Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 023
Saingan Baru
"Kopi," katanya rendah, "itu istriku."
Kiara tidak tahu siapa yang harus ia lihat lebih dulu, Rayhan atau anjing besar yang masih menahan ujung sandalnya.
"Kak Rayhan," bisiknya panik, "jangan bicara begitu ke anjing."
"Kenapa?"
"Karena dia mungkin mengerti."
"Bagus kalau begitu."
Kopi mengedip sekali. Wajahnya tetap tenang, tetapi tubuhnya tidak bergerak dari posisi menjaga. Ia tidak menggonggong. Tidak menggeram. Hanya menaruh dirinya di tengah, seolah tugas barunya setelah pensiun adalah memastikan Rayhan tidak mendekat sembarangan.
Rayhan berjongkok pelan. "Kopi, lepas."
Kopi menatapnya.
"Lepas."
Baru pada perintah kedua, kaki depan Kopi mundur dari sandal Kiara. Namun begitu Rayhan mengulurkan tangan untuk mengecek perban, Kopi menurunkan kepala ke dekat lutut Kiara lagi.
Kiara menahan tawa.
Rayhan menoleh. "Lucu?"
"Tidak." Bibirnya jelas berkhianat. "Aku cuma merasa Kopi punya pendapat."
"Pendapatnya salah."
"Dia baru pulang, jangan diajak debat."
Rayhan memeriksa perban dengan gerakan terlatih. Jari-jarinya tidak menyentuh area luka terlalu keras. Kopi akhirnya diam, tetapi matanya tetap mengawasi wajah Rayhan. Kiara melihat itu dan tiba-tiba dadanya melunak.
Dulu, rumah ini terlalu luas untuk dua orang yang saling menjaga jarak. Hari ini, bahkan lantai ruang keluarga terasa penuh karena satu napas berat dari Kopi.
"Perbannya aman," kata Rayhan.
"Terima kasih."
Rayhan berdiri. "Makan siang."
"Aku masih harus kirim draft ke Bu Ratna."
"Kamu bisa kerja setelah makan."
"Kenapa semua kegiatan hidupku harus lewat izin makan?"
"Karena kalau tidak, kamu lupa."
Kiara ingin menyangkal, tetapi ponselnya bergetar. Pesan dari Bu Ratna.
Bu Ratna:
Kiara, jangan lupa makan. Galih bilang kamu suka lupa kalau sudah menulis.
Kiara menatap layar dengan ngeri.
Rayhan melihat wajahnya. "Apa?"
"Kak Rayhan menyebarkan pengaruh buruk ke kantorku."
"Aku belum bicara dengan Bu Ratna."
"Berarti Galih."
"Berarti kantor kamu sehat."
Kiara mengirim stiker menangis ke Cici, lalu berdiri dengan pasrah. Kopi langsung ikut mengangkat kepala.
"Tidak, Kopi," kata Rayhan cepat. "Tunggu."
Kopi berhenti.
Kiara melihatnya kagum. "Dia benar-benar menunggu."
"Karena dia dilatih."
"Aku juga pernah dilatih sekolah dua belas tahun, tapi tetap susah menunggu."
"Itu jelas."
"Kak Rayhan hari ini jahat sekali."
"Aku lapar."
Makan siang pertama bersama anggota keluarga baru ternyata tidak sederhana. Kiara duduk di kursi, Rayhan meletakkan nasi dan ayam suwir di depannya, sementara Kopi berbaring di alas dekat sofa dengan mata mengikuti setiap gerakan.
Setiap Kiara menurunkan tangan untuk mengambil ponsel, Rayhan mengetuk meja.
Setiap Rayhan mengetuk meja, Kopi mengangkat kepala.
Akhirnya Kiara menaruh sendok. "Kalian berdua kerja sama?"
Rayhan menuangkan air putih. "Aku dan Kopi sama-sama menjaga pasien."
"Aku bukan pasien."
"Semalam kamu hampir pingsan di tangga."
"Itu sudah berlalu."
"Baru dua belas jam."
Kopi menggonggong pendek, seperti ikut memberi bukti.
Kiara menunjuknya. "Kopi, jangan cepat berpihak."
Rayhan berkata, "Dia pintar."
"Dia oportunis."
Namun ketika Kiara mengambil ayam suwir dan mencampurnya dengan nasi, Kopi menatap dengan mata terlalu serius. Kiara langsung lemah.
"Dia boleh makan ayam?"
"Makanan khususnya sudah ada," jawab Rayhan. "Tidak boleh sembarangan."
"Sedikit?"
"Tidak."
"Dia menatapku."
"Itu teknik interogasi."
Kiara menunduk ke arah Kopi. "Kamu dengar? Kak Rayhan menuduhmu polisi juga."
Ekor Kopi bergerak satu kali.
Rayhan menaruh potongan pepaya di piring Kiara. "Makan itu, bukan mengajak tersangka bicara."
Sore harinya, ruang keluarga berubah menjadi kantor darurat. Laptop Kiara berada di meja rendah. Rayhan duduk di sofa tunggal dengan tablet kerja dan beberapa berkas yang dikirim Aldi. Kopi tidur di dekat kaki Kiara, napasnya berat namun tenang.
Kiara mengetik bagian pembuka feature Reza dengan jauh lebih lancar daripada malam sebelumnya. Sesekali ia melirik Kopi, memastikan kaki kanannya tidak tertekan. Sesekali Rayhan melirik Kiara, memastikan matanya tidak terlalu dekat ke layar.
Telepon Rayhan berdering.
"Ya, Di."
Kiara tetap mengetik, tetapi telinganya otomatis menangkap suara Aldi yang bocor dari speaker.
"Bang Ray, senior betah di rumah?"
"Terlalu betah."
"Wah, sudah ambil alih?"
Rayhan menatap Kopi yang kepala besarnya hampir menyentuh sandal Kiara. "Sedang mencoba."
"Saya sudah duga. Senior itu kalau sudah pilih orang, susah pindah."
"Kirim laporan saja."
"Siap. Tapi Bang, kalau senior lebih nurut sama Mbak Kiara, jangan sakit hati."
Rayhan menutup telepon.
Kiara pura-pura tidak mendengar. Jarang sekali pura-pura gagal secepat itu.
"Jangan senyum," kata Rayhan.
"Aku tidak senyum."
"Pipimu berbeda pendapat."
Kiara menunduk ke laptop, bahunya bergetar kecil. Kopi membuka mata, lalu menaruh dagunya di punggung kaki Kiara.
Rayhan langsung berhenti mengetik.
"Kopi."
Kiara ikut berhenti. "Apa?"
"Kepalanya."
"Dia cuma tidur."
"Di kaki kamu."
"Kak Rayhan, dia anjing. Dia tidak punya niat jahat."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa?"
Rayhan diam dua detik terlalu lama.
Kiara menatapnya, pelan-pelan sadar. "Kak Rayhan... cemburu?"
"Tidak."
"Sama Kopi?"
"Dia menekan kaki kamu yang kecil."
"Kak Rayhan baru saja menyebut kakiku kecil untuk menghindari kata cemburu."
Rayhan menutup tablet. "Kopi, pindah."
Kopi tidak pindah.
Kiara menutup mulut, tetapi tawa tetap keluar dari sela jarinya.
"Kopi," suara Rayhan turun satu tingkat.
Kopi akhirnya mengangkat kepala, lalu bergeser setengah jengkal. Bukan menjauh. Hanya cukup agar tidak dianggap melanggar perintah.
"Dia pintar sekali," bisik Kiara.
"Terlalu pintar."
"Mungkin dia tahu aku butuh teman kerja."
"Aku di sini."
Kalimat itu pendek, tetapi membuat jari Kiara berhenti di atas keyboard. Ia menoleh. Rayhan tidak terlihat seperti sedang menggoda. Matanya tetap pada Kopi, rahangnya tenang, tetapi nada suaranya turun ke tempat yang lebih pribadi.
Aku di sini.
Bukan hanya untuk mengawasi makan.
Bukan hanya karena janji pada Kevin.
Kiara menelan ludah. "Aku tahu."
Mereka kembali diam beberapa menit. Suara ketikan Kiara, gesekan kertas Rayhan, dan napas Kopi mengisi ruang keluarga. Untuk pertama kalinya, diam di rumah itu tidak terasa canggung.
Menjelang malam, Kiara mengambil foto tanpa sadar. Di layar ponselnya, Kopi tidur di bawah meja, Rayhan duduk di sofa dengan berkas, dan setengah piring pepaya ada di samping laptopnya. Tidak ada pose. Tidak ada senyum ke kamera. Hanya kehidupan yang terjadi.
Ia mengirim foto itu ke Cici.
Cici membalas hampir seketika.
Cici:
Ki.
Cici:
Lo sadar nggak, itu udah kayak foto keluarga kecil?
Kiara menatap kalimat itu lama sekali.
Rayhan mengangkat kepala. "Apa kata Cici?"
"Tidak apa-apa."
"Kiara."
Ia hendak mengunci layar, tetapi Rayhan sudah berdiri di belakangnya. Bayangannya jatuh di atas ponsel. Kiara menahan napas.
Rayhan membaca pesan itu.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Di layar, foto itu tampak biasa saja, tetapi justru itu yang membuat dada Kiara sesak. Tidak ada yang sedang berpura-pura. Rayhan tidak sadar wajahnya ikut masuk sedikit dari samping, hanya garis rahang dan lengan yang memegang berkas. Kopi terlihat damai di bawah meja. Piring buahnya masih setengah penuh.
Namun Cici benar.
Itu terlihat seperti rumah yang punya keluarga.
Lalu Rayhan berkata pelan, "Kirim fotonya ke aku juga."