NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Supercar Bukan Mainan?

"Bang! Ini Lamborghini! Lamborghini beneran!"

Fajar menempel di pagar pembatas area VIP Surabaya Auto Show seperti anak kecil di depan akuarium raksasa. Di balik tali hitam, Lamborghini Aventador SVJ berwarna kuning berdiri di bawah lampu, rendah, tajam, dan terdengar mahal bahkan saat mesinnya mati. Di sebelahnya, Ferrari SF90 Stradale merah tampak seperti panah yang lupa diluncurkan.

Raka menarik kerah jas Fajar pelan. "Jar, kamu belum jadi bagian dari display. Mundur sedikit."

"Kalau aku foto di dalamnya boleh?"

"Kita belum masuk area VIP."

"Kalau beli boleh masuk?"

"Itu rencana."

Seorang sales berambut licin mendekat. Name tag-nya: Mas Agung. Senyumnya langsung terbentuk saat melihat jam tangan Raka, tetapi matanya turun ke sepatu Fajar dan kembali dingin. Ia memilih nada ramah yang dipakai untuk mengusir orang tanpa terlihat mengusir.

"Selamat siang. Area ini khusus calon pembeli terverifikasi. Kalau Bapak mau lihat model reguler, di hall sebelah ada promo cicilan."

Fajar membuka mulut. Raka lebih dulu bicara.

"Saya mau Aventador SVJ dan SF90."

Mas Agung berkedip. "Maksud Bapak ingin melihat brosur?"

"Membeli."

Mas Agung tersenyum lebih lebar, kini jelas sedang bermain. Ia sengaja mengangkat suara agar pengunjung sekitar mendengar.

"Aventador SVJ ini sekitar lima belas miliar, belum termasuk pajak dan pengiriman. Ferrari SF90 Stradale sekitar delapan belas miliar. Totalnya kira-kira setara apartemen mewah. Supercar bukan mainan, Pak."

Beberapa orang tertawa pelan.

Raka menatap dua mobil itu, lalu Mas Agung.

"Dua-duanya. Sekarang."

"Maaf?"

"Lamborghini Aventador SVJ dan Ferrari SF90 Stradale. Dua-duanya. Saya bayar penuh. Anda siapkan faktur, pajak, asuransi, dan pengiriman. Kalau proses Anda lambat karena terlalu sibuk menjelaskan harga, saya minta sales lain."

Mas Agung memucat setengah tingkat. Ia mencoba tetap tenang, meminta kartu identitas, lalu menghubungi manajer. Lima menit kemudian, wajahnya berubah total ketika transaksi pertama disetujui.

[Mimpi: total harga sistem Rp33.000. Legalitas kendaraan dan pajak mengikuti nilai dunia luar.]

Saat transaksi kedua masuk, beberapa pengunjung benar-benar berhenti merekam mobil dan mulai merekam Raka. Mas Agung memegang tablet dengan tangan yang tidak lagi stabil.

"Pak Raka, mohon maaf atas ketidaknyamanan tadi. Kami akan berikan layanan prioritas penuh."

"Anda boleh minta maaf setelah dokumen lengkap."

Fajar mengelilingi Lamborghini sambil berbisik, "Bang, kalau ini mimpi, aku rela tidak bangun seminggu."

"Jangan lecetkan mimpi itu."

Kerumunan makin padat. Dari sisi lain area VIP, seorang pemuda berjas putih masuk bersama tiga orang. Ia membawa kunci Porsche 911 GT3 RS di jari telunjuk, memutarnya seperti mainan. Wajahnya tampan, muda, dan terlalu terbiasa dilihat.

"Heboh sekali," katanya. "Ternyata karena ada orang beli dua supercar sekaligus."

Mas Agung cepat menunduk. "Pak Reno."

Reno tersenyum kepada Raka, tetapi matanya menilai. "Beli memang bisa. Tapi belum tentu bisa nyetir."

Raka tidak terpancing. "Mobil dibuat untuk dikendarai."

"Benar. Tapi supercar bukan Fortuner yang dipakai antar belanja. Salah injak, orang bisa jadi berita duka."

Fajar bergumam, "Berita duka mahal."

Reno mendengar dan tertawa. "Temanmu lucu. Begini saja. Sabtu di Sirkuit Surabaya. Saya bawa Porsche saya. Kamu bawa Lamborghini itu. Kita lihat siapa yang layak punya mobil cepat."

Suasana langsung memanas. Orang-orang bersorak, sebagian hanya ingin konten. Mas Agung tidak berani bicara. Ia tahu tantangan seperti ini bisa menjual lebih banyak berita daripada brosur.

Raka menatap Reno.

Mimpi menampilkan data cepat.

[Reno: pewaris keluarga kelapa sawit. Pembalap amatir berpengalaman. Risiko fisik: menengah. Peluang reputasi: tinggi.]

"Kalau saya menang?" tanya Raka.

Reno mengangkat bahu. "Saya akui di depan semua orang bahwa kamu bukan cuma anak baru yang bisa belanja."

"Kalau kamu menang?"

"Kamu akui supercar memang bukan mainan dan serahkan satu putaran kehormatan pakai mobilmu."

Fajar berbisik cepat, "Bang, lu bisa nyetir supercar nggak? Ini bukan Fortuner."

Raka belum pernah mengendarai mesin seperti itu. Ia tahu. Mimpi juga tahu.

Tapi Toko Sistem terbuka di benaknya.

[Item tersedia: Refleks Tingkat Menengah. Efek: kecepatan reaksi meningkat tiga kali selama 48 jam. Harga: 3.000 poin. Disarankan latihan sebelum penggunaan kompetitif.]

Raka tersenyum.

"Sabtu," katanya kepada Reno. "Kita bicara di garis akhir."

Reno tertawa puas dan pergi, seolah tantangan sudah menjadi kemenangan.

Di parkiran khusus, ketika Lamborghini akhirnya boleh dinyalakan untuk pemindahan, suara mesinnya membuat dada Fajar bergetar.

"Bang, serius. Kita harus latihan. Aku belum siap jadi legenda yang mati di tikungan."

Raka bersandar pada kap mobil baru, melihat Porsche Reno keluar dari area pameran.

Mas Agung sempat mencoba menyelamatkan wajah dengan menawarkan paket aksesori yang tidak diminta. Raka membiarkannya bicara sampai selesai, lalu meminta daftar item satu per satu. Ketika terlihat ada biaya tambahan yang sengaja dinaikkan, ia menunjuk angka itu.

"Hapus. Saya membeli mobil. Saya tidak membayar hukuman karena Anda malu."

Manajer showroom langsung mengambil alih. Ia meminta maaf, memberikan paket servis resmi, dan menegur Mas Agung di depan tim kecil. Raka tidak meminta sales itu dipecat. Ia hanya meminta semua komunikasi selanjutnya lewat manajer. Mas Agung berdiri di samping Ferrari dengan wajah seperti orang yang baru menyadari komisinya hampir mati karena mulut sendiri.

Reno melihat semua itu sebelum menantang. Itulah yang membuat tantangannya bukan sekadar pamer mobil. Ia tidak suka melihat orang baru masuk area yang selama ini terasa milik lingkarannya, membeli dua simbol sekaligus, lalu mengatur sales seperti pemilik panggung. Tantangan di sirkuit adalah caranya mengembalikan hierarki.

Raka memahami itu. Karena itu ia menerima. Kalau ia menolak, semua orang akan berkata ia hanya bisa menggesek kartu. Kalau ia menang, suara seperti Mas Agung akan kehilangan alasan berikutnya.

Sebelum pulang, Fajar memotret nomor rangka dan dokumen kedua mobil. "Bayu bilang semua barang mahal harus punya jejak. Kalau besok ada yang bilang mobil ini sewaan, kita lempar faktur ke wajahnya. Secara legal, tetap berada di bawah kontrol showroom."

"Bagus. Kamu makin berbahaya."

"Aku belajar dari orang mahal."

Mas Agung akhirnya menyerahkan dua kunci seremonial dengan kedua tangan. Ia mencoba tersenyum untuk foto dokumentasi, tetapi kamera menangkap jelas matanya yang kehilangan sombong. Raka menerima tanpa mempermalukannya lagi. Panggung sudah cukup bekerja.

Seorang anak kecil di luar pagar bertanya kepada ayahnya apakah orang biasa bisa membeli mobil seperti itu. Ayahnya tertawa canggung. Raka mendengar dan menoleh sebentar. Ia tahu jawabannya tidak sederhana. Dunia luar tetap punya harga yang tidak adil. Tetapi setelah sistem datang, pertanyaan di kepalanya bergeser: apa yang akan ia lakukan setelah mampu membeli semua itu?

Itu sebabnya tantangan Reno menarik. Mobil hanya benda. Mengendarainya di depan orang yang meragukan adalah pernyataan.

"Tenang, Jar. Hari Sabtu, biar aku yang urus."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!