Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 020
Saat Air Mata Jatuh
Tangannya tidak gemetar.
Tapi dadanya sakit.
Seraphina menatap kedua tangannya di pangkuan, seolah rasa sakit itu seharusnya terlihat di sana. Jari-jarinya bersih. Kukunya rapi. Tidak ada wine, tidak ada bekas cengkeraman, tidak ada bukti bahwa kata-kata Kevin tadi sempat menyentuh bagian paling tua dari dirinya.
Reynard tidak langsung menyalakan mobil.
Ia duduk di sampingnya, diam, membiarkan suara hujan tipis di kaca depan mengisi ruang yang tidak bisa diisi orang lain. Sopir tidak ada. Malam ini Reynard menyetir sendiri.
"Sera," panggilnya pelan.
"Aku baik-baik saja."
Kalimat itu keluar terlalu cepat.
Reynard tidak membantah. "Aku tahu kau bisa terlihat baik-baik saja."
Seraphina menoleh, ingin menjawab tajam, tetapi tidak menemukan kata. Matanya bertemu mata Reynard, dan di sana tidak ada rasa kasihan. Tidak ada penilaian. Tidak ada desakan agar ia menangis supaya terlihat lebih manusiawi.
Yang ada hanya seseorang yang menunggu.
Itu lebih sulit dihadapi daripada hinaan Kevin.
"Jangan tanya apa yang kurasakan," katanya akhirnya.
"Baik."
"Jangan bilang aku harus melupakannya."
"Tidak akan."
"Jangan bilang dia tidak penting."
Reynard diam sebentar. "Dia tidak penting bagiku. Tapi apa yang dia katakan menyakitimu. Itu penting."
Seraphina memalingkan wajah ke jendela.
Lampu kota bergerak di kaca. Di luar, beberapa orang keluar dari lobby hotel sambil tertawa, seolah malam mereka hanya berisi musik dan minuman. Dunia selalu bisa berjalan normal di luar luka seseorang.
"Aku benci karena dia tahu kata mana yang harus dipakai," ucap Seraphina pelan.
Reynard mendengarkan.
"Anak haram. Hiburan. Asal-usul. Semua kata itu bukan baru. Aku sudah mendengarnya sejak pertama kali menginjak rumah Lim. Tapi tadi..." Ia menarik napas, merasa tenggorokannya menyempit. "Tadi kau berdiri di sana."
Reynard menatapnya.
"Dan tiba-tiba aku tidak hanya marah karena dihina." Seraphina menutup mata. "Aku marah karena kau harus mendengarnya."
Reynard bergerak sedikit, tetapi tidak menyentuhnya sebelum ia bertanya, "Boleh aku memegang tanganmu?"
Pertanyaan itu membuat pertahanan Seraphina retak lebih jauh.
Ia mengangguk.
Reynard mengambil tangannya. Hangat. Mantap. Tidak menggenggam terlalu kuat, tidak menariknya mendekat, hanya menahan seperti memberi tahu bahwa kalau ia jatuh, ada sesuatu yang tidak akan ikut runtuh.
"Aku lebih marah karena kau pernah mendengarnya sendirian," kata Reynard.
Seraphina menoleh.
Kalimat itu menghantamnya dengan cara yang tidak ia duga.
Selama ini orang selalu mengomentari seberapa kuat ia berdiri. Tidak ada yang bertanya berapa kali ia harus berdiri sendirian sebelum terlihat kuat.
Matanya panas.
Ia menunduk cepat, tetapi sudah terlambat. Satu tetes air mata jatuh ke punggung tangan Reynard.
Tubuh Seraphina langsung menegang.
"Maaf," bisiknya, refleks yang terlalu lama tertanam.
Reynard melepas sabuk pengamannya, lalu meraih tubuh Seraphina dengan hati-hati. "Jangan minta maaf."
"Aku tidak..."
"Tidak apa-apa."
Ia menarik Seraphina ke dalam pelukannya.
Awalnya Seraphina masih kaku. Bahunya tegang, tangannya menggenggam kain jas Reynard seperti tidak tahu apakah boleh bertahan di sana. Lalu Reynard mengusap punggungnya pelan, ritmenya tetap, tidak memaksa.
"Tidak ada kamera di sini," katanya. "Tidak ada keluarga Lim. Tidak ada Kevin. Tidak ada yang perlu kau buktikan."
Kalimat itu membuka sesuatu.
Seraphina menangis tanpa suara keras. Hanya napas yang patah, air mata yang jatuh semakin cepat, dan tubuh yang akhirnya mengizinkan dirinya lelah. Ia tidak menangis karena Kevin benar. Ia tidak menangis karena merasa kalah.
Ia menangis karena untuk pertama kalinya di Jakarta, seseorang tidak menunggu ia hancur dulu baru percaya bahwa ia terluka.
Reynard memeluknya lebih erat.
"Aku benci mereka," bisik Seraphina, suaranya teredam di dada Reynard. "Tapi kadang aku lebih benci diriku karena masih sakit mendengarnya."
"Jangan."
"Aku seharusnya sudah kebal."
"Tidak ada yang wajib kebal terhadap luka yang terus diulang."
Seraphina memejamkan mata. Air matanya membasahi kemeja Reynard. Ia akan malu nanti. Mungkin besok ia akan berpura-pura tidak menangis sebanyak ini. Namun malam ini, di dalam mobil yang berhenti di sudut parkir hotel, ia membiarkan dirinya bersandar.
"Waktu pertama kali datang ke rumah Lim," katanya setelah napasnya sedikit lebih teratur, "aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan menangis di depan mereka. Kalau aku menangis, mereka menang."
Reynard tidak menyela.
"Lalu setiap kali Yolanda bicara, setiap kali Papa memakai kata keluarga, setiap kali orang menatapku seperti aku noda, aku selalu menahan. Lama-lama aku pikir itu berarti aku kuat."
Ia tertawa kecil, pahit dan basah.
"Ternyata hanya lelah."
Tangan Reynard di punggungnya berhenti sebentar, lalu kembali bergerak lebih pelan.
"Kau kuat," katanya. "Tapi kau tidak harus membayar kekuatan itu dengan sendirian."
Air mata Seraphina jatuh lagi. Kali ini bukan karena kata-kata Kevin. Bukan karena Yolanda, bukan karena Hendrawan, bukan karena meja makan keluarga Lim yang selalu terasa seperti ruang sidang.
Ia menangis karena Reynard tidak memintanya membuktikan apa pun.
Ia menangis karena seseorang akhirnya melihat bahwa berdiri tegak sepanjang waktu juga bisa menyakitkan.
Reynard tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak membuat janji kosong. Ia hanya tetap di sana, satu tangan di punggungnya, satu tangan menjaga kepalanya agar tidak terbentur pintu.
Setelah beberapa lama, tangis Seraphina mereda.
Ia menarik napas gemetar. "Kemejamu basah."
"Aku punya banyak."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban yang praktis."
Ia tidak langsung menyalakan mobil. "Kau mau pulang ke apartemen, atau ke Teluk Mutiara?"
Seraphina mengangkat mata. Pertanyaan sederhana itu membuatnya terdiam lagi. Setelah semua orang malam ini mengambil sikap atas dirinya, Reynard tetap memulai dari pilihan yang paling kecil.
"Kalau aku bilang ingin duduk di sini sebentar?"
"Kita duduk."
"Kalau aku tidak ingin bicara?"
"Aku diam."
"Kalau aku ingin kau tetap di sini?"
"Aku tetap di sini."
Seraphina menggenggam saputangan di tangannya. "Kau selalu memberi jawaban yang membuatku sulit menjaga jarak."
"Aku sedang mengejarmu. Aku memang tidak ingin jaraknya terlalu jauh."
Kali ini, Seraphina tidak membantah sama sekali.
Seraphina hampir tertawa, tetapi yang keluar hanya napas patah. Reynard mengambil saputangan dari saku jas, lalu menyeka pipinya dengan gerakan perlahan.
"Lihat aku," katanya.
Seraphina menurut.
Mata Reynard masih gelap, tetapi bukan lagi dingin. Ada sesuatu yang tajam di sana, namun diarahkan bukan kepadanya. Kepada semua orang yang membuatnya harus meminta maaf karena menangis.
"Aku tidak bisa menghapus apa yang sudah mereka katakan," ucap Reynard. "Aku juga tidak akan memintamu pura-pura tidak sakit."
Ibu jarinya menghapus sisa air mata di sudut mata Seraphina.
"Tapi mulai sekarang, siapapun yang membuatmu menangis, akan berurusan denganku."