam luka yang sedang dialami gadis itu.

Tepat di depan pintu kamar, pertahanan Zia runtuh. Setitik air mata lolos membasahi pipinya. Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu, menyelinap masuk, lalu segera menguncinya dari dalam. Ia butuh bersembunyi. Ia tidak ingin dunia melihat betapa hancurnya ia saat ini.

Zia menyandarkan punggungnya di balik pintu. Tubuhnya merosot perlahan seiring dengan tangisnya yang pecah. Tersengal-sengal menahan sesak yang mendadak menghimpit dada. Ia menekuk lutut, menundukkan wajahnya di sana, mencoba meredam suara tangis agar tidak terdengar sampai luar. Namun, dadanya justru semakin terasa teremas hebat.

"Ya Allah... kenapa rasanya sesakit ini?" ratap Zia dalam hati. Ia mendongak, menyandarkan kembali kepalanya ke pintu dengan lemas. Air matanya mengalir semakin deras.

"Sakit sekali, ya Allah... hamba tidak kuat..."

Dalam kegelapan kamar, ingatan Zia justru mengkhianatinya. Memori-memori indah bersama Charis berputar dikepalanya, menghadirkan senyum pria itu yang dulu pernah menjadi dunianya. Namun, sedetik kemudian, keindahan itu lenyap, digantikan oleh kenyataan paling menyakitkan yang merobek hatinya, bayangan saat ia melihat Charis bersanding dengan Salsa, serta selentingan kabar kemesraan mereka yang belakangan ini kerap menusuk telinganya.

Setiap kenangan itu datang, seolah ada belati yang sengaja diputar di atas lukanya yang belum mengering. Zia meremas dadanya sendiri, merutuki hatinya yang masih saja mencintai orang yang telah menghancurkannya.

Sementara itu di dapur, kegelisahan Sinta semakin menjadi-jadi. Ia berulang kali menatap jam dinding. Sudah hampir setengah jam, dan Zia tidak kunjung kembali.

"Ah, ini pasti ada yang tidak beres," gumam Sinta cemas.

Ia segera menghampiri Rara yang baru saja selesai merapikan barang belanjaan dari pasar. "Eh, Ra, tadi waktu di pasar ada kejadian apa? Kamu sama Zia ketemu siapa?" tanya Sinta menyelidik.

Rara menghentikan aktivitasnya, tampak mengingat-ingat. "Nggak sih, tapi tadi dia habis dari pasar mampir ke koperasi antar titipannya Rani, nggak tau deh kalau di koperasi ketemu siapa"

Mendengar jawaban Rara, Sinta semakin bingung. Tanpa membuang waktu, ia langsung berlari menyusul ke kamar untuk memastikan kondisi sahabatnya.

Sesampainya di depan kamar, Sinta mencoba memutar kenop pintu, namun tidak ada hasil. Pintu itu terkunci rapat. Suasana sepi yang mencekam dari dalam kamar membuat firasatnya semakin memburuk.

Tok, tok, tok!!

"Zi? Kamu di dalam?" panggil Sinta lembut, menyembunyikan kepanikannya.

Tidak ada jawaban. Sunyi.

"Zia..." panggil Sinta sekali lagi, kini ia menempelkan telinganya ke pintu, mencoba menangkap suara sekecil apa pun dari dalam.

"Kamu di dalam, kan? Tolong jawab aku, Zi."

Di dalam kamar, Zia terdiam. Ia menghapus air matanya dengan kasar, mencoba menata napasnya yang masih patah-patah. Ia berdeham beberapa kali, mengumpulkan sisa-sisa kekuatan agar suaranya tidak terdengar sekacau hatinya. "Iya, Sin. Aku... aku di sini," jawab Zia parau. Suaranya terdengar begitu tipis dan bergetar.

Mendengar suara Zia yang teramat lemas dan serak, hati Sinta terasa diiris. Ia tahu sahabatnya sedang berpura-pura kuat di balik pintu itu.

"Zi, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Sinta memastikan. Nadanya melunak, penuh empati. Ia tidak ingin memaksa masuk jika Zia memang butuh ruang, tetapi ia juga tidak tega meninggalkan Zia sendirian dalam kehancuran.

Zia kembali tertegun. Pertanyaan Sinta justru membuat tenggorokannya kembali tercekat. Air matanya kembali luruh tanpa suara. Ia tidak bisa berbohong bahwa ia sedang baik-baik saja, karena nyatanya, jiwanya sedang mati rasa.

"Zi... buka pintunya, ya? Izinkan aku menemani kamu," bujuk Sinta, ketukan pintunya melambat, berubah menjadi ketukan yang menenangkan.

"Aku... aku mau sendiri dulu, Sin. Maaf," bisik Zia dari balik pintu, suaranya nyaris hilang tertelan isak yang tertahan.

Sinta memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas berat. Ia mengerti, luka seperti ini terkadang butuh disembuhkan dalam kesunyian.

"Ya sudah kalau begitu. Menangislah kalau itu buat kamu lega, Zi. Tapi ingat, jangan merasa sendiri. Kalau butuh apa pun, atau butuh pelukan, panggil aku ya? Aku ada di luar," ucap Sinta tulus.

"Iya, Sin. Terima kasih..."

Sinta melangkah menjauh dari pintu dengan perasaan yang ikut kacau dan diselimuti kekhawatiran mendalam.

Sementara di balik pintu yang tertutup itu, Zia kembali menekuk lututnya, membiarkan dirinya kembali tenggelam dalam badai air mata.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!